<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Buletin Veteriner Udayana</title>
	<atom:link href="http://www.bulletinveteriner.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bulletinveteriner.com</link>
	<description>Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</description>
	<pubDate>Tue, 09 Feb 2010 05:15:49 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Deteksi Histologik Kesembuhan Luka  pada Kulit Pasca Pemberian Daun Mengkudu (Morinda citrifolia Linn.)</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 00:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=367</guid>
		<description><![CDATA[THE HISTOLOGICAL DETECTION OF SKIN WOUND AFTER TREATMENT WITH MENGKUDU LEAVES (Morinda citrifolia Linn.)
Ni Ketut Suwiti
Lab. Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
E-mail : nksuwiti@yahoo.co.id
 
ABSTRAK

 
Telah dilakukan penelitian deteksi kesembuhan luka pada kulit mencit (Mus musculus) pasca pengobatan daun mengkudu (Morinda citrifolia Linn.) dengan metode histologis, yakni melakukan pengamatan terhadap struktur mikroskopis. Untuk mengetahui kesembuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><span style="font-weight: normal;" lang="EN-GB">THE HISTOLOGICAL DETECTION OF SKIN WOUND AFTER TREATMENT</span></em><em><span style="font-weight: normal;" lang="EN-GB"> WITH MENGKUDU LEAVES</span></em><span style="font-weight: normal;" lang="EN-GB"> </span><span lang="EN-GB">(</span><em><span style="font-weight: normal;" lang="SV">Morinda citrifolia</span></em><span style="font-weight: normal;" lang="SV"> Linn.)</span><strong></strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span lang="SV">Ni Ketut Suwiti</span></strong></p>
<h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;"><span lang="SV">Lab. Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</span></h3>
<h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center;"><span lang="SV">E-mail : <em>nksuwiti@yahoo.co.id</em></span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="SV"><strong>ABSTRAK</strong><br />
</span></p>
<h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span lang="EN-GB"> </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Telah dilakukan penelitian deteksi kesembuhan luka pada kulit mencit <span lang="SV">(<em>Mus musculus</em>) pasca</span> pengobatan daun mengkudu <span lang="SV">(<em>Morinda citrifolia</em> Linn.)</span> dengan metode histologis, yakni melakukan pengamatan terhadap struktur mikroskopis.<span> </span>Untuk mengetahui kesembuhan luka, dibuat sediaan histologi kulit setiap minggu. Terhadap sampel dilakukan fiksasi, dehidrasi dan embedding dalam parafin selanjutnya dilakukan pemotongan dengan mikrotom ketebalan 4 - 5µ. Selanjutnya dibuat sediaan histologis dengan metode pewarnaan <em>Harris-Haematoxilin-Eosin.</em> Pengamatan terhadap struktur histologi dilakukan dengan mikroskop cahaya binokuler <span> </span>pembesaran<span> </span>450X.<span> </span>Hasil penelitian menunjukkan pada minggu ke empat struktur histologi kulit telah normal dengan adanya lapisan epidermis,. Dermis dan hipodermis. Pada lapisan epidermis ditemukan <span> </span>epitel squomus komplek, folikel rambut, <span> </span>jaringan ikat dengan pembuluh darah arteri dan vena dan jaringan lemak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;">Kata kunci :<span> </span><em><span lang="SV">Mus musculus</span></em><span lang="SV">, </span><span lang="SV"><span> </span></span><em><span lang="SV">Morinda citrifolia </span></em><span lang="SV">Linn</span> , struktur mikroskopis, <em>Haematoxilin-eosin</em>, Epidermis, Dermis, Hipodermis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span class="longtext"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span class="longtext"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span class="longtext"><strong>ABSTRACT</strong></span></p>
<p class="MsoBodyText3" style="line-height: normal;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<h3 style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt;"><span lang="EN-GB"> </span></h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">A study to detect the microscopic structure of skin wound in mice <span lang="SV">(<em>Mus musculus</em>) </span><span lang="EN-GB">after treatment with mengkudu leaves </span><span lang="SV">(<em>Morinda citrifolia</em> Linn.), </span><span lang="EN-GB">by histological methods, has been carried out.<span> </span>In this study were detected the level of wound healing every weeks.<span> </span>The samples were collected from skin with was given incision injury. The tissue samples were fixed, dehydrated and embedded in paraffin and 4 - 5 µ. sections. <em>Harris-Haematoxilin-Eosin</em> staining method, using to identified of histological structure.<span> </span>Microscopic analysis was performed using a binocular light microscope (450X). The study showed that, histological structure<span> </span>of<span> </span>normaly skin we deteted in fourth weeks ware composed by<span> </span>epidermis, dermis and hipodermis tissue. </span><span lang="SV">We </span><span lang="EN-GB">observed<span> </span>for the presence of<span> </span>t</span><span lang="SV">he ephitelial squomous complexs</span><span lang="EN-GB">, </span><span lang="SV">hair<span> </span>follicles</span><span lang="EN-GB">, connective tissue with vein and arteriole</span><span lang="SV"> and adipose tissue.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;">Keywords: <em><span lang="SV">Mus musculus</span></em><span lang="SV">, </span><span lang="SV"><span> </span></span><em><span lang="SV">Morinda citrifolia </span></em><span lang="SV">Linn</span> , structur- microscopis, <em>Haematoxilin-eosin</em>, Epidermis, Dermis, Hipodermis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span class="longtext"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span class="longtext"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: center;"><strong><span lang="EN-GB">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Luka adalah kerusakan anatomi, keadaan pemisahan jaringan karena kekerasan atau trauma (Marzoeki, 1993). Keparahan luka tergantung dari besarnya trauma yang diterima oleh jaringan (Pavletic, 1992). Ditinjau dari penyebabnya dibedakan atas dua yaitu luka iris dan luka bakar.<span> </span>Luka iris merupakan luka yang disebabkan oleh benda tajam. Luka ini memiliki sifat : tepi-tepi luka licin, tidak terdapat hubungan antara jaringan dan tidak ada jaringan nekrosa <span> </span>(Marzoeki, 1993).<span> </span>Luka iris dapat ditemukan pada luka insisi akibat pembedahan,<span> </span>kesembuhannya lebih cepat dan<span> </span>sedikit jaringan nekrosis pada tepi-tepi luka keadaan yang berlawanan ditemukan pada luka menggunakan gunting, elektroscalpel atau laser (Fossum, 1997).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Luka bakar pada dasarnya merupakan fenomena pemindahan panas, meskipun sumber panasnya dapat bervariasi.<span> </span>Akibat akhir yang ditimbulkan berupa kerusakan jaringan <span> </span>kulit, bahkan pada keadaan cedera multisistemik dapat menyebabkan gangguan yang serius pada paru-paru, ginjal dan hati. Efek sistemik dan mortalitas yang disebabkan karena luka bakar sangat ditentukan oleh luas dan dalamnya kulit yang terkena luka (Ollstein, 1996).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Luka bakar dibedakan menjadi : derajat satu, dua dan derajat tiga. Luka derajat satu hanya mengenai epidermis luar dan secara klinis tampak sebagai daerah hiperemia dan eritema. Luka derajat dua mengenai lapisan epidermis yang lebih dalam dan sebagian dermis serta disertai lepuh, basah atau edema. Luka derajat tiga mengenai semua lapisan epidermis dan dermis serta biasanya secara klinis tampak sebagai luka kering, seringkali vena mengalami<span> </span>koagulasi dan dapat terlihat dari permukaan kulit (Sabiston, 1987).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Percepatan kesembuhan luka dilakukan dengan cara mempertemukan kedua sisi luka, pemberian obat-obatan seperti salep antibiotik, dibalut dengan teknik tertentu seperti menggunakan hidrogel (Thomas, 1997; Fossum, 1997) atau dengan teknik vakum (tenaga negatif) di atas luka dalam beberapa menit (Thomas, 2001). Selain cara di atas kesembuhan luka dapat dilakukan dengan menggunakan obat tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="IN">Pengobatan dengan cara tradisional sebagai alternatif untuk mendapatkan kesembuhan akhir-akhir ini banyak digunakan. Salah satunya adalah pengobatan dengan menggunakan mengkudu.<span> </span>Mengkudu</span><span lang="IN"> </span><span lang="SV">(<em>Morinda citrifolia</em> Linn.)</span><span lang="SV"> </span><span lang="IN">banyak dimanfaatkan untuk pengobatan karena diyakini dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menormalkan tekanan darah, antikanker, antitumor, analgesik, antiradang, antibakteri, dan mengatur siklus energi tubuh (Tadjudin dan Iswanto, 2002). Oleh karena itu mengkudu sering digunakan sebagai obat batuk, asma, tuberculosis, gangguan pernapasan, radang tenggorokan, sakit gigi, sariawan, cacingan, diare, radang usus, radang sendi, keram saat menstruasi, datang bulan tidak lancar, membantu kesehatan saat hamil dan persalinan, penghilang rasa sakit kepala, kencing manis, maupun sebagai campuran makanan (Bangun dan Sarwono, 2002). Sejauh ini pemanfaatan mengkudu diatas sebatas pada buahnya, sehingga menarik untuk diteliti apakah bagian lain dari mengkudu dapat dimanfaatkan sebagai obat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Selain buahnya, daun dari tanaman tersebut diyakini memiliki banyak manfaat tetapi belum mendapat perhatian, sehingga penelitian ini menarik untuk dilakukan. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengungkapkan khasiat daun mengkudu, terutama pengaruhnya terhadap kesembuhan jaringan kulit yang mengalami luka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: center;"><strong><span lang="EN-GB">METODE PENELITIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Materi Penelitian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES-CO">Penelitian menggunakan 40 ekor mencit </span><span lang="SV">(<em>Mus musculus</em>) dibagi ke dalam dua kelompok.<span> </span>Kelompok satu adalah mencit dengan luka pada kulit yang dobati dengan vaselin sebagai kontrol dan kelompok dua luka pada kulit yang diobati daun mengkudu. Tiap perlakuan diulang 5 kali dan pengamatan histologis dilakukan setiap minggu selama empat minggu. </span><span lang="ES-CO">S</span><span lang="SV">ampel berupa kulit difiksasi dengan formalin, selanjutnya dilakukan pembuatan preparat histologis dan dilakukan pewarnaan<span> </span>dengan metode </span><em><span> </span>Hematoxylin-Eosin</em><em><span> </span></em><span lang="SV"><span> </span>(HE).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Metode</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Pembuatan bubuk daun mengkudu.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Daun mengkudu yang akan dibuat sediaan kering adalah daun mengkudu segar pucuk kedua. Pembuatan sediaan daun mengkudu dilakukan dengan cara sebagai berikut, daun mengkudu dihilangkan kadar airnya dengan dioven pada suhu 100<sup>o</sup>C sampai kering. Daun mengkudu yang telah kering kemudian digerus menggunakan mortir. Hasil gerusan diayak menggunakan saringan untuk memperoleh sediaan daun mengkudu yang berupa bubuk.<span> </span>Kemudian dibuat konsentrasi bubuk daun mengkudu 75% dengan mencampurkan 75 gr daun mengkudu pada 25 gram vaselin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Pembuatan luka pada kulit mencit.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Luka bakar dibuat pada bagian dorsal mencit. Sebelum dilukai rambut pada kulit dihilangkan terlebih dahulu. Luka bakar dibuat dengan menggunakan solder listrik. Solder terlebih dahulu dihubungkan dengan sumber arus dan ditunggu sampai panas. Solder yang telah panas kemudian ditempelkan selama 5 detik pada kulit daerah dorsal sampai mengenai otot (derajat tiga). Luka yang dihasilkan adalah luka bakar terbuka dengan diameter 0,5 cm. Sedangkan pembuatan luka iris<span> </span>dengan</span><span lang="IN"> penyayatan pada bagian dorsal menggunakan scalpel hingga mencapai daerah hipodermis, dan sebelumnya bulunya dihilangkan..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IN">Pengobatan pada luka</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Pengobatan dilakukan segera setelah luka dibuat sesuai dengan perlakuan. Masing masing mencit diobati satu kali sehari yaitu pada pagi hari. Pengobatan dilakukan dengan cara mengoleskan secara merata vaselin sebagai kontrol dan sebagai perlakuan dengan sediaan daun mengkudu 75% pada permukaan kulit yang mengalami luka bakar. <span> </span>Mencit diberikan makan dan minum <em>ad libitum.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Pembuatan Sediaan Histologis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Pembuatan sediaan histologis berdasarkan metode Luna (1968) dan Culling and Dunn (1974) yaitu sampel berupa kulit yang telah difiksasi dengan formalin 10%, didehidrasi dan berturut-turut dibersihkan dengan satu sesi larutan (formalin 10% I, formalin 10% II, formalin 10% III, alkohol 70%, alkohol 96%, alkohol absolut I, alkohol absolut II, alkohol absolut III, xylol I, xylol II, xylol III, parafin cair I, parafin cair II) dalam waktu 23 jam. Lalu dibloking dengan paraffin cair, setelah didinginkan selama 30 menit dipotong dengan mikrotom dengan ketebalan 4 – 5 ?. Sebelum dilakukan <em>mounting </em>terlebih dahulu dilakukan pewarnaan dengan metode <em>Harris-hematoxylin eosin</em>, dengan cara : Direndam dalam xylol I, II, III masing-masing selama 5 menit. Selanjutnya direndam dalam alkohol absolut I dan II selama 5 menit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Sebelum direndam dalam <em>Harris-haematoxylin </em>/ HE (15 menit), dilakukan perendaman dalam aquadest selama 1 menit. Sampel kembali direndam dalam aquadest (1menit), kemudian 5-7 menit dalam acid alkohol 10%,<span> </span>dua kali dalam aquadest selama 1menit dan 15 menit. Setelah itu diwarnai dengan eosin. Preparat yang telah diwarnai kemudian direndam dalam alkohol 96% I dan<span> </span>alkohol 96% II masing-masing selama 3 menit. Selanjutnya direndam kembali dalam alkohol absolut III yang dilanjutkan lagi kedalam alkohol absolut IV masing-masing 3 menit. Selanjutnya dibersihkan<span> </span>dalam xylol I dan xylol II selama 5 menit.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Cara Pengambilan Data</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pengamatan sediaan histologis dilakukan terhadap kulit yang telah diberikan luka dan diobati vaselin (kontrol) dibandingkan dengan luka yang diobati dengan daun mengkudu.<span> </span>Pemeriksaan dilakukan setiap minggu menggunakan mikroskop cahaya binokuler pembesaran 100x dan 450x. Variabel yang diamati adalah perkembangan kesembuhan luka secara histologis, yaitu dengan melakukan pengamatan mikroskopis di daerah epidermis, dermis dan hipodermis dengan mengidentifikasi keberadaan sel-sel radang, fibroblast, </span>epitel squomus komplek, folikel rambut,<span> </span>jaringan ikat dengan pembuluh darah arteri dan vena, jaringan lemak dan otot skelet.<span> </span>Selanjutnya data dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: center;"><strong><span lang="EN-GB">HASIL DAN PEMBAHSAN</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Hasil.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Pada minggu pertama ditemukan sel radang. Peradangan terjadi pada semua perlakuan baik kontrol maupun daun mengkudu. Daerah luka bakar tampak sebagai suatu celah <span> </span>yang di dalamnya banyak terdapat akumulasi sel radang.</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype  id="_x0000_t202" coordsize="21600,21600" o:spt="202" path="m,l,21600r21600,l21600,xe"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:path gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_s1029" type="#_x0000_t202" style='position:absolute;  left:0;text-align:left;margin-left:145.25pt;margin-top:42.35pt;width:27pt;  height:18pt;z-index:4' filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1029" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1029" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table style="height: 238px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="575">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="40" height="28"><span lang="IN"><a rel="attachment wp-att-406" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/epidermis-1/"></a></p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-406" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/epidermis-1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-406" title="epidermis-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/epidermis-1.jpg" alt="epidermis-1" width="268" height="214" /></a></p>
<p></span></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: center; text-indent: -72pt;"><span lang="IN">Gambar 1. Lapisan Epidermis kulit<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: center; text-indent: -72pt;"><span lang="IN"><a rel="attachment wp-att-407" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/dermis-dan-hipodermis-1/"><img class="size-full wp-image-407  aligncenter" title="dermis-dan-hipodermis-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/dermis-dan-hipodermis-1.jpg" alt="dermis-dan-hipodermis-1" width="295" height="235" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt;"><span lang="SV"><!--[if gte vml 1]><v:shape  id="_x0000_i1029" type="#_x0000_t75" style='width:211.5pt;height:176.25pt'> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\KERTAB~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\KERTAB~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image005.jpg"   o:title="kontrol 100x1" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -63pt;"><span lang="IN">Gambar 2.<span> </span>Struktur histologis lapisan dermis dan hipodermis pengobatan dengan daun mengkudu minggu pertama (H.E. 450X)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -72pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada minggu kedua gambaran histologis kulit tikus masih tampak adanya peradangan dan dapat diamati pada semua perlakuan. Pada perlakuan mengkudu selain dapat ditemukan sel radang juga mulai dijumpai adanya fibroblast.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_s1034"  type="#_x0000_t202" style='position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:140.25pt;margin-top:52.2pt;width:28.05pt;height:18pt;z-index:9'  filled="f" fillcolor="black" stroked="f" strokecolor="white"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1034" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1034" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table style="height: 254px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="589">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="41" height="28"><a rel="attachment wp-att-409" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/epidemis-21/"><img class="aligncenter size-full wp-image-409" title="epidemis-21" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/epidemis-21.jpg" alt="epidemis-21" width="291" height="246" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: center;"><span lang="IN">Gambar 3.  Lapisan Epidermis kulit<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape  id="_x0000_s1061" type="#_x0000_t202" style='position:absolute;left:0;  text-align:left;margin-left:180.3pt;margin-top:102.45pt;width:56.1pt;height:27pt;  z-index:36' filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1061" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1061" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table style="height: 248px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="587">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="38" height="40"><a rel="attachment wp-att-410" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/dermis-dan-hipodermis2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-410" title="dermis-dan-hipodermis2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/dermis-dan-hipodermis2.jpg" alt="dermis-dan-hipodermis2" width="275" height="244" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -63pt;"><span lang="IN">Gambar 4.<span> </span>Struktur histologis </span><span lang="IN">lapisan dermis dan hipodermis </span><span lang="IN">kulit pengobatan dengan daun mengkudu minggu kedua (H.E. 450X)<br />
</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada minggu ketiga jaringan dermis telah mengalami kesembuhan, terlihat daerah luka telah menyatu, serat kolagen telah terbentuk, juga dapat ditemukan fibroblast dan pembuluh darah serta folikel rambut sebagaimana yang dapat ditemukan pada kulit normal.</span></p>
<table style="height: 214px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="585">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="40" height="28"><a rel="attachment wp-att-411" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/epidermis-3/"><img class="aligncenter size-full wp-image-411" title="epidermis-3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/epidermis-3.jpg" alt="epidermis-3" width="281" height="210" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -63pt;"><span lang="IN">Gambar 5. <span> </span>Struktur histologis kulit pengobatan dengan daun mengkudu minggu ketiga daerah epidermis dan dermis (H.E. 450X)<br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_s1046"  type="#_x0000_t202" style='position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:205.7pt;margin-top:59.45pt;width:28.75pt;height:18pt;z-index:21'  filled="f" fillcolor="black" stroked="f" strokecolor="white"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1046" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1046" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table style="height: 221px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="585">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="43" height="28"><a rel="attachment wp-att-412" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/dermis-dan-hipodermis-3/"><img class="aligncenter size-full wp-image-412" title="dermis-dan-hipodermis-3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/dermis-dan-hipodermis-3.jpg" alt="dermis-dan-hipodermis-3" width="270" height="217" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -63pt;"><span lang="SV">Gambar 6. </span><span lang="IN">Struktur histologis kulit pengobatan dengan daun mengkudu minggu ketiga (H.E. 450X) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada minggu keempat jaringan kulit telah sembuh secara klinis baik pada perlakuan mengkudu, maupun kontrol. Secara histologis jaringan kulit yang mengalami kerusakan telah kembali utuh ditandai dengan terbentuknya jaringan ikat berupa serabut kolagen yang kembali menyatu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:line id="_x0000_s1058"  style='position:absolute;left:0;text-align:left;flip:x;z-index:33' from="216.1pt,39.35pt"  to="243.1pt,39.35pt" strokeweight="1pt"> <v:stroke endarrow="block" /> </v:line><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]><v:line id="_x0000_s1056"  style='position:absolute;left:0;text-align:left;flip:x;z-index:31' from="205.7pt,25.8pt"  to="232.7pt,25.8pt" strokeweight="1pt"> <v:stroke endarrow="block" /> </v:line><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_s1054"  type="#_x0000_t202" style='position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:255pt;margin-top:39.35pt;width:27pt;height:18pt;z-index:29'  filled="f" fillcolor="black" stroked="f" strokecolor="white"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1054" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1054" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table style="height: 248px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="584">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="40" height="28"><a rel="attachment wp-att-413" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/dermis-dan-hipodermis4/"><img class="aligncenter size-full wp-image-413" title="dermis-dan-hipodermis4" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/dermis-dan-hipodermis4.jpg" alt="dermis-dan-hipodermis4" width="308" height="244" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 65.45pt; text-align: center; text-indent: -65.45pt;"><span lang="IN">Gambar 7. Gambaran histologis kesembuhan luka minggu keempat pada perlakuan mengkudu. (H.E. 450X)<br />
</span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_s1050"  type="#_x0000_t202" style='position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:196.35pt;margin-top:66pt;width:28.05pt;height:27pt;z-index:25'  filled="f" stroked="f" /><![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<table style="height: 246px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="577">
<tbody>
<tr>
<td style="vertical-align: top;" width="41" height="40"><a rel="attachment wp-att-414" href="http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/epidermis-4/"><img class="aligncenter size-full wp-image-414" title="epidermis-4" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/epidermis-4.jpg" alt="epidermis-4" width="302" height="242" /></a></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: center; text-indent: -63pt;"><span lang="SV">Gambar 8. <span> </span></span><span lang="IN">Struktur histologis kulit pengobatan dengan daun mengkudu minggu ketiga (H.E. 450X) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><strong><span lang="SV">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Pada minggu pertama kesembuhan luka ditemukan adanya peradangan pada perlakuan kontrol <span> </span>maupun mengkudu. Menurut Dealey (1994) respon inflamasi merupakan suatu reaksi lokal terhadap jaringan yang mengalami luka dan bagian penting dari mekanisme pertahanan tubuh serta merupakan proses penting dari kesembuhan luka. Myers (2004) menjelaskan pada saat tubuh mengalami luka, dari dinding pembuluh darah yang rusak akan dialirkan transudat untuk membloking daerah luka menyebaban terjadinya edema lokal. Platelet akan aktif melepaskan beberapa faktor pertumbuhan yang merangsang sel radang menuju ke lokasi luka. Hal tersebut menjelasakan bagaimana sel radang terditeksi pada daerah luka seperti yang ditunjukkan <span> </span>Gambar 1 dan 2</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada minggu kedua kesembuhan luka pada pengobatan daun mengkudu memberi gambaran histologi yang berbeda. Dalam hal ini pengobatan dengan menggunakan daun mengkudu memberikan hasil kesembuhan yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol, yang ditandai dengan pemunculan fibroblast.<span> </span>Keadaan ini menunjukkan proses kesembuhan luka telah mencapai fase rekonstruksi dimana pada fase ini sel-sel radang terutama makrofag memiliki peranan yang sangat penting untuk merangsang fibroblast menuju lokasi luka. Dealey (1994) menjelaskan proses peradangan dapat diperpanjang akibat iritasi, infeksi, iritasi, bahan asing atau mekanik. Pada kontrol kemungkinan terjadinya infeksi sangat besar karena tidak dilakukan pengobatan yang dapat mencegah infeksi, hal tersebut menyebabkan proses peradangan diperpanjang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Minggu ketiga kesembuhan luka <span> </span>nyata berbeda dibandingkan dengan kontrol. <span> </span>Dalam waktu kurang lebih tiga minggu luka yang diobati dengan daun mengkudu tampak memperlihatkan gambaran sebagaimana jaringan dermis normal. Lapisan epidermis dan serabut kolagen telah ada dan membentuk anyaman yang menunjukkan fase kesembuhan telah mencapai tahapan maturasi (Dealey 1994). Adanya kolagen pada minggu ketiga kesembuahan luka disebabkan telah terjadinya sintesis molekul kolagen dimulai dalam reticulum endoplasmik kasar fibroblast <span> </span>(Parker, 1991)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Gambaran histologis kesembuhan luka pada minggu keempat telah ditemukan jaringan kulit dengan susunan yang sempurna, yakni ditemukan lapisan epidermis (stratum korneum sampai dengan basale), lapisan dermis yang ditandai dengan adanya folikel rambut dan serabut kolagen, dan lapisan hipodermis ditemukan adanya jaringan lemak, saraf dan pembuluh darah, serabut kolagen telah mengalami reorganisasi membentuk anyaman. (Dellman and Brown, 1992) Hal tersebut menunjukkan jaringan telah mencapai kesembuhan dan ditemukan fibroblast dan kolagen juga telah dapat dideteksi pada minggu keempat.<span> </span>Sehingga hasil penelitian ini dapat merekomendasikan daun mengkudu dapat digunakan sebagai pengobatan luka bakar maupun luka iris pada kulit mencit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Kemampuan daun mengkudu untuk menyembuhkan luka disebabkan adanya zat anthrakinon, dimana zat tersebut berperan sebagai anti mikroba dan anti jamur. Dengan adanya zat tersebut sebagai antibakteri dapat mencegah terjadinya infeksi pada luka sehingga kesembuhan luka dapat dipercepat (Waha, 2002). Selain kandungan zat tersebut mengkudu juga mengandung proxeronin, sebagaimana yang dilaporkan oleh Heinicke (2000) zat itu berperan dalam peremajaan sel, meregenerasi sel yang rusak serta meningkatkan kerja sel. Dengan adanya proxeronin dalam daun mengkudu dapat meregenerasi sel yang rusak akibat terbakar sehingga luka dapat sembuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Berdasarkan hasil deteksi histologik, luka pada kulit mencit dapat diobati dengan daun mengkudu, dan pada minggu keempat telah memberikan gambaran histologis kulit normal.<span> </span>Struktur histologi kulit ditandai dengan pemunculan lapisan epidermis dengan staratum basale, granulosum, spinosum dan stratum korneum, lapisan epidermis yang ditandai dengan adanya serabut kolagen, fibroblas dan folikel rambut sedangkan pada lapisan hipodermis telah dapat dideteksi pemunculan jaringan ikat longgar dengan jaringan lemak, pembuluh darah dan saraf.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Dari hasil penelitian ini dapat disarankan untuk menggunakan daun mengkudu dalam pengobatan <span> </span>luka iris maupun luka bakar pada kulit hewan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="ES">Bangun, A.P. dan B. Sarwono. </span>2002. Khasiat dan Manfaat Mengkudu. Agro Media Pustaka. Jakarta</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"><span lang="SV">Culling, C.F.A and W.L Dunn 1974. Handbook of Histopathological and Histochemical Techniques. 3 rd.<span> </span>Butterworths &amp; Co Publishes, England, New Zealand, Austria, Canada, South Africa, USA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Dealey, C. 1994. The Care of Wound. Blackwell Science. USA</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="SV">Dellman, H. D., E. M. Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner 2. </span><span lang="ES-CO">Universitas Indonesia Press. Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Fossum, T.W. 1997. Small Animal Surgery. Mosby New York. USA</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Heinicke, R.M. 2000. The Pharmacologically Active Inggridient of Noni. <a href="http://www.noni.net.nz/xeronine.htm">http://www.noni.net.nz/xeronine.htm</a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45.1pt; text-align: justify; text-indent: -45.1pt;">Luna, L.G. 1968. Manual Histologic Staining Methods of Pathology. 3<sup>rd</sup> Ed. The Blakiston Division Mc Graw-hill Book Company, New  York, Toronto, London, Sydney.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Marzoeki, D. 1993. Ilmu Bedah Luka dan Perawatannya. Airlangga University Press. Surabaya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Myers, B.A. 2004. Wound Management Principles and Practice. Prentice Hall. New Jersey</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Ollstein, R.N. 1996. Luka Bakar. Dalam Keterampilan Pokok Ilmu Bedah. Edisi Keempat. T.F. Nealon dan W.H. Nealon. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Parker, F. 1991. Structure and Function of The Skin. In Dermatology. M. Orkin, H.I. Maibach, dan M.V. Dahl. A Lange Medical Book. USA</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Pavletic, M.M. 1992. Veterynary Emergency and Critical Care Medicine. Editor Robert J. Murtaugh and Paul M. Kaplan. Mosby Year Book. Toronto. New York</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Sabiston, D.C. 1987. Buku Ajar Bedah Bagian 1. Editor J. Oswari. Alih bahasa P. Adrianto dan Timan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="NL">Tadjudin, H. T., H. Iswanto, 2002. </span><span lang="SV">Mengebunkan Mengkudu Secara Intensif. AgroMedia Pustaka. Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Thomas, S. 1997. The Management of Extravasation Injury In Neonates. World Wide Wound.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Thomas, S. 2001. An Introduction to The Use of Vacum Assisted Closure. World Wide Wound.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="SV">Waha, M.G. 2002. Sehat Dengan Mengkudu. </span>Editor Listiyani Wijayanti. PT. Mitra Sitta Kaleh. Jakarta</p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=367" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/deteksi-histologis-kesembuhan-luka-pada-kulit-pasca-pemberian-daun-mengkudu-morinda-citrifolia-linn/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>GLUTATHION MENINGKATAN KUALITAS TUBULUS SEMINIFERUS PADA MENCIT YANG MENERIMA PELATIHAN FISIK BERLEBIH</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:24:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=379</guid>
		<description><![CDATA[

 


GLUTATHIONE INCREASES THE QUALITY OF TUBULE SEMINIFEROUS ON MICE HAVING PHYSICAL OVERTRAINING
 
Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi
Lab. Reproduksi Veteriner.
 Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Denpasar Bali.
e-mail : dewiindiralaksmi@yahoo.com
 
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh glutathion terhadap tubulus seminiferus mencit selama latihan fisik berlebih. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan randomized  pretest - [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]><br />
<mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --></p>
<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} table.MsoTableGrid 	{mso-style-name:"Table Grid"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	border:solid windowtext 1.0pt; 	mso-border-alt:solid windowtext .5pt; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-border-insideh:.5pt solid windowtext; 	mso-border-insidev:.5pt solid windowtext; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:SimSun; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1042" /> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapelayout v:ext="edit"> <o:idmap v:ext="edit" data="1" /> </o:shapelayout></xml><![endif]--></p>
<div class="Section1">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>GLUTATHIONE INCREASES THE QUALITY OF TUBULE SEMINIFEROUS ON MICE HAVING PHYSICAL OVERTRAINING</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><strong>Desak Nyoman Dewi Indira Laksmi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><strong>Lab. Reproduksi Veteriner.</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><strong><span lang="ES-AR"><span> </span>Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Denpasar Bali.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="center"><span lang="ES-AR">e-mail : </span><span style="text-decoration: underline;"><a href="mailto:dewiindiralaksmi@yahoo.com"><span style="color: windowtext;" lang="ES-AR">dewiindiralaksmi@yahoo.com</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="center"><strong><span lang="ES-AR"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="center"><strong><span lang="ES-AR">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES-AR">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh glutathion terhadap tubulus seminiferus mencit selama latihan fisik berlebih. </span>Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan <em>randomized </em><span> </span><em>pretest - posttest control group design.</em> <em><span> </span></em>Sampel dalam penelitian ini adalah mencit jantan dewasa strain Balb-C umur 2 – 3 bulan dengan kisaran berat badan 20-25 gram, sebanyak 48 ekor mencit dibagi dua kelompok yaitu 24 ekor mencit kelompok kontrol dan 24 ekor mencit kelompok perlakuan (Po = kelompok pelatihan fisik berlebih dengan aqua pro-injeksi, intraperitoneal dan P1 = kelompok pelatihan fisik berlebih dengan glutathion 6 Mmol/kg BB/hari,Intraperitoneal). Sebelum perlakuan, 12 ekor diambil dari setiap kelompok untuk pre-test dengan pembuatan preparat mikroskopis testis dan pemeriksaan kualitas tubulus seminiferus . Sisa mencit sebanyak 12 ekor dipergunakan untuk post-test yang diberikan perlakuan selama 35 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan secara bermakna (p&lt;0,05) kualitas tubulus seminiferus pada pemberian glutathion. <span lang="NL">Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian glutathion dapat memperbaiki kualitas tubulus seminiferus pada mencit yang menerima pelatihan fisik berlebih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="NL"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="NL">Kata kunci : </span><span lang="SV"><span> </span>Pelatihan fisik berlebih,<span> </span>glutathion, kualitas tubulus seminiferus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><strong><span lang="SV">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">The aims of this study was to find out influence of glutathione on tubule seminiferous quality during the overtraining. This study was experimentally and randomly pretest-posttest with control group design. The samples of this study were strain Balb-C adult male mice with the following criteria: body weight between 20-25 grams, age 2-3 months, randomly, 48 mice were divided into two groups, 24 mice were control group and the other 24 were treatment group (Po = physical overtraining group with aqua pro-injection, intraperitoneal, and P1 = physical overtraining group with glutathione 6 Mmol/kg BW/day, intra-peritoneal). Prior to the treatment, 12 mice were taken from each group for the pre-test, by preparing microscopic preparation testicle and examination was performed to seminiferous tubules quality. The rests of the mice, 12 mice were used as for post-test examination after 35 days treatment. The result showed that the quality of seminiferous tubules significantly increase (p&lt;0, 05) after the glutathione treatment. It can be concluded that the glutathione treatment improved the quality of seminiferous tubules.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Key Words : Physical overtraining, glutathione, seminiferous tubules quality.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt; line-height: 150%;" align="center"><strong><span lang="SV">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Masalah kesuburan atau fertilitas merupakan hal yang penting dalam menentukan kelangsungan hidup manusia beserta keragaman genetiknya. Kesuburan atau fertilitas pasangan dapat dinilai dari jumlah dan kualitas spermatozoa pada pria dan sel telur (ovum) pada wanita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Testis dalam proses reproduksi mempunyai dua fungsi utama yaitu memproduksi hormon dan spermatozoa. Kedua fungsi tersebut secara anatomi berlangsung terpisah yaitu hormon testosteron dihasilkan oleh sel leydig, sedangkan sel spermatozoa dihasilkan oleh sel epithel tubulus seminiferus (Burger <em>et al</em>, 1977 ; Guyton &amp; Hall, 1966).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Aktivitas sehari-hari dilaporkan dapat mengganggu proses tubulus seminiferus yang dampaknya akan mempengaruhi produksi spermatozoa, salah satu aktivitas adalah olahraga yang berlebih. Berolahraga meningkatkan konsumsi oksigen (VO<sub>2</sub>), yang digunakan untuk menghasilkan energi berupa ATP, melalui proses fosforilasi oksidatif dalam mitokondria. Dalam proses fosforilasi, sekitar 4-5 % oksigen akan berubah menjadi senyawa oksigen reaktif (SOR) yang terjadi di rantai transport elektron yang terdapat di membran dalam mitokondria. Pada olahraga yang berlebih, konsumsi oksigen (VO<sub>2</sub>) akan meningkat 100 kali lebih besar dibandingkan saat istirahat. Hal ini akan mengakibatkan radikal bebas yang terbentuk lebih banyak melalui rantai transport elektron (Sutarina &amp; Edward, 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Penelitian pada tikus yang diberi beban aktivitas fisik berlebih yaitu berenang sampai hampir tenggelam, diketemukan tingginya produksi radikal bebas <em>asam reactive thiobarbituric </em>(TBARS) pada jaringan testis 235,27 nmol/mg jaringan, dibandingkan tanpa perlakuan 196,79 nmol/mg jaringan (Misra <em>et al</em>, 2005). Manna <em>et al</em> (2003) melaporkan bahwa tingginya kadar malondialdehyd (MDA) dan conjugated dienes (CD) bersamaan dengan menurunnya antioksidan enzimatik yaitu glutathion (GSH), superokside dismutase (SOD), katalase, glutathion-s-transferase (GST) dan peroksidase pada testis tikus yang direnangkan dengan intensitas tinggi dan durasi lama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Pada latihan fisik yang berlebih jumlah antioksidan intrasel tidak mampu menetralisir radikal bebas, akibatnya muncul stres oksidatif. Stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan jaringan testis terutama tubulus seminiferus (Fuchs <em>et al.</em>,1997). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Glutathion (GSH) secara langsung dapat berperan sebagai <em>scavenger</em> radikal bebas dan dapat menstabilkan struktur membran dengan cara menghilangkan atau meminimalkan pembentukan asil peroksida dalam reaksi peroksidasi lipid ( Irvine, 1996 ; Shah, 2004 ; Winarsi, 2007).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan glutathion sebagai antioksidan untuk memperbaiki kualitas tubulus seminiferus pada mencit yang menerima pelatihan fisik berlebih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">METODE PENELITIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="ES">Hewan Coba</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Hewan yang dipakai dalam penelitian ini adalah 48 ekor</span><span lang="NO-BOK"> mencit jantan dewasa strain Balb-</span><span lang="NO-BOK"> </span><span lang="NO-BOK">C, </span><span lang="SV">umur 2 – 3 bulan</span><span lang="NO-BOK"> dengan kisaran b</span><span lang="SV">erat badan 20 – 25 gram. Mencit dilakukan aklimatisasi selama satu minggu di kandang hewan coba dan diberi pakan serta minum secara <em>ad libitum</em>. Setelah masa adaptasi selama satu mingu dilakukan penelitian sesuai dengan rancangan penelitian.Penelitian. Penelitian dilakukan di Bagian Reproduksi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dan Balai Besar Veteriner (BBV).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="FI"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="FI">Rancangan Penelitian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan pola <em>randomized</em> <em>pretest</em>-<em>posttest control group design.</em> Sebanyak 48 ekor mencit yang dipakai dalam penelitian ini </span><span lang="FI">dikelompokkan menjadi 2 kelompok dan setiap kelompok terdiri atas 24 ekor yaitu kelompok P1 (perlakuan pelatihan fisik berlebih tanpa glutathion) dan kelompok P2 (perlakuan pelatihan fisik berlebih dengan glutathion).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="FI">Prosedur Penelitian dan Pemeriksaan Sample Testis.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="FI"><span> </span>Sebelum pelatihan, masing – masing kelompok perlakuan diambil 12 ekor mencit sebagai pretest kemudian dilakukan pembedahan dan pengambilan testis untuk pembuatan sediaan histopatologi dan dinilai secara mikroskopis. Untuk posttest masing-masing kelompok perlakuan dilakukan pelatihan sebagai berikut: pada kelompok pelatihan tanpa glutathion diberikan </span><span lang="SV">aquabidest steril 0,2 cc secara intraperitoneal</span><span lang="FI"> dan pada kelompok pelatihan dengan glutathion diberikan </span><span lang="SV">glutathion dengan dosis pemberian 6 Mmol/kg berat badan mencit secara intraperitoneal. Setelah satu jam pemberian glutathion, mencit dilakukan pelatihan </span><span lang="FI">renang maksimal sampai hampir tenggelam </span><span lang="SV">satu kali sehari dengan lama total pelatihan adalah 35 hari, demikian pula pada kelompok pelatihan tanpa glutathion. Pada hari ke-36, seluruh mencit perlakuan dibunuh secara intrakardial, kemudian setiap mencit dibedah untuk diambil testisnya. Testis segera ditampung dalam botol yang sebelumnya sudah diisi buffer formalin 10%, dan selanjutnya dibawa ke laboratorium. Lebih lanjut di laboratorium dilakukan pemeriksaan PA dan pengamatan gambaran histologi testis dengan mikroskop cahaya pembesaran 400 kali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Parameter dan<span> Analisis Data</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah tingkat perbaikan kualitas tubulus seminiferus. Katagori kerusakan tubulus seminiferus menurut Burkitt, 1993 adalah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span lang="SV">1. Atrofi tubuler yang ditandai dengan kehilangan sel–sel spermatogenik di dalam tubulus</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span lang="SV">2<span> </span>Nekrosis tubuler yang ditandai dengan kerusakan seluruh unsur sel di dalam tubulus dan terlihat adanya sisa-sisa bahan nekrotik, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><span lang="SV">3 <span> </span>Hilangnya sel-sel intermedia di dalam tubulus. Sel intermedia adalah bentuk akhir spermatogonium A sebelum berubah menjadi spermatogonium B</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18.15pt;">4 <span> </span>Adanya penurunan spermatogenesis yaitu penurunan paling sedikit 75% dari jumlah spermatozoa yang terlihat dalam lumen dengan bentuk intermedia yang utuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Data yang diperoleh pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan SPPS 13.0 (for windows).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">HASIL DAN PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span lang="SV">HASIL </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="IT">Analisis Data Kualitas Tubulus Seminiferus</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="FI">Presentase kualitas tubulus seminiferus pretest – posttest kelompok kontrol dan kelompok perlakuan ditunjukkan pada tabel 1.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Tabel 1. Rataan ± SD Presentase Kualitas Tubulus Seminiferus Pretest - Posttest Kelompok Kontrol dan Kelompok Perlakuan pada 5 Lapang Pandang Testis Mencit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-438" href="http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/tabel-11/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-438" title="tabel-11" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/tabel-11-300x103.jpg" alt="tabel-11" width="462" height="157" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES-AR"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES-AR">Hasil yang dipaparkan pada tabel 1 menunjukkan bahwa presentase kualitas tubulus seminiferus dalam lima lapang pandang setelah pelatihan fisik berlebih tanpa pemberian glutathion (kelompok kontrol-post-test), jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi pelatihan fisik berlebih (kelompok kontrol-pretest) dan kelompok pelatihan fisik berlebih dengan pemberian glutathion (kelompok perlakuan-post-test). Sedangkan kelompok yang diberi pelatihan fisik berlebih dengan pemberian glutathion tidak ada perbedaan dengan kelompok yang tidak mendapat pelatihan fisik berlebih (kelompok perlakuan-pretest). </span><span lang="ES">Setelah dilanjutkan dengan uji wilcoxon </span><span lang="FI">menunjukkan bahwa pre-test-post-test kelompok kontrol berbeda secara bermakna (p&lt;0,05) sedangkan pre-test-post-test kelompok perlakuan tidak berbeda secara bermakna (&gt;0,05). </span><span lang="ES">Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa post-test kelompok kontrol dan kelompok perlakuan berbeda secara bermakna (p&lt;0,05).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-decoration: underline;"><span lang="SV">PEMBAHASAN</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Gambaran Histologi Tubulus Seminiferus</span></strong><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Dari pengamatan gambaran kualitatif, pada kelompok pelatihan fisik berlebih (gambar 2) terlihat adanya penurunan kualitas tubulus seminiferus dengan hilangnya sel-sel intermedia (katagori 3) di dalam tubulus seminiferus dan penurunan spermatogenesis (katagori 4).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Berolahraga meningkatkan konsumsi oksigen yang digunakan untuk menghasilkan energi berupa ATP, melalui proses fosforilasi oksidatif dalam mitokondria. Dalam proses ini oksigen akan tereduksi menjadi air. Namun tidak semua oksigen mengalami reduksi menjadi air, karena sekitar 4-5 % oksigen akan berubah menjadi senyawa oksigen reaktif (SOR) yang terjadi di rantai transport elektron dalam mitokondria (Sutarina &amp; Edward, 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Radikal bebas menyebabkan kerusakan sel-sel spermatogenik dengan cara peroksidasi komponen lipid dari membran sel. Peroksidasi dari asam lemak tak jenuh yang terjadi pada membran sel spermatozoa adalah reaksi <em>self-propagation</em>, yang dapat meningkatkan disfungsi sel akibat hilangnya fungsi dan integritas membran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 37.45pt;">P<span lang="SV">emberian glutathion (GSH) secara intraperitoneal dengan dosis 6 Mmol/kg berat badan mencit satu kali sehari selama 35 hari diperoleh kualitas tubulus seminiferus mengalami perbaikan dengan ditandai peningkatan jumlah tubulus seminiferus normal, bahkan tidak ada perbedaan dengan kelompok yang tidak mendapat pelatihan fisik (tabel 1). Ji, (1998) melaporkan bahwa pemberian suplemen glutathion (GSH) dan glutathion ethyl ester (GSH-E) pada tikus dapat mencegah lipid peroksidasi pada otot selama latihan fisik yang diperpanjang. Sen et al, (1994) juga melaporkan terjadi defisiensi GSH selama latihan fisik berlebih yang dihubungkan dengan banyaknya kelainan fisiologis dan biokimia seperti penurunan rasio GSH:GSSG dan peningkatan peroksidasi lipid di otot skeletal tikus. Pemberian suplemen GSH menyebabkan terjadinya peningkatan plasma GSH sebanyak 20 kali lipat dengan pemberian GSH intraperitoneal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 37.45pt;"><span lang="SV">GSH (?-glutamylcysteinylglycine) adalah sumber thiol non protein di dalam sel dan memiliki beberapa fungsi dalam proteksi jaringan dari kerusakan oksidatif dan mempertahankan stabilitas lingkungan intraselular. </span>GSH dapat menurunkan hidrogen peroksida dan organic-peroksidase melalui reaksi katalisa dengan perantara GSH peroksidase (GPX), GSH berfungsi sebagai <em>scavenger</em> dari <sup>-</sup>OH dan singlet oksigen (O<sub>2</sub><sup>-</sup>) <span>(</span> Ji, 1999 ).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Menurut winarsi, 2007 antioksidan glutathion bekerja sebagai scavenger/penangkap radikal bebas dan mengubah radikal bebas yang telah terbentuk dengan cara memutus reaksi berantai menjadi molekul yang kurang reaktif (gambar 6.1).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><a rel="attachment wp-att-437" href="http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/gambar-12/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-437" title="gambar-12" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-12-300x157.jpg" alt="gambar-12" width="379" height="198" /></a></p>
<p><span lang="SV">Gambar  Lipid peroksidasi dan sistem pertahanan antioksidan enzim dalam spermatozoa (Dikutip dari Irvine, 1996)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Pada gambar di atas hidrogen peroksida dan lipid peroksida akan didetoksifikasi melalui reduksi oleh enzim glutathion peroksidase yang dikonversi menjadi bentuk glutathion teroksidasi (GSSG). Glutathion bentuk teroksidasi (GSSG) akan direduksi oleh glutathion reduktase melalui penggunaan NADPH. Glutathion tereduksi (GSH) mencegah lipid membran dan unsur – unsur lainnya dari kerusakan oksidasi, dengan cara merusak molekul hidrogen peroksida dan lipid peroksida (Winarsi, 2007 ; Irvine, 1996).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-439" href="http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/gambar-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-439" title="gambar-2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-2-300x186.jpg" alt="gambar-2" width="402" height="249" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Gambar 1 : <span lang="NO-BOK">Gambaran histologi tubulus seminiferus mencit tanpa pelatihan fisik (kelompok pretest) pembesaran 400x. Nampak dalam gambar kualitas tubulus seminiferus normal dengan sel – sel spermatogenik cukup padat (A=Tubulus seminiferus, B= Sel-sel spermatogenik, C=Sel intermedia).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="NO-BOK"><a rel="attachment wp-att-442" href="http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/gambar-3/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-442" title="gambar-3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-3-300x171.jpg" alt="gambar-3" width="445" height="253" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="NO-BOK">Gambar 2. : Gambaran histologi tubulus seminiferus mencit setelah diberi pelatihan fisik berlebih (kelompok posttest perlakuan P1) dengan pembesaran 400x. Nampak dalam gambar kerusakan tubulus seminiferus ditandai dengan hilangnya sel intermedia (katagori 3) dan penurunan sel – sel spermatogenik (katagori 4) (A= Tubulus seminiferus, B= Sel-sel spermatogenik).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-443" href="http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/gambar-4/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-443" title="gambar-4" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-4-300x167.jpg" alt="gambar-4" width="493" height="274" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="NO-BOK">Gambar 3. Gambaran histologi tubulus seminiferus mencit setelah diberi pelatihan fisik berlebih dengan glutathion (kelompok posttest perlakuan P2) pembesaran 400x. Nampak dalam gambar peningkatan tubulus seminiferus normal ditandai dengan peningkatan sel – sel spermatogenik bahkan sama dengan kelompok pretesst (A= Tubulus seminiferus, B= Sel-sel spermatogenik, C= Sel Intermedia).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="ES"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="ES">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="ES">SIMPULAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa glutathion dapat meningkatkan kualitas tubulus seminiferus pada mencit yang menerima pelatihan fisik berlebih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="ES">SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pengukuran kadar radikal bebas langsung pada jaringan tubulus seminiferus dan mengetahui apakah ada efek samping dari pemberian glutathion terhadap organ-organ tubuh lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">UCAPAN TERIMA KASIH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan dana dari BPPS tahun anggaran 2006, dan laboratorium Reproduksi Veteriner Unud, laboratorium Biomedik FKH Unud, laboratorium Patologi Balai Besar Veteriner atas fasilitas yang diberikannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Burkitt, H.G. 1993. Functional Histologis, A Text and Colour Atlas, Langman Group, London.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="NL">Burger,H.G.,De Kretser,D,M.,Hudson,B.1976. </span>Spermatogenesis and Its Endocrine Control. In : Hafez,E.S.E, editor. Human Semen and Fertility Regulation in Men. The C.V Mosby Company.Saint Louis. P.3 - 14.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Fuchs,J.,Thiele,J.J.,Ochsendorf,F.R.1997. Oxidative Stress in Male Infertility. Verlag. St Agustin.p 21 – 40</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Gayton,A.C and Hall,J.E.1997. Fisiologi Olahraga, dalam : Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Ed.9.Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC, hal : 1341-1342.Giam, C.K 1993. Ilmu Kedokteran Olahraga. <span lang="SV">Binarupa Aksara. Jakarta. 34 – 37 Gilbert,S.F.1985. </span>Developmental Biology. Sinaeur Association,Inc. Scenderland. Massachusetss.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Irvine, D.S.,1996. Glutathion as a Treatmen for Male Infertility. Journals of Reproduction and Fertility 1 : 6 – 12.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="NL">Ji,L.L and Leeuwenburgh C. 1998. </span>Glutathion and Glutathione Ethyl Ester Supplementation of Mice Alter Glutathion homeostasis During Exercise. Abstract. Available from : <span class="a1"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial; color: windowtext;">jn.nutrition.org/cgi/content/abstract (Accessed : 2008<span> </span>July 22)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Ji,L.L. 1999. Antioxidant and Oxidative Stress in Exercise. Proceeding of the Society for Experimental Biology and Medicine. 222 : 238 - 292.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Kumar, L., Cotran R.S., Robbins, S.L. 2005. Robbins Basic Pathology, In : Cellular Injury Adaptation and Death. WB Sauners. Philadelphia.</p>
<h1 style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;" lang="EN">Manna, Jana K, Samanta P.K. Effect of Intensive Exercise-Induced Testicular Gametogenic and Steroidogenic Disorders Strain Rats: Correlative Approach to Oxidative Stress. Journal Acta Physiologica Scandinavica volume</span><span lang="EN"> </span><span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;" lang="EN">178 Issue 1 Page 33-40, May 2003.Abstract. Available from : </span><em><span style="font-size: 12pt;" lang="EN"><a href="http://www.blackwell-synergy.com/"><span style="color: windowtext;">http://www.blackwell-synergy.com</span></a></span></em><span style="font-size: 12pt; font-weight: normal;" lang="EN">. <span style="text-decoration: underline;">(Accessed : 2008 March 16)</span></span></h1>
<p class="Default" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Misra et al.,2005. Protective Effect of Composite Extract of Withania somnifera, Ocimum sanctum and Zingiber officinale on Swimming-Induced Reproductive Endocrine Dysfunctions in Male Rat. Available from </span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: windowtext;"><a href="http://ijpt.iums.ac.ir.(accessed/"><span style="color: windowtext;">http://ijpt.iums.ac.ir.(Accessed</span></a></span></span><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> 2007 Oct. 25).</span></span></p>
<p class="Default" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Murray</span><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">,R.K.,Granner,D.,Mayes,P.A.,Rodwell,V.W.2000. Harper’s Biochemistry, 25<sup>th</sup> Ed. P : 124, 156 – 157, 618 – 620.</span></p>
<p class="Default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="Default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Sanocka,D and Kurpisz, M. 2004. Reactive Oxygen Species and Sperm Cells. Journal of Reproductive Biology and Endocrinology 2 : 12.</span></p>
<p class="Default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="Default" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Shah, P. 2004 Male Infertility and Glutathion. Available from: </span><span class="a1"><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: windowtext;"><a href="http://www.1whey2health.com.(accessed/"><span style="color: windowtext;">www.1whey2health.com.(Accessed</span></a> 2007</span></span></span><span class="a1"><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></span></span><span class="a1"><span style="text-decoration: underline;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: windowtext;">Nov. 6)</span></span></span></p>
<p class="Default" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Sutarina, N., Edward, T. 2004. Pemberian Suplemen pada Olahraga. Majalah GizMindo vol.3 No. 9 September 2004. p : 14 – 15. </span></p>
<p class="Default" style="margin: 12pt 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Winarsi H, 2007. Antioksidan Alami dan Radikal Bebas. Yogyakarta. Penerbit Kanisius, hal : 105 – 109.</span></p>
</div>
<p><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: black;"><br style="page-break-before: always;" /> </span></p>
<p class="MsoNormal">
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=379" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/glutathion-meningkatan-kualitas-tubulus-seminiferus-pada-mencit-yang-menerima-pelatihan-fisik-berlebih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PERBANDINGAN EFEK PEMBERIAN ANESTESI XYLAZIN-KETAMIN HIDROKLORIDA DENGAN ANESTESI TILETAMIN-ZOLAZEPAM TERHADAP CAPILLARY REFILL TIME (CRT) DAN WARNA  SELAPUT LENDIR PADA ANJING</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/perbandingan-efek-pemberian-anestesi-xylazin-ketamin-hidroklorida-dengan-anestesi-tiletamin-zolazepam-terhadap-capillary-refill-time-crt-dan-warna-selaput-lendir-pada-anjing/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/perbandingan-efek-pemberian-anestesi-xylazin-ketamin-hidroklorida-dengan-anestesi-tiletamin-zolazepam-terhadap-capillary-refill-time-crt-dan-warna-selaput-lendir-pada-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:12:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=375</guid>
		<description><![CDATA[COMPARISON EFFECT OF XYLAZINE-KETAMINE HYDROCHLORIDE COMBINATION WITH TILETAMINE-ZOLAZEPAM COMBINATION TO CAPILLARY REFILL TIME (CRT) AND THE MUCOUS MEMBRANES COLOUR IN DOGS


I Wayan Gorda1, A.A. Gde Jaya Wardhita1, 
A.A. Gde Oka Dharmayudha2
 
1Laboratorium Bedah Veteriner
2Laboratorium Radiologi Veteriner FKH Universitas Udayana
o_dharmayudha@yahoo.com
 
 
 
ABSTRAK
 
 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari perbandingan pengaruh pemberian anestesi xylazin-ketamin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">COMPARISON EFFECT OF XYLAZINE-KETAMINE HYDROCHLORIDE COMBINATION WITH TILETAMINE-ZOLAZEPAM COMBINATION TO CAPILLARY REFILL TIME (CRT) AND THE MUCOUS MEMBRANES COLOUR IN DOGS</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>I Wayan Gorda<sup>1</sup>, A.A. Gde Jaya Wardhita<sup>1</sup>, </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>A.A. Gde Oka Dharmayudha<sup>2</sup></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><sup>1</sup>Laboratorium Bedah Veteriner</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><sup>2</sup>Laboratorium Radiologi Veteriner FKH Universitas Udayana</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>o_dharmayudha@yahoo.com</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari perbandingan pengaruh pemberian anestesi xylazin-ketamin hidroklorida dan anestesi tiletamin-zolazepam terhadap <em>Capillary Refill Time (CRT)</em> dan warna selaput lendir pada anjing sebelum dianestesi, saat teranestesi, dan selama teranestesi. Penelitian ini menggunakan perlakuan yang diberikan berupa ; dosis I (2 mg/kgBB Xylazin ; 15 mg/kgBB Ketamin Hidroklorida) dan dosis II (20 mg/kg BB Zoletil (Zolazepam-Tiletamin)). Setiap perlakuan menggunakan 5 ekor anjing sebagai ulangan, sehingga secara keseluruhan digunakan 10 ekor anjing. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam, sedangkan data dengan menggunakan skor diuji dengan uji Friedman. Hasil analisis diperoleh bahwa xylazin-ketamin hidroklorida<span> </span>dengan tiletamin-zolazepam terjadi peningkatan terhadap <em>CRT </em>dan warna selaput lendir.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Kata kunci : xylazin, ketamin, tiletamin, zolazepam, CRT<em>,</em> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span>This study is to determine the effect of xylazine-ketamine hydrochloride combined with tiletamin-zolazepam combination to Capillary Refill Time (CRT), paleneus of mucous membranes, <span style="color: black;">heart pulse frequency and pulse</span> before anesthesion, when anesthezed and during anesthetion. The experimental was carried duct on local dog.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">The experimental design has 2 treatments : dose I (2 mg/kg body weight of xylazine hydrochloride ; 15 mg/kg body weight of ketamine hydrochloride) and dose II (20 mg/kg body weight of zoletil). Each of treatment use 5 local dogs and total of 10 dogs for all of the treatments. Data were analyzed by analysis of varience test and the score data analyzed by friedman test. A results showed the combination of xylazine-ketamine hydrochloride and tiletamin-zolazepam combination could increase to Capillary Refill Time (CRT) and mucous membranes colour.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Key word : xylazine, ketamine, tiletamine, zolazepam, CRT, </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Salah satu anestesi umum yang sering digunakan pada anjing yaitu kombinasi Xylazin-Ketamin Hidroklorida. Xylazin Hidroklorida merupakan analgesik dan sedatife yang mempunyai efek relaksasi otot yang baik. Sedangkan Ketamin Hidroklorida sering disebut sebagai “<em>dissiosiative anaesthetic”</em> dengan efek menimbulkan kekakuan otot yang tinggi pada waktu pemulihannya, maka dalam penggunaannya biasanya dikombinasikan dengan Xylazin yang memiliki perelaksasi otot sehingga dapat mengurangi kekakuan otot yang dihasilkan agen dissiosiatif (Booth dkk., 1997; Hall dan Clarke, 1983).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Kombinasi Xylazin-Ketamin Hidroklorida mempunyai keuntungan yaitu ekonomis, pemberiannya mudah baik secara intravena maupun intramuskuler, induksi yang cepat dan pemulihannyapun cepat (Warren, 1983). Menurut Walter (1985), kombinasi Xylazin-Ketamin Hidroklorida merupakan agen kombinasi yang saling melengkapi antara efek analgesik dan relaksasi otot serta sangat baik dan efektif untuk anjing karena memiliki rentang keamanan yang lebar. Cullen (1991), menyatakan bahwa kombinasi kedua anestesi ini akan menimbulkan peningkatan yang bervariasi pada pulmonum, hipertensi sistemik, penurunan curah jantung, hypoventilasi yang menyebabkan peningkatan tekanan<span> </span>karbondioksida dan tekanan oksigen arteri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Selain Xylazin-Ketamin Hidroklorida tersedia pula kombinasi anestesi lain yang dapat digunakan pada anjing yaitu Tiletamin Hidroklorida dengan Zolazepam. Zolazepam merupakan derivate Benzodiazepin terbaru dan merupakan antikonvulsi yang efeknya dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan golongan Diazepin. Tiletamin mempunyai efek kataleptik dan bersifat lipofilik sehinggga lebih cepat didistribusikan ke organ bervaskularisasi tinggi terutama otak (Mullen, dkk.,1987; Virbac, 1992). Gabungan Tiletamin dan Zolazepam (Zoletil) dengan perbandingan 1:1 akan meningkatkan kualitas dari masing-masing zat penyusun dan menghilangkan efek-efek negatif dibandingkan dengan penggunaan secara terpisah (Booth, dkk., 1977). Wilson , dkk., (1993), menyatakan bahwa Tiletamin dan Zolazepam merupakan cardiostimulator, yaitu agen yang dapat merangsang kerja jantung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Materi</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Hewan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah anjing jantan lokal dengan berat badan berkisar antara 7-10 kg sebanyak 10 ekor. Sebelum dilakukan tindakan anestesi terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan fisik dan diadaptasikan selama satu minggu. Bahan dan obat-obatan yang dipakai adalah alkohol 70%, kapas , Ketamin Hidroklorida (100mg/ml), Xylazin Hidroklorida (20 mg/ml), gabungan Tiletamin-Zolazepam (Zoletil 50<sup>®</sup> Virbac, Perancis), dan Atropin sulfat (0,25 mg/ml). Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat suntik sekali pakai 3 ml dan 5 ml, pinset, alat pengukur waktu (stopwatch) dan timbangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Rancangan Penelitian</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola <em>Split in time</em> dengan dua perlakuan yaitu XK 2:15 dan Z 20, secara berturut-turut menggunakan<span> </span>dosis 2 mg/kgBB Xylazin dengan 15 mg/kgBB Ketamin Hidroklorida dan 20 mg/kg BBZoletil (Zolazepam-Tiletamin).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span><span> </span>Hewan percobaan yang dipergunakan adalah anjing jantan lokal yang pada pemeriksaan fisik dinyatakan sehat, sebelum dilakukan anestesi hewan percobaan dipuasakan selama 12 jam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Variabel yang Diamati</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi <em>Capillary Refill Time (CRT)</em> yang diamati dengan menekan gusi anjing menggunakan jari hingga gusi dibawah daerah penekanan menjadi pucat, kemudian jari dilepaskan dan hitung kembalinya warna gusi seperti semula dengan menggunakan stopwatch (Greene, 2002), serta pengamatan warna selaput lendir (dengan skor : 3 = merah, 2 = normal, 1 = pucat). Variabel ini diamatai sebelum dianestesi, saat teranestesi, 30 menit, 60 menit, dan 90 menit periode teranestesi. Data kuantitatif dari penelitian ini dianalisis dengan sidik ragam, dilanjutkan dengan Uji Wilayah berganda Duncan bila hasilnya berbeda nyata (Steel dan Torrie, 1989), sedangkan data dengan menggunakan skor diuji dengan Uji Friedman (Nasoetion dan Barizi, 1976).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Hasil</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Total Nilai CRT</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Rata-rata total nilai CRT (Tabel 1) dari pemberian anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Tiletamin-Zolazepam adalah 1,68 detik dan 1,17 detik dengan rata-rata masing-masing perlakuan 30 menit sebelum dianestesi ( T-30), saat mulai teranestesi (T0), saat teranestesi 30 menit (T30), 60 menit (T60), dan 90 menit (T90) adalah 1,46 detik, 1,51 detik, 1,40 detik, 1,36 detik dan 1,39 detik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Hasil sidik ragam pada Tabel 2 menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap nilai <em>CRT</em> anjing jantan lokal, selanjutnya interaksi antara waktu dan perlakuan juga menunjukkan pengaruh yang sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap nilai <em>CR</em>T anjing jantan local, namun waktu pengamatan memberikan hasil tidak berbeda nyata (P&gt;0,05) terhadap nilai <em>CRT</em> pada anjing jantan lokal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Tabel 1. Hasil Rata-Rata Total Nilai CRT Anjing Jantan Lokal</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border: medium none; border-collapse: collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>Perlakuan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>-30</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>30</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>60</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>90</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.3pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>Rata-rata total</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">X + K</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,46</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">2,10</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,78</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,56</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,50</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.3pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,68</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T + Z</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,46</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">0,92</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,02</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,16</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,28</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.3pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,17</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">Rata-rata</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,46</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,51</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,40</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,36</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.25pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,39</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 63.3pt;" width="84" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Total Skor Warna Selaput Lendir</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Rata-rata total skor warna selaput lendir ( Tabel 4) dari pemberian anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Tiletamin-Zolazepam adalah 1,76 dan 2,2 dengan rata-rata masing-masing perlakuan 30 menit sebelum dianestesi (T-30), saat mulai teranestesi (T0), saat teranestesi 30 menit (T30), 60 menit (T60), dan 90 menit (T90) adalah 2,0, 1,9, 2,5, 2,0 dan 2,0.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Table 2. Hasil Rata-Rata Total Skor Warna Selaput Lendir Anjing Jantan Lokal</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border: medium none; border-collapse: collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" width="86" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>Perlakuan</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 49.25pt;" width="66" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>-30</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>0</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>30</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>60</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>90</strong></p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>Rata-Rata Total</strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" width="86" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">X + K</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 49.25pt;" width="66" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">1,2</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">1,6</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">1,76</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" width="86" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T + Z</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 49.25pt;" width="66" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,6</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,4</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,2</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 64.15pt;" width="86" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">Rata-rata</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 49.25pt;" width="66" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">1,9</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 54pt;" width="72" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,5</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 45pt;" width="60" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2,0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 90pt;" width="120" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span>4.1.4<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong>Hasil Uji Friedman Terhadap Skor Warna Selaput Lendir Anjing Jantan Lokal</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;">Hasil Uji Friedman (Tabel 5) terhadap skor warna selaput lendir anjing jantan local menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap warna selaput lendir. Pada kedua perlakuan (Tabel 6 dan Tabel 7) menunjukkan T-30 berbeda nyata (p&lt;0,05) terhadap T0 namun tidak berbeda nyata terhadap T30, T60 dan T90.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"><strong>Tabel 3. Hasil Uji Friedman Terhadap Skor Warna Selaput Lendir pada Pemberian Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;"><strong> </strong></p>
<table class="MsoNormalTable" style="border: medium none; border-collapse: collapse;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="border: 1pt solid windowtext; padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span> </span><span> </span>Waktu</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">Mean Rank</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">Sig 5 %</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T-30</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">3,60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">A</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">1,60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">B</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T30</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">2,60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">Ab</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">3,60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">A</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T90</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">3,60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">A</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T-30</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">2,50</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">A</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T0</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">4,00</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">B</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T30</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">3,50</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">Ab</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T60</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">2,50</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">B</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 77.4pt;" width="103" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">T90</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 126pt;" width="168" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">2,50</p>
</td>
<td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 72pt;" width="96" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">B</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Keterangan : Nilai dengan huruf tidak sama menunjukkan berbeda nyata ( P&lt;0,05 )</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Pembahasan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Pemberian kombinasi anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida terjadi peningkatan nilai <em>CR</em>T disbanding control (T-30) dan mengalami penurunan kembali pada T (30) sampai T (90). Pada perlakuan II yaitu pemberian anestesi Tiletamin-Zolazepam diperoleh hasil penurunan nilai <em>CRT</em> pada T (0) – T (30) dan nilai <em>CRT</em> kembali meningkat pada T(60)- T(90). Hasil penelitian ini me<em>nunjukkan bahwa perbedaan perlakuan yang diberikan berpengaruh terhadap nilai</em> CRT. Peningkatan nilai CRT pada pemberian anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida disebabkan karena Xylazin-Ketamin Hidroklorida menekan pusat vasomotor di bagian perifer yang menyebabkan vasodilatasi, dan dapat menurunkan curah jantung serta tekanan darah (Jones, 1957). Akibat curah jantung yang menurun dan vasodilatasi terjadi pula penurunan aliran darah yang berakibat nilai <em>CRT</em> menjadi lebih panjang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Penurunan nilai <em>CRT</em> pada perlakuan II disebabkan oleh efek Tiletamin-Zolazepam dapat mencapai jantung dan merangsang saraf simpatis dimana kombinasi Tiletamin-Zolazepam dapat menyebabkan takikardia dan berpengaruh terhadap tekanan darah arteri dan curah jantung (Einstein, dkk., 1994). Hal ini sesuai dengan info dari Virbac, (1992) yang menyatakan bahwa anestesi Tilatemin-Zolazepam pada anjing dapat menimbulkan takikardia, peningkatan tekanan darah yang bersifat sementara dan induksi polipnea. Penurunan nilai <em>CRT</em> disebabkan karena anestesi Tiletamin-Zolazepam merangsang kerja jantung lebih kuat sehingga curah jantung meningkat dan aliran darah ke perifer meningkat sehingga akan mengakibatkan <em>CRT</em> lebih cepat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Pada warna selaput lendir, dengan pemberian kombinasi anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida terjadi kepucatan saat anjing mulai teranestesi (T0) sampai T30 dan kembali normal pada T60-T90. sedangkan pada pemberian kombinasi Tiletamin-Zolazepam, warna selaput lendir merah saat teranestesi (T0) sampai T30 dan kembali normal T60. dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan berpengaruh terhadap warna selaput lendir (P&lt;0,05).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Kepucatan yang terlihat pada selaput lendir dengan pemberian kombinasi anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dapat disebabkan oleh vasodilatasi pembuluh darah sehingga dinding pembuluh darah menipis dibandingkan saat berkontriksi, akibatnya volume darah beredar berkurang dan warna merah dari darah tidak tampak jelas sehingga warna selaput lendir terlihat pucat. Di samping itu kepucatan selaput lendir dapat disebabkan oleh penurunan aliran darah yang mengalir pada daerah tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Pada pemberian anestesi Tiletamin-Zolazepam selaput lendir berwarna merah pada saat teranestesi. Hal ini disebabkan karena Tiletamin-Zolazepam merupakan cardiostimulator, yaitu agen yang dapat merangsang kerja jantung (Wilson, dkk., 1993). Bila kerja jantung meningkat maka curah jantung akan meningkat dan aliran darah ke perifer juga meningkat sehingga dapat dimanifestasikan dengan warna selaput lendir yang merah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span><!--[endif]-->Pemberian anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan anestesi Tiletamin-Zolazepam menimbulkan efek peningkatan terhadap nilai <em>CRT</em> dan warna selaput lendir pada anjing jantan lokal</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"><!--[if !supportLists]--><span>2.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span><!--[endif]-->Efek pemberian anestesi Xylazin-Ketamin didapatkan nilai <em>CRT</em> lebih panjang dan warna selaput lendir lebih pucat pada saat anjing mulai teranestesi<span> </span>dibandingkan dengan pemberian anestesi Tiletamin-Zolazepam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Saran</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"><span> </span>Berdasarkan hasil penelitian ini anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida (2mg/kg BB;15mgBB) maupun Tiletamin-Zolazepam (20mg/kgBB) aman digunakan pada anjing lokal karena efek yang ditimbulkan terhadap <em>CRT </em>dan warna selaput lendir masih dalam batas normal</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Booth, N.H., D.M. J.I. Mayer, dan L.E. McDonald. (1977). <em>Veterinary Pharmacology</em>. The Iowa State  University Press. USA. P. 295-297.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Cullen, L.K. (1991). <em>Lecture Notes on Veterinary Anesthesia</em>. Murdoch  University. Australia. P. 25-28</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Einstein, J.R., Krifton and Starner. (1994). <em>Principles of Veterinary Therapeutics</em>. Longman Scientific and Technical. P. 126</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Greene, A. (2002). <em>Medical Encyclopedia. Dehydration</em>. Verimed Healthcare Network.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Hall, L.W. dan K.W. Clarke. (1983). Veterinary Anasthesia. ELBS and Bailliere Tindal. London</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Jones, L.M. (1957). <em>Pharmacology and Therapeutics</em>. Iowa  State University Press. USA. P : 149-167.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Mullen, J.M., J. Lehman , R. Bohacek, dan R.S. Fisher. (1987). <em>Tiletamine is a poten Inhibitor of N-Methyl-Aspartate Induced Depularization in Rat Hipocampus and Stiatum</em>. J.Pharmacol, Exp. Ther. 243 (3) : 915-200. (Medline).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Nasoetion, A.H. dan Barizi. (1976). Metode Statistika. PT. Gramedia Jakarta. Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Steel, R.G.D. dan J.H. Torrie. (1989). <em>Principle and Procedures of Statistic</em>. Prinsip dan Prosedur Statistik Suatu Pendekatan Biometrik. Alih Bahasa Bambang sumantri. PT. Gramedia Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;., (1992). <em>Zoletil Technical Dossier</em>. Virbac. France.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Walter, H.H. (1985). <em>Xylazin-Pentobarbital Anesthesia in Dog and It’s Antagonism Yohimbin</em>. Am. J. Vet. Ress. 46 (4) : 852-855.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Warren, R.G. (1983). <em>Small Animal Anesthesia</em>. The C.V. Mosby Company. St Louis. 33 : 151-160.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 45pt; text-align: justify; text-indent: -45pt;">Wilson, R.P., L.S. Zagon, D.R. Laracch, dan C.M. Lang. (1993). <em>Cardivascular and Respiratory Effect of Tiletamin-Zolazepam</em>. Pharmacol. Biochem. Behav. 44(1): 1-8. (Medline)</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=375" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/perbandingan-efek-pemberian-anestesi-xylazin-ketamin-hidroklorida-dengan-anestesi-tiletamin-zolazepam-terhadap-capillary-refill-time-crt-dan-warna-selaput-lendir-pada-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Syndromic Surveillance: A Potential Method for Alternative Animal Health Surveillance System</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/syndromic-surveillance-a-potential-method-for-alternative-animal-health-surveillance-system/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/syndromic-surveillance-a-potential-method-for-alternative-animal-health-surveillance-system/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 23:03:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=393</guid>
		<description><![CDATA[SINDROMIK SURVEILAN: METHODE ALTERNATIF POTENSIAL BAGI SISTEM  SURVEILAN KESEHATAN  HEWAN 
I Made Kardena
Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana-Bali
Email:madekardena@gmail.com 
ABSTRAK
 Sindromik surveillance dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam melakukan surveillance terhadap suatu penyakit, dimana sistem ini mempunyai potensi dapat mendeteksi pada tahap awal dari kejadian outbreak penyakit-penyakit hewan. Walaupun sindromik surveillance dikatakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin-left: 60.5pt; text-align: center; text-indent: -60.5pt; line-height: 150%;" align="center"><em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">SINDROMIK SURVEILAN: METHODE ALTERNATIF POTENSIAL BAGI SISTEM <span> </span>SURVEILAN KESEHATAN <span> </span>HEWAN</span></em><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">I Made Kardena</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Laboratorium Patologi<span> </span>Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana-Bali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span style="font-size: 12pt; line-height: 150%; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Email:madekardena@gmail.com </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>Sindromik surveillance dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam melakukan surveillance terhadap suatu penyakit, dimana sistem ini mempunyai potensi dapat mendeteksi pada tahap awal dari kejadian outbreak penyakit-penyakit hewan. Walaupun sindromik surveillance dikatakan memiliki kelemahan dalam mendeteksi penyakit hewan yang besifat subklinis dan spesifik, sistem ini diyakini mampu mendeteksi outbreak penyakit secara cepat termasuk<span> </span>penyakit-penyakit klinis epidemik. Sindromik surveillance juga sangat cocok dijadikan pilihan dalam mendeteksi penyakit di negara-negara yang sedang berkembang karena selain lebih murah, sistem ini juga mampu mengatasi kekurangan jumlah tenaga dokter hewan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Kata Kunci: Surveillance, monitoring tahap awal, Epidemiologi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>Syndromic surveillance is an alternative surveillance system which can potentially detect animal disease outbreaks in the early stages. Although syndromic surveillance has limitations for the detection of sub-clinical and specific diseases, the method has the ability to detect disease outbreaks rapidly including clinical emerging issues. In addition, syndromic surveillance is a suitable surveillance tool that can be applied in developing countries since it is a low-cost surveillance method and is an option for poorly-resourced veterinary services.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 10.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Key words: Surveillance, Early stage monitoring, Epidemiology.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">INTRODUCTION</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span></span></strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">The world that we live in has changed extensively in the past few decades, with the threat of bioterrorism, an imminent influenza pandemic, massive population movement and emerging infectious diseases. These threats require surveillance system that provides adequate lead-time for optimal public response.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>Surveillance system for monitoring and detecting animal diseases become an essential requirement for livestock and poultry industry. Those industries have realized when they experienced poor surveillance on their industries, there were huge financial costs in terms of losses which caused by the disease, control and eradication or trade restrictions. In fact, the costs would become higher when in some cases of the animal disease are related to human health problems and human mortalities </span><!--[if supportFields]><span style="font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element:field-begin" mce_style="mso-element:field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Rushton&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2004&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;47&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;47&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;47&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Conference Proceedings&quot;&gt;10&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Rushton, J&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;secondary-authors&gt;&lt;author&gt;Rushton, J&lt;/author&gt;&lt;/secondary-authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;private sector involvement in animal health surveillance systems&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Workshop on preivate sector involvement in animal health surveillance systems&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2004&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;pub-location&gt;Barbados&lt;/pub-location&gt;&lt;publisher&gt;EU-CARIFORUM&lt;/publisher&gt;&lt;isbn&gt;http://www.caribvet.net/upload/BAR04_3_Proceedings.pdf&lt;/isbn&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Rushton, 2004)</span><!--[if supportFields]><span style="font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element:field-end" mce_style="mso-element:field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 4.3pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>Conventional surveillance system has served public health well in detecting and responding to infectious disease outbreaks. However, this traditional surveillance system often operates with considerable delay, thus complementary surveillance systems are required to provide the necessary lead time </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Doherr&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2001&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;49&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;49&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;49&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Doherr, MG&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Audige, L&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Monitoring and surveillance for rare health-related events: a review from the veterinary perspective&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Philosophical Transactions The Royal Society B Biological Sciences&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Philosophical Transactions The Royal Society B Biological Sciences&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;1097-1106&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;356&lt;/volume&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2001&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;isbn&gt;http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=1088504&lt;/isbn&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Doherr and Audige, 2001)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 4.3pt; text-align: justify; text-indent: 31.7pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">In general,<span> </span>most surveillance data still rely on laboratory confirmation, which provides information to identify disease clusters </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element:field-begin" mce_style="mso-element:field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Hope&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2006&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;15&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;15&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;15&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Hope, K&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Durrheim, DM&lt;/author&gt;&lt;author&gt;d&amp;apos;Espaignet, ET&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Dalton, C&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Syndromic surveillance: is it a useful tool for local outbreak detection?&amp;#xD;&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Jech.bmjjournal.com&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Jech.bmjjournal.com&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;374-375&lt;/pages&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2006&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Hope <em>et al</em>., 2006)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. Recently, a new method on animal disease surveillance has developed for earlier warning system than the conventional surveillance.<span> </span>The novel system is called syndromic surveillance. This surveillance is a type of passive surveillance which is concerned of signs or group of signs that are associated with disease infection in order to detect and report of the diseases </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Buehler&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2003&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;17&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;17&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;17&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Buehler, JW&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Berkelman, RL&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Hartley, DM&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Peters, CJ&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Syndromic surveillance and bioterrorism-related epidemics&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Emerging infectious diseases&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Emerging infectious diseases&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;1197-1204&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;9&lt;/volume&gt;&lt;number&gt;10&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2003&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Durrheim&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2004&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;18&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;18&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;18&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Durrheim, DM&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Speare, R&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Commonicable disease surveillance and management in globalised world&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;The Lancet&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;The Lancet&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;1339-1340&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;363&lt;/volume&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2004&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Buehler <em>et al</em>., 2003, Durrheim and Speare, 2004)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. </span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 4.3pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>A study on syndromic surveillance states that syndromic surveillance has difficulty to detect subclinical diseases and to determine the cause of disease outbreaks because of similarity of the clinical signs with other diseases. Doherr and Audige (2001) argue that syndromic surveillance has negative ability to detect sub clinical diseases as in this method the data collection is based on the clinical signs which are showed when infection is occurred. Nevertheless, in sub clinical infection, the syndromes or clinical signs of the diseases cannot be recognized </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Doherr&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2001&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;49&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;49&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;49&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Doherr, MG&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Audige, L&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Monitoring and surveillance for rare health-related events: a review from the veterinary perspective&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Philosophical Transactions The Royal Society B Biological Sciences&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Philosophical Transactions The Royal Society B Biological Sciences&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;1097-1106&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;356&lt;/volume&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2001&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;isbn&gt;http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=1088504&lt;/isbn&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Doherr and Audige, 2001)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family: "Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family: "Times New Roman""><span style="mso-element:field-end" mce_style="mso-element:field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. Additionally, diagnosis of diseases can somewhat be determined on the basis of clinical signs, but this could be misleading as clinical signs of the diseases are similar to each other. For example, highly virulent avian influenza and Newcastle disease in chickens, show almost the same symptoms like edema and congestion on the comb, loss of appetite, depression, abnormal respiratory, etc (Swine and king, 2003).</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 4.3pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>However, some researchers believe that syndromic surveillance is a method that involves collecting and analyzing statistical data on health trends that is relying on detection of clinical case features that are discernable before confirmation diagnoses are made. Prior to the laboratory confirmation of infectious diseases, ill persons or animals may exhibit behavioral patterns, symptoms, or signs that can be reported by investigators and tracked through a variety of data sources (mandl <em>et al</em>., 2004, Hope <em>et al</em>., 2006). More importantly, syndromic surveillance may overcome the weakness of the traditional surveillance that can detect animal disease outbreak faster. The method is also useful to be applied in developing countries due to its benefits as a low-cost monitoring system and an option for poorly-resourced veterinary service surveillance method.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 4.3pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>This reviewed article is written to enhance our knowledge on health surveillance, specifically on veterinary surveillance, and to acknowledge an alternative way to do health surveillance on animal population. In addition, this article is also useful as an alternative source for a reference for further study or research on surveillance since the study on animal health surveillance needs to be improved and up dated. </span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></strong></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Syndromic Surveillance System Can Detect Disease Outbreaks Rapidly </span></strong></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Syndromic surveillance can respond to outbreaks earlier than conventional surveillance which relies upon confirmation by laboratory tests. In this method, syndromes are the indicator for the earlier detection of the disease incidence either in human or animal population </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Berger&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2006&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;34&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;34&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;34&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Berger, M&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Shiau,R&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Weintraub, JM&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Review of syndromic surveillance: implication for waterborne disease detection&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Journal of Epidemiol Community Health&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Journal of Epidemiol Community Health&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;543-550&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;60&lt;/volume&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2006&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;isbn&gt;http://jech.bmj.com/cgi/reprint/60/6/543&lt;/isbn&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Berger <em>et al</em>., 2006)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. In New York, a fully functional hospital which uses spatial, temporal and space-time scan statistic software (SaTScan) automated analyses the outbreak based on syndromes and the result can be showed virtually within 24 hours after data submission </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Das&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2003&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;35&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;35&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;35&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Das, D&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Weiss, D&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Mostashari, F&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Treatwell, T&lt;/author&gt;&lt;author&gt;McQuiston, J&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Huntwagner, L&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Karpati, A&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Bornschlegel, K&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Seeman, M&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Turcios, R&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Terebuh, P&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Curtis, R&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Heffernan, R&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Balter, S&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Enhanced drop-in syndromic surveillance in New York city following September, 11, 2001&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Journal of Urban Health&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Journal of Urban Health&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;i76-i88&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;80 &lt;/volume&gt;&lt;number&gt;2 (suppl.1)&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2003&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Das <em>et al</em>., 2003)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. More over, when doing surveillance on disease outbreaks, there are many steps that have to be prepared in order to gain a valid data which is in conventional method surveillance needs longer time to be required. Pavin (2003) believe that syndromic surveillance can provide power to conduct multiple steps in the investigation simultaneously, rapidly and efficiently<span> </span>(Pavin, A. J., 2003). This system is also considered as a relatively method that requires short time from the beginning to establish the result on investigation.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Syndromic Surveillance is A Low-cost Surveillance Method</span></strong></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">The syndromic surveillance technique is developed because it provides a relatively inexpensive and practical approach gathering the information required for effective animal disease control </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Heffernan&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2004&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;24&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;24&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;24&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Heffernan, R&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Mostashari, F&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Das, D&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Karpati, A&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Kulldorff, M&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Weiss, D&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Syndromic surveillance in public health practice, New York City&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Emerging infectious diseases&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Emerging infectious diseases&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;858-864&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;10&lt;/volume&gt;&lt;number&gt;5&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2004&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Sloane&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2006&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;42&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;42&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;42&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Sloane, PD&lt;/author&gt;&lt;author&gt;MacFarquhar, JK&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Sickbert-Bennett, E&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Mitchell, CM&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Akers, R&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Weber, DJ&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Howard, K&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Syndromic surveillance for Emerging Infections in Office Practice Using Billing Data&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Annals of Family medicine&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Annals of Family medicine&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;351-358&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;4&lt;/volume&gt;&lt;number&gt;4&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2006&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Heffernan <em>et al</em>., 2004, Sloane <em>et al</em>., 2006)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. Davies, <em>et al</em> (2007) believe that although this method is rather a new approach surveillance which needs to be more developed, some research demonstrate syndromic surveillance technique has the ability to significantly improve the collection and management of animal health information in low-cost expenditures, yet demonstrable value to animal livestock </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Davies&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2007&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;38&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;38&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;38&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Davies, PR&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Wayne, SR&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Torrison, JL&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Peele, B&lt;/author&gt;&lt;author&gt;deGroot, BD&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Wray, D. W.&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Real-time disease surveillance tools for the swinje industry in Minnesota&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Veterinaria Italiana&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Veterinaria Italiana&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;731-738&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;43&lt;/volume&gt;&lt;number&gt;3&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2007&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Davies <em>et al</em>., 2007)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. In deed, compare with active surveillance, syndromic surveillance requires lower cost for investigation. For example, in data collection, syndromic surveillance generally uses available data, which is at a lower cost than by undertaking a survey </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Mostashari&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2003&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;33&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;33&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;33&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Mostashari, F&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Hartman, J&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Syndromic surveillance: a local perspective&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;i1-i7&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;80&lt;/volume&gt;&lt;number&gt;2 (Suppl 1)&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2003&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Mostashari and Hartman, 2003)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family: "Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family: "Times New Roman""><span style="mso-element:field-end" mce_style="mso-element:field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Syndromic surveillance does not require the cost for the diagnostic kits that are commonly expensive when using laboratory confirmation. In this surveillance the diagnostic of disease from clinical symptoms have already been determined, the laboratory confirmation is not compulsory to be done.<span> </span>Consequently, there is no cost for laboratory materials.</span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Syndromic Surveillance is Possible to be An Attractive Option for Poorly-resourced Veterinary Services</span></strong></p>
<p class="ListParagraphCxSpMiddle" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">In some areas, especially in developing countries, the availability of veterinary service is often limited.<span> </span>The limitation of veterinary service is important when undertaking active surveillance. In participatory epidemiology, veterinarians are needed to undertake surveys related to the animal health community by performing meetings or interviewing. The veterinarians generally lead the meeting and at the same time lead the interviews in the community </span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-begin" mce_style="mso-element: field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.CITE &lt;EndNote&gt;&lt;Cite&gt;&lt;Author&gt;Hussain&lt;/Author&gt;&lt;Year&gt;2005&lt;/Year&gt;&lt;RecNum&gt;64&lt;/RecNum&gt;&lt;record&gt;&lt;rec-number&gt;64&lt;/rec-number&gt;&lt;foreign-keys&gt;&lt;key app=&quot;EN&quot; db-id=&quot;xd2wt59t7rpp0fee5zcvwvvxafsdef25pasf&quot;&gt;64&lt;/key&gt;&lt;/foreign-keys&gt;&lt;ref-type name=&quot;Journal Article&quot;&gt;17&lt;/ref-type&gt;&lt;contributors&gt;&lt;authors&gt;&lt;author&gt;Hussain, M&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Malik, MA&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Fatima, Z&lt;/author&gt;&lt;author&gt;Yousup, MR&lt;/author&gt;&lt;/authors&gt;&lt;/contributors&gt;&lt;titles&gt;&lt;title&gt;Participatory surveillance of livestock diseases in Islamabad capital territory&lt;/title&gt;&lt;secondary-title&gt;International Journal of Agriculture &amp;amp; Biology&lt;/secondary-title&gt;&lt;/titles&gt;&lt;periodical&gt;&lt;full-title&gt;International Journal of Agriculture &amp;amp; Biology&lt;/full-title&gt;&lt;/periodical&gt;&lt;pages&gt;567-570&lt;/pages&gt;&lt;volume&gt;7&lt;/volume&gt;&lt;number&gt;4&lt;/number&gt;&lt;dates&gt;&lt;year&gt;2005&lt;/year&gt;&lt;/dates&gt;&lt;urls&gt;&lt;/urls&gt;&lt;/record&gt;&lt;/Cite&gt;&lt;/EndNote&gt;<span style="mso-element:field-separator" mce_style="mso-element:field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">(Hussain <em>et al</em>., 2005)</span><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">. </span></p>
<p class="ListParagraphCxSpLast" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 4.5pt; text-align: justify; text-indent: 31.5pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">As with the participatory approach which is based on interaction with the farmers, syndromic surveillance does not require a high number of veterinarians. The presence of veterinarians is not at the first line because in this method the farmers are encouraged to identify and report their sick animals not only to veterinarian but also to the head of village, or department of animal health. In other words, the farmers actively report their sick animals to the authorized health animals.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="ListParagraph" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">CONCLUSION</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"><span> </span>Based on reviewing of some related articles, syndromic surveillance is a potential surveillance method which may improve the response of control and prevention of disease outbreaks; as it has advantages as an alternative way to do clinical surveillance in early stage, a low-cost surveillance system and an alternative option for poorly-resourced veterinary services monitoring system.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: normal;" align="center"><strong><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">REFERENCE</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element:field-begin" mce_style="mso-element:field-begin"></span><span style="mso-spacerun:yes" mce_style="mso-spacerun:yes"> </span>ADDIN EN.REFLIST <span style="mso-element: field-separator" mce_style="mso-element: field-separator"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Berger, M., R.Shiau,&amp; J.Weintraub. 2006. Review of syndromic surveillance: implication for waterborne disease detection. <em>Journal of Epidemiol Community Health,</em> 60<strong>,</strong> 543-550.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Buehler, J., R. D.Berkelman Hartley and C.Peters. 2003. Syndromic surveillance and bioterrorism-related epidemics. <em>Emerging infectious diseases,</em> 9<strong>,</strong> 1197-1204.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Das, D., D.Weiss, F. Mostashari, T.Treatwell, J.Mcquiston, L.Huntwagner, A. Karpati, K.Bornschlegel, M.Seeman, R.Turcios, P.Terebuh, R.Curtis, R.Heffernan &amp; S.Balter.2003. Enhanced drop-in syndromic surveillance in New York city following September, 11, 2001. <em>Journal of Urban Health,</em> 80 i76-i88.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Davies, P., S.Wayne, J.Torrison, B.Peele, B.Degroot &amp; DW.Wray. 2007. Real-time disease surveillance tools for the swinje industry in Minnesota. <em>Veterinaria Italiana,</em> 43<strong>,</strong> 731-738.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Doherr, M. &amp; L.Audige, L. 2001. Monitoring and surveillance for rare health-related events: a review from the veterinary perspective. <em>Philosophical Transactions The Royal Society B Biological Sciences,</em> 356<strong>,</strong> 1097-1106.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Durrheim, D. &amp; R.Speare. 2004. Commonicable disease surveillance and management in globalised world. <em>The Lancet,</em> 363<strong>,</strong> 1339-1340.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Heffernan, R., F.Mostashari, D.Das, A.Karpati., M.Kulldorff &amp; D.Weiss. 2004. Syndromic surveillance in public health practice, New York City. <em>Emerging infectious diseases,</em> 10<strong>,</strong> 858-864.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Hope, K., D.Durrheim, E.D&#8217;espaignet &amp; C.Dalton.2006 Syndromic surveillance: is it a useful tool for local outbreak detection?. <em>Jech.bmjjournal.com</em><strong>,</strong> 374-375.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Hussain, M., M.Malik, Z.Fatima, &amp; M.Yousup. 2005. Participatory surveillance of livestock diseases in Islamabad capital territory. <em>International Journal of Agriculture &amp; Biology,</em> 7<strong>,</strong> 567-570.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Mostashari, F. &amp; J.Hartman. 2003. Syndromic surveillance: a local perspective. <em>Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine,</em> 80<strong>,</strong> i1-i7.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Rushton, J. 2004. private sector involvement in animal health surveillance systems. IN RUSHTON, J. (Ed.) <em>Workshop on preivate sector involvement in animal health surveillance systems.</em> Barbados, EU-CARIFORUM.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;">Sloane, P., J.Macfarquhar, E.Sickbert-Bennett, C.Mitchell, R. Akers, D.Weber &amp;K. Howard.2006. Syndromic surveillance for Emerging Infections in Office Practice Using Billing Data. <em>Annals of Family medicine,</em> 4<strong>,</strong> 351-358.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: normal;"><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"><!--[if supportFields]><span style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman"" mce_style="font-size:12.0pt;font-family:"Times New Roman""><span style="mso-element: field-end" mce_style="mso-element: field-end"></span></span><![endif]--><span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;;"> </span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=393" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/syndromic-surveillance-a-potential-method-for-alternative-animal-health-surveillance-system/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>STUDI PATOGENESIS PENYAKIT JEMBRANA SAPI BALI  BERDASARKAN KARAKTERISTIK SELTERINFEKSI  PADA JARINGAN LIMFOID DAN DARAH TEPI</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/studi-patogenesis-penyakit-jembrana-sapi-bali-berdasarkan-karakteristik-selterinfeksi-pada-jaringan-limfoid-dan-darah-tepi/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/studi-patogenesis-penyakit-jembrana-sapi-bali-berdasarkan-karakteristik-selterinfeksi-pada-jaringan-limfoid-dan-darah-tepi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 22:32:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[

 

STUDIES OF THE PATHOGENESIS OF JEMBRANA DISEASE BASED ON THE CHARACTERISTIC OF INFECTED CELLS IN THE LYMPHOID TISSUES AND PERIPHERAL BLOOD
 
I Ketut Berata
Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
E-mail: iketutberata@yahoo.co.id
 
 
ABSTRAK
 
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari patogenesis penyakit jembrana pada sapi Bali, berdasarkan karakteristik sel terinfeksi dalam jaringan limfoid dan sel-sel darah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]><br />
<mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --></p>
<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--> <!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1032" /> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapelayout v:ext="edit"> <o:idmap v:ext="edit" data="1" /> </o:shapelayout></xml><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em>STUDIES OF THE PATHOGENESIS OF JEMBRANA DISEASE BASED ON THE CHARACTERISTIC OF INFECTED CELLS IN THE LYMPHOID TISSUES AND PERIPHERAL BLOOD</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span style="font-size: 14pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">I Ketut Berata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="SV">Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="ES">E-mail: </span><span lang="SV"><a href="mailto:iketutberata@yahoo.co.id"><span lang="ES">iketutberata@yahoo.co.id</span></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari patogenesis penyakit jembrana pada sapi Bali, berdasarkan karakteristik sel terinfeksi dalam jaringan limfoid dan sel-sel darah tepi. Satu ekor sapi bali diinokulasi dengan virus penyakit jembrana (JDV). Pada demam hari kedua, darah tepi sapi percobaan diambil dari vena jugularis. </span>Limfosit dari darah tepi diisolasi dengan teknik picoll. <span lang="ES">Kemudian sapi dinekropsi. Limpa, limfoglandula prescapularis dan prefemoralis diambil secara aseptik, kemudian diproses untuk pembuatan sediaan histopatologi. Untuk penghitungan persentase sel-sel terinfeksi dalam organ limfoid, sebagian jaringan limfoid dibuat suspensi dalam PBS yang selanjutnya dibuat preparat ulas pada gelas objek. Limfosit dari darah tepi, preparat ulas dan sediaan histopatologis masing-masing diwarnai dengan teknik imunoperoksidase tidak langsung. Pada pewarnaan ini, sel-sel terinfeksi JDV tampak coklat. Intensitas warna coklat diperiksa untuk menentukan tingkat infeksi. Hasil penelitian menunjukkan persentase sel terinfeksi JDV pada limpa dan limfoglandula jumlahnya sama, <span> </span>berkisar 9,5%. </span><span lang="SV">Sedangkan sel terinfeksi JDV pada limfosit darah tepi rata-rata 7%. Berdasarkan intensitas warna coklat tampak bahwa sel terinfeksi pada limfoglandula lebih kuat dibandingkan dengan pada limpa. <span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kata kunci : </span>Pathogenesis<span lang="SV">, Penyakit jembrana, I</span><span lang="ES">munoperoksidase, Organ Limfoid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">The aim the research is to studi pathogenesis of Jembrana disease on Bali cattle based on the characteristic of infect</span>ed cells in lymphoid tissues and peripheral blood mononuclear cells. The healthy Bali cattle was inoculated with Jembrana disease virus (JDV) (BBVet collection). After the second day of fever, the peripheral blood of experimental cattle was took jugularis vein. Lymphocyte cells from the peripheral blood was isolated by picoll-paque gradient method. Then the experimental cattle was necropsied. The spleen, praescapularis lymphnode and praefemoralis lymphnode were took by aseptically, then <span> </span>its were processed for to histopathological preparation. For to examine the percentage of the infected cells in lymphoid organs, the part of each lymphoid tissues were made suspension in phosphat buffer saline, then it was made smear preparation on the object glass. Those peripheral lymphocyte cells, lymphocyte smears and histopathological preparation were stained by indirect immunoperoxidase technique. The JDV infected cells was appeared brown color. The intensity of brown color was examined for to determine degree of the infection.<span> </span>The result showed that percentage of JDV infected cells in both spleen and <span> </span>lymphnodes are similarly i.e. average 9,5%. Percentage of the JDV infected cells on peripheral<span> </span>lymphocyte cell was average 7%. Based on the intensity of brown color was appeared that the JDV infected cells from the lymphnodes were stronger than from spleen. The conclusion is the most of the port d‘entry JDV is through the subcutaneus route.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Key words : <span> </span>Pathogenesis, Jembrana disease virus, Lymphoid organ.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;">Berbagai metode digunakan untuk mempelajari patogenesis penyakit atau perjalanan penyakit mulai dari tempat masuk (<em>port d’entry</em>) agen infeksi sampai timbulnya sakit atau kematian hospesnya.<span> </span><span lang="ES">Salah satu metode yang menarik untuk digunakan mempelajari patogenesis penyakit jembrana pada sapi bali adalah berdasarkan karakteristik sel terinfeksi virus penyakit jembrana (JDV=Jembrana Disease Virus) pada organ limfoid dan darah tepi. Organ limfoid yang diperiksa adalah limpa dan limfonode superfisialis, karena organ limfoid ini paling banyak mengandung sel-sel terinfeksi JDV (Chadwick, <em>et al,</em> 1998). Sel-sel terinfeksi JDV pada limpa dan limfonode dilaporkan berlokasi pada parafolikel, yang menunjukkan bahwa sel terinfeksi JDV adalah limfosit T (Dharma, <em>et al</em> 1991). Jumlah sel terinfeksi JDV pada limpa dan limfonode diperkirakan sekitar 10-15% (Chadwick, <em>et al</em> 1997). Sedangkan pada darah tepi ditemukan sedikit sel terinfeksi JDV, tetapi belum dilaporkan persentasenya. Selain itu belum ada laporan penelitian tentang ukuran sel terinfeksi JDV pada limpa, limfonode dan darah tepi. Adanya perbedaan ukuran sel terinfeksi JDV sering menimbulkan perdebatan bahwa sel terinfeksi bukan limfosit T. Abbas, <em>et al</em> (2000) melaporkan bahwa <span> </span>limfosit yang terinfeksi umumnya membengkak dan ukurannya bertambah besar. Dilain pihak ukuran<span> </span>limfosit berkaitan dengan perkembangan sel dari yang muda menjadi dewasa. Limfosit dewasa memiliki ukuran lebih kecil (10-12 µ) dari pada yang muda (limfoblas). Sehingga sel terinfeksi JDV diperdebatkan apakah itu sel limfoblas atau limfosit B. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang patogenesis penyakit berdasarkan karakteristik sel terinfeksi JDV.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Walaupun limpa dan limfonode sama-sama organ limfoid primer, tetapi banyak penelitian yang menemukan adanya variasi peran dari kedua organ tersebut. Pada penelitian inokulasi bakteri pada mencit dengan beberapa rute yang berbeda ditemukan bahwa rute intraperitoneal dan intravenus menimbulkan respon seluler yang signifikan pada limpa. Sedangkan inokulasi melalui subkutan menimbulkan respon seluler pada limfonode (Turcotte, <em>et al</em>, 1978). Demikian pula penelitian tentang mekanisme sel T memori <span> </span>dilaporkan ada peran yang berbeda antara limpa dan limfonode (Bradley, <em>et al,</em> 1992). Belum ada penelitian tentang variasi peran antara organ limfoid pada infeksi JDV. Penelitian bertujuan untuk mempelajari patogenesis penyakit Jembrana pada sapi berdasarkan karakteristik sel-sel terinfeksi JDV pada limpa, limfonode dan darah tepi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES"><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="ES">MATERI DAN METODE</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="ES">Penyiapan Sapi Bali</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Sapi bali yang digunakan berasal dari Nusa Penida, jenis kelamin betina dan berumur 2 tahun. Sapi diadaptasikan selama 2 minggu, divaksinasi Septicemia Epizootica (SE), diberi obat cacing dan pemberian pakan serta minum secara <em>ad libitum</em>. </span><span lang="SV">Sapi dikandangkan dan dipelihara di Balai Besar Veteriner (BBVet).</span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span lang="SV">Virus Penyakit Jembrana</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Virus penyakit Jembrana (JDV) yang digunakan menginokulasi sapi adalah isolat Tabanan/87 yang diperoleh dari Laboratorium Bioteknologi </span><span lang="SV">BBVet<span> <span> </span>Denpasar.</span></span><strong></strong></p>
<p><strong>Inokulasi Sapi dengan JDV dan Nekropsi Sapi</strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Sapi bali yang bebas penyakit Jembrana, diinokulasi dengan suspensi limpa 15% dari sapi terinfeksi JDV. Limpa sapi terinfeksi JDV (isolat Tabanan/87) yang tersimpan pada suhu -70</span><sup><span>o</span></sup><span>C (BBVet Denpasar), dicincang, dan kemudian digerus sampai lumat. Setelah penambahan PBS (pH.7,2) sampai konsentrasinya 15%, dan gerusan limpa ditampung dalam tabung steril. Kemudian disentrifus 3000 rpm selama 10 menit. Supernatan kemudian diambil dan dipakai untuk menginokulasi sapi sehat yang telah disiapkan. Penyuntikan dilakukan secara intramuskuler sebanyak 10 ml cairan supernatan dari suspensi limpa 15%.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent: 36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Suhu tubuh sapi diukur setiap hari, dan ketika sapi menunjukkan gejala demam hari kedua (suhu rektal lebih besar 39,5</span><sup><span>o</span></sup><span>C), maka darah tepi diambil dengan tabung yang berisi antikoagulan EDTA 5%. Limfosit yang diperoleh dari darah tepi sapi terinfeksi JDV, digunakan untuk pemeriksaan sel terinfeksi JDV. </span><span lang="ES">Sapi yang mengalami demam hari kedua dinekropsi dan limpa dan limfonode diambil secara aseptis. Limpa dan limfonode yang terinfeksi JDV tersebut dibuat preparat dengan <em>cryomicrotom</em>e yang akan dipakai bahan penentuan sel terinfeksi JDV. Preparat hasil <em>cryomicrotome</em> dari limpa dan limfonode sapi terinfeksi JDV, diwarnai dengan teknik imunohistokimia / imunositokimia yaitu imunoperoksidase tidak langsung.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span lang="SV">Isolasi Limfosit Darah Tepi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Sebelum sapi dinekropsi, darah tepi diambil untuk memperoleh limfosit darah tepi. Darah tepi diambil secara aseptis melalui vena yugularis dengan menggunakan venoject dan ditampung dalam tabung steril yang telah diisi antikoagulan EDTA 5%. Penghitungan total sel leukosit dan sel limfosit dilakukan dengan haemositometer. Darah ini disentrifus 2500 rpm selama 10 menit. Lapisan putih (<em>buffy coat</em>) di antara<span> </span>sel darah merah dan plasma diambil dan disuspensikan dengan media DMEM tanpa serum. Limfosit dipisahkan dari <em>buffy coat</em> dengan cara <em>Ficoll-paque gradient </em>yaitu<em> </em>disentrifus 3.000 rpm selama 30 menit. Lapisan limfosit diambil dan dicuci 3 x dengan media DMEM tanpa serum. Limfosit yang diperoleh, diresuspensi dan dibuat preparat ulas pada gelas objek yang telah dilapisi poly-l-lysin. Setelah kering, preparat diwarnai dengan teknik imunoperoksidase tidak langsung sesuai metode Dharma (2002). </span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span lang="SV">Pembuatan Preparat Histologis Jaringan Limfoid</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Limpa dan limfonode yang dipakai dalam penelitian ini berasal dari sapi bali terinfeksi JDV yang dinekropsi pada demam hari kedua. </span><span lang="ES">Limfonode yang diambil adalah limfonode prescapularis dan prefemoralis. Jaringan limpa dan limfonode kira-kira sebesar 1 cm</span><sup><span lang="ES">3</span></sup><span lang="ES"> diambil secara aseptis, dan dibekukan pada suhu -20</span><sup><span lang="ES">O</span></sup><span lang="ES">C. Jaringan limpa kemudian diberi OCT (Sigma, USA), kemudian dibekukan secara cepat dengan cara mencelupkan ke dalam nitrogen cair. Jaringan yang beku tersebut kemudian dipotong dengan <em>cryomicrotome</em> yang diset pada suhu -20</span><sup><span lang="ES">O</span></sup><span lang="ES">C. Potongan jaringan segar setebal 4-5 µm, selanjutnya ditempatkan di atas gelas objek yang telah dilapisi <em>poly-l</em>-<em>lysine</em> 0,001% (Sigma, USA). </span><span lang="SV">Setelah dikeringkan di udara, jaringan difiksasi dengan aseton dingin yang mengandung H</span><sub><span lang="SV">2</span></sub><span lang="SV">O</span><sub><span lang="SV">2 </span></sub><span lang="SV">3%</span><span lang="SV">, selama 30 menit. Untuk dapat menghitung sel-sel terinfeksi JDV, maka limfosit dari limpa dan limfonode dibuat suspensi terlebih dahulu. Pelet dari suspensi diresuspensi dengan PBS (pH 7,2-7,4) dan dibuat preparat ulas pada gelas objek yang telah dilapisi poly-l-lysin.</span></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span lang="SV">Tahap Pewarnaan Imunoperoksidase Tidak Langsung</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Untuk menentukan adanya limfosit yang terinfeksi JDV, baik dalam limpa, limfonode dan limfosit darah tepi, dilakukan uji imunositokimia dengan teknik imunoperoksidase tidak langsung sesuai prosedur Dharma (2002). Preparat ulas dari limfosit darah tepi yang telah dikeringkan pada suhu kamar, bisa langsung dilakukan pewarnaan. Preparat jaringan limfoid yang disimpan pada suhu -20</span><sup><span lang="SV">O</span></sup><span lang="SV">C, dikeluarkan dan dibiarkan 15 menit pada suhu 4</span><sup><span lang="SV">O</span></sup><span lang="SV">C sambil memberi kode seperlunya. Dalam suasana lembab, preparat digenangi dengan serum kambing normal 10% dalam PBS. Selanjutnya tambahkan AbMo primer berupa AbMo anti-Ca JDV (BBVet Denpasar), dengan pengenceran 1:200 dalam BSA 1%. </span><span lang="ES">Setelah diinkubasi selama 1 jam pada suhu kamar, dilakukan pencucian 3&#215;5 menit dengan PBS pH 7,4. </span><span lang="SV">Selanjutnya preparat ulas digenangi dengan <em>goat anti-mouse IgG-HRP</em> (ICN-USA), dengan pengenceran 1:100. Antibodi ini berfungsi sebagai perangkai silang (<em>cross linker</em>) antibodi.<span> </span>Setelah pencucian 3&#215;5 menit dengan PBS, preparat digenangi dengan <em>mouse peroxidase-anti-peroxidase</em> <em>complex</em> (PAP) (Sigma, USA), dengan pengenceran 1:800. </span><span lang="FI">Inkubasi selama 40 menit pada suhu kamar, dan kemudian dicuci 3&#215;5 menit dengan PBS. Kemudian tambahkan substrat diamino benzidine/DAB (Sigma, USA) 0,01% dalam PBS yang mengandung 2% H</span><sub><span lang="FI">2</span></sub><span lang="FI">O</span><sub><span lang="FI">2.<span> </span></span></sub><span lang="FI">Setelah inkubasi 6 menit pada suhu kamar, reaksi substrat dihentikan dengan cara dicuci pada air mengalir selama 15 menit. Selanjutnya diwarnai latar belakang (<em>counterstain</em>) dengan Mayer’s haematoksilin selama 5 menit pada suhu kamar.<span> </span>Mayer’s haematoksilin mewarnai inti sel, sehingga tampak berwarna biru / ungu. Limfosit yang terinfeksi JDV dengan pewarnaan ini akan tampak coklat pada sitoplasmanya dengan inti berwarna biru/ungu. </span><span lang="SV">Sisa warna dalam limfosit dibersihkan dengan air kran mengalir selama 5 menit.<span> </span>Berikutnya didehidrasi dengan alkohol absolut 2&#215;5 menit, dan dibersihkan dengan mencelupkan ke xylol 2&#215;5 menit. Setelah dikeringkan, preparat diisi<span> </span>permount dan ditutup dengan <em>coverslip.</em> Jumlah sel terinfeksi JDV<span> </span>diperiksa dan dihitung dibawah mikroskop (perbesaran 10&#215;40) dalam 5 lapang pandang. Persentase sel terinfeksi JDV dihitung dengan rumus :</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-align: center;" align="center"><a rel="attachment wp-att-432" href="http://www.bulletinveteriner.com/studi-patogenesis-penyakit-jembrana-sapi-bali-berdasarkan-karakteristik-selterinfeksi-pada-jaringan-limfoid-dan-darah-tepi/rumus/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-432" title="rumus" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/rumus-300x61.jpg" alt="rumus" width="577" height="116" /></a><strong><span lang="SV">HASIL DAN PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoBodyText"><strong><span lang="SV">Hasil </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Dalam limpa tampak pola penyebaran limfosit terinfeksi JDV yang bervariasi ukurannya. Sel limfosit yang paling banyak terinfeksi JDV ditemukan di daerah parafolikel. Parafolikel limpa merupakan lokasi dari sel limfosit T. Ada kecenderungan bahwa sel limfosit terinfeksi JDV dalam limpa membentuk pola klon multifokal. Setiap klon limfosit terinfeksi JDV mempunyai ukuran yang bervariasi mulai dari kecil yang tediri atas beberapa limfosit terinfeksi JDV, sampai klon sel besar yang terdiri atas ratusan limfosit terinfeksi JDV. Sementara jumlah limfosit terinfeksi JDV yang ditemukan di daerah folikel jauh lebih sedikit dari pada di daerah parafolikel. Karena penyebarannya yang berpola klon multifokal, jumlah limfosit terinfeksi JDV dalam limpa sulit dihitung secara akurat. Untuk tujuan penghitungan, maka dilakukan dengan cara membuat suspensi dari potongan limpa yang terinfeksi JDV. Suspensi tersebut dibuat preparat ulas di atas gelas objek yang telah dilapisi <em>poly-L-lysin, </em>sebelum dilakukan pewarnaan imunoperoksidase tidak langsung. Dalam limfosit darah tepi, sel terinfeksi JDV tampak mempunyai ukuran bervariasi, tetapi semua sel terinfeksi merupakan jenis sel mononuklear yang menyerupai makrofag, limfosit besar dan limfosit kecil. Kebanyakan limfosit terinfeksi JDV memiliki ukuran yang lebih besar dari pada limfosit normal (Gambar 1B)</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-433" href="http://www.bulletinveteriner.com/studi-patogenesis-penyakit-jembrana-sapi-bali-berdasarkan-karakteristik-selterinfeksi-pada-jaringan-limfoid-dan-darah-tepi/gambar-11/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-433" title="gambar-11" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-11-300x147.jpg" alt="gambar-11" width="518" height="252" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 63pt; text-align: justify; text-indent: -63pt;"><strong><span lang="SV">Gambar</span></strong><span lang="SV"> 1. Sel limfosit terinfeksi JDV pada jaringan limfoid dan darah tepi sapi bali. Limfosit terinfeksi JDV ditandai dengan adanya warna coklat pada sitoplasma sel limfosit. <strong>A</strong>).Sel limfosit terinfeksi JDV dalam limpa ditandai dengan adanya klon sel multifokal dan setiap klon terdiri atas banyak sel terinfeksi JDV (10&#215;5). B). Sel limfosit yang terinfeksi JDV pada darah tepi mempunyai ukuran yang bervariasi, tetapi kebanyakan lebih besar dari pada limfosit normal (10&#215;10).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Hasil penghitungan jumlah sel terinfeksi JDV pada limpa dan limfonode rata-rata 9,5% dan limfonode rata-rata 8,5%. Tidak ada perbedaan pola dan jumlah rata-rata persentase sel terinfeksi JDV pada limfonode prescapularis dibandingkan limfonode prefemoralis. Hal yang menarik pada pewarnaan preparat jaringan limfoid adalah sel terinfeksi pada jaringan limfoid lebih coklat dan lebih mudah diperoleh dari pada limpa. Hasil ini menunjukkan ada perbedaan kualitas antara sel terinfeksi di limfonode dan di limpa. Pada limfosit darah tepi diperoleh rata-rata sel terinfeksi JDV sekitar 7%. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="ES">Pembahasan.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Adanya variasi ukuran sel terinfeksi pada limpa dan limfonode menimbulkan pertanyaan: apakah sel yang berukuran lebih besar dari pada limfosit normal tersebut bukan limfosit dewasa (limfoblas) atau justru limfosit B. Karena batas folikel (lokasi limfosit B) dengan parafolikel (lokasi limfosit T) tidak jelas (Tizard, 2002) pada limpa maupun limfonode. Pola sel terinfeksi JDV pada limpa maupun limfonode tampak semakin tidak jelasnya batas antara folikel dan parafolikel. Hal ini dilaporkan sebagai akibat folikel yang mengalami atrofi dan sel di parafolikel proliferasi (Dharma, <em>et al</em>, 1994). Folikel limpa merupakan lokasi limfosit B dimana sel plasma yang berperan sebagai penghasil antibodi. Atrofinya folikel ini menyebabkan tidak dapat diproduksinya antibodi pada fase akut penyakit jembrana. Sebagaimana diketahui, penyakit jembrana adalah satu-satunya penyakit oleh Lentivirus yang bersifat akut, dengan masa inkubasi virus 5-12 hari. Sehingga JDV disebutkan sebagai golongan baru dari Lentivirus (Wilcox, <em>et al</em>. 1995). <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Berdasarkan hasil pemeriksaan antibodi terhadap penyakit Jembrana pada uji serologis diperoleh data bahwa antibodi muncul setelah minggu ke 7 (Hartaningsih, <em>et</em> <em>al</em> 2001). Hal inilah yang menyebabkan adanya imunosupresi sementara pada sapi penderita penyakit Jembrana (Wareing, 1999). Oleh karena itu proses kesembuhan sapi penderita penyakit Jembrana dilaporkan sebagai akibat respon kekebalan seluler. Pada kasus lapangan, sapi penderita dapat menunjukkan kesembuhan mulai minggu ketiga (Dharma, 1996). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="ES">Tidak adanya perbedaan pola sel terinfeksi pada limpa dan limfonode menunjukkan bahwa sel terinfeksi adalah sejenis. Demikian pula tidak adanya perbedaan antara limfonode prescapularis dengan prefemoralis menunjukkan peran yang sama kedua limfonode tersebut. Tetapi berdasarkan intensitas warna coklat, tampak sel terinfeksi pada limfonode lebih coklat yang menunjukkan adanya variasi kualitas sel terinfeksi JDV. Hal ini mungkin berkaitan dengan patogenesis penyakit Jembrana yang dilaporkan <em>port d’entry </em>virus adalah melalui gigitan lalat penghisap darah (Putra, 2001). Akibat rute infeksi melalui subkutan, maka analog dengan penelitian rute inokulasi bakteri dilaporkan bahwa inokulasi subkutan akan memberikan respon seluler yang lebih tinggi pada limfonode superfisialis (Turcotte, <em>et al</em>, 1978). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES"><span> </span>Pada </span><span lang="SV">sel limfosit darah tepi, JDV menginfeksi sel dengan ukuran yang bervariasi. Semua sel yang terinfeksi merupakan sel mononuklear yang menyerupai makrofag, sel limfosit besar dan kecil. Dalam limpa dan limfonode, JDV juga menginfeksi sel dengan ukuran bervariasi. Ada kecenderungan bahwa sel terinfeksi JDV dalam limpa menyebar dengan pola klon multifokal, dan paling banyak ditemukan di daerah parafolikel limpa. Ukuran klon sel yang terinfeksi JDV, bervariasi mulai dari klon kecil yang terdiri atas beberapa sel terinfeksi sampai klon besar yang terdiri atas ratusan sel terinfeksi JDV. Pola penyebaran sel terinfeksi JDV dalam limpa semacam ini telah dilaporkan oleh Chadwick, <em>et al</em> (1997). Sangat mungkin bahwa setiap klon sel terinfeksi JDV terdiri atas banyak sel, mulanya berasal dari satu sel subset limfosit<span> </span>tertentu. Sel ini kemudian membelah dan memperbanyak diri menjadi klon yang lebih besar dengan subset yang sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Berdasarkan variasi ukuran sel terinfeksi JDV, sepintas memang seperti limfoblas ataupun limfosit B. Tetapi jika dilihat berdasarkan mekanisme infeksi, dimana organ-organ limfoid merupakan tempat terjadinya proses interaksi virus dengan sel target, maka limfosit T merupakan sel yang beredar dalam darah tepi (Mims, 1995).<span> </span>Adanya ukuran limfosit yang lebih besar pada limpa, limfonode maupun darah tepi adalah akibat adanya reaksi terhadap infeksi virus. Sel yang terinfeksi agen virus umumnya terjadi pembengkakan (Abbas, et al, 2000).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 14.4pt;"><span lang="SV">Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pola sel terinfeksi JDV pada limpa dan limfonode superfisialis adalah berbentuk klon terutama di parafolikel yang menunjukkan sel T yang terinfeksi.<span> </span>Adanya intensitas sel terinfeksi JDV pada limfonode yang lebih kuat menunjukkan bahwa infeksi JDV lebih dominan masuknya dari daerah subkutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Saran.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">UCAPAN TERIMA KASIH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Terimakasih penulis ucapkan kepada Prof.drh.Nyoman Mantik Astawa, PhD dan drh.N.Hartaningsih, MVSc.PhD, atas bantuan bahan dan teknik untuk penelitian ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="ES">DAFTAR PUSTAKA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.55pt; text-align: justify; text-indent: -21.55pt;">Abbas,A.K., A.H. Lichtman.,J.S Pober. 2000. Cellular and Molecular Immunology. 4<sup>th</sup>.Ed. Saunders Co.p.161-269.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Astawa, N.M., N. Hartaningsih, D.M.N. Dharma, W.M. Tenaya, Budiantono dan W. Ekaana. 2005. Replikasi Virus Jembrana pada Kultur Limfosit Darah Tepi asal Sapi Bali. J.Vet.6(4).p.135-142.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;"><span lang="ES">Barrouin-Melo,SM.. DF.Larangeira, J.Trigo,PHP.. Aguiar, WL.Conrado dos-Santos, L, Lain Pontes-de-Carvalho.<sup> </sup>2004<sup>. </sup></span><a name="top"></a>Comparison between splenic and lymph node aspirations as sampling methods for the parasitological detection of <em>Leishmania chagasi</em> infection in dogs . <span lang="ES">Mem. Inst. Oswaldo Cruz 99(2) Rio de Janeiro Mar. 2004</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;"><span lang="ES">Bradley, L.M. GG.Atkins,.and SL.Swain,.1992. </span>Long-term CD4+ memory T Cell from the spleen lack MEL-14, the lymphnode homing receptor. J.of. Immunol. 148.1-7.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Chadwick, B.J., M.Desport, DMN. Dharma, J.Brownlie and GE.Wilcox, 1997. Detection of Jembrana Disease Virus in Paraffin-emmbedded Tissue Sections by In Situ Hybridization. Workshop on Jembrana Disease and the Bovine Lentivirus. Denpasar Bali. ACIAR Proceeding. No. 75. p. 66-71.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Chadwick, B.J., M. Desport, J.Brownlie, GE. Wilcox and DMN. Dharma. 1998. Detection of Jembrana Disease Virus in Spleen, Lymphnodes, Bone Marrow and Other Tissues by In Situ Hybridization of Paraffin-Emmbeded Sections. J.of General Virol. 79:101-106</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Dharma, D.M.N., A.Budiantono., RSF. Campbell, and PW.Ladds. 1991. Studies on Experimental Jembrana Disease in Bali Cattle. III. Pathology. J.of.Comp.Pathol. 105 : 397-414</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Dharma, D.M.N., PW. Ladds, GE. Wilcox, G.E and RSF.Campbell. 1994. Immunology of Experimental Jembrana Disease in Bali Cattle. Vet.Immunol. and Immunopathol. 44: p. 31-44</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Dharma, D.M.N. 1996. The Pathology of Jembrana Disease. In : Wilcox, G.E., Soeharsono, S., Dharma, D.M.N., Copland, J.W., Editors. Jembrana Disease and The Bovine Lentiviruses. ACIAR Proceedings No. 75. p. 26-28.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;"><span lang="FI">Dharma, D.M.N. 2002. Teknik Imunohisokimia. </span><span lang="SV">In : Hartaningsih, N. Editor. Manual Diagnosa Laboratorik Penyakit Jembrana. Materi kursus peningkatan metode diagnosa penyakit jembrana. ACIAR-BPPV VI Denpasar. p.76-98.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Mims. C.A., N. Dimmock, A. Nash and A. Stephen. 1995. Mims Pathogenesis of Infectious Disease. 4<sup>th</sup>.ed. Orlando. Academic Press p.266-282.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Putra, A.A.G.2001. Kajian Epidemiologi dan Strategi Penaggulangan Penyakit Jembrana di Indonesia. In: Hartaningsih, N. and Putra, A.A.G..Editor. Tiga Puluh Tahun Menaklukan Penyakit Jembrana. Prosiding Seminar Nasional Penyakit Jembrana. Denpasar 9 Okt.2001.p.30-50.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Tizard, I.R. 2002. An Introduction to Veterinary Immunology. W.B.Saunders Co.p.97-121.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Turcotte, R..L. Lafleur and M.Labrece.1978. Opposite Effect of BCG on Spleen and Lymph Node : Lymphocyte Proliferation and Immunoglobulin Synthesis. Infect.Immun.21(3):696-704.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Wareing, S., N. Hartaningsih, GE. Wilcox, G.E. and WJ. Penhale. 1999. Evidence for Immunosupression Associated With Jembrana Disease Virus Infection of Cattle. J.Vet.Microbiol. 68: p.179-185</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 21.6pt; text-align: justify; text-indent: -21.6pt;">Wilcox, G.E., BJ. Chadwick, and G.Kertayadnya.1995. Jembrana Disease Virus : A New Bovine Lentivirus Producing an Acute Severe Clinical Disease in Bos javanicus Cattle. Abstract in third International Conggress on Veterinary Virology, Interleken, Switzerland. 4-7 September 1994.</p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=382" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/studi-patogenesis-penyakit-jembrana-sapi-bali-berdasarkan-karakteristik-selterinfeksi-pada-jaringan-limfoid-dan-darah-tepi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kadar Kolesterol pada Beberapa Bagian Tubuh Ayam Potong Jantan yang Diberi Formula Pakan dengan Dedak Padi Konsentrasi Tinggi</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/kadar-kolesterol-pada-beberapa-bagian-tubuh-ayam-potong-jantan-yang-diberi-formula-pakan-dengan-dedak-padi-konsentrasi-tinggi/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/kadar-kolesterol-pada-beberapa-bagian-tubuh-ayam-potong-jantan-yang-diberi-formula-pakan-dengan-dedak-padi-konsentrasi-tinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 22:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
CHOLESTEROL CONCENTRATION ON SOME PARTS OF THE BODY OF THE BROILER Cockerels THAT GIVEN dietary HIGHT ricebran
 
Siswanto
Laboratorium Fisiologi Veteriner, Fakutas Kedokteran Hewan 
 Universitas Udayana, Denpasar
 
 
ABSTRAK
 Telah dilakukan penelitian tentang kadar kolesterol pada beberapa bagian tubuh (hati, daging dada dan paha, lemak jeroan, serta kulit) pada ayam potong jantan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span> <mce:style><!<br />
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }<br />
--> <!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]> <mce:style><!<br />
/* Style Definitions */<br />
table.MsoNormalTable<br />
{mso-style-name:"Table Normal";<br />
mso-tstyle-rowband-size:0;<br />
mso-tstyle-colband-size:0;<br />
mso-style-noshow:yes;<br />
mso-style-parent:"";<br />
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;<br />
mso-para-margin:0cm;<br />
mso-para-margin-bottom:.0001pt;<br />
mso-pagination:widow-orphan;<br />
font-size:10.0pt;<br />
font-family:"Times New Roman";<br />
mso-ansi-language:#0400;<br />
mso-fareast-language:#0400;<br />
mso-bidi-language:#0400;}<br />
--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><em><span lang="EN-GB">CHOLESTEROL CONCENTRATION <span style="text-transform: uppercase;">ON</span> SOME PARTS OF THE BODY OF THE BROILER <span style="text-transform: uppercase;">Cockerels THAT GIVEN dietary HIGHT ricebran</span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">Siswanto</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB">Laboratorium Fisiologi Veteriner, Fakutas Kedokteran Hewan </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB"><span> </span>Universitas Udayana, Denpasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Telah dilakukan penelitian tentang kadar kolesterol pada beberapa bagian tubuh (hati, daging dada dan paha, lemak jeroan, serta<span> </span>kulit) pada ayam potong jantan yang diberi formula pakan dengan dedak padi konsentrasi tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh dedak padi terhadap kadar kolesterol pada beberapa bagian tubuh ayam.<span> </span>Tiga puluh ekor ayam potong jantan jenis CP.707 umur satu hari, dibagi dalam 3 kelompok. Kelompok P0/kontrol : pakan standard), kelompok P1 diberi pakan yang mengandung dedak padi 40% dan<span> </span>kelompok P2 diberi pakan yang mengandung dedak padi 60%. Parameter yang diamati meliputi kadar kolesterol daging dada dan paha, hati, kulit, lemak abdominal, dan serum darah. Metode penetapan kadar kolesterol menggunakan reaksi <em>Lieberman-Burchard. </em>Untuk menentukan perbedaan kadar kolesterol antar perlakuan dianalisis dengan sidik ragam,<span> </span>bila<span> </span>berbeda nyata, dilanjutkan dengan uji Duncan 5%.<span> </span>Hasil penelitian menunjukkan, kadar kolesterol pada daging, kulit dan serum menurun nyata (P ? 0,05), sedangkan, pada hati<span> </span>meningkat (P ? 0,05). Pada<span> </span>lemak abdominal walaupun tidak berbeda nyata (P ? 0,05) namun cendrung terjadi penurunan<span> </span>Disimpulkan bahwa formula pakan berserat tinggi (dedak padi) <span> </span>berpengaruh terhadap kadar kolesterol pada beberapa bagian tubuh ayam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB">Kata kunci : kadar kolesterol, serat, dedak, ayam</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>An experiment was carried out to study the<span> </span>cholesterol concentration on some parts of the body of<span> </span>the broilers cockerels that given hight ricebran supplement in the feed<span> </span>on cholesterol concentration of the meed, liver, serum, skin, and abdomen fat at Physiology laboratory, Udayana University, Denpasar City. The aims of the experiment was to study cholesterol concentration on some parts of the body of<span> </span>the broilers cockerels.Thirty broiler cockerels DOC CP<span> </span>707 were<span> </span>randomized<span> </span>and divided into three treatments consisted of<span> </span>40%<span> </span>ricebran (P1); 60% ricebran (P2); and without ricebran as controle (P0). The<span> </span>treatment<span> </span>was<span> </span>started<span> </span>at<span> </span>3<span> </span>weeks<span> </span>of<span> </span>age <span> </span>and terminated when the cockerels aged 7 weeks. Results of this experiment showed that there were<span> </span>significant differences decrease (P<span> </span>? 0,05) of<span> </span>ricebran supplement on the meet cholesterol and skin cholesterol, but significant differences increase (P ? 0,05) on<span> </span>the liver cholesterol. And no significant differences (P </span><span style="font-family: Symbol;" lang="EN-GB"><span>³</span></span><span lang="EN-GB"> 0,05)on fat abdoment.<span> </span>The conclution that dietary ricebran influence the cholesterol concentration of the some parts of the body in broilers cockerels.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB">Key words : ricebrand, cholesterol, broilers cockerels.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">P<span style="text-transform: uppercase;">endahuluan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Bagi sebagaian konsumen terutama yang terkena resiko penyakit artherosclerosis membatasi mengkonsumsi produk asal ayam, karena kandungan kolesterol di dalamnya. Untuk itu perlu dilakukan usaha untuk menurunkan kandungan kolesterol dalam produk asal ayam misalnya kolesterol dalam daging, dan telur.<span> </span>Dalam kaitannya dengan penyediaan produk hewan yang rendah kolesterol, tetapi tidak mengganggu pertumbuhan hewan, dapat dilakukan dengan manipulasi pakan. Jenis bahan makanan yang dapat menurunkan kadar kolesterol adalah golongan makanan yang mengandung serat kasar misalnya jerami, dedak padi, kayu gergaji, rumput laut dan lain-lain.<span> </span>Dari banyak penelitian, suplementasi serat kasar seperti : dedak padi, bubuk kayu gergaji ke dalam ransum, paling banyak dilakukan dalam rangka menurunkan kadar kolesterol pada produk hewan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="EN-GB">Penelitian<span> </span>yang dilakukan oleh Fisher dan Griminger (1986) dan Husseini e<em>t all</em> (1976) mendapatkan hasil bahwa serat kasar dapat menurunkan kadar kolesterol darah, sedangkan Turk dan Barnet (1972) berpendapat bahwa serat kasar (alfa-alfa) dapat menurunkan kadar kolesterol kuning telur.<span> </span>Menge <em>at all</em> (1974) mendapatkan hasil bahwa serat kasar yang dicampur selulosa dapat menurunkan kadar kolesterol serum, tetapi meningkatkan kadar kolesterol kuning telur. McNoughton (1978) mendapatkan hasil bahwa serat kasar dapat menurunkan kadar kolesterol kuning telur, tetapi meningkatkan kadar kolesterol hati dan tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol plasma. Sementara itu Piliang, (1990) menyimpulkan bahwa serat kasar (dedak padi) dapat menurunkan kadar kolesterol baik di plasma maupun kuning telur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Mariani dan Suryani (2004), berpendapat bahwa kulit biji coklat dapat menurunkan kolesterol daging. Udayana (2000) berkesimpulan bahwa serbuk gergaji kayu nyata dapat menurunkan kadar kolesterol telur. Pada penelitian lain<span> </span>Suwidjayana (1999) mendapatkan hasil bahwa serbuk gergaji kayu dan tepung jerami bawang putih dapat menurunkan kadar kolesterol telur secara nyata. Dilaporkan pula oleh<span> </span>Budaarsa (2003) bahwa rumput laut sebagai agen serat kasar juga dapat menurunkan secara signifikan<span> </span>kadar kolesterol daging babi. Penelitian lain mendapatkan hasil bahwa kadar kolesterol daging dan serum broiler turun secara nyata akibat pembatasan konsumsi protein ( Santosa, 2003).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Dari uraian di atas dipandang masih diperlukan penelitian tentang pengaruh bahan asal serat (dedak padi) terhadap kadar kolesterol pada beberapa bagian tubuh ayam dengan kadar serat yang lebih tinggi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB">metode penelitian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Materi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span></span></strong><span lang="EN-GB">Tiga puluh ekor DOC jenis CP 707 jantan diberikan pakan starter komersial sampai berumur 2 minggu secara <em>at libitum</em><span>, d</span>ilanjutkan dengan pemberian pakan finisher komersial yang dihancurkan menjadi bubuk <em>at libitum</em> selama 1 minggu. Kemudian dari umur 3 minggu sampai 7 minggu ayam diberi pakan racikan sesuai perlakuan seperti pada Tabel 1.<span> </span>secara <em>at libitum</em>. Ayam dipotong dan sampling dilakukan pada umur 7 minggu (49 hari)<span> </span>meliputi daging (dada dan paha), hati, lemak kulit, lemak abdominal, masing-masing diambil 100 gram, dan darah 5 ml yang diambil dari vena bawah sayap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB">Tabel 1. Susunan Ransum Sebagai Perlakuan</span></p>
<p><span lang="EN-GB"><a rel="attachment wp-att-421" href="http://www.bulletinveteriner.com/kadar-kolesterol-pada-beberapa-bagian-tubuh-ayam-potong-jantan-yang-diberi-formula-pakan-dengan-dedak-padi-konsentrasi-tinggi/tabel-1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-421" title="tabel-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/tabel-1-300x227.jpg" alt="tabel-1" width="431" height="325" /></a></span><strong></strong></p>
<p><strong><span lang="EN-GB">Metode</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Penentuan kadar kolesterol pada daging, lemak dan serum.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Daging (dada dan paha), hati, lemak kulit, lemak abdominal, masing-masing bahan dikerjakan sendiri-sendiri dihancurkan<span> </span>dengan<span> </span><em>waring blender</em>. Sampel yang telah hancur<span> </span>diekstraksi (Soklet) menggunakan pelarut<span> </span>kloroform, ekstrak yang didapat ditentukan kadar kolesterolnya menggunakan metode <em>Lieberman-Burchard</em><span> (Anon, 1983).</span><strong></strong> Dalam metode ini ekstrak (warna jernih) dari beberapa sampel dibagi dua, satu ditetesi dengan larutan Lieberman-Burchard pengukur, satu lagi ditetesi larutan Lieberman-Burchard control. Warna yang muncul dibaca dengan spectrophotometer pada panjang gelombang 340 nm. Dengan demikian diketahui kadar kolesterol pada sampel dalam mg/gr.<span> </span>Penentuan kadar kolesterol serum dilakukan secara langsung (tanpa ekstraksi) menggunakan metode Lieberman-Burchard (Anonimus, 1983)<span style="color: fuchsia;">.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="color: fuchsia;" lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB">hasil dan pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Hasil</span></strong><span lang="EN-GB">.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="EN-GB">Dengan menggunakan uji <em>Lieb-Burchard</em> didapatkan hasil bahwa pakan yang mengandung dedak padi konsentrasi tinggi berpengaruh menurunkan kadar kolesterol pada daging, kulit dan serum, <span> </span>namun tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol lemak abdominal.dan meningkatkan kadar kolesterol pada hati, disbanding control hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 48pt; text-align: center; text-indent: -48pt;" align="center"><span lang="EN-GB">Tabel<span> </span>2. Kadar<span> </span>kolesterol pada beberapa bagian tubuh ayam potong jantan</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-423" href="http://www.bulletinveteriner.com/kadar-kolesterol-pada-beberapa-bagian-tubuh-ayam-potong-jantan-yang-diberi-formula-pakan-dengan-dedak-padi-konsentrasi-tinggi/tabel-2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-423" title="tabel-2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/tabel-2-300x92.jpg" alt="tabel-2" width="533" height="162" /></a></p>
<p><span lang="EN-GB">Keterangan : .Nilai angka dengan huruf yang sama ke arah kolom, menunjukkan tidak berbeda nyata (P &gt; 0,05).</span></p>
<p><a rel="attachment wp-att-422" href="http://www.bulletinveteriner.com/kadar-kolesterol-pada-beberapa-bagian-tubuh-ayam-potong-jantan-yang-diberi-formula-pakan-dengan-dedak-padi-konsentrasi-tinggi/gambar-1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-422" title="gambar-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/gambar-1.jpg" alt="gambar-1" width="461" height="292" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="EN-GB"><!--[if gte vml 1]><v:shapetype id="_x0000_t75"  coordsize="21600,21600" o:spt="75" o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe"  filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style='width:455.25pt;  height:287.25pt' o:ole=""> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\KERTAB~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.wmz" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\KERTAB~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\01\clip_image001.wmz"   o:title="" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OLEObject Type="Embed" ProgID="MSGraph.Chart.8" ShapeID="_x0000_i1025"   DrawAspect="Content" ObjectID="_1326830437"> <o:WordFieldCodes>\s</o:WordFieldCodes> </o:OLEObject> </xml><![endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="EN-GB">Gambar 1 : Grafik <span> </span>Kadar<span> </span>kolesterol pada beberapa bagian tubuh ayam potong jantan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Telah diketahui bahwa serat kasar (dedak padi) mempunyai efek hipokolesterolemia melalui peningkatan sekresi cairan empedu, dimana cairan empedu merupakan hasil degradasi eritrosit yang mengandung substansi warna bilirubin, biliverdin dan kolesterol yang dibuang melalui saluran cerna (feses) dan <span> </span>saluran kemih (McNaughton, 1978 dan Menge, <em>et al</em>). Dengan demikian peningkatan sekresi cairan empedu akibat serat kasar dalam saluran cerna akan menurunkan kadar kolesterol tubuh. <span> </span>Dedak padi juga merupakan bahan yang sulit dicerna oleh dinding usus, oleh karena itu dedak padi lebih cepat meninggalkan usus, sehingga mengurangi absorpsi lemak dan kolesterol makanan. Dedak padi juga banyak mengandung pektin yang dapat menghalangi penyerapan kolesterol dari makanan. Dengan demikian akibatnya akan terjadi penurunan deposit lemak (kolesterol) dalam urat daging, kulit sehingga dapat menurunkan kadar kolesterol tubuh (daging, kulit, dan serum).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"><span> </span>Namun<span> </span>lain halnya kadar kolesterol pada hati, peningkatkan kolesterol hati diduga karena adanya peningkatan sintesis kolesterol dalam hati akibat terjadinya peningkatan sekresi cairan empedu, dimana kolesterol merupakan komponen yang terkandung dalam cairan empedu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB">simpulan dan saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="EN-GB">Terjadi penurunan kadar kolesterol pada daging, kulit, dan serum, peningkatan pada hati, serta tidak berpengaruh pada lemak abdominal terhadap <span> </span>ayam<span> </span>jantan yang diberi formula pakan berdedak padi tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB">Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="EN-GB">Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik perlu ditingkatkan jumlah hewan coba dengan metode yang lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="EN-GB">UCAPAN TERIMAKASIH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="EN-GB"><span> </span></span></strong><span lang="EN-GB">Penulis ucapkan terimakasih kepada seluruh staf<span> </span>Laboratorium Fisiologi Veteriner, Unud atas kerjaama dan bantuannya, sehingga terlaksanannya penelitian ini dengan baik.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="text-transform: uppercase;" lang="EN-GB">Daftar Pustaka</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;">Anon, (1983). Direction for use Clinical Chemistry. Diagnostica Merck. E. Merck, P.B. 4119, D-6100. Darmastad1.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Budaarsa, K. 2003. Pengaruh Rumput Laut dalam Ransum terhadap Komponen Karkas dan Kadar Kolesterol Daging Babi. Maj. Il. Pet. Vol. 6, No. 2. Fapet, Unud. p. 62-66</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Donaldson, WE. 1985. Lipogenesis and Body Fat in Chicks. Effect of Calori-Protein Ratio and Dietary<span> </span>Fat. <em>Poult. Sci</em> 1. 64 : 1199-1204.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Griminger, P. and H.. Fisher.1986. The Effect of Dried and Fresh Eggs on Plasma Cholesterol and Atherosclerosis in Chickens. <em>Poult. Sci</em> 1. 65 : 979-982.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Husseini, M.D.; WF.Krueger, RC. Fanguy, and JW. Bradly. 1976. Blood Serum and Egg Yolk Cholesterol In Hens as Influenced by Wheat Midllings and Oats in Diets. <em>Poult Sci</em>. 55 : 1995.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Mariani, N P dan N. Suryani. 2004. Pengaruh Penggunaan Pod Kakao yang di Suplementasi Ragi dalam Ransum terhadap Jumlah PAD-FAT dan Kadar Kolesterol Daging Itik Bali. Maj. Il Pet. Vol. 7, No. 2. Fapet, Unud. p. 64-69</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">McNaughton, J L. 1978. Effect of Dietary Fiber on Egg Yolk, Liver, and<span> </span>Plasma Cholesterol Concentrations of the Laying Hen. In : J. Nutr. 108 : 1842-48.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Menge, H. LH. Littlefield, LH. Frobish, and BT. Weinland. 1974. Effect of Cellulosa and Cholesterol on Blood And Yolk Lipids and Reproductive Efficiency of the Hen. In : <em>J. Nutr. 104 : 1554-1566.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Piliang, W G. 1990. High Fiber Diet and Its Effect on Calcium and<span> </span>Cholesterol<span> </span>Status<span> </span>in<span> </span>Laying Hens. In : <em>Indon. J.Trop. Agric</em>. Vol. 1 (2) : 93-7.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Santosa, U. 2003. Berbagai Tipe Pembatasan Pakan dan Pemberian Pakan Berprotein Berbeda selama Refeeding Menurunkan Penimbunan Lemak Abdominal pada Broiler. Maj. Il Pet. Vol. 6, No. 2. Fapet, Unud. p. 51</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Scott, ML; MC Nesheim; and RJ. Young 1982. Nutrition of The Chicken. 3rd<span> </span>Ed. M. L. Scott and Associates. Ithaca, NY.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Steel, R.G.D. and S.H.Torrie. 1981. Principles and Procedures of Statistics A Biometrical Approach. 2nd<span> </span>Ed. McGraw-Hill International Company.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Suwidjayana, I. N. 1999. Pemanfaatan Tepung Jerami Bawang Putih (<em>Allium sativum</em>) dan Serbuk Gergaji kayu dalam Ransum terhadap Kualitas Fisik dan Kadar Kolesterol Telur Ayam. Maj.  Il Pet. Vol. 2, No. 1. Fapet, Unud. p. 1</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Turk, D.E and BD.Barnett. 1972. Diet and Egg Cholesterol Content. <em>Poultry. Sci</em>. 51, 1881</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Udayana, I Dw. Gd. Alit. 2004. Pengaruh Tingkat Serat Kasar dalam Ransum terhadap Kada Kolesterol Telur Ayam. Maj. Il Pet. Vol. 3, No. 1. Fapet, Unud. p. 1-4</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.55pt; text-align: justify; text-indent: -42.55pt;"><span lang="EN-GB">Weiss, J F; RM Johnson and EC. Naber.1967. Effect of<span> </span>Some Dietary Factors and Drugs on Cholesterol Concentration in the Egg and Plasma of the Hen. In : <em>J. Nutr</em>. 91 : 119-28.</span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=396" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/kadar-kolesterol-pada-beberapa-bagian-tubuh-ayam-potong-jantan-yang-diberi-formula-pakan-dengan-dedak-padi-konsentrasi-tinggi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>UJI BIOAKTIVITAS ANTIBAKTERI TANAMAN OBAT TRADISIONAL</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/uji-bioaktivitas-antibakteri-tanaman-obat-tradisional/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/uji-bioaktivitas-antibakteri-tanaman-obat-tradisional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Feb 2010 14:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 3 No. 2 2010]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=389</guid>
		<description><![CDATA[



Antibacterial Bioactivity Test of Traditional Herb
 
I Made Merdana
  Laboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
 Jl. PB. Sudirman Denpasar Bali 80232, e-mail : imade.merdana@yahoo.com
 
ABSTRAK
 Telah dilakukan penelitian terhadap lima jenis tanaman obat tradisional yang dikoleksi dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali dengan cara ekstraksi dan uji bioaktivitas antibakteri terhadap tanaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]><br />
<mce:style><!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><em><span lang="SV">Antibacterial Bioactivity Test of Traditional Herb</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 10pt;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">I Made Merdana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"><span> </span></span></strong><strong><span lang="SV"><span> </span><em>Laboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><em><span lang="SV"><span> </span>Jl. PB. Sudirman Denpasar Bali 80232, e-mail : imade.merdana@yahoo.com</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Telah dilakukan penelitian terhadap lima jenis tanaman obat tradisional yang dikoleksi dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali dengan cara ekstraksi dan uji bioaktivitas antibakteri terhadap tanaman obat tradisional antara lain : daun kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), kedondong (<em>Spondias pinnata</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>), manggis (<em>Garnicia mangostana</em>). Bahan tanaman obat tradisional ini diuji bioaktivitas<span> </span>antibakterinya terhadap <em>Micrococcus luteus</em> dan <em>Eschericia coli</em>, hasilnya dari kelima macam daun tanaman obat di atas yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri <em>Micrococcus luteus</em> dan bakteri <em>Escherecia coli</em> adalah tanaman manggis (<em>Garnicia mangostana</em>). Tanaman yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri <em>Eschericia coli</em> saja adalah : daun kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>). Sedangkan daun kedondong (<em>Spondias pinnata</em>) tidak mempunyai aktifitas untuk kedua jenis bakteri diatas. Daun manggis mempunyai potensi yang sangat baik untuk menghambat pertumbuhan kedua jenis bakteri uji tersebut. Hal ini terlihat dari luasnya daerah hambatan yang dihasilkan oleh daun manggis (<em>Garnicia mangostana</em>), yaitu 4,63 mm<sup>2</sup> terhadap <em>Micrococcus luteus</em> dan terhadap <em>Eschericia coli </em>5,63 mm<sup>2</sup> pada konsentrasi 105,5 ppm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 200%;"><span lang="SV">Kata kunci : Uji bioaktivitas, antibakteri, obat tradisional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"><span> </span></span></strong><span lang="SV">The </span>research has been conducted to five kinds of traditional herbs which were collected from Tajun village, Kubutambahan District, Buleleng Regency, Bali. It was conducted through extracting process and antibacterial bioactivity test to the five traditional herbs, naely kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), kedondong (<em>Spondias pinnata</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>) dan manggis (<em>Garnicia mangostana</em>). The bioactivities antibaterial of these herbs had been exsperimented toward <em>Micrococcus luteus</em> and <em>Escherichia coli</em>. As the result, the leaves of the herbs which actively hampered the growth of <em>Micrococcus luteus</em> and <em>Eschericia coli</em> bacteria was manggis leaves (<em>Garnicia mangostana</em>). The herb which only hampered the growth of<span> </span><em>Escherichia coli</em> actively was kamboja leaves (<em>Plumeria rubra</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>). Mean while kedongdong leaves do not have activities to both kins of bacteria. Manggis had a goods potential to hamper the growth of <em>Micrococcus luteus</em> and <em>Eschericia coli</em>. It could be seen from the wide area of obstacle produced by manggis leaves (<em>Garnicia mangostana</em>), namely 4,63 <span lang="SV">mm<sup>2</sup></span> toward <em>Micrococus luteus</em> and toward <em>Eschericia coli</em> 5,63 <span lang="SV">mm<sup>2</sup></span> in 105,5 part of point concentration.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Key word : Bioactivity test, antibacteria, trdisional herbs</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 200%;" align="center"><strong><span lang="SV">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Tanaman obat tradisional di masyarakat Bali telah diinventarisasi ada 168 jenis (Putra, 1950) yang telah diyakini mempunyai khasiat sebagai obat-obatan. Berbagai gejala penyakit dapat disembuhkan seperti sakit perut, sakit kulit maupun jenis penyakit lainnya (Suwardiana, 2002). Penyakit tersebut ada yang disebabkan oleh jamur, bakteri, parasit dan virus. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Beragam jenis tanaman obat telah banyak digunakan untuk pengobatan, tetapi saat ini ada beberapa tanaman obat yang masih sedikit dukungan data ilmiah mengenai khasiatnya, tanaman obat masih menjadi obyek penelitian yang sangat penting dalam pengembangan ilmu farmasi, tidak hanya sebagai bahan aktif dalam obat modern atau sebagai model dasar untuk pengembangan obat modern (WHO 1998). Secara tradisional berdasarkan penggunaan tanaman obat tersebut dapat menyembuhkan beberapa penyakit akibat infeksi oleh jamur maupun bakteri. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam tanaman obat tradisional terkandung suatu senyawa yang mempunyai bioaktivitas sebagai antibakteri atau antijamur. Tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional diantaranya daun kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), kedondong (<em>Spondias pinnata</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>) dan manggis (<em>Garnicia mangostana</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Beberapa tanaman dalam penelitian ini telah dilaporkan mengandung senyawa kimia antara lain flavonoid, alkaloid, terpenoid, steroid dan saponin (Djumidi, 1997; Hutapea, 2000), tetapi belum ada laporan tentang bioaktivitas antibakteri pada tanaman obat tersebut diatas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Tanaman obat tradisional yang sudah dikenal oleh nenek moyang secara turun-tumurun sangat banyak, akan tetapi masih sedikit adanya laporan mengenai bioaktivitas antibakteri. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya bioaktivitas antibakteri pada beberapa tanaman obat tradisional yaitu daun tanaman kamboja, kedondong, kembang sepatu, mangga dan manggis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">METODE PENELITIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Bahan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"><span> </span></span></strong><span lang="SV">Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa jenis daun tanaman obat yang sudah umum dipakai oleh masyarakat untuk bahan obat tradisional, seperti daun kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), kedongdong (<em>Spondias pinnata</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>), manggis (<em>Garnicia mangostana</em>). Jenis daun tersebut diambil dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng yang merupakan daerah kelahiran penulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Bahan kimia yang juga digunakan pada penelitian ini adalah : etanol , asam sufat pekat, asetat anhidrat, kloroform, <span> </span>natrium hidroksida, kalium hidroksida , gel silika, N-heksana, etil asetat, bakteri <span> </span><em>Micrococcus luteus</em> dan <em>Eschericia coli</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Alat</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Alat yang digunakan adalah : cawan petri, botol, timbangan elektrik, <em>autoclave</em>, mikropipet, erlenmeyer, tabung reaksi, gelas ukur, gelas kimia, blender, lumpang, kain kasa, kertas saring, kompor listrik, mikrotube, <em>laminar flow cabinet</em>, seperangkat alat kromatografi kolom dan lampu UV.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Lokasi dan waktu penelitian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Pengambilan sampel dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, sedangkan untuk ekstraksi dilakukan di <em>Laboratorium Marine</em> <em>Biotechnology</em> dan Laboratorium Bioteknologi Pertanian Pascasarjana Universitas Udayana sejak bulan Januari 2008 sampai Juni 2008.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Metode</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Penyiapan Bahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Daun tanaman yang dipakai sampel dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di udara terbuka tanpa terkena sinar matahari langsung. Setelah kering lalu dirajang dan selanjutnya diblender sampai terbentuk serbuk halus, kemudian diayak dengan menggunakan ayakan 100 mesh. Hasil ayakan disimpan dalan botol dan ditutup rapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">2. <span> </span>Ekstraksi senyawa bioaktif</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Sebanyak 200 gram setiap serbuk sampel ditimbang dan dimaserasi memakai pelarut etanol (polar) dengan volume 2 kali berat sampel. Tiap jenis sampel dimaserasi dengan etanol sebanyak 3 kali masing-masing selama 24 jam. Kemudian disaring. Filtrat yang diperoleh dikeringkan dengan pengering vakum sampai semua pelarutnya menguap. Ekstrak pekat yang di peroleh dikumpulkan untuk uji hayati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">3. <span> </span>Persiapan uji bioaktivitas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Uji bioaktivitas dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari jenis daun yang diekstrak, sebelum dilakukan uji bioaktivitas ini dilakukan tahap-tahap sebagai berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>a.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Penyiapan bahan uji bakteri</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Sebanyak 1 ose biakan murni bakteri uji diikubasikan dalam media Nutrien Broth (NB) yang dibuat dengan takaran<span> </span>50 ml <span> </span>dan dimasukan kedalam <em>erlenmeyer</em> dan biakan ini diinkubasikan kedalam inkubator pada temperatur 30<sup>o</sup>C selama 24 jam. Bakteri uji yang digunakan adalah <em>Microccocus luteus</em> dan <em>Eschecia coli</em>, selanjutnya masing-masing biakan ini digunakan dalam uji bakteri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>b.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Pebuatan media Uji Nutrient Agar (NA)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Adapun caranya adalah dengan melarutkan media NA kedalam <em>aquadest</em> dengan takaran 23 g per liter. Kemudian media ini disterilkan dalam <em>autoclave</em> pada suhu 121<sup>o</sup>C selama 15 menit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>c.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Uji Bioaktivitas</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Sebanyak 25 ml media NA yang sudah steril di inokulasikan dengan 200 µL biakan bakteri uji yang diambil dari media biak. Kemudian media dengan inokulum bakteri dituangkan ke dalam cawan petri, dan kemudian digoyang-goyangkan untuk memperoleh suspensi bakteri yang homogen pada permukaan nutrient agar, dan dibiarkan sampai padat. Langkah selanjutnya adalah melubangi media agar dengan alat khusus (<em>cork borer</em>). Kemudian disemaikan dengan bakteri penguji. Sampel ekstrak daun tanaman dimasukkan ke dalam masing-masing lubang sebanyak 40 µL, lalu dibiarkan meresap ke dalam lapisan agar dan diberi kode sesuai dengan jenis tanaman yang diuji, kemudian diinkubasikan selama 24 jam pada suhu kamar, sebagai kontrol digunakan pelarutnya. Dalam uji ini hasil positif ditandai dengan terbentuknya daerah bening pada daerah lubang, besar kecilnya zona bening yang terbentuk menunjukkan adanya penghambatan pertanaman bakteri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">HASIL DAN PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Hasil </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Hasil penelitian bioaktivitas antibakteri beberapa jenis tanaman obat tradisional setelah dilakukan uji bioaktivitas terhadap bakteri <em>Microccocus luteus</em> dan <em>Eschecia coli</em>. Hasil uji ditampilkan pada Tabel 3.1.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Tabel 3.1. Hasil uji Bioaktivitas ektrak kental dengan Etanol beberapa jenis tanaman obat tadisional</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><a rel="attachment wp-att-428" href="http://www.bulletinveteriner.com/uji-bioaktivitas-antibakteri-tanaman-obat-tradisional/tabel/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-428" title="tabel" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2010/02/tabel-300x130.jpg" alt="tabel" width="487" height="210" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"><span lang="SV">Daun kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), kedongdong (<em>Spondias pinnata</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>) dan manggis (<em>Garnicia mangostana</em>) tersebut diambil dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Beleleng, Bali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Dari kelima macam daun tanaman obat di atas yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri <em>Micrococcus luteus</em> dan bakteri <em>Escherecia coli</em> adalah tanaman manggis (<em>Garnicia mangostana</em>). Tanaman yang aktif menghambat pertumbuhan bakteri <em>Eschericia coli</em> saja adalah : daun kamboja ( <em>Plumeria rubra</em>), kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), mangga (<em>Mangifera indica</em>). Sedangkan daun kedondong (<em>Spondias pinnata)</em> tidak mempunyai aktifitas untuk kedua jenis bakteri. Daun manggis mempunyai potensi yang sangat baik untuk menghambat pertumbuhan kedua jenis bakteri uji tersebut. Hal ini terlihat dari luasnya daerah hambatan yang dihasilkan oleh daun manggis (<em>Garnicia mangostana</em>) yaitu 4,63 mm<sup>2</sup> <span> </span>terhadap <em>Micrococcus luteus</em> dan 5,63 mm<sup>2</sup> terhadap <em>Escherecia coli</em> pada konsentrasi 105,5 ppm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV"><span> </span></span></strong><span lang="SV">Dari hasil penelitian terhadap uji bioaktivitas beberapa tanaman obat tradisional yang diambil dari Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali, ternyata daun manggis (<em>Garnicia mangostana</em>), daun kamboja (<em>Plumeria rubra</em>), daun kembang sepatu (<em>Hibiscus rosa sinensis</em>), dan daun mangga (<em>Mangifera indica</em>) memiliki potensi sebagai anti bakteri untuk bakteri <em>Eschericia coli. </em>Khusus untuk tanaman manggis mampu menghambat pertumbuhan kedua jenis bakteri uji sehingga sangat berpotensi sebagai bahan obat tradisional. Tanaman obat tradisional yang diambil dari Desa Tajun, menunjukkan aktivitas antibakteri yang cukup baik terhadap bakteri <em>Microccocus luteus</em> (gram positif) dan <em>Escherichia coli</em> (gram negatif) hal ini dimungkinkan karena Desa Tajun merupakan daerah peralihan kering dan basah dengan curah hujan yang rendah. Daerah bagian utara mendekati daerah pesisir dengan suhu udara panas dan sebagian daerah selatan mendekati daerah pegunungan dengan udara yang lebih lembab dan dingin. Kondisi di atas memungkinkan cekaman yang di alami oleh tanaman obat tradisional ini cukup kuat dengan demikian metabolit sekunder sebagai hasil metabolisme tanaman obat tersebut berkembang dengan baik, dimana kualitas dan kuantitasnya ditentukan oleh pengaruh musim, curah hujan, letak geografi serta habitat tanaman tersebut (Anggadiredja, 2004).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Prescott <em>et al.</em>(1983) menyatakan bahwa kemampuan aktivitas antibakteri juga ditentukan oleh jenis bakteri yang digunakan sebagai bakteri uji dimana bakteri gram positif<span> </span>memiliki membran luar (<em>outer membrane</em>) yang melindungi bakteri dari zat beracun. Pada penelitian ini diperoleh hasil<span> </span>dari lima jenis tanaman yang diuji ada empat jenis tanaman yang menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap bakteri gram negatif, sedangkan untuk bakteri gram positif dari lima jenis tanaman obat tradisional yang di uji diperoleh satu tanaman obat yang menunjukkan aktivitas antibakteri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">KESIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Kesimpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:</span></p>
<ol style="margin-top: 0cm;" type="a">
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Hasil      uji bioaktivitas antibakteri lima jenis daun tanaman obat tradisional yang      di koleksi dari Desa Tajun, ada empat jenis yang menunjukkan aktivitas      antibakteri terhadap <em>Eschercia coli </em><span> </span>yaitu tanaman manggis, mangga, kamboja      dan kembang sepatu.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Satu      jenis tanaman menunjukan aktivitas antibakteri terhadap <em>Miccroccus luteus</em> dan <em>Escheria coli</em> yaitu tanaman manggis. </span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Satu jenis      tanaman tidak menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji      yaitu tanaman kedondong.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"><span> </span>Untuk mengetahui lebih mendalam tentang potensi tanaman obat tradisonal yang memiliki bioaktivitas antibakteri perlu dilakukan penelitian yang lebih lanjut dengan menggunakan metode dan bahan uji yang lebih baik dan bervariasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span lang="SV">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Anggadiredja, J.T. 2004. Deversity of Antibacterial Subtance from Selected Indenesian Seaweeds. (Desertation). Jakarta: University of Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Djumidi, H, (Ed). 1997. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Jakarta Jilid III</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Hutapea, J.R., (Ed). 2000. Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan kesehatan, Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial RI. Jakarta Jilid I</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">Prescott, L.M., Harley, J.P., dan Klein, D.A. 1993.<span> </span>Microbiology. 2<sup>nd</sup> Edition, Dubuque: Wm. C Brown Publisher.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Putra, S. 1950. Taru Premana. PT. Upada Sastra. Denpasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"><span lang="SV">Suwardiana. 2002. Naskah Usada sebagai Dasar Pengobatan tradisional Bali dan Problimatika Pemurnian, dalam Teks Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara VI. Bandung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;">WHO Information Fact Sheet. 1998. Traditional Medecine. Fact Sheet N134, WHO, Jenewa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=389" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/uji-bioaktivitas-antibakteri-tanaman-obat-tradisional/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Prevalensi Infeksi Cacing Trichuris suis  pada Babi Muda  di Kota Denpasar</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/prevalensi-infeksi-cacing-trichuris-suis-pada-babi-muda-di-kota-denpasar/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/prevalensi-infeksi-cacing-trichuris-suis-pada-babi-muda-di-kota-denpasar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 08:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 2 No. 1 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=347</guid>
		<description><![CDATA[ 
Nyoman Adi Suratma.
Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
Email : adisuratma@yahoo.co.id.
 
ABSTRAK
 
 Telah dilakukan pemeriksaan terhadap 300 sampel tinja yang berasal dari babi muda berumur kurang dari 6 bulan, yang diambil secara rambang dari babi-babi pada desa di empat kecamatan yang ada di Kota Denpasar. Pemeriksaan dilakukan dengan metoda pengapungan. 
 Hasil penelitian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Nyoman Adi Suratma.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><em><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Laboratorium Parasitologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><span class="GramE"><em><span style="font-size: 11pt; color: black;">Email :</span></em></span><em><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">adisuratma@yahoo.co.id</span>.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span><span class="SpellE">Telah</span> <span class="SpellE">dilakukan</span> <span class="SpellE">pemeriksaan</span> <span class="SpellE">terhadap</span> 300 <span class="SpellE">sampel</span> <span class="SpellE">tinja</span> yang <span class="SpellE">berasal</span> <span class="SpellE">dari</span> <span class="SpellE">babi</span> <span class="SpellE">muda</span> <span class="SpellE">berumur</span> <span class="SpellE">kurang</span> <span class="SpellE">dari</span> 6 <span class="SpellE">bulan</span>, yang <span class="SpellE">diambil</span> <span class="SpellE">secara</span> <span class="SpellE">rambang</span> <span class="SpellE">dari</span> <span class="SpellE">babi-babi</span> <span class="SpellE">pada</span><span> </span><span class="SpellE">desa</span> <span class="SpellE">di</span> <span class="SpellE">empat</span><span> </span><span class="SpellE">kecamatan</span> yang <span class="SpellE">ada</span> <span class="SpellE">di</span> Kota <span class="SpellE">Denpasar</span>.<span> </span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pemeriksaan dilakukan dengan metoda pengapungan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Hasil penelitian menerangkan bahwa prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> di Kota Denpasar sebesar 32,67 %, dengan intensitas tergolong berat ( rata-rata TTPG = <em><span> </span></em>6166,87 ± 9827.5 ), dalam hal ini prevalensi infeksi pada babi yang dipelihara pada kandang tanah sebesar 52,70 %, dengan intensitas infeksi tergolong berat (rata-rata TTPG =<span> </span>9818,57 ± 14643,9 ),<span> </span>sedangkan pada babi yang dipelihara pada kandang lantai semen prevalensinya sebesar 26,11 %, dengan<span> </span>intensitas infeksi tergolong sedang ( rata-rata TTPG = 2515,17 ±<span> </span>5011.12 ).<span> </span>Selain itu juga tampak adanya perbedaan yang sangat nyata ( P &lt; 0,01 ) antara prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> pada babi yang dipelihara pada kandang tanah dengan kandang lantai semen di Kota<span> </span>Denpasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Kata<span> </span>kunci :<span> </span><em>Trichuris suis</em>,<span> </span>babi muda, lantai kandang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span>Three hundred <span class="SpellE">faecal</span> samples of suckling piglets from 4 districts in <span class="SpellE">Denpasar</span> <span class="GramE">Bali<span> </span>were</span> examined to identify <span class="SpellE">Trichuris</span><em> </em>infection by using flotation Method and then were <span class="SpellE">analized</span> with Descriptive analysis and Chi square analysis ( Steel and <span class="SpellE">Torrie</span>, 1991 ).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span>The prevalence of <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> <span class="SpellE">suis</span></em> infection in suckling piglets in <span class="SpellE">Denpasar</span> was 32<span class="GramE">,67</span> % (6166,87 ± 9827.5 EPG). The prevalence of <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> </em>infection was significantly higher in pigs were kept on soil floor (52<span class="GramE">,70</span> %) than pigs were kept on concrete floor (26,11 %). The <span class="SpellE">prsent</span> study indicated that the infection of <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> <span class="SpellE"><span class="GramE">suis</span></span> </em>were prevalent in pig were kept on soil floor type. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Key <span class="GramE">words<span> </span>:</span> <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> <span class="SpellE">suis</span></em>, piglets, floor type</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: black;"><br style="page-break-before: always;" /> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">PENDAHULUAN<span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span></span></strong><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Ternak</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">babi</span> <span class="SpellE">nerupakan</span> <span class="SpellE">salah</span> <span class="SpellE">satu</span> <span class="SpellE">komoditas</span> <span class="SpellE">penghasil</span> protein <span class="SpellE">hewani</span> <span class="GramE">yang<span> </span><span class="SpellE">penting</span></span>, <span class="SpellE">selain</span> <span class="SpellE">ternak</span><span> </span><span class="SpellE">sapi</span>, <span class="SpellE">unggas</span> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">kambing</span> (Anon, 1988). <span class="SpellE">Peternakan</span> <span class="SpellE">babi</span> <span class="SpellE">di</span> Bali <span class="SpellE">dapat</span> <span class="SpellE">berkembang</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">pesat</span>, <span class="SpellE">karena</span> <span class="SpellE">didukung</span> <span class="SpellE">oleh</span> agama <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">adat</span> <span class="SpellE">sebagian</span> <span class="SpellE">besar</span> <span class="SpellE">masyarakatnya</span>, <span class="SpellE">khususnya</span> <span class="SpellE">masyarakat</span> Bali <span class="SpellE">pemeluk</span> agama <span class="SpellE"><span class="GramE">hindu</span></span>. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Dari laporan Dinas Peternakan Propinsi Tingkat I Bali (Anon, 1999), diketahui bahwa populasi babi di Bali dari tahun ke tahun semakin meningkat. Namun dalam perkembangannnya masih selalu dijumpai kendala yang salah satunya adalah aspek penyakit, selain karena managemen yang kurang memadai (Masudana, 1990).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Trichuriasis</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">adalah</span> <span class="SpellE">suatu</span> <span class="SpellE">penyakit</span> <span class="SpellE">akibat</span> <span class="SpellE">infeksi</span> <span class="SpellE">cacing</span> <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> <span class="SpellE"><span class="GramE">suis</span></span></em>. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Cacing ini umumnya menginfeksi babi muda, terutama babi muda yang berumur maksimal 6 bulan. <em>Trichuris suis</em> mempunyai habitat pada saluran usus dan menghisap darah inangnya, dengan menggunakan semacam kait yang ditusukkan ke dalam<span> </span>lapisan usus sehingga usus mengalami luka. Akibat dari kegiatan ini maka babi muda yang terinfeksi<span> </span>akan mengalami diare berdarah, anemia dan bahkan dapat menyebabkan kematian (Soulsby, 1982; Georgi dan Georgi 1990; Raepstorff dan Nansen, 1998).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Widana (1998) dalam penelitiannya, di Kecamatan Tampak Siring, Gianyar, menemukan 20,62 % dari babi muda yang diamati ternyata terinfeksi oleh <em>Trichuris suis.</em> Sedangkan Nilasasih (2001) dalam penelitiannya pada babi dewasa di Kecamatan Marga, Tabanan dan Kecamatan Payangan menemukan hanya 2,21 % dari babi yang diamati terinfeksi cacing ini. Selain penelitian tersebut di atas masih jarang dilakukan penelitian tentang infeksi <em>Trichuris suis</em> pada babi, khususnya di Bali. Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> pada babi muda di<span> </span>Kota Denpasar., serta mengetahui apakah ada hubungan antara prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> pada babi muda di Kota Denpasar dengan tempat<span> </span>pemeliharaannya.<span> </span>Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> pada babi muda di Kota Denpasar, sebagai langkah awal untuk mengadakan penelitian diseluruh kabupaten di Bali, sehingga dapat memudahkan untuk melakukan penanggulangan penyakit ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">METODE PENELITIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Materi Penelitian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Materi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah tinja yang berasal dari babi muda, jenis landrace<span> </span>berumur kurang dari 6 bulan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Sampel Wilayah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Pengambilan sampel wilayah penelitian (desa) dilakukan secara purposif pada empat kecamatan yang ada di Kota Denpasar, berdasarkan populasi babi dan keberadaan babi muda yang dipelihara pada kandang tanah maupun semen. Adapun desa-desa tersebut adalah, desa Penatih dan Laplap untuk kecamatan Denpasar Timur, desa Ubung Kaja dan Peguyangan untuk kecamatan Denpasar Utara, Desa Padang Sambian dan Kerobokan untuk kecamatan Depasar Barat serta desa Pedungan dan Pemogan untuk kecamatan Denpasar Selatan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span class="SpellE"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">Sampel</span></strong></span><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">Babi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Sebanyak 300 ekor sampel babi umur kurang dari 6 bulan yang terdiri dari 74 ekor babi yang dipelihara pada kandang dengan lantai tanah dan 226 ekor babi yang dipelihara pada kandang lantai semen. Pengambilan sampel dilakukan secara rambang dari desa-desa tersampel, selanjutnya dari sampel babi tersebut diambil secara rambang tinja yang baru didefekasikan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pemeriksaan Sampel Tinja</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Pemeriksaaan sampel tinja babi untuk menentukan bahwa babi yang diperiksa positip terinfeksi <em>Trichuris suis</em> dilakukan dengan menggunakan metoda pengapungan dan untuk pen ghitungan TTPG dilakukan dengan metode Mc Master (Soulsby, 1982) . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Analisis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptip dan uji Khi Kwadrat (Steel dan Torrie, 1991).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 15.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">HASIL DAN PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Hasil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Prevalensi dan Intensitas Infeksi <em>Trichuris suis</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><strong><em><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span></em></strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Setelah dilakukan pengamatan terhadap 300 ekor babi muda, ternyata 98 ekor ( 32,67 % )<span> </span>terinfeksi cacing <em>Trichuris suis.<span> </span></em>Prevalensi infeksi pada babi yang dipelihara pada kandang tanah adalah sebesar 52,70 %, yaitu terjadi infeksi pada 39 ekor babi dari 74 ekor babi yang diperiksa, sedangkan<span> </span>babi yang dikandangkan pada kandang semen prevalensinya sebesar 26,11 %, yaitu terjadi infeksi pada 59 ekor babi dari 226 ekor babi yang diperiksa.( Tabel 1 ). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 15.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><a rel="attachment wp-att-348" href="http://www.bulletinveteriner.com/prevalensi-infeksi-cacing-trichuris-suis-pada-babi-muda-di-kota-denpasar/adi-suratma-1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-348" title="adi-suratma-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/adi-suratma-1.jpg" alt="adi-suratma-1" width="584" height="115" /></a>Tabel 1.<span> </span>Prevalensi Infeksi <em>Trichuris suis</em> pada babi muda di Kota Denpasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Rata-rata TTPG (Total telur cacing <em>Trichuris suis</em> per gram tinja )<span> </span>berkisar antara 50 – 46550 (<em> </em>6166,87 ± 9827.5 ), sehingga intensitasnya dikelompokkan dan termasuk katagori berat. Pada babi yang dipelihara pada kandang lantai tanah TTPG berkisar antara 100 – 46550 ( 9818,57 ± 14643,9 ), sehingga intensitasnya dikelompokkan katagori berat, sedangkan pada babi yang dipelihara pada kandang lantai semen TTPG<span> </span>berkisar antara 50 – 21850 ( 2515,17 ±<span> </span>5011.12 ), sehingga intensitasnya dikelompokkan katagori sedang. Analisis lebih lanjut menerangkan bahwa pada babi yang dipelihara pada kandang tanah, ternyata intensitas infeksinya adalah 23,08 % termasuk infeksi ringan dan masing-masing 38,46 % termasuk infeksi sedang dan berat. Sedangkan pada babi yang dipelihara pada kandang semen intensitas infeksinya adalah 37,29 % termasuk infeksi ringan, 50,85 % termasuk infeksi sedang dan hanya 11, 86 % termasuk infeksi berat (Tabel 2). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.6pt; text-align: center; text-indent: -49.6pt; line-height: 16.5pt;" align="center"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><a rel="attachment wp-att-349" href="http://www.bulletinveteriner.com/prevalensi-infeksi-cacing-trichuris-suis-pada-babi-muda-di-kota-denpasar/adi-suratma-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-349" title="adi-suratma-2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/adi-suratma-2.jpg" alt="adi-suratma-2" width="522" height="128" /></a></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 49.6pt; text-indent: -49.6pt; line-height: 16.5pt; text-align: center;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Tabel 2. Persentase Intensitas Infeksi <em>Trichuris suis</em> pada Babi Muda di Kota Denpasar</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Hubungan antara Prevalensi Infeksi <em>Trichuris suis</em> dengan<span> </span>Lantai Kandang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Hasil uji Khi-kuadrat menerangkan bahwa terdapat ketergantungan yang sangat nyata ( P &lt; 0,01 ) antara prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> dengan jenis lantai kandang, dalam hal ini prevalensi infeksi pada babi yang dipelihara pada kandang tanah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan prevelensi infeksi pada babi yang dipelihara pada kandang semen.( Tabel 1 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Prevalensi yang ditemukan pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan dengan yang temukan oleh Widana ( 1998 ) di Tampak Siring Gianyar yaitu sebesar 20,62 % dan oleh Nilasasih ( 2001 ) di Marga Tabanan yaitu sebesar 2,21 % sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Nganga dkk. (2007) menemukan 32, 2 % dari 115 babi yang diperiksa di Kenya positif terinfeksi <em>Trichuris suis..</em> Perbedaan yang terjadi<span> </span>disebabkan karena pada penelitian yang dilakukan oleh Nilasasih keseluruhannya dilakukan pada babi yang dipelihara pada kandang semen,<span> </span>pada penelitian yang dilakukan oleh Widana sebagian besar dilakukan pada babi yang dipelihara pada kandang semen yang umumnya diperhatikan dengan baik. Sedangkan pada penelitian ini meskipun sebagian besar penelitian dilakukan pada babi yang dipelihara pada kandang semen, namun sebagian besar pula dari kandang kandang babi tersebut kurang mendapat perhatian dengan baik, sehingga masih memungkinkan berkembangnya telur cacing.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Hasil yang diperoleh terhadap TTPG <em>Trichuris suis</em> menunjukkan, bahwa kondisi kandang, baik pada kandang semen apalagi kandang tanah masih memungkinkan berkembangnya telur cacing dan tinggal pada kandang tersebut, sehingga selalu terjadi infeksi ulang pada babi-babi yang dipelihara pada kandang tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Terlihat</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">adanya</span> <span class="SpellE">ketergantungan</span><span> </span><span class="SpellE">antara</span> <span class="SpellE">prevalensi</span> <span class="SpellE">infeksi</span> <span class="SpellE">cacing</span> <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> <span class="SpellE">suis</span></em> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">jenis</span> <span class="SpellE">lantai</span> <span class="SpellE">kandang</span>,<span> </span><span class="SpellE">terjadi</span> <span class="SpellE">karena</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">kandang</span> semen <span class="SpellE">kondisinya</span> <span class="SpellE">lebih</span> <span class="SpellE">kering</span> <span class="SpellE">dibandingkan</span> <span class="SpellE">kandang</span> <span class="SpellE">tanah</span>, <span class="SpellE">sehingga</span> <span class="SpellE">perkembangan</span> <span class="SpellE">telur</span> <span class="SpellE">cacing</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">kandang</span> <span class="SpellE">tanah</span> <span class="SpellE">akan</span> <span class="SpellE">lebih</span> <span class="SpellE">baik</span>, <span class="SpellE">selain</span> <span class="SpellE">itu</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">kandang</span> <span class="SpellE">tanah</span> <span class="SpellE">telur</span> <span class="SpellE">cacing</span> <span class="SpellE">akan</span> <span class="SpellE">melekat</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">lebih</span> <span class="SpellE">baik</span> <span class="SpellE">sehingga</span> <span class="SpellE">jumlah</span> yang <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">kandang</span> <span class="SpellE">kandang</span> <span class="SpellE">tersebut</span> <span class="SpellE">akan</span> <span class="SpellE">lebih</span> <span class="SpellE">banyak</span>. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Dengan keadaan tersebut maka peluang babi yang dipelihara pada kandang tanah akan lebih besar dibandingkan dengan babi yang dipelihara pada kandang semen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p><strong><span style="font-size: 11pt; font-family: &quot;Times New Roman&quot;; color: black;" lang="SV"><br style="page-break-before: always;" /> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Simpulan </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa.prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> di Kota Denpasar sebesar 32,67% dengan intensitas tergolong berat (rata-rata TTPG = <em><span> </span></em>6166,87 ± 9827.5 ) serta terdapat ketergantungan yang antara prevalensi infeksi cacing <em>Trichuris suis</em> dengan jenis lantai kandang..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Berdasarakan hasil yang diperoleh, disarankan untuk menggunakan kandang semen untuk memelihara babi..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Anonimus. 1988. Pedoman Lengkap Beternak Babi. Yayasan Kanisius,<span> </span>Yogyakarta</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Anonimus, 1999. Informas<span> </span>Data<span> </span>Peternakan Propinsi DaerahTingkat I<span> </span>Bali. Dinas Peternakan Propinsi Daerah tingkat I Bali</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Georgi, G.E. dan M.E. Georgi. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;">1990. <span class="SpellE">Parasitology</span> for Veterinarians. 5 <span class="SpellE"><span class="GramE">th</span></span>. Ed.</span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">W.B. Sounders Company.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Masudana, W. 1990. Pengembangan Peternakan Babi di Bali. Dinas Peternakan Propinsi Daerah tingkat I Bali, Denpasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Nganga, CJ.,<span> </span>DN Karanya., MN Mutune. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;">2007. The Prevalence of Gastrointestinal <span class="SpellE">Helminth</span> <span class="SpellE">Incetions</span> in Pigs in Kenya. <span class="GramE">Tropical Animal Health and Production.</span> 40<span class="GramE">.(</span>5): 331-334</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Nejsum<span class="GramE">,P</span></span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;">., SM. <span class="SpellE">Thamsborg</span>., HH Petersen., H. <span class="SpellE">Kringel</span>.,<span> </span><span class="SpellE">MM.Fredholm</span>.,<span> </span>A. <span class="SpellE">Ropstorff</span>. 2009. Populations Dynamics of <span class="SpellE">Trichuris</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">suis</span></span> in Trickle Infected Pigs. <span class="SpellE"><span class="GramE">Parasitology</span></span><span class="GramE">.</span> 136 (6) 691-697.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Nilasasih</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;">, N.P. 2001. <span class="SpellE">Prevalensi</span> <span class="SpellE">Infeksi</span> <span class="SpellE">cacing</span> <span class="SpellE">Nematoda</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">babi</span> <span class="SpellE">dewasa</span> <span class="SpellE">di</span> <span class="SpellE">kecamatan</span> <span class="SpellE">Payangan</span>, <span class="SpellE">Kabupaten</span> <span class="SpellE">Gianyar</span> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">kecamatan</span> <span class="SpellE">Marga</span><span class="GramE">,<span> </span><span class="SpellE">Kabupaten</span></span> <span class="SpellE">Tabanan</span>. <span class="SpellE"><span class="GramE">Skripsi</span></span><span class="GramE">.</span> <span class="SpellE">Fakultas</span> <span class="SpellE">Kedokteran</span> <span class="SpellE">Hewan</span> <span class="SpellE">Universitas</span> <span class="SpellE">Udayana</span>, <span class="SpellE">Denpasar</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pedersen, S. dan I.. Saeed. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;">2001. Acquired Immunity to <span class="SpellE"><em>Trichuris</em></span><em> <span class="SpellE"><span class="GramE">suis</span></span></em> Infection in Pigs.<span> </span><span class="SpellE"><span class="GramE">Parasitology</span></span><span class="GramE">.</span> 123 (1) 95-101</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Pedersen, S. <span class="SpellE">dan</span> I<span class="GramE">..</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Saeed</span></span><span class="GramE">.</span> 2002. Host age Influence on The Intensity of Experimental <span class="SpellE"><em>Trichuri</em></span><em> <span class="SpellE"><span class="GramE">suis</span></span></em> Infection in Pigs. <span class="GramE">Parasite.</span> 9 (1) 75-79</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Roepstorff</span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">, .</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE"><span class="GramE">dan</span></span> P. <span class="SpellE">Nansen</span>. 1998. Epidemiology, Diagnosis and Control of <span class="SpellE">Helminth</span> Parasites of Swine. Food and Agriculture Organization of <span class="GramE">The</span> United Nations. Rome.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Soulsby</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;">, E.J.L. 1982. <span class="SpellE"><span class="GramE">Helminths</span></span><span class="GramE">, Arthropods and Protozoa of Domesticated<span> </span>Animals.</span> 7 <span class="SpellE"><span class="GramE">th</span></span>. <span class="GramE">Ed. William and Wilkin, <span class="SpellE">Bailliere</span> <span class="SpellE">Tindall</span>, London.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 16.5pt;"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Steel, R.G.D. <span class="SpellE">dan</span> J.H. <span class="SpellE">Torrie</span>.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">1991. Prinsip dan Prosedur Statistika. Penterjemah Bambang, S. PT Gramedia Pustaka utama Jakarta.</span></p>
<p><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Widana, I.M. 1998. Prevalensi dan Intensitas infeksi Cacing <em>Trichuris suis</em> pada Babi Muda di Kecamatan Tampak Siring, kabupaten Gianyar. </span><span class="SpellE"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Skripsi</span></span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">Fakultas</span> <span class="SpellE">Kedokteran</span> <span class="SpellE">Hewan</span>, <span class="SpellE">Universitas</span> <span class="SpellE">Udayana</span>, <span class="SpellE">Denpasar</span></span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=347" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/prevalensi-infeksi-cacing-trichuris-suis-pada-babi-muda-di-kota-denpasar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Dinamika Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Hutan Wisata Alas Kedaton Tabanan</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/dinamika-populasi-monyet-ekor-panjang-macaca-fascicularis-di-hutan-wisata-alas-kedaton-tabanan/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/dinamika-populasi-monyet-ekor-panjang-macaca-fascicularis-di-hutan-wisata-alas-kedaton-tabanan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 07:56:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 2 No. 1 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=337</guid>
		<description><![CDATA[(The Population Dynamic of Long Tail Monkey (Macaca fascicularis) in Alas Kedaton, Tabanan)
 
I Gede Soma1,2, I Nengah Wandia1,2, I Ketut Suatha1,2, Sri Kayati Widyastuti1,2,  Aida LT Rompis1,2, dan Gede Yudhi Arjentinia1,2
 
1)Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana
2)Pusat Kajian Primata, Lambaga Penelitian Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Bali
 
ABSTRAK
 
 Telah dilakukan penelitian tentang dinamika populasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong><em><span style="font-size: 11pt; color: black;">(The Population Dynamic of Long Tail Monkey (<span class="SpellE">Macaca</span> <span class="SpellE">fascicularis</span>) in Alas <span class="SpellE">Kedaton</span>, <span class="SpellE">Tabanan</span>)</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><em><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">I Gede Soma</span></strong><strong><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">1,2</span></sup></strong><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, I Nengah Wandia</span></strong><strong><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">1,2</span></sup></strong><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, I Ketut Suatha</span></strong><strong><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">1,2</span></sup></strong><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, Sri Kayati Widyastuti</span></strong><strong><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">1,2</span></sup></strong><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, <span> </span>Aida LT Rompis</span></strong><strong><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">1,2</span></sup></strong><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, dan<span> </span>Gede Yudhi<span> </span>Arjentinia</span></strong><strong><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">1,2</span></sup></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><em><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">1)Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><em><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">2)Pusat Kajian Primata, Lambaga Penelitian Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Bali</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Telah dilakukan penelitian tentang dinamika populasi <em>Macaca fascicularis </em>(monyet ekor panjang) di hutan wisata Alas Kedaton dengan menggunakan metode observasi dan sensus. Seluruh populasi monyet ekor panjang yang ada di hutan wisata Alas Kedaton di hitung jumlahnya, dibedakan berdasarkan umur dan jenis kelamin dan diamati untuk menentukan kelompoknya. Jumlah total populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton adalah 364 ekor terdiri atas 54 ekor (14,8%) jantan dewasa, 104 ekor (28,6%) betina dewasa, 164 ekor (45,1%) monyet muda dan 42 ekor (11,5%) anakan, yang terbagi menjadi 4 kelompok sosial yaitu kelompok Parkir, kelompok Utara, kelompok Tengah dan kelompok Selatan. Perbandingan / rasio monyet jantan dewasa dengan betina dewasa adalah 1 : 2. Tingkat kepadatan populasi adalah 30 ekor / Ha. Angka kelahiran monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton sebesar 11,5%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 12pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0.05pt 0.0001pt 68.05pt; text-align: justify; text-indent: -68.05pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Kata Kunci: <em><span> </span></em>Monyet ekor panjang, Dinamika populasi, Angka Kelahiran, Kepadatan populasi, Rasio jantan-betina</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0.05pt 0.0001pt 68.05pt; text-align: justify; text-indent: -68.05pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 68.05pt; text-align: center; text-indent: -68.05pt; line-height: 14pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span>Overall population dynamic were observed in identified individuals between August and October 2008, in large group of long failed macaques in the Alas <span class="SpellE">Kedaton</span>, Bali. Total population was 364 monkeys consisted of 54 (14<span class="GramE">,8</span>%) adult males, 104 (28,6%) adult females, 164 (45,1%) juvenile and 42 (11,5%) infant. They were divided into 4 different small social groups i.e., <span class="GramE">Parking</span> area group, North area group, Centre area group and South area group. Ratio of adult male and adult female was 1: 2.<span> </span>Population densities of <span class="SpellE"><em>Macaca</em></span><em> <span class="SpellE">fascicularis</span></em> in Alas <span class="SpellE">Kedaton</span> were 30 monkeys / Ha and population <span class="SpellE">natalities</span> were 11, 5%. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0.05pt 0.0001pt 65.2pt; text-align: justify; text-indent: -65.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Key words:<span> </span><span class="SpellE">Macaca</span> <span class="SpellE">fascicularis</span>, infant, juvenile, adult, population dynamic, population density, male-female adult ratio, population <span class="SpellE">natality</span>.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right: 0.05pt; text-align: justify; line-height: 12pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Monyet ekor panjang di Bali berada dalam beberapa populasi lokal yang saling terpisah yang diduga berasal dari Jawa. Migrasinya diperkirakan beberapa kali, dengan migrasi terakhir terjadi ± 18 ribu tahun yang lalu (Eudey 1980; Fooden 1995). Saat ini tidak kurang dari 42 populasi lokal monyet ekor panjang ditemukan di Pulau Bali (Pusat Kajian Primata Universitas Udayana, 2001). Keberadaan monyet ekor panjang di Bali memiliki makna penting bagi masyarakat. Di beberapa tempat dijadikan obyek wisata dan telah berkontribusi nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Karenanya, mempertahankan keberadaan jangka panjang populasi monyet ekor panjang secara <em>in situ</em> sangat penting dan mesti mendapatkan prioritas perhatian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Namun bila jumlah monyet ekor panjang melebihi daya tampung (<em>carrying capacity</em>) habitatnya akan menimbulkan efek yang kurang baik kepada monyet itu sendiri, pengunjung, dan masyarakat sekitar. Kepadatan populasi pada satu habitat akan menyebabkan tingginya frekwensi ketegangan, perkelahian dan agresivitas antar anggota sekelompok atau antar kelompok. Hal ini akan membahayakan pengunjung/wisatawan yang datang. Insiden pengunjung tergigit oleh monyet (Wheatley 1989) akan meningkat pada populasi yang demikian. Untuk menghindari ketegangan atau perkelahian, beberapa anggota populasi akan keluar dari habitatnya. Keadaan ini akan merugikan penduduk karena kerusakan pertanian atau perkebunan yang ditimbulkannya (Wandia 2007). Untuk mengatasi konsekuensi negatif kelebihan populasi, usaha penyeimbangan jumlah monyet dengan daya tampung habitat perlu diupayakan. Data demografi atau struktur populasi, luas habitat, dan jumlah pakan yang tersedia (Alikodra 2002) sangat dibutuhkan untuk dapat mewujudkan usaha tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Alas Kedaton dengan luas lebih kurang 12 ha selain merupakan hamparan hutan sekunder juga merupakan habitat monyet ekor panjang yang keberadaannya di lokasi ini sudah melebihi 30 tahun yang lalu (Kawamoto <em>et al</em>. 1984). Sampai saat ini belum ada data tentang struktur populasi monyet ekor panjang yang ada di Alas Kedaton.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">METODE PENELITIAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span><span class="SpellE">Monyet</span> <span class="SpellE">ekor</span> <span class="SpellE">panjang</span> <span class="SpellE">di</span> Alas <span class="SpellE">Kedaton</span> <span class="SpellE">sebagai</span> <span class="SpellE">sampel</span> <span class="SpellE">penelitian</span>, <span class="SpellE">dihitung</span> <span class="SpellE">jumlahnya</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">cara</span></span><span class="GramE"><span> </span>survey</span> <span class="SpellE">dan</span> <span class="SpellE">sensus</span> (<span class="SpellE">Wandia</span> 2007). <span class="SpellE"><span class="GramE">Koleksi</span></span><span class="GramE"> data <span class="SpellE">diawali</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">identifikasi</span> <span class="SpellE">jumlah</span> <span class="SpellE">kelompok</span> <span class="SpellE">sosial</span> <span class="SpellE">berdasarkan</span> <span class="SpellE">pada</span> <span class="SpellE">informasi</span> <span class="SpellE">petugas</span> <span class="SpellE">jaga</span> yang <span class="SpellE">kemudian</span> <span class="SpellE">dikonfirmasi</span> <span class="SpellE">dengan</span> <span class="SpellE">pengamatan</span> <span class="SpellE">pendahuluan</span>.</span> </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Setelah penentuan kelompok sosial, penghitungan anggota masing-masing kelompok sosial dilakukan secara langsung. Anggota populasi dikelompokkan menjadi empat yaitu jantan dewasa, betina dewasa, muda, dan anakan (Fooden 1995). Monyet jantan ditandai oleh wajah dengan cambang kurang lebat, berkumis, bantalan duduk kiri dan kanan menyatu, dan adanya skrotum (tetes). Monyet jantan dikelompokkan ke jantan dewasa apabila badannya besar, taringnya panjang, dan tingkah lakunya relatif superior. Monyet betina ditandai oleh wajah dengan cambang yang lebat, berjenggot, bantalan duduk kiri dan kanan terpisah, dan adanya vulva vagina. Monyet betina dikelompokkan menjadi betina dewasa apabila ambing dan puting susunya sudah menggelantung (<em>pendulus</em>). Pada kelompok muda, jenis kelamin tidak dibedakan melainkan digabung menjadi satu karena kesulitan untuk membedakannya. Monyet jantan yang badannya lebih kecil dan tingkah lakunya permisif terhadap jantan dewasa yang ada saat itu, dan betina yang belum menunjukkan puting susu menggelantung dikelompokkan sebagai monyet muda. Batas bawah umur monyet muda adalah berubahnya warna rambut hitam di kepala menjadi ke abu-abuan. Sementara, monyet baru lahir dan monyet yang masih memiliki warna hitam pada rambut kepala dikelompokkan sebagai anakan. Jumlah anggota masing-masing kelompok sosial, selanjutnya digabung menjadi satu data populasi lokal. Penghitungan secara langsung bisa dimulai dari kelompok anakan atau jantan dewasa atau lainnya sesuai situasi dan kondisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Data yang telah dikoleksi dianalisis secara deskriptif mengenai jumlah kelompok sosial, struktur populasi, dan kepadatannya. Struktur populasi meliputi jumlah anggota populasi lokal, komposisi umur, rasio jantan dewasa dengan betina dewasa, dan angka kelahiran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">HASIL DAN PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Hasil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Jumlah keseluruhan populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton<em> </em>adalah 364 ekor meliputi jantan dewasa 54 ekor (14,8%), betina dewasa 104 ekor (28,6%), monyet muda 164 ekor (45,1%) dan anakan<em> </em>42 ekor (11,5%). Populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton terbagi menjadi 4 kelompok sosial yaitu kelompok Parkir, kelompok Utara, kelompok Tengah dan kelompok Selatan. Masing-masing kelompok diberi nama sesuai wilayah yang ditempatinya. Kelompok Parkir berjumlah 87 ekor terdiri atas jantan dewasa 7 ekor, betina dewasa 35 ekor, muda 37 ekor dan anakan 8 ekor, kelompok Utara berjumlah 73 ekor terdiri atas jantan dewasa 11ekor, betina dewasa 18 ekor, muda<span> </span>34<span> </span>ekor, dan anakan 10 ekor. Kelompok tengah berjumlah 135 ekor, terdiri atas jantan dewasa 20 ekor, betina dewasa 35 ekor, muda 64 ekor, dan anakan 16 ekor. Kelompok Selatan berjumlah 69 ekor, terdiri atas jantan dewasa 16 ekor, betina dewasa 16 ekor, muda 29 ekor dan anakan 8 ekor (Table 1 ).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 48.2pt; text-align: justify; text-indent: -48.2pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Tabel 1. <span> </span>Data Jumlah Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berdasarkan umur pada tiap kelompok di Hutan Wista Alas Kedaton</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 48.2pt; text-align: justify; text-indent: -48.2pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><a rel="attachment wp-att-340" href="http://www.bulletinveteriner.com/dinamika-populasi-monyet-ekor-panjang-macaca-fascicularis-di-hutan-wisata-alas-kedaton-tabanan/soma-1/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-340" title="soma-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/soma-1-300x73.jpg" alt="soma-1" width="512" height="156" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Dari data yang diperoleh seperti paparkan pada Tabel 1 dan Gambar 1, secara umum tampak kelompok umur muda menempati jumlah yang paling tinggi (45,1%). Hal yang sama juga tampak pada tiap kelompok monyet (Gambar2). Kelompok Parkir merupakan kelompok baru. Pada tahun 2001 monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton<span> </span>hanya ada 3 kelompok yaitu kelompok Tengah, kelompok Selatan dan kelompok Utara (Pusat Kajian Primata, 2001). Tingginya jumlah monyet ekor panjang umur muda serta adanya kelompok baru (kelompok Parkir) menunjukkan populasi monyet ekor panjang yang ada di hutan wisata Alas Kedaton<span> </span>merupakan populasi yang berkembang <em>(progressive population</em>) dengan tingkat angka<span> </span>kelahiran sebesar 11,5% .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Secara umum rasio jantan dewasa dengan betina dewasa adalah<span> </span>1 : 2. Pada masing-masing kelompok rasio jantan dewasa dengan betina dewasa berturut-turut adalah sebagai berikut kelompok Parkir<span> </span>1 : 5,<span> </span>kelompok Utara 1: 2,<span> </span>kelompok Tengah 1 : 2<span> </span>dan kelompok Selatan adalah 1: 1. Monyet ekor panjang merupakan satwa yang hidup berkelompok dengan banyak jantan (<em>multi male group</em>). Rasio jantan dengan betina yang demikian juga ditemukan pada <em>Macaca mulatta</em> (Napier dan Napier, 1985). Tingginya jumlah pejantan sering menyebabkan tingginya tingkat ketegangan / perkelahian dalam memperebutkan betina birahi. Pejantan yang kalah dalam persaingan akan meninggalkan kelompoknya / bermigrasi keluar tempat kelahirannya dan membuat kleompok baru (Swindler, 1998). Tampaknya hal itu tidak terjadi sepenuhnya pada populasi<span> </span>monyet ekor panjang yang ada di hutan wisata Alas Kedaton. Ini bisa terjadi karena secara geografis hutan wisata Alas Kedaton merupakan hutan yang terisolasi ada ditengah-tengah perkampungan penduduk dan cukup sumber pakan karena diberikan pakan tambahan oleh pengelola hutan wisata. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Kepadatan populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton<span> </span>yaitu 30 ekor / Ha, jauh melebihi batas kepadatan maksimum di habitat liar. Pada kawasan liar tanpa ada pakan tambahan daya tampung maksimum sekitar 1000 kg biomasa / Km</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">2</span></sup><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> atau sekitar 333 ekor/km2 dengan rataan berat monyet 3 kg, atau sekitar 3 – 4 ekor /Ha (Lesson <em>at al.</em> 2004). Kepadatan yang tinggi akan meningkatkan ketegangan dan agressivitas diantara anggota populasi (Alikodra, 2002).Tingginya ketegangan diantara anggota populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton telah menyebabkan terbentuknya kelompok baru yang menempati areal parkir. Terbentuknya kelompok Parkir ini mencerminkan wilayah hutannya sudah tidak mampu lagi menampung jumlah populasi. Tingginya tingkat kepadatan ini besar kemungkinan akibat adanya sumber pakan tambahan dan habitat yang terisolasi. Tersedianya sumber pakan yang cukup akan menyebabkan rata-rata jumlah populasi per satuan luas habitat akan meningkat. Namun peningkatan jumlah populasi akan dibatasi oleh menurunnya tingkat kenyamanan yang menyebabkan keluarnya beberapa anggota populasi walaupun sumber pakan relatif cukup tersedia. Keadaan ini akan merugikan penduduk karena kerusakan pertanian atau perkebunan yang ditimbulkannya (Wandia 2007).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><a rel="attachment wp-att-341" href="http://www.bulletinveteriner.com/dinamika-populasi-monyet-ekor-panjang-macaca-fascicularis-di-hutan-wisata-alas-kedaton-tabanan/soma-2/"><img class="aligncenter size-full wp-image-341" title="soma-2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/soma-2.jpg" alt="soma-2" width="585" height="269" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Gambar 1.Diagram Batang Monyet Ekor Panjang Berdasarkan Dinamika Umur di<span> </span>Hutan Wisata Alas Kedaton<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><a rel="attachment wp-att-342" href="http://www.bulletinveteriner.com/dinamika-populasi-monyet-ekor-panjang-macaca-fascicularis-di-hutan-wisata-alas-kedaton-tabanan/soma-3/"><img class="aligncenter size-full wp-image-342" title="soma-3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/soma-3.jpg" alt="soma-3" width="573" height="261" /></a>Gambar 2. Diagram Batang Monyet Ekor Panjang Berdasarkan Dinamika Umur di<span> </span>Hutan Wisata Alas Kedaton pada tiap Kelompok<strong> </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">1.<span> </span>Jumlah populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton adalah 364 ekor, terdiri atas<span> </span>54 ekor (14,8%) jantan dewasa, 104 ekor (28,6%) betina dewasa, 164 ekor (45,1%) monyet muda<span> </span>dan 42 ekor (11,5%) monyet anakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">2.<span> </span>Populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton terbagi dalam 4 kelompok sosial yaitu kelompok Parkir,</span><span style="font-size: 11pt;" lang="SV"> <span style="color: black;">kelompok Utara, kelompok Tengah dan Kelompok Selatan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">3.<span> </span>Rasio jantan dewasa dengan betina dewasa monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton adalah 1:2</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">4.<span> </span>Tingkat kepadatan populasi monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton yaitu 30 ekor / Ha.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">5.<span> </span>Angka kelahiran monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton sebesar 11,5%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span></strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Tingginya tingkat kepadatan monyet ekor<span> </span>panjang di Hutan Wisata Alas Kedaton perlu mendapat perhatian dan segera dilakukan pembatasan populasi seperti dengan relokasi atau cara lain sehingga dampak negatif yang ditimbulkan dapat dihindari dan kelestarian monyet ekor panjang di hutan wisata Alas Kedaton tetap dapat terjamin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">UCAPAN TERIMAKASIH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Penulis mengucapkan terimakasih kepada Lembaga Penelitian Universitas Udayana yang telah mendanai penelitian<span> </span>ini dengan Dana DIPA Universitas Udayana tahun anggaran 2008 dengan Nomor. 001652/H.14.11/PG/2008 Tertanggal 26 April 2008. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Bendesa Adat Kukuh, Kepala Desa Kukuh dan Pengelola hutan wisata Alas Kedaton atas izin dan kerjasamanya serta adik- adik mahasiswa yang telah ikut serta membantu dalam pelaksanaan penelitian ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Alikodra</span></span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> HS.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> 2002. </span><span class="SpellE"><em><span style="font-size: 11pt;">Pengelolaan</span></em></span><em><span style="font-size: 11pt;"> <span class="SpellE">Satwaliar</span>. </span></em><span class="SpellE"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt;">Jilid</span></span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt;"> I. YPFK.</span></span><span style="font-size: 11pt;"> <span class="SpellE">Bogor</span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Eudey</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> AA. 1980. Pleistocene glacial phenomena and the evolution of Asian macaques. <span class="GramE">In <em>The <span class="SpellE">Macacaques</span></em>.</span> <span class="GramE"><em>Studies in Ecology, Behavior and Evolution</em>.</span> <span class="GramE">Edited by D.G. <span class="SpellE">Lindburg</span>.</span> <span class="GramE">:52</span>-83. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Frankham</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> R, <span class="SpellE">Ballou</span> JD, Briscoe DA. 2004. </span><em><span style="font-size: 11pt;">A <span class="SpellE">Primier</span> of Conservation Genetics</span></em><span style="font-size: 11pt;">. <span class="GramE">Cambridge</span><span class="GramE"> University</span><span class="GramE"> Press.</span> Cambridge.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt;">Fooden</span></span><span style="font-size: 11pt;"> J. 1995. <span class="GramE"><em>FIELDIANA.</em></span><em> <span class="GramE">Zoology<span style="font-style: normal;">.</span></span></em> <span class="GramE">New Series No. 81.</span> Systematic Review of Southeast Asian <span class="SpellE">Longtail</span> Macaques, <span class="SpellE"><em>Macaca</em></span><em> <span class="SpellE">fascicularis</span></em> (Raffles, [1821]). <span class="GramE">Published by Field  Museum of Natural History.</span> USA</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Hartl</span></span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> DL and Clark AG.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> 1997. <em>Principles of Population Genetics</em>. <span class="GramE">Third ed. <span class="SpellE">Snauer</span> Associates, Inc. Publishers.</span> Sunderland,  Massachusetts.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Kawamoto Y, <span class="SpellE">Ischak</span> TM, <span class="SpellE">Supriatna</span> J. 1984.<span> </span><span class="GramE">Genetic variation within and between troops of the crab-eating macaque (<span class="SpellE"><em><span style="color: windowtext;">Macaca</span></em></span><em><span style="color: windowtext;"> <span class="SpellE">fascicularis</span></span></em><span style="color: windowtext;">) on Sumatra, <span class="SpellE">Jawa</span>, Bali, <span class="SpellE">Lombok</span> and <span class="SpellE">Sumbawa</span>, Indonesia.</span></span></span><span style="font-size: 11pt;"> <em>Primates</em>, 25(2):131-159.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt;">Klug</span></span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt;"> WS &amp; Cummings MR. 2005.</span></span><span style="font-size: 11pt;"> <span class="GramE"><em>Essentials of Genetics</em>.</span> International Ed. 5</span><span class="SpellE"><sup><span style="font-size: 6pt;">th</span></sup></span><span style="font-size: 11pt;"> Ed. Pearson Education, Inc. USA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt;" lang="SV">Lesson C, Kyes RC., Iskandar E. 2004. </span><span style="font-size: 11pt;">Estimating population density of <span class="SpellE">Longtailed</span> macaques (<span class="SpellE"><em>Macaca</em></span><em> <span class="SpellE">fascicularis</span></em>) on <span class="SpellE">Tinjil</span> Island, Indonesia, using the line transect sampling method. <span class="SpellE"><em>Jurnal</em></span><em> <span class="SpellE">Primatologi</span> Indonesia</em> 4(1):7-14.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt;">Li WH. 1997. <span class="GramE"><em>Molecular Evolution</em>.</span> <span class="SpellE"><span class="GramE">Sinauer</span></span><span class="GramE"> Associates Inc. Publisher.</span> Sunderland, Massachusetts, USA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Napier, J.R <span class="SpellE">dan</span> Napier, P.H. 1985.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="GramE"><em>The Natural History of the <span class="SpellE">Primates.<span style="font-style: normal;">British</span></span><span style="font-style: normal;"> Museum</span><span style="font-style: normal;"> (Natural History), <span class="SpellE">Crowmwell</span> Road, London.</span></em></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="SpellE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Nozawa</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> K, <span class="SpellE">Shotake</span> T, <span class="SpellE">Minezawa</span> M, Kawamoto Y, Kawamoto K, <span class="SpellE">dan</span> Kawamoto S. 1996. Population-genetic studies of the Javanese macaque, <span class="SpellE"><em>Macaca</em></span><em> <span class="SpellE">fuscata</span></em>. In: <em>Variations in the Asian Macaques</em>. T. <span class="SpellE">Shotake</span> and K. Wada (<span class="GramE">eds</span>.). <span class="GramE">Tokai</span><span class="GramE"> University</span><span class="GramE"> Press.</span> Tokyo, <span class="GramE">Japan.:</span> 1-36.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pusat Kajian Primata, Universiras Udayana. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;">2001. <em>Map of Long Tailed Macaque Populations in Bali</em>. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pusat Kajian Primata Lembaga Penelitian Universitas Udayana. Bali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Rowe.N. 1996. </span><span class="GramE"><em><span style="font-size: 11pt; color: black;">The Pictorial Guide to the Living Primates</span></em><span style="font-size: 11pt; color: black;">.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="SpellE">Pogonias</span> Press. New York.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Swindler, D.R. 1998.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="GramE"><em>Introduction to the Primates</em>.</span> University of Washington  Press, <span class="SpellE">Seatle</span> <span class="SpellE">dan</span> London</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Wandia I N. 2007. Struktur dan Keragaman Genetik Populasi Lokal Monyet Ekor Panjang (<em>Macaca fascicularis</em>)<span> </span>di Jawa Timur, Bali, dan Lombok. </span><span class="SpellE"><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Disertasi</span></span></span><span class="GramE"><span style="font-size: 11pt; color: black;">.</span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;"> <span class="GramE">PRM.</span> <span class="GramE">IPB.</span> <span class="SpellE">Bogor</span>. 2007.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 34pt; text-align: justify; text-indent: -34pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Wheatley BP. 1989. Diet of Balinese temple monkeys, </span><span class="SpellE"><em><span style="font-size: 11pt;">Macaca</span></em></span><em><span style="font-size: 11pt;"> <span class="SpellE">fascicularis</span>. <span class="GramE">Kyoto</span><span class="GramE"> University</span><span class="GramE"> Overseas Research Report of Studies on Asian Non-Human Primates.</span> </span></em><span style="font-size: 11pt;">Kyoto University Primate Research Institute. No. 7:62-75.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"> </span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=337" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/dinamika-populasi-monyet-ekor-panjang-macaca-fascicularis-di-hutan-wisata-alas-kedaton-tabanan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kualitas Air Minum Ternak Ayam Petelur di Desa Piling Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan di Tinjau dari Jumlah Bakteri Coliform</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/kualitas-air-minum-ternak-ayam-petelur-di-desa-piling-kecamatan-penebel-kabupaten-tabanan-di-tinjau-dari-jumlah-bakteri-coliform/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/kualitas-air-minum-ternak-ayam-petelur-di-desa-piling-kecamatan-penebel-kabupaten-tabanan-di-tinjau-dari-jumlah-bakteri-coliform/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Aug 2009 07:53:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Vol. 2 No. 1 2009]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=333</guid>
		<description><![CDATA[(The Quality of Water Layer Farming at Piling Village, Penebel Distric and Tabanan Regency Based on Ammount of Coliform)
I Gusti Ketut Suarjana
Laboratorium Bakteriologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana

ABSTRAK
 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform dalam air minum ternak ayam petelur di Desa Piling Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan di tinjau dari jumlah bakteri Coliform. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">(The Quality of Water Layer Farming at Piling Village, Penebel Distric and Tabanan Regency Based on Ammount of Coliform)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">I Gusti Ketut Suarjana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><em><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Laboratorium Bakteriologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 12pt;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 12pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri Coliform dalam air minum ternak ayam petelur di Desa Piling Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan di tinjau dari jumlah bakteri Coliform. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga lokasi pengambilan sampel yaitu sumber air(sungai), tempat penampungan air dan tempat minum dan pengulangan sebanyak 10 kali sebagai kelompok. Jumlah bakteri Coliform dihitung menurut metode <em>Most Probable Number</em> (MPN) dengan seri sembilan tabung. Data jumlah Coliform dianalisis dengan<span> </span>Sidik Ragam dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah bakteri Coliform pada sumber air, tempat<span> </span>penampungan.dan tempat minum berturut-turut : 11240 MPN/100 ml, 19800 MPN/100ml dan 35600 MPN/100ml. Selanjutnya secara statistik menunjukkan bahwa jumlah Coliform pada setiap lokasi berbeda sangat nyata(P&lt;0,01). Jumlah Coliform pada tempat minum sangat nyata lebih tinggi (P&lt;0,01) dari pada jumlah Coliform pada tempat penampungan dan sungai. Demikian juga jumlah Coliform pada tempat penampungan air sangat nyata<span> </span>(P&lt;0,01) lebih tinggi dari pada sungai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Kata kunci: Coliform, MPN, Peternakan ayam petelur</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">ABSTRACT</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span><span> </span>A study was carried out to evaluate the water quality in layer farming at Piling Village, Distric and Regency of Tabanan, based on number of Coliform bacteria. The study was block<span> </span>randomized design was asigned in this study. Water samples were collected from three sourcess, river, water reservoir and drinking water of pen.Samples were collected in<span> </span>10 time.<span> </span>The Coliform analysed by most probable number (MPN) Method with nine tube series.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span>The result of this study showed that number of Coliform in river, reservoir and place of drinking water were 11240 MPN/100 ml, 19800 MPN/100 ml and 35600 MPN/ 100 ml respectively. Statisticcaly of this study showed amount of Coliform in drinking water of farm layer significant highest (P&lt;0,01) than those reservoir and river. Amount of Coliform in reservoir significant highest (P&lt;0,01) than those river.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Keyword : Coliform, MPN, Layer Farming</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;">PENDAHULUAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;"><span> </span>Bakteri Coliform tergolong ke dalam famili Enterobacteriaceae bersifat Gram negatif berbentuk batang,<span> </span>memfermentasi laktosa, fakultatif anaerob dan suhu optimumnya 37</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;">0</span></sup><span style="font-size: 11pt; color: black;">C (Buckle,et al.,1997). Menurut Jawetz dkk.(1980) Coliform terdiri dari <em>Escherichia coli</em> ( <em>E. coli</em>), <em>Klebsiella</em>, <em>Enterobacter </em>dan <em>Citrobacter</em>. Didalam Grup Coliform ini <em>Citrobacter</em> memiliki sifat paling lambat memfermentasi laktosa sehingga memerlukan waktu inkubasi lebih dari 24 jam bahkan sampai dua kali 24 jam.Coliform merupakan mikroorganisme komensal atau sebagai flora normal yang terdapat dalam saluran pencernaan hewan dan manusia. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Bakteri ini dipakai sampai sekarang dipakai sebagai indikator tingkat<span> </span>sanitasi suatu produk bahan makanan maupun minuman yang dikonsumsi oleh hewan maupun manusia. Produk bahan-bahan pakan yang berasal dari ternak cendrung lebih mudah terkontaminasi oleh Coliform dari pada bahan-bahan yang bukan berasal dari ternak. Demikian pula air yang dipergunakan untuk keperluan manusia dan ternak mudah terkontaminasi oleh feces hewan/manusia yang mengandung bakteri Coliform. Jumlah bakteri Coliform yang ditetapkan sebagai standar mutu bahan makanan atau pakan maupun air minum pada suatu negara berbeda dengan negara lain. Negara yang sudah maju atau modern sudah jelas akan menekan jumlah bakteri ini seminim mungkin. Indonesia sebagai negara berkembang telah menetapkan baku mutu air berdasarkan Perturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 diantaranya baku mutu air peternakan yang dikatagorikan sebagai air Kelas II<span> </span>ditinjau dari mikrobiologis dengan jumlah bakteri Coliform adalah 5000 MPN/100 ml.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Berbagai mikroba patogen seringkali ditularkan melalui air<span> </span>yang tercemar sehingga dapat menimbulkan penyakit pada manusia maupun hewan. Mikroba ini biasanya terdapat dalam saluran pencernaan dan mencemari air melalui feces. Ada beberapa bakteri di dalam grup Coliform yang merupakan ancaman kesehatan bagi manusia maupun ternak. Serotipe E. coli patogen seperti O8, O9, O141, O149, O157,dsb. Demikian juga Klebsiella pnemunia telah diketahui sebagai penyebab radang paru-paru pada hewan dan jarang dijumpai pada manusia. . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Metode MPN dipergunakan untuk uji kualitas mikrobiologi air. Metode ini merupakan uji deretan tabung<span> </span>yang menyuburkan pertumbuhan Coliform sehingga diperoleh nilai untuk menduga jumlah Coliform dalam sampel yang diuji. Dalam metode MPN dikenal dua uji yaitu uji duga dan uji penegasan atau uji peneguhan. Uji duga dinyatakan positif apabila sampel yang ditanam dalam masa inkubasi dua kali 24 jam memfermentasi laktosa dan memproduksi gas dalam medium<span> </span>tersebut. Selanjutnya<span> </span>uji penegasan dilakukan dengan mengidentifikasi lebih lanjut bakteri tersebut dengan uji biokimia seperti uji IMViC atau memupuk pada media selektive seperti Eosin Methyline Blue Agar( EMBA) dan Mac Conkey Agar. Uji positif menghasilkan angka indeks yang disesuikan dengan tabel MPN seri9 tabung atau tiga pengenceran sampel masing-masing menggunakan tiga tabung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">MATERI DAN METODE</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Materi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Bahan-bahan berupa sampel air peternakan masing-masing 100 ml yang diambil dari tiga lokasi yaitu air sungai, tempat penampungan dan tempat minum. Bahan yang lain : kapas, tisu, alkohol 70%, kertas aluminium. Media yang dipergunakan meliputi aquades steril, Mac Conkey broth dan EMBA.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Alat-alat meliputi : tabung reaksi, erlenmeyer, autoclave, timbangan, pipet ukur,ose,<span> </span>inkubator, termos es.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Metode</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Metode penelitian yang dipergunakan menurut<span> </span>Fardiaz (1993). Masing-masing sampel diambil secara legeartis, aseptis, dan komposit. Pengambilan sampel dilakukan<span> </span>sebanyak 10 kali dengan interval setiap 5 hari. Sampel dikerjakan sebagai.berikut :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">1.<span> </span>Masing-masing sampel terlebih dahulu dihomogenkan dan diencerkan 10</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">-2</span></sup><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, 10</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">-3</span></sup><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">, 10</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">-4</span></sup></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">2.<span> </span>Siapkan masing-masing pengenceran tiga tabung yang berisi 10 ml Mac Conkey broth (MCB)<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">3.<span> </span>Inokulasikan masing-masing 1 ml sampel kedalam tabung MCB</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">4.<span> </span>Inkubasikan tabung-tabung tersebut dalam inkubator suhu 37</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">o</span></sup><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">C selama 24 jam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">5.<span> </span>Amati dan catat hasilnya pada masing-masing tabung. Apabila positif akan ditandai Medium menjadi keruh warnanya dari merah menjadi kuning disertai adanya gas di. Dalam tabung Durham. Apabila belum dijumpai tanda-tanda tersebut maka tabung-tabung tersebut diiinkubasikan lagi 1x 24 jam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">6.<span> </span>Masing-masing tabung yang positif diinokulasikan dengan ose steril ke edium EMBA kemudian diinkubasikan<span> </span>dalam inkubator suhu<span> </span>37</span><sup><span style="font-size: 6pt; color: black;" lang="SV">o </span></sup><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>C<span> </span>selama 24 jam.Koloni Coliform tumbuh berwarna coklat<span> </span>keabu-abuan hijau metalik atau kecoklatan seperti mata ikan.<span> </span><span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">7.<span> </span>Catat masing-masing tabung yang positif dari masing-masing sampel selanjutnya disesuaikan dengan nilai kombinasi dalam tabel MPN dan catat nilai MPN.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">8. <span> </span>MPN mikroba</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 19.85pt; text-align: justify; text-indent: -19.85pt; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><a rel="attachment wp-att-357" href="http://www.bulletinveteriner.com/kualitas-air-minum-ternak-ayam-petelur-di-desa-piling-kecamatan-penebel-kabupaten-tabanan-di-tinjau-dari-jumlah-bakteri-coliform/suarjana-mpn/"><img class="aligncenter size-full wp-image-357" title="suarjana-mpn" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/suarjana-mpn.jpg" alt="suarjana-mpn" width="225" height="42" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Rancangan Penelitian </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga lokasi pengambilan sampel dan dilakukan pengulangan sebanyak 10 kali sebagai blok.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Analisis Data </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Data jumlah Coliform dianalisis dengan uji Sidik Ragam dan apabila terdapat perbedaan yang nyata dilanjutkan dengan uji Jarak Berganda Duncan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">HASIL DAN PEMBAHASAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Hasil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Data jumlah coliform yang terdapat dalam air peternakan ayam dapat dilihat pada Tabel 1.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 14pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 42.5pt; text-align: justify; text-indent: -42.5pt; line-height: 12pt;"><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Tabel 1. Jumlah Bakteri Coliform (MP[N/ml) Air Peternakan Ayam Petelur UD Aditya Desa Piling Kecamatan Penebel Kabupaten Tabanan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><a rel="attachment wp-att-334" href="http://www.bulletinveteriner.com/kualitas-air-minum-ternak-ayam-petelur-di-desa-piling-kecamatan-penebel-kabupaten-tabanan-di-tinjau-dari-jumlah-bakteri-coliform/suaejana-1/"><img class="aligncenter size-full wp-image-334" title="suaejana-1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2009/08/suaejana-1.jpg" alt="suaejana-1" width="568" height="289" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Pembahasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Jumlah Coliform pada sungai tempat penampungan dan tempat minum berturut-turut 11240 MPN / 100 ml, 19800 MPN / 100 ml dan 35600 MPN / 100 ml. Jumlah Coliform pada setiap lokasi melampaui batas baku mutu air peternakan (kelas II) sesuai dengan Peraturan Pemerintah RI No 82 tahun 2001, yaitu 5000 MPN / 100 ml. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Rastina (2004) jumlah Coliform yang dijumpai pada air sungai Yeh Ho di Tabanan masih tinggi (23000 MPN / 100 ml). Diduga ada beberapa faktor penyebabnya meliputi<span> </span>sungai yang mengalir disekitar tempat pemukiman penduduk dipergunakan untuk membuang sampah atau kotoran ternak maupun manusia dan aktivitas lainnya seperti memandikan ternak, mencuci<span> </span>alat - alat pertanian</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Hasil uji sidik ragam menunjukkan bahwa lokasi pengambilan sampel berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap jumlah bakteri Coliform air peternakan ayam. Air sungai yang dipergunakan banyak mengandung bahan-bahan organik yang penting untuk pertumbuhan mikroorganisme seperti protein, karbohidrat dan lemak.<span> </span>Menurut Pelczar,dkk.(1993) dan<span> </span>Waluyo (2005)<span> </span>bakteri tumbuh dan berkembang biak membutuhkan sumber makanan seperti protein, karbohidrat dan beberapa faktor penting lain seperti suhu, aerasi dan pH. Selanjutnya air sungai sebagai sumber air peternakan dialirkan melalui selokan dan pipa ke tempat penampungan. Tempat penampungan seperti kolam tidak permanen, terbuka dan air belum diolah. Selanjutnya air ini dipergunakan untuk air minum ternak ayam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Hasil Uji Jarak Berganda Duncan terhadap lokasi pengambilan sampel menunjukkan bahwa<span> </span>jumlah Coliform<span> </span>pada tempat minum berbeda sangat nyata (P&lt;0,01) lebih tinggi dari pada tempat penampungan maupun sungai. Jumlah Coliform pada tempat penampungan sangat nyata (P&lt;0,01) lebih tinggi dari pada sungai. Jumlah Coliform yang tinggi pada tempat minum mengindikasikan bahwa sanitasi kandang masih jelek. Kandang yang jarang dibersihkan terutama tempat minum akan mudah terkontaminasi oleh bahan-bahan infektif seperti debu kandang, kotoran dan bahan pakan<span> </span>yang merupakan bahan nutrisi untuk pertumbuhan bakteri. Secara fisik tempat penampungan belum permanen dan terbuka juga sebagai pemicu jumlah Coliform pada tempat tersebut tinggi. Jumlah Coliform pada sungai lebih rendah dari pada dua lokasi yang lain karena tipe air sungai bergerak atau mengalir sehingga bakteri lebih sulit berkembang biak secara optimal. Disamping itu bakteri pada umumnya mengendap atau terbawa oleh bahan- bahan yang mengendap di bagian bawah permukaan sungai atau mati oleh detergen yang dipergunakan sebagai bahan mencuci oleh manusia ( Slamet, 1994). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;">Jumlah Coliform yang tinggi pada air peternakan ayam dapat sebagai pemicu ancaman kesehatan ternak ayam. Penyakit yang paling sering muncul dan bersifat endemis pada unggas terutama ayam adalah kolibasilosis yang disebabkan oleh <em>E. coli</em> patogen dan penyakit saluran pencernaan lainnya yang disebabkan oleh Coliform lainnya. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Penyakit saluran pencernaan atau kolibasilosis dapat menimbulkan kerugian ekonomi berupa penurunan berat badan, biaya ekonomi meningkat bahkan dapat menyebabkan kematian ternak (Tabbu, 2000)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan jumlah bakteri Coliform yang sangat nyata (P&lt;0,01) pada setiap lokasi pengambilan sampel. Jumlah Coliform pada tempat minum, tempat penampungan dan sungai berturut-turut : 35600 MPN/100ML, 19800 MPN/100ml dan<span> </span>11240 MPN/100 ml.<strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Saran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Jumlah Coliform pada setiap lokasi pengambilan sampel telah melampui batas yang ditetapkan oleh pemerintah sesuai dengan baku mutu air peternakan ditinjau dari jumlah Coliform sebesar 5000 MPN/100ml, oleh karena perlu pengawasan dan peningkatan sanitasi kandang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">UCAPAN TERIMA KASIH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 16.5pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV"><span> </span>Terima kasih saya ucapkan<span> </span>kepada Carmelia Theresia Avilla Uge Djawa atas bantuan teknis yang diberikan sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 16.5pt;" align="center"><strong><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">DAFTAR PUSTAKA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Buckle K.A.; Edward, R.A.; Fleet, G.H.<span> </span></span><span style="font-size: 11pt; color: black;">and Wootanto, M. 1997. Food Science. Australian Vice-Chacellons Comite. pp. 120-130 </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Jawetz, E., Melnick, J.L. and Alberg, E.A. 1980. Review of Medical Microbiology. 14 th<span> </span>ed., Los   Altos, California 94022. Lange Medical Publication.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Pelczar Jr, M.J., Chan, E.C.S. and Krieg, N.R., 1993. Microbilogy Concepts and Applications.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;">Rastina, I.K. 2004 Tesis Studi Kualitas Air Sungai Ho Kabupaten Tabanan. </span><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Program Pasca<span> </span>Sarjana Program Studi Ilmu Lingkungan Universitas Udayana, Denpasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Slamet, J.S., 1994. Kesehatan Lingkungan. Cetakan Pertama. Penerbit Gadjah Mada University, Press. Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 31.2pt; text-align: justify; text-indent: -31.2pt; line-height: 12pt;"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Tabbu, C.R., 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Penyakit Mikal, Bakterial, Viral. Kanisius Yogyakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; color: black;" lang="SV">Waluyo, L.., 2005. Mikrobiologi Lingkungan. Cetakan Pertama</span></p>
 <span class="post2pdf_span" style="border: 1px solid gray; width: 160px; text-align: left; "><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/generate.php?post=333" rel="nofollow"><img src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/plugins/post2pdf/icon/pdf.png" width="16px" height="16px" />convert this post to pdf.</a></span>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/kualitas-air-minum-ternak-ayam-petelur-di-desa-piling-kecamatan-penebel-kabupaten-tabanan-di-tinjau-dari-jumlah-bakteri-coliform/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
