<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Buletin Veteriner Udayana</title>
	<atom:link href="http://www.bulletinveteriner.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bulletinveteriner.com</link>
	<description>Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 12:33:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Isolasi Toxoplasma gondii Pada Ayam Buras</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/isolasi-toxoplasma-gondii-pada-ayam-buras/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/isolasi-toxoplasma-gondii-pada-ayam-buras/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Aug 2011 09:42:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 2 AGUSTUS 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=653</guid>
		<description><![CDATA[(ISOLATION OF TOXOPLASMA GONDII IN FREE-RANGE CHICKEN) Apsari, I.A.P1.; Artama, W.T.2; Sumartono2; Damriyasa, I M.1 Oka, I.B.M1. dan Swacita, I.B.N1. 1.Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Jl.P.B.Sudirman Denpasar Bali tlp.0361-701808, Email iapapsari@yahoo.co.id 2Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada. Jl.Fauna 2 Karangmalang-Yogyakarta, 55281 ABSTRAK Telah dilakukan penelitian terhadap Toxoplasma gondii yang diisolasi dari otak dan jantung ayam buras [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">(ISOLATION OF TOXOPLASMA GONDII IN FREE-RANGE CHICKEN)<br />
Apsari, I.A.P1.; Artama, W.T.2; Sumartono2; Damriyasa, I M.1<br />
Oka, I.B.M1. dan Swacita, I.B.N1.<br />
1.Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana.<br />
Jl.P.B.Sudirman Denpasar Bali tlp.0361-701808, Email iapapsari@yahoo.co.id<br />
2Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada.<br />
Jl.Fauna 2 Karangmalang-Yogyakarta, 55281</p>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Telah dilakukan penelitian terhadap<em> Toxoplasma gondii</em> yang diisolasi dari otak dan jantung ayam buras di Bali. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seroprevalensi <em>Toxoplasma gondii</em> pada ayam buras dan untuk mengisolasi<em> Toxoplasma gondii</em> dari jantung dan otak ayam buras. Untuk mencapai tujuan penelitian ini diamati 311 sampel serum ayam buras dengan metode ELISA dan diteliti 225 otak dan jantung ayam buras dengan metode digesti. Seluruh sampel ayam buras diambil dari 9 kabupaten di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seroprevalensi<em> Toxoplasma gondii</em> pada ayam buras sebesar 91,64%. Isolasi <em>Toxoplasma gondii</em> dari jantung dan otak ayam buras berhasil ditemukan bentuk sista pada inokulat jantung dan otak, tetapi dengan uji bioassay pada mencit selama 4 minggu pengamatan tidak berhasil menemukan bentuk takizoit pada exudat peritonial.<br />
Kata Kunci : Ayam buras, metode digesti, ELISA, <em>Toxoplasma gondii</em>, bioassay</p>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>A study was conducted <em>Toxoplasma gondii</em> isolate from the brain and the heart of free-range chickens in Bali. The aim of this study to determine the seroprevalence and to isolate <em>Toxoplasma gondii</em> from free-range chicken heart and brain. To achieve of this study observed 311 free-range chicken serum samples with ELISA method and examined 225 free-range chicken brain and heart used digestion method. All of the samples taken from 9 districts in Bali. The results showed that the seroprevalence of <em>Toxoplasma gondii</em> in freerange chicken has 91.64%. Isolation of <em>Toxoplasma godii</em> from the heart and the brain freerange chicken found the cyst on inoculate heart and brain, but by bioassay in mice for 4 weeks observation failed to find tachyzoite form in peritonial exudat.<br />
Keywords: Free-range chicken, digestion method, ELISA,<em> Toxoplasma gondii</em>, bioassay</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Toxoplasma gondii</em> adalah parasit <span style="text-align: center;">protozoa yang bersel satu dan merupakan </span><span style="text-align: center;">parasit intrasel. Sebagai parasit intrasel, </span><span style="text-align: center;"><em>Toxoplasma gondi</em>i dapat menginvasi </span><span style="text-align: center;">berbagai sel inang, baik sel fagositik maupun </span><span style="text-align: center;">nonfagositik. Parasit ini mempunyai </span><span style="text-align: center;">kecenderungan berbiak di dalam sel </span><span style="text-align: center;">macrofage (Cornain, 1991). <em>Toxoplasma </em></span><span style="text-align: center;"><em>gondii</em> masuk ke dalam sel inang dengan cara </span><span style="text-align: center;">invasi aktif, yaitu mengeluarkan protein dari </span><span style="text-align: center;">3 organela sekresi yaitu mikronema, roptri </span><span style="text-align: center;">dan granula padat (Ajioka et al.,2001).</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Toxoplasma gondii</em> dapat menginvasi dan memperbanyak diri di dalam sel dari semua hewan berdarah panas termasuk unggas Levine, 1995; Dubey et al.,2005; Dubey et al.,2006). Selama perjalanan siklus hidup<em> Toxoplasma gondii</em> ada stadium yang berkembang dengan cepat disebut takizoit yang terdapat pada cairan sekresi dan ekskresi, sedangkan stadium yang berkembang secara lambat menetap pada jaringan membentuk sista, serta stadium resisten disebut oosista (Chandra, 2001).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa peneliti telah berhasil melakukan isolasi pada ayam dan itik di Mesir, Brazil dan India (Dubey et al., 2003 dan Sreekumar et al., 2003) dan El-Massry et al (2003) meneliti prevalensi antibodi Toxoplasma pada kalkun, ayam dan itik. Beberapa peneliti di Indonesia yang pernah meneliti Toxoplasma pada ayam yaitu Hermawan (1988) mengenai seroprevalensi ayam kampung di Lamongan terdeteksi dengan uji hemaglutinasi 23%. Priyana<br />
(2000) di Jakarta menemukan 52,5% ayam kampung seropositif dengan metode IHA(Inhibitor Haemagglutination ). Mufasirin dkk. (2003) menemukan pada telur ayam buras di Surabaya terdeteksi antigen Toxoplasma 100% dengan uji ELISA Dot Blot. Suwanti (2005) di Surabaya dapat mendeteksi sista Toxoplasma pada otak dan jaringan organ ayam dengan uji bioassay sebesar 30%. Dari sedikit penelitian Toxoplasma pada ayam di Indonesia seperti<br />
disebut diatas, bahkan dengan hasil yang beragam maka penelitian Toxoplasma pada ayam buras di Bali ingin diteliti. Tujuan utama penelitian ini ingin mendapatkan isolat Toxoplasma dari ayam buras di Bali, karena penelitian selama ini yang dilakukan hanya sebatas deteksi antibodi serum saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah : Berapa persen prevalensi infeksi <em>Toxoplasma gondii</em> pada ayam buras di Bali, apakah metode digesti pepsin HCl berhasil mengisolasi Toxoplasma dari organ ayam buras serta bagaimana patogenitas isolat Toxoplasma dari ayam buras pada mencit(uji bioassay pada mencit).</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan Penelitian : untuk mengetahui seroprevalensi <em>Toxoplasma gondii</em> pada ayam buras di Bali, untuk dapat mengisolasi <em>Toxoplasma gondii</em> dari organ ayam buras dengan metode digesti serta untuk mengetahui patogenitas <em>Toxoplasma gondi</em>i dari ayam buras pada mencit (hasil uji bioassay).</p>
<p style="text-align: center;"><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bahan yang digunakan : sampel ayam buras sejumlah 225 ekor berasal dari 9 kabupaten di Bali. Bahan-bahan pemeriksaan ELISA : coating buffer, blocking buffer, washing buffer, substrat buffer, conjugate anti-chicken IgY (IgG) whole moleculealkaline phosphatase(Sigma), ESA (Excretory secretory antigen) <em>Toxoplasma gondii</em> dan substrat. Bahan-bahan digesti pepsin HCl : pepsin, HCl, saline, PBS, Potasium G penisilin dan streptomisin. Mencit sebanyak 90 ekor.</p>
<p style="text-align: justify;">Alat-alat yang diperlukan : Tabung serum, obyek glas, cover glas, spuit (1 ml, 3 ml, 5 ml dan 10 ml), mikroplate ELISA, mikropipet, tip (kuning dan biru), mikroskup, sentrifuge, waterbath, conical (10 ml, 25 ml dan 50 ml), ELISA reader (BioRad), blender, effendorf, becker glas (250 ml, 1000 ml), pemisah supernatan dan petridish.</p>
<p style="text-align: justify;">Metode Penelitian : Ayam buras dikumpulkan yang berasal dari 9 kabupaten di Bali, diambil darahnya dan serumnya dipisahkan untuk selanjutnya diperiksa dengan metode ELISA, menggunakan antigen ESA. Ayam dibunuh untuk diambil jantung dan otaknya untuk isolasi parasit dengan metode digesti pepsin HCl (Dubey, 1998). Dilakukan pooling tiap 15 jantung dan otak ayam masing-masing untuk dilakukan digesti dengan pepsin HCl. Masing-masing inokulat jantung dan otak ayam buras diperiksa terhadap adanya bentuk sista, selanjutnya diinokulasi ke mencit (uji bioassay). Setiap inokulat diinokulasi pada 2 ekor mencit.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengamatan pada mencit dilakukan selama 4 minggu. Setelah 4 minggu pengamatan, mencit dieuthanasia dengan menghirup ether. Exudat peritonial diambil dan diperiksa dibawah mikroskup terhadap adanya takizoit pada cairan peritonial.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Seroprevalensi <em>Toxoplasma gondii</em> pada ayam buras dengan metode ELISA ditemukan sebesar 91,64%. Hasil ini ternyata jauh lebih tinggi dari hasil Hermawan di Lamongan(Hermawan, 1988), Priyana di Jakarta (Priyana, 2000) dan Suwanti di Surabaya (Suwanti, 2005). Berbedanya hasil yang diperoleh kemungkinan karena metode pemeriksaan yang digunakan dan kemungkinan juga akibat kondisi wilayah yang berbeda. Perbedaan ini terkait dengan keberadaan kucing di wilayah tersebut serta kebiasaan makan dari ayam buras yang biasa mencari makan dengan mengais makanan di tanah (Tenter et al., 2000).</p>
<p style="text-align: justify;">Isolasi <em>Toxoplasma gondi</em>i dari daging pertama dikenalkan oleh Dubey (1997) merupakan metode yang akurat untuk memperoleh inokulat sebagai bahan uji bioassay pada mencit. Inokulat yang diperoleh mengandung bentuk sista <em>T.gondi</em>i. Jumlah inokulat otak dari seluruh sampel yaitu 18, ditemukan 9 positif (50%) mengandung sista, sedangkan 18 jumlah inokulat jantung ditemukan 9 positif (50%) mengandung sista<em> T.gondi</em>i (Tabel 1)</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 1. Hasil Digesti Pepsin HCl Organ Otak dan jantung Ayam Buras<br />
<a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-654" title="BuDayu1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu1-267x300.jpg" alt="" width="267" height="300" /></a><br />
Keterangan :<br />
Otak 1 adalah pooling otak berasal dari sampel ayam buras nomor 1- 15 (DO I)<br />
Otak 2 adalah pooling otak berasal dari sampel ayam buras nomor 15-30 (DO II)<br />
Jantung 1 adalah pooling jantung berasal dari sampel nomor 1 – 15 (DJ I)<br />
Jantung 2 adalah pooling jantung berasal dari sampel nomor 16 – 30 (DJ II)<br />
Negatif artinya tidak ditemukan bentuk sista pada cairan inokulat<br />
Positif artinya ditemukan bentuk sista pada cairan inokulat.</p>
<p>Hasil ini menunjukkan bahwa metode digesti efektif untuk mengisolasi <em>Toxoplasma gondi</em>i dari organ jantung dan otak ayam buras dengan ditemukan bentuk sista pada inokulat.</p>
<p style="text-align: justify;">Uji bioassay pada mencit, selama 4 minggu pengamatan ternyata pada penelitian ini belum berhasil menemukan bentuk takizoit bebas pada exudat peritonial mencit. Pada exudat peritonial terlihat banyak macrofage yang terkandung bentukan takizoit intrasel.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-657" title="BuDayu2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu2-300x226.jpg" alt="" width="300" height="226" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 1. Bentuk sista pada inokulat otak ayam buras (Pembesaran 400x)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-658" title="BuDayu3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu3-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 2 : Bentuk sista pada inokulat jantung (Pembesaran 400x )</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-659" title="BuDayu4" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu4-300x207.jpg" alt="" width="300" height="207" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 3. Takizoit intrasel (dalam macrofage) pada exudat peritonial. (Pembesaran 400 x)</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-660" title="BuDayu5" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BuDayu5-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 4. Beberapa macrofage pada exudat peritonial mencit (Pembesaran 400 x)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong><br />
Dengan metode ELISA seroprevalensi <em>Toxoplasma gondii</em> pada ayam buras di Bali 91,64%. Metode digesti pepsin HCl untuk mengisolasi organ ayam buras 50 % berhasil menemukan bentuk sista dari inokulat otak dan jantung ayam buras. Uji bioassay pada mencit tidak berhasil menemukan takizoit ekternal (takizoit bebas) pada exudat peritonial mencit.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saran</strong><br />
Disarankan melakukan uji bioassay pada mencit untuk waktu pengamatan yang lebih lama (8 minggu) dan pemeriksaan histologi dari organ mencit.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>UCAPAN TERIMAKASIH</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>Terimakasih kepada DP2M Dikti atas dana penelitian dan kepada semua pihak yang ikut membantu pelaksanaan penelitian ini.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ajioka James W., Jenifer M.Fitzpatrick and Christopher P. Reitter 2001. <em>Toxoplasmosis Gondii</em> genomic:shedding ligth on Pathogenesis and Chemotherapy. Expert Review In Moleculer medicine. Januari 2003.</p>
<p style="text-align: justify;">Bio-Rad. 2000. Benchmark Microplate ELISA Reader, User Manual. Bio-Rad Laboratories.</p>
<p style="text-align: justify;">Chandra, G 2001. <em>Toxoplasma gondii</em> : Aspek Biologi, Epidemiologi, Diagnosis dan Penatalaksanaannya. Medika XXVII (5): 297-304.</p>
<p style="text-align: justify;">Cornain, S.; Suryana, E.J.; Sugiharto; Jacoeb, T.Z.; Rahman, I.A.; Lubis, N.S. dan Gusmiarti, N. 1991. Aspek immunolog dan pendekatan immunoterapi pada infeksi toksoplasma. Majalah Kedokteran Indonesia. 41(7): 395-401.</p>
<p style="text-align: justify;">________1997. Distribution of tissue cyst in organ of rats fed <em>Toxoplasma gondii</em> oocysts. J.Parasitol. 83(4) : 755-757.</p>
<p style="text-align: justify;">________1998. Refinement of Pepsin digestion method for isolation of <em>Toxoplasm gondii</em> from infected tissue. Vet.Parasitol 74: 75-77.</p>
<p style="text-align: justify;">Dubey, JP; Graham DH; Dahl, E; Hilali, M; El-Ghaysh, A; Sreekumar, C; Kwok, OCH; Shen, SK; and Lehman, T 2003 a Isolation and Moleculer Characterization of <em>Toxoplasma gondii</em> from Chickens and Ducks from Egypt. Vet.Parasitol 114: 89-95</p>
<p style="text-align: justify;">Dubey, JP; Paula, L and lehmann, T 2005. Characterization of <em>Toxoplasma gondii</em> Isolates in free-ranging chickens from argentina. J.Parasitol 91(6):1335-1339.</p>
<p style="text-align: justify;">Dubey, JP; Su, C; Oliviera, J; Morales, JA; Bolanos, RV; Sundar, N; Kwok, OCH and Shen, SK 2006. Biologic andCharacterization of <em>Toxoplasma gondii</em> isolates in free-ranging chickens from Costa Rica, Central America. Vet Parasitol 139:</p>
<p style="text-align: justify;">El-Massry, A; Mahdy, OA; El-Gaysh, A and Dubey, JP 2003. Prevalence of <em>Toxoplasma gondii</em> Antibodies n Sera of Turkey, Chicken and Duck from Egypt. J.Parasitol 86(3) : 627-628.</p>
<p style="text-align: justify;">Hermawan, P 1988. Surey Serologis terhadap Toksoplamosis pada Ayam Buras di Kabupaten Lamongan dengan Uji Haemaglutinasi tak Langsung. Skripsi. FKH-UNAIR. Surabaya.</p>
<p style="text-align: justify;">Levine, ND 1995. Protozoologi Veteriner. Indonesia Edisi. Gadjah Mada University Press.</p>
<p style="text-align: justify;">Mufasirin; Suprihati, E dan Suwanti, L.T. 2003. Studi Toksoplasmosis pada Telur Ayam yang dijual sebagai campuran jamu di kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo menggunakan uji Dot Blot. Jurnal Penelitian Medika Eksakta. 4(2): 113-119.</p>
<p style="text-align: justify;">Priyana, A.2000. Antibodi Anti Toxoplasma pada Ayam Kampung (Gallus domestius) di Jakarta. Majalah Kedokteran Indonesia. 50(11): 504-507.</p>
<p style="text-align: justify;">Suwanti, LS.T. 2005. Deteksi Kista Jaringan <em>Toxoplasma gondii</em> pada beberapa organ Ayam. Airlangga University Library.</p>
<p style="text-align: justify;">Tenter, AM; Heckeroth, AR; Weiss, LM 2000. <em>Toxoplasma godii</em> : From Animals to humans. International Journal of Parasitology 30 : 1217-1258.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/isolasi-toxoplasma-gondii-pada-ayam-buras/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PENGARUH EKSTRAK PEGAGAN (Centella asiatica) DALAM MENINGKATKAN KAPASITAS FAGOSIT MAKROFAG PERITONEUM MENCIT TERHADAP Salmonella typhi</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/pengaruh-ekstrak-pegagan-centella-asiatica-dalam-meningkatkan-kapasitas-fagosit-makrofag-peritoneum-mencit-terhadap-salmonella-typhi/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/pengaruh-ekstrak-pegagan-centella-asiatica-dalam-meningkatkan-kapasitas-fagosit-makrofag-peritoneum-mencit-terhadap-salmonella-typhi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 02:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 2 AGUSTUS 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[(EFFECT OF  C. ASIATICA extract enhance phagocytic capacity of peritoneal macrophages in  Balb/C mice  infected with SALMONELLA TYPHI)    I Nengah Kerta Besung Laboratorium Mikrobiologi &#8211; Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana E-mail : kertabesung@yahoo.co.id  ABSTRAK Salmonellosis masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang, umumnya di daerah tropis dan khususnya di Indonesia. Hambatan utama dalam menangani salmonellosis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p align="center">(<em>EFFECT OF</em><em>  C. </em><em>ASIATICA extract enhance phagocytic capacity of peritoneal macrophages in  Balb/C mice </em><em> infected with S</em><em>ALMONELLA TYPHI</em>)</p>
<p align="center"><em>   </em><strong>I </strong><strong>Nengah Kerta Besung</strong></p>
<p align="center">Laboratorium Mikrobiologi &#8211; Fakultas Kedokteran Hewan</p>
<p align="center">Universitas Udayana</p>
<p align="center">E-mail : <a href="mailto:kertabesung@yahoo.co.id">kertabesung@yahoo.co.id</a></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> ABSTRAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salmonellosis</em> masih menjadi masalah kesehatan di negara berkembang, umumnya di daerah tropis dan khususnya di Indonesia. Hambatan utama dalam menangani <em>salmonellosis</em> ini adalah terbatasnya jenis antibiotika yang efektip terhadap kuman ini, dan sering terjadi resistensi kuman terhadap antibiotika yang diberikan. Pegagan mengandung triterfenoid saponin berperan sebagai imunostimulan dan meningkatkan indek fagosit, namun kajian ilmiah tentang pegagan dalam menangani penyakit infeksi yang disebabkan oleh <em>Salmonella typhi </em>(<em>S. typhi) </em>belum pernah diungkapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan secara lebih detail tentang peran pegagan kaitannya dengan kapasitas fagosit terhadap <em>S. typhi. </em>Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorik yang memakai rancangan acak lengkap sederhana (<em>Completely Randomized Design</em>) Mencit dikelompokkan dalam 4 kelompok, dan setiap kelompok berturut-turut diberikan aquades sebagai kontrol, ekstrak pegagan 125, 250, 500 mg/kg berat badan (bb). Perlakuan terhadap mencit ini diberikan setiap hari selama dua minggu dan selanjutnya diinfeksikan dengan 10<sup>5</sup> sel/ml <em>S. typhi</em>. Variabel kapasitas fagosit diamati sehari setelah infeksi <em>S. typhi. </em>Hasil penelitian menunjukkan, pemberian ekstrak pegagan meningkatkan secara bermakna (p&lt;0,05) kapasitas makrofag peritoneum mencit Balb/c yang diinfeksi <em>S. thypi</em><em>, </em>dengan kapasitas fagosit tertinggi terjadi pada dosis 500 mg/kg bb yaitu sebesar 209,12±26,17 per 50 sel makrofag.</p>
<p style="text-align: justify;"> Kata kunci : pegagan, <em>C. asiatica</em>, kapasitas fagosit,</p>
</div>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salmonellosis</em> is still a problem in many developing countries including Indonesia. The  main problem in controlling and  handling the disease is that only few antibiotics are available to cure the disease. In addition, the prolonged use of such antibiotics often leads to a bacterial resistant against the antibiotics. Herbal drugs such as <em>Centella asiatica </em>(in Indonesia is known as <em>p</em><em>egagan</em>) contains triterphenoids saphonin which acts as immunostimulant capable of enhancing the phagocytic activity of macrophages. However, no study has been conducted to investigate the use pegagan in capacity of macrophage of mice infected with <em>Salmonella typhi.</em> A study was therefore conducted to find out the ability of <em>Centella asiatica </em>in enhancing phagocytic capacity of macrophages to <em>Salmonella typhi</em>. Experimental laboratory studies were conducted using Completely Randomized Design. Mice were divided into 4 groups and they were treated respectively with destilated water (negative control), 125, 250, dan 500 mg/kg bw of <em>Centella asiatica</em> extract. The treatment was conducted daily for 2 weeks  and the mice were then inoculated with 10<sup>5</sup> cells/ml of<sup>  </sup><em>S. typhi.  </em>The capacity of macrophages were examined 24 hours following inoculation with <em>S. typhi</em>.  The result showed that treatment of mice with <em>Centella asiatica</em> extract significantly (p&lt;0,05) enhanced capacity of macrophages in phagocyting <em>S. thypi</em>. The highest capacity of macrophages were observed in mice treated <em>Centella asiatica</em> extract at the dose of 500 mg/kg bw with the capacity of 209,12±26,17 cells per 50 macrophage.</p>
<p style="text-align: justify;">.Key words : pegagan, <em>C. asiatica</em>, phagocytic capacity of macrophages</p>
<p style="text-align: center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salmonellosis</em> disebabkan oleh <em>Salmonella</em><em>  typh</em><em>i (S.typhi</em><em>) </em>dapat menyebabkan infeksit pada usus. Penyakit ini dikenal dengan nama demam tifoid atau penyakit tifus dan sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di negara-negara berkembang, umumnya di daerah tropis dan khususnya di Indonesia. Angka kejadiannya  meningkat pada musim kemarau panjang dan di awal musim hujan. Kejadian penyakit terbanyak terjadi pada anak umur 5 tahun atau lebih dengan  manifestasi klinis ringan. Makin muda umur anak, Gejala klinis pada anak tidak khas dengana angka mortalitas rendah (Supali, 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Di Amerika Serikat kejadian <em>salmonellosis</em> mendekati 40 000 kasus setiap tahun. Kebanyakan bersifat ringan tetapi kemungkinan kasusnya lebih tinggi dari  yang dilaporkan. Pada musim panas angka kejadiannya lebih tinggi dibandingkan dengan musim dingin (DFBMD, 2008). Angka kejadian penyakit tifus di Indonesia rata-rata 900.000 kasus/tahun dengan angka kematian lebih dari 20.000 dan kejadian terbanyak ditemukan pada  usia 3-19 tahun (Anonim, 2009). Di Semarang, riwayat terkena demam tifoid pada responden penjual es keliling sebesar 15,1%  dan kejadian pada keluarga serumah sebesar 13,2%, serta prevalensi karier <em>S. typhi</em> dan <em>S. paratyphi</em> mencapai 2,3% (Supali, 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hewan dapat terjangkit <em>salmonellosis</em> diantaranya unggas, babi, sapi, kerbau, anjing, kucing, tikus, dan  hewan peliharaan seperti iguana, tortoise, dan kura-kura. Hewan yang terinfeksi <em>S. typhi</em> dapat berperan sebagai reservoar penyakit tanpa menunjukkan gejala klinis. Hewan ini merupakan sumber infeksi dan setiap saat dapat menularkan penyakit ke hewan lainnya. Pada kasus ini, kuman tetap berada di dalam tubuh dalam jangka waktu yang lama, bahkan selama hidupnya terinfeksi kuman <em>salmonella</em> (Santander dkk<em>., </em>2003).<em></em></p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini penggunaan antibiotika untuk menangani salmonellosis mengalami hambatan. Hambatan utama adalah terbatasnya jenis antibiotika yang efektip terhadap kuman ini. Hanya beberapa jenis antibiotika yang efektip dipakai menangani infeksi diantaranya khloramfenikol, flourokuinolon dan kotrimoksasol. Hambatan lainnya adalah sering terjadi resistensi kuman terhadap antibiotika yang diberikan. Penggunaan antibiotika yang kurang terkontrol akan dapat menimbulkan resistensi kuman. Kuman yang pada awalnya sensitif terhadap antibiotika namun, lama kelamaan dapat bersifat resisten sehingga antibiotika tersebut tidak dapat dipakai untuk menangani penyakit tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain kendala diatas, biaya perawatan yang mahal, dan pemulihan infeksi yang lama,juga menjadi pemikiran dimasa mendatang untuk mencari upaya alternatif penanggulangan <em>salmonellosis</em> secara lebih mudah, efektip dan murah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mencegah terjadinya infeksi, dengan jalan meningkatkan ketahanan tubuh melalui aktivasi sel fagositik, mengingat sel fagositik  seperti makrofag dan netrofil berperan penting melenyapkan semua agen infeksi yang masuk ke dalam tubuh (Tizard, 2000). Salah satu tanaman obat yang dapat meningkatkan ketahanan tubuh adalah pegagan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Centella asiatica </em>(<em>C. asiatica</em>.) atau di Indonesia dikenal dengan nama pegagan telah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional baik dalam bentuk segar, kering maupun yang sudah dalam bentuk ramuan (jamu). Secara konvensional, pegagan dipakai untuk melancarkan peredaran darah, peluruh kencing (diuretika), penurun panas (antipiretika), menghentikan pendarahan (haemostatika), antispasma, antiinflamasi, hipotensi, insektisida, antialergi dan stimulan. Kandungan saponin pada pegagan berfungsi menghambat produksi jaringan bekas luka yang berlebihan (menghambat terjadinya keloid). Pegagan juga bermanfaat untuk meningkatkan sirkulasi darah pada lengan dan kaki, untuk mencegah varises dan salah urat, meningkatkan daya ingat, mental, dan stamina tubuh, serta untuk menurunkan gejala stres dan depresi (Yu dkk.,<em> </em>2006).</p>
<p style="text-align: justify;">Selama ini, kajian ilmiah mengenai manfaat pegagan pada manusia maupun pada hewan sudah banyak diungkapkan. Namun demikian belum pernah diungkapkan penelitian tentang  kemampuan aktivasi makrofag terhadap penyakit infeksi demikian juga peranannya dalam meningkatkan kapasitas fagositosis terhadap <em>S. Typhi</em>..</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong><strong>MATERI DAN METODE</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Materi Penelitian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pegagan (<em>C.asiatica </em>L) diperoleh dari Desa Kesimpar, Kecamatan Abang Kabupaten Karangasem. Daun pegagan yang dipilih adalah daun berwarna hijau, utuh, dan segar. Selanjutnya dikumpulkan lalu dikering anginkan. Setelah kering, pegagan dihancurkan dengan blender, kemudian ditimbang sebanyak 100 gram. Bubuk pegagan kemudian ditambah 300 ml pelarut methanol dan diaduk dengan <em>magnetic stirrer</em> selama 1 jam pada suhu kamar. Selanjutnya disaring dengan kertas Whatman no 42 sehingga diperoleh filtrat 1. Ampas yang diperoleh, dilakukan ekstraksi ulang sehingga diperoleh filtrat 2. Filtrat 1 dan filtrat 2 dicampur kemudian diuapkan dengan <em>rotary evaporator</em> (Antony dkk., 2006).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Metode Penelitian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebanyak 32 ekor mencit umur 8 minggu diadaptasikan dengan lingkungan selama 2 minggu dan ditimbang berat badannya (BB). Mencit ditempatkan pada 4 kelompok secara acak yaitu 8 ekor mencit pada kelompok I, 8 ekor mencit pada II, 8 ekor mencit pada III, dan 8 ekor mencit pada IV. Kelompok I sebagai kontrol hanya diberikan aquades steril sebanyak 1 ml/hari, kelompok II diberikan pegagan dosis 125 mg/kg BB/ml, kelompok III diberikan pegagan dosis 250 mg/kg BB/ml, dan kelompok IV diberi pegagan dosis 500 mg/kg BB/ml. Pemberian tersebut dilakukan setiap hari selama 14 hari. Pada hari ke 15 dilakukan infeksi kuman <em>S. typhi </em>sebanyak 10<sup>5</sup> sel per ml PBS per ekor secara intraperitoneal. Infeksi <em>S. typhi</em> ini didasarkan atas hasil uji <em>lethal dose</em> 50 (LD<sub>50</sub>). Isolasi makrofag peritoneum dilakukan sehari setelah infeksi <em>S. typhi</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Pengukuran kapasitas fagositik makrofag dilakukan dengan menggunakan pewarnaan Giemsa. Cairan peritoneum yang telah dibuat preparat apus, difiksasi dengan metanol dan diwarnai dengan Giemsa. Setelah 10 menit dicuci pada air mengalir sebanyak tiga kali, ditiriskan sampai kering. Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop pada pembesaran 1.000 kali dengan bantuan minyak emersi.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan pembesaran 1.000 kali, makrofag akan terlihat sebagai bentukan yang tidak teratur, adanya tonjolan sitoplasma, inti tunggal berbentuk ladam kuda terletak eksentris, adanya fesikel-fesikel atau vakuola lisosom (Roitt, 1993). Kapasitas fagosit ditetapkan berdasarkan jumlah kuman <em>S. typhi</em> yang ditemukan di dalam makrofag pada 50 sel makrofag (Okoli <em>dkk.</em>, 2008).</p>
<p style="text-align: justify;">Data hasil penelitian diuji dengan <em>Analisis of Varian</em> yang dilanjutkan dengan uji <em>Least Significant Difference</em> (LSD). Semua data dianalisis dengan program SPSS.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hasil</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Makrofag yang diamati dengan mikroskop pembesaran 1.000 kali  terlihat sebagai bentukan yang tidak teratur, adanya tonjolan sitoplasma, inti tunggal berbentuk ladam kuda terletak eksentris. Secara morfologis makrofag tanpa pegagan nampak lebih kecil dibandingkan dengan yang diberi pegagan. Begitu juga tepi sel makrofag tanpa pegagan nampak jelas dibandingkan dengan yang diberi pegagan. Gambaran makrofag tanpa pegagan dan yang diberi pegagan tampak seperti seperti pada Gambar 1.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="line-height: normal;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BESUNG1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-620" title="BESUNG1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BESUNG1-300x122.jpg" alt="" width="300" height="122" /></a></span></span></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 1. Sel Makrofag Peritoneum Mencit Tanpa Pegagan (a) dan Makrofag dengan Pegagan (b) pada Pewarnaan Giemsa Pembesaran 1000x (tanda panah menunjukkan adanya bakteri)<em></em></p>
<p style="text-align: justify;"> Hasil kapasitas fagosit makrofag terhadap <em>S. typhi </em> pada kelompok kontrol, pemberian pegagan dosis 125, 250, dan 500 mg/kg BB dapat dilihat pada Gambar 2.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center"> <a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BESUNG2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-621" title="BESUNG2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/BESUNG2-300x166.jpg" alt="" width="300" height="166" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 2. Kapasitas Fagosit Terhadap <em>S. typhi </em>Setelah Diberikan Pegagan per 50 Sel Makrofag</p>
<p style="text-align: justify;"> Gambar 2. menunjukkan bahwa makin tinggi dosis pegagan maka kemampuan kapasitas fagosit makrofag terhadap <em>S. typhi </em>makin meningkat. Kapasitas terendah terlihat pada mencit kontrol sebanyak 103,12±5,11 per 50 sel makrofag dan kapasitas tertinggi terlihat pada mencit yang diberikan pegagan 500 mg/kg BB sebanyak 209,12±26,17 per 50 sel makrofag. Kapasitas makrofag pada dosis pegagan 125 dan 250 mg/kg BB masing-masing  144,12±11,73  dan  201±5,21 per 50 sel makrofag. Analisis dengan LSD pada kelompok tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.</p>
<p style="text-align: justify;"> Tabel 1. Analisis Perbedaan Kapasitas Fagosit Makrofag mencit pada masing-masing Kelompok</p>
<div style="text-align: justify;" align="center">
<table width="447" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="112">
<p align="center">Kelompok</p>
</td>
<td rowspan="2" width="112">
<p align="center">Kelompok</p>
</td>
<td rowspan="2" width="129">
<p align="center">Selisih Rata-rata</p>
</td>
<td rowspan="2" width="94">
<p align="center">Signifikansi</p>
</td>
<td width="0" height="28"></td>
</tr>
<tr>
<td width="0" height="28"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="3" valign="top" width="112">
<p align="center">Kontrol</p>
</td>
<td width="112">
<p align="center">125 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="129">
<p align="center">-41.00</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">.000</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td width="112">
<p align="center">250 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="129">
<p align="center">-97.87</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">.000</p>
</td>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td width="112">
<p align="center">500 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="129">
<p align="center">-106.00</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">.000</p>
</td>
<td width="0" height="18"></td>
</tr>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="112">
<p align="center">125 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="112">
<p align="center">250 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="129">
<p align="center">-56.87</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">.000</p>
</td>
<td width="0" height="20"></td>
</tr>
<tr>
<td width="112">
<p align="center">500 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="129">
<p align="center">-65.00</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">.000</p>
</td>
<td width="0"></td>
</tr>
<tr>
<td width="112">
<p align="center">250 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="112">
<p align="center">500 mg/kg BB</p>
</td>
<td width="129">
<p align="center">-8.12</p>
</td>
<td width="94">
<p align="center">.281</p>
</td>
<td width="0" height="22"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align: justify;" align="left"> Kapasitas fagosit makrofag mencit terhadap <em>S. typhi</em>  seperti Tabel  1 menunjukkan bahwa mencit yang diberikan pegagan dosis 500 mg/kg BB lebih tinggi secara bermakna (p&lt;0,05)<em> </em>dibandingkan dengan dosis lainnya kecuali dengan dosis 250 mg/kg BB (p&gt;0,05). Kapasitas fagosit terhadap <em>S. typhi </em>pada dosis 250 mg/kg BB lebih tinggi secara bermakna (p&lt;0,05)<em>, </em>dibandingkan dengan dosis 125 mg/kg BB atau kontrol. Kapasitas fagosit terhadap <em>S. typhi</em> pada dosis 125 mg/kg BB lebih tinggi secara bermakna (p&lt;0,05)<em> </em>dibandingkan dengan kontrol.</p>
<p style="text-align: justify;"> <strong>Pembahasan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kapasitas fagosit makrofag menunjukkan kemampuan makrofag melakukan fagositosis terhadap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pegagan mampu meningkatkan kemampuan kapasitas fagosit terhadap <em>S. typhi</em> secara bermakna<em> </em>(p&lt;0,05). Kapasitas fagosit terendah didapatkan pada kelompok kontrol yaitu 103,12±5,11 per 50 sel makrofag dan kapasitas tertinggi terlihat pada mencit yang diberikan pegagan 500 mg/kg BB sebanyak 209,12±26,17 per 50 sel makrofag. Kapasitas makrofag pada dosis pegagan 125 dan 250 mg/kg BB masing-masing 144,12±11,73 dan  201±5,21 per 50 sel makrofag. Hasil ini membuktikan bahwa pegagan mampu meningkatkan kapasitas fagosit makrofag terhadap <em>S. typhi</em> dan kemampuan aktivitas fagositnya meningkat secara bermakna (p&lt;0,05) seiring dengan meningkatnya dosis pegagan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa peneliti telah mencoba melihat kemampuan fagositosis makrofag dengan menggunakan bahan herbal. Kusmardi dkk. (2007)  menemukan bahwa aktivitas fagosit makrofag meningkat secara bermakna (p&lt;0,05) setelah pemberian ekstrak daun ketepeng cina. Jayathirtha dan Mishra, 2004, juga menemukan adanya peningkatan fagositosis makrofag setelah diberikan pegagan. Namun pada kedua penelitian ini, aktivitas fagosit diukur berdasarkan indeks fagosit terhadap non bakterial dan tidak menggunakan kuman spesifik sebagai indikator fagositosis. Pemakaian <em>S. typhi </em> sebagai uji aktivitas fagositosis secara <em>in vivo</em> tidak pernah dilaporkan.  Pada penelitian ini terbukti bahwa pegagan mampu meningkatkan kapasitas fagosit makrofag peritoneum terhadap <em>S. typhi.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Peningkatan aktivitas fagosit ini disebabkan karena kandungan pegagan seperti triterfenoid safonin dan flavopnoid mampu berperan sebagai imunostimulan, sehingga meningkatkan aktivitas metabolisme di dalam sel makrofag. Meningkatnya metabolisme di dalam sel akan meningkatkan enzim-enzim dan bahan lain yang berperan dalam fagositosis, sehingga kemampuan fagositosis makin meningkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukti adanya bahan yang bersifat imunostimulan untuk memicu kapasitas fagositik telah diteliti oleh Muthmainah  (2004). Makrofag peritoneum mencit yang diberikan stimulan dengan protein terlarut <em>Toxoplasma</em> dan Bacillus Calmette-Guerin (BCG) mampu meningkatkan sekresi <em>Reactive Oxigen Intermediates</em> (ROIs). Peningkatannya terlihat mulai hari ke dua sampai hari ke lima, selanjutnya berangsur-angsur jumlahnya menurun. Pemberian <em>G. lucidum</em> berefek positif pada makrofag dalam menghasilkan sitokin dan produksi NO (Ahmadi dan Riazipour, 2007). Meningkatnya kadar sitokin, ROIs, NO di dalam sel makrofag akan meningkatkan fungsi makrofag dalam melakukan fagositosis.</p>
<p style="text-align: justify;">Peningkatan jumlah enzim di dalam makrofag berhubungan dengan kemampuan digesti intraseluler material yang difagosit, perkembangan dan mempertahankan reaksi radang dan pembunuhan kuman (Tizard, 2000). Enzim lisozim yang dilepaskan akan menghidrolisis peptidoglikan dinding sel kuman. Enzim-enzim yang lain seperti ribonuklease, protease, deoksiribonuklease, lipase dan rafinose akan menghidrolisis komponen-komponen kuman.</p>
<p style="text-align: justify;">Lisosom juga mengandung enzim yang menghasilkan oksigen toksin seperti radikal superoksid (O<sub>2</sub>), hidrogen peroksida (H<sub>2</sub>O<sub>2</sub>), <em>singlet oxygen</em> (<sup>1</sup>O<sub>2</sub>), radikal hidroksil (OH), yang akan menghancurkan benda-benda asing tersebut. Enzim yang lain juga dapat menghancurkan kuman seperti myeloperoksidase yang mengubah ion khloroda dan hidrogen peroksida menjadi asam hipochlorous (HOCl) yang sangat  toksik  terhadap  kuman. Proses  selanjutnya  adalah  penyajian  fragmen  benda  asing  (<em>residual body</em>) ke limfosit T (Abbas dkk<em>.</em>, 2003; Roitt dkk., 1993; Tortora dkk., 1995).</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ekstrak pegagan meningkatkan secara bermakna (p&lt;0,05) kapasitas fagosit makrofag peritoneum mencit Balb/c yang diinfeksi <em>S. typhi</em><em>, </em>dengan  kapasitas fagosit tertinggi pada dosis 500 mg/kg BB (209,12±26,17 per 50 sel makrofag).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pegagan dipakai sebagai obat herbal alternatif dalam mencegah <em>salmonellosis</em> maka perlu diteliti lebih lanjut tentang waktu paruh dan lama pemberiannya agar efektivitasnya dapat maksimal.</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Abbas, A.K. and  Lichtman, A.H. 2003. Cellular and Molecular Immunology. 4th ed. WB Saunders Company Saunders, Philadelphia. 19-347.</p>
<p style="text-align: justify;">Ahmadi, K. and Riazipour, M. 2007. Effect of ganoderma lucidum on cytokine release by peritoneal macrophages. Iran.J.Immunol. Vol 4 No.4 December 2007: 220-226.</p>
<p style="text-align: justify;">Anonim. 2009. Gejala Tyfus. Dokter-online.co.nr. portal kesehatan indonesia &amp; konsultasi kesehatan gratis. <em><a href="http://ezcobar.com/dokter-online/dokter15/%20ndex.php?ption=com_content&amp;view=article&amp;id=453:gejala-tifus-&amp;catid=0:%20enyakit-menular&amp;Itemid=57">http://ezcobar.com/dokter-online/dokter15/ ndex.php?ption=com_content&amp;view=article&amp;id=453:gejala-tifus-&amp;catid=0: enyakit-menular&amp;Itemid=57</a></em>. Tgl. 22 Juni 2009 (Supali, 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">Antony, B., Santhakumari G., Merina, B., Sheeba, V., Mukkadan, J. 2006. Hepatoprotective effect of <em>Centella asiatica</em> (L) I carbon tetrachloride-induced liver injury in rats. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences. November-December 2006: 772-776.</p>
<p style="text-align: justify;">DFBMD. 2008.  <em>Salmonellosis</em>. Departement of Health and Human Services. Centers for Disease Control and Prevention. Division of Foodborne, Bacterial and Mycotic Diseases (DFBMD). <em><a href="http://www.cdc.gov/nczved/dfbmd/disease_listing/salmonellosis_gi.html.%20Tgl.%2022%20Juni%202009">http://www.cdc.gov/nczved/dfbmd/disease_listing/salmonellosis_gi.html. Tgl. 22 Juni 2009</a></em><em>. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Jayathirtha, M.G. and Mishra, S,H. 2004. Preliminary immunomodulatory activities of methanol extracts of <em>Eclipta alba </em>and <em>Centella asiatica. </em>Phytomedicine 11: 361–365, <em><a href="http://www.elsevier.de/phymed">http://www.elsevier.de/phymed</a></em><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Kusmardi, Kumala, S., Triana, E.E. 2007. Efek immunomodulator ekstrak daun ketepeng cina (<em>Cassia alata</em> L.) terhadap aktivitas fagositosis makrofag. Makara, Kesehatan<em>,</em> Vol. 11, NO. 2. Pp 50-53<em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Muthmainah. 2004. Studi tentang aktivitas sekresi reactive oxygen intermediates (ROIs) makrofag mencit yang distimuli dengan stimulant spesifik dan non spesifik selama infeksi <em>Toxoplasma gondii</em>. Laboratorium Histologi. Fakultas Kedokteran. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Jurnal BioSMART Vol 6, No. 2. 2004 : 1-2.</p>
<p style="text-align: justify;">Okoli, C.O., Akah, P.A., Onuoha, N.J., Okoye, T.C, 2008. <em>Acanthus montanus</em>: An experimental evaluation of the antimicrobial, anti-inflammatory and immunological properties of a traditional remedy for furuncles. BMC Complementary and Alternative Medicine <em><a href="http://www.biomed">http://www.biomed</a> central.com/1472-6882/8/27.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Roitt, I.M.,  Brostoff, J., Male, D.K.   1993.  Immunology.  3<sup>rd</sup> Edition. Mosby. pp. 1.3-22.8.</p>
<p style="text-align: justify;">Santander, J., Espinoza, J.C., Campano, M.S., Robeson, J. 2003. Infection of <em>Caenorhabditis elegans </em>by <em>Salmonella typhi </em>Ty2. Short Communication. Pontificia Universidad Católica de Valparaíso . Electronic Journal of Biotechnology ISSN: 0717-3458 Vol.6 No.2, Issue of August 15, 2003. :148-152. <a href="http://www.ejbiotechnology.info/content/vol6/issue2/full/5">http://www.ejbiotechnology.info/content/vol6/issue2/full/5</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Supali. 2002. Studi Karier <em>Salmonella typhi</em> dan <em>Salmonella paratyphi</em> pada pedagang es keliling dan intervensi penanggulangannya. FK Universitas Indonesia. Warta litbang Kesehatan, Vol. 5 hal. 3- 4.</p>
<p style="text-align: justify;">Tizard. 2000.  Veterinary Immunology. An Introduction. 6<sup>th </sup>ed. WB Saundres Company. Philadelpia. Pp. : 26-34.</p>
<p style="text-align: justify;">Tortora, G.,J., Funke, B.R., Case, C.L.  1995.   Microbiology an Introduction,   5<sup>th,</sup> ed,  The  Benjamin/Cummings   Publishing Company. Pp. 409-414.</p>
<p style="text-align: justify;">Yu, Q.L., Duan, H.Q., Takaishi, Y., Gao, W.Y. 2006. A Novel Triterpene from Centella asiatica. Molecules 2006, 11, 661-665. <a href="http://www.mdpi.org/"><em>http://www.mdpi.org</em></a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/pengaruh-ekstrak-pegagan-centella-asiatica-dalam-meningkatkan-kapasitas-fagosit-makrofag-peritoneum-mencit-terhadap-salmonella-typhi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Advantages and Disadvantages of Syndromic Surveillance Methods</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/the-advantages-and-disadvantages-of-syndromic-surveillance-methods/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/the-advantages-and-disadvantages-of-syndromic-surveillance-methods/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 02:03:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 2 AGUSTUS 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=602</guid>
		<description><![CDATA[(KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN DARI METODE SURVEILAN SINDROMIK)  I Made Sukada and I Made Kardena Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University – Bali, Indonesia Email: madesukada@yahoo.com ABSTRACT  Syndromic surveillance is surveillance methods which has the potential to detect diseases outbreak in the early stages. The systems used existing data of disease syndromes which generally appear at [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><em>(KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN DARI METODE SURVEILAN SINDROMIK)</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong><strong>I Made Sukada and I Made Kardena</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center">Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University – Bali, Indonesia</p>
<p style="text-align: center;" align="center">Email: madesukada@yahoo.com</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong>Syndromic surveillance is surveillance methods which has the potential to detect diseases outbreak in the early stages. The systems used existing data of disease syndromes which generally appear at the beginning of infection to provide immediate analysis. Additionally, the method may identify the disease outbreak earlier than the conventional surveillance which commonly requires a longer time to determine the cause of the outbreaks. Although many experts believe that syndromic surveillance is a good method for early detection of disease outbreak, some of them also believe that this system has several drawbacks.</p>
<p style="text-align: justify;"> Keywords: syndromic surveillance, early detection system, animal health system</p>
<p style="text-align: center;" align="center"> <span style="text-align: center;">ABSTRAK</span></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"> Surveilan sindromik merupakan metode survei  kesehatan hewan yang berpotensi mendeteksi kejadian epidemi suatu penyakit pada tahap awal. Metode ini menggunakan data sindrom penyakit yang biasanya muncul pada awal kejadian penyakit yang selanjutnya diolah secara cepat untuk memperoleh hasil interpretasi akhir yang lebih awal bila dibandingkan dengan metode surveilan konvensional yang memerlukan konfirmasi laboratorium sehingga memerlukan waktu relatif lama. Beberapa ahli menyatakan metode surveilan sindromik memiliki beberapa keunggulan dalam mendeteksi kejadian suatu penyakit pada hewan, namun metode ini mempunyai beberapa kelemahan yang juga  perlu dipertimbangkan sebelum penerapannya.</p>
<p style="text-align: justify;"> Kata kunci: surveilan sindromik, sistem deteksi awal, kesehatan hewan</p>
<p style="text-align: center;" align="center"> <strong style="text-align: center;">BACKGROUND</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Livestock and poultry play an important role for the human population in the world (Jordana et al., 2003). However, emerging and reemerging animal diseases are continuing to threaten the animals which can also impact on the human population. The animal health authorities in the world have been trying to find a better way to prevent and control diseases (Morens et al., 2004). Nevertheless, almost all of the control methods have positive and negative effects either to the animals and communities themselves. The control of livestock and poultry diseases depends on the cause of the diseases, their transmission, and a clear understanding of the disease present (Krieger, 1994). The understanding of the diseases present is a basic requirement for gathering information in surveillance and providing decision makers with tools for making and planning policy. The tendency of the policy to decide the effective surveillance methods depends on the goal of the investigations (Salman, 2003). One of the surveillance methods which can reveal the real situation in the community and is relatively cheap to be applied is syndromic surveillance. In general, most surveillance data rely on laboratory confirmation, which provides information to identify disease clusters (Hope et al., 2006).</p>
<p style="text-align: justify;">Recently, a new method on animal disease surveillance, called syndromic surveillance has been developed for earlier warning system. This surveillance is a type of passive surveillance which is concerned of signs or group of signs that are associated with disease infection in order to detect and report of the diseases. Buehler et al, (2003) and Durrheim and Speare (2004) believe that syndromic surveillance may overcome the weakness of traditional surveillance as it can detect animal disease outbreak faster.</p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance is a surveillance method which can potentially detect the disease outbreaks in the early stages (Miller et al., 2004). The systems used data of disease syndromes, which generally appear at the beginning of infection and then analyzing by programs in a relatively short period of time. Thus, the method may identify the disease outbreak earlier than the conventional surveillance which commonly requires a longer time to determine the cause of the outbreaks (Wagner et al., 2001).</p>
<p style="text-align: justify;">The application of syndromic surveillance in human health is highlighted by the public health system since the anthrax attack in 2001 and the recent outbreak of severe acute respiratory syndrome (SARS) which reveals the chance for the threat of bioterrorism attack (Bravata et al., 2004). Recently, in the USA, many new human infectious diseases have been recognized by examining illnesses without identifying the cause of the diseases (Vourc&#8217;h et al., 2006). Furthermore, The New York City Department of Health and Mental Hygiene has established a syndromic surveillance system which is capable to provide data in electronic format and can detect human disease outbreaks from emergency department visits (Heffernan et al., 2004).</p>
<p style="text-align: justify;">In animal health, syndromic surveillance is a relatively new system of surveillance, although it has been applied for animal health investigations, especially in the developed countries. For example: in theUSA, the system is called the Rapid Syndrome Validation Project – Animal (RSVP-A); Veterinary Practitioner Aided Disease Surveillance (VetPAD) inNew Zealand; and inFrance, there is “Emergences”. All of these systems are based on the syndromes of animal diseases with the notification of specific clinical cases (Vourc&#8217;h et al., 2006).</p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance is an alternative way which may potentially overcome the recent limitations in the reporting method system. The surveillance system is using data based on the investigation of the farmers or livestock owners when their animals experience illnesses.</p>
<p style="text-align: justify;">Furthermore, the farmers or the livestock owners then make reports directly to the department of husbandry and inform about their sick animals. Self reporting by farmers on their sick animals, the small number of investigative staff and more representative data could be achieved from the application of syndromic surveillance for controlling animal disease. In fact, when there is an outbreak of animal disease, further responses can be decided earlier because the determination of the outbreak which is based on the disease clinical signs without laboratory confirmation In addition, syndromic surveillance can develop the traditional knowledge on disease animal management as it has similar basic concept to participatory approach surveillance which is gathering the data based on the community. The knowledge of the farmers about management of their animal health commonly comes from sharing information between farmers. In fact, the information is originally inherited by the earlier experience from previous members of their families (Palmer et al., 2009). Nevertheless, regardless of the efficiency of the knowledge, the farmers generally do not know how to prevent the spread of animal diseases on their farms due to a range of constraints. The inability of the farmers to identify diseased animals in early stages and the delayed report of the diseased animals to the authorized health animal care are two examples of the limitations. These factors are necessary to be considered and need to be improved in order to build a good basic surveillance especially surveillance by using data collection based on the farmer’s report.</p>
<p style="text-align: justify;">Eventhough syndromic surveillance systems are still relatively a new approach, many public health agencies have already begun to develop and implement this system. From the application of the system, the strengths and weaknesses can be examined, including how the systems fit into the public health system.</p>
<p style="text-align: justify;">This article reviewed the advantages and disadvantages of syndromic surveillance methods based on some related literatures. It then can be evaluated whether syndromic surveillance is an alternative for animal health surveillance system, as well as how the benefits of this system outweigh the drawbacks.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Advantages of Syndromic Surveillance</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>1.  Syndromic surveillance systems potentially can be used for surveillance of bioterrorism-related diseases.</p>
<p style="text-align: justify;">Concerning of bio-terrorist attacks has raised, the question of the timeliness of diagnosis-based public health surveillance has increased. Public health needs new approaches which may detect bioterrorism earlier. When the anthrax attacked in 2001, animals have been shown to be effective for human hazards.  By utilizing an animal health database to augment national efforts in bio-terrorism detection, a companion animal veterinary medical disease surveillance of syndromes (VMD-SOS) system is being developed to alert public health and national security officials to the presence of man-made or naturally occurring hazards (Moore et al., 2004). Indeed, in the USA most human patients with bioterrorism-related diseases  who initially present syndromes with influenza-like illness, acute respiratory distress, gastrointestinal symptoms, febrile hemorrhagic syndromes and febrile with either dermatologic or neurologic findings are detected by U.S. Department of Health and Human services to be analyzed and reported as  surveillance data for bioterrorism related diseases (Rotz et al., 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">2.  Syndromic surveillance may support public health situational awareness.</p>
<p style="text-align: justify;">        Syndromic surveillance methods can monitor the effectiveness of epidemic responses and characterizing affected populations. Despite obstacles to implementation in resource-limited settings, the tools and strategies of syndromic surveillance hold promise for improving public health management (Chretien et al., 2008). For example, CDC’s Bio Sense Initiative is an internet based software system for collecting, analyzing and visualizing human health data which are weekly reported from local and state monitoring public health system and anomaly investigation data. The data is not only based on sources and time of human health, but also the syndromes. Department of defense military treatment facilities, Department of veteran affairs and Laboratory cooperation of American are three data sources where Bio Sense has implemented. The all data are using <em>International Classification of Diseases, Ninth Revision, Clinical Modification </em>(ICD-9-CM) diagnosis codes which based on syndromes (Bradley et al., 2005).</p>
<p style="text-align: justify;">3.  Syndromic surveillance is potential surveillance methods for developing countries</p>
<p style="text-align: justify;">Although syndromic surveillance systems have been used in high-income countries generally, these systems are useful to be applied in developing countries. In general, laboratory confirmation is more likely difficult to be done or is not routinely used in developing countries. By using syndromic surveillance methods for public health monitoring and control in those countries, the laboratory diagnostic test is not become a major prerequisite for surveillance (Chretien et al., 2008).  For instance, the Early Warning Outbreak Recognition System (EWORS) inIndonesiauses syndromic-based surveillance for disease outbreak inIndonesia. The EWORS program was developed to complement the existing disease surveillance and provide a simple, flexible surveillance system that detects disease outbreak early after their onset based on the syndromes without laboratory confirmation. The program complements the existing reportable disease surveillance conducted by the Surveillance Directorate of the Indonesian CDC, which used manual, paper-based system to collect data from provincial and district health offices (Siswoyo et al., 2008).  Another potential contribution of the syndromic surveillance field to developing countries is approaches for detecting unusual morbidity trends, which could strengthen monitoring syndromes, diagnoses, and other health-related. This approaches usually involve the entry of patient data into a computer by periodic application of statistical logarithms and comparing between the data for a period of time and visualize  (Chretien et al., 2008).</p>
<p style="text-align: justify;">4.  Syndromic surveillance can detect clinical emerging issues.</p>
<p style="text-align: justify;">Not like most surveillance programs which deal with a restricted set of known diseases, syndromic surveillance can identify outbreaks that do not fall into pre-established diagnostic categories and it also has an essential capability for prompt control of new or changing diseases (Chretien et al., 2008) or even detecting emerging animal diseases (Vourc&#8217;h et al., 2006). The emergence of Nipah virus disease in 1998 inMalaysiaandSingaporewhich affected swine and human had been identified by the syndromes of the disease. For example: in pigs, acute fever, respiratory signs and neurologic signs, where as in human experienced encephalitis (Wong et al., 2002).</p>
<p style="text-align: justify;">5.  Syndromic surveillance is supported by recent technology on collecting and analyzing data.</p>
<p style="text-align: justify;">The information and technology can significantly improve public health practice. The using of technology, for example: computer with internet connection, PDA, mobile phone, as communication systems can help public health professional to report suspicious cases quickly and efficiently. In addition, it is easier for epidemiologists to manage their database systems in an investigation of an outbreak. Those advanced technology can be applied for syndromic surveillance data capture and transmission especially in remote areas (Chretien et al., 2008). The tools are also really useful for sustainability of data collection, making the surveillance team easier to input data without additional burden on massive data collection. Indeed, that technology can keep data records, as well as keep historical data to preserve availability of baseline data (Mostashari and Hartman, 2003).</p>
<p style="text-align: justify;">6.  Syndromic surveillance systems can detect disease outbreaks rapidly</p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance can respond to outbreaks earlier than conventional surveillance which relies upon confirmation by laboratory tests. In this method, syndromes are the indicator for the earlier detection of the disease incidence in population (Berger et al., 2006). In New York, a fully functional hospital which uses spatial, temporal and space-time scan statistic software (SaTScan) automated analyses the outbreak based on syndromes and the result can be showed virtually within 24 hours after data submission (Das et al., 2003).</p>
<p style="text-align: justify;">7.  Syndromic surveillance system may use existing data</p>
<p style="text-align: justify;">One of the benefits of syndromic surveillance system is that the opportunity for using existing data. The data is generally from public health services records, for example patient medical report in clinic or hospital, emergency department, or from laboratory (Mostashari and Hartman, 2003). Additionally, Berger, Shiau and Weintraub (2008) assert syndromic surveillance systems may provide information which would allow public health departments to predict outbreaks earlier than by using traditional surveillance by retrospective evaluations. The investigators do not have to do survey which is time consuming in order to get the data. Thus, it is relatively more efficient than active surveillance (Berger et al., 2006).</p>
<p style="text-align: justify;">8.  Syndromic surveillance is a low-cost surveillance method.</p>
<p style="text-align: justify;">The syndromic surveillance techniques are developed because they provide a relatively inexpensive and practical approach gathering the information required for effective animal disease control (Heffernan et al., 2004, Sloane et al., 2006). Davies, et al (2007) believe that although this method is rather a new approach surveillance which needs to be more developed, some research demonstrate syndromic surveillance techniques have the ability to significantly improve the collection and management of animal health information in low-cost expenditures, yet demonstrable value to animal livestock (Davies et al., 2007). In comparison with active surveillance, syndromic surveillance requires lower cost for investigation. For example, in data collection, syndromic surveillance generally uses available data, which is at a lower cost than by undertaking a survey (Mostashari and Hartman, 2003).</p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance does not require the cost for the diagnostic kits which are commonly expensive. In surveillance the diagnostic of disease from clinical symptoms have already been determined, the laboratory confirmation is not a compulsory.Consequently, there is no cost for laboratory materials.</p>
<p style="text-align: justify;">9.  Syndromic surveillance is possible to be an attractive option for poorly-resourced veterinary services.</p>
<p style="text-align: justify;">In some areas, especially in developing countries, the availability of veterinary service is often limited.  The limitation of veterinary service is important when undertaking active surveillance. In participatory epidemiology, veterinarians are needed to undertake surveys related to the animal health community by performing meetings or interviewing. The veterinarians generally lead the meeting and at the same time lead the interviews in the community (Hussain et al., 2005).</p>
<p style="text-align: justify;">As with the participatory approach which is based on interaction with the farmers, syndromic surveillance does not require a high number of veterinarians. The presence of veterinarians is not at the first line because in this method the farmers are encouraged to identify and report their sick animals not only to veterinarian but also to the head of village, or department of animal health.</p>
<p style="text-align: justify;">10. Syndromic surveillance builds on farmers own knowledge and skills in disease surveillance and control.</p>
<p style="text-align: justify;">Previously, community based surveillance was more focused on pastoral communities whose livelihoods were dependent on livestock and who had limited information on modern veterinary medicine. Since then, the approach has been more specific to a diverse range of communities, and one of them is surveillance based on farmers.In syndromic surveillance, the primary assessment of data comes from farmers and livestock owners on identifying the range of their animal diseases.  Furthermore, they can also indicate their disease status on their areas.</p>
<p style="text-align: justify;">11. Bias in syndromic surveillance is minimized by cross-checking of the input data.</p>
<p style="text-align: justify;">Reports from farmers or livestock owners should not be processed directly that is not entered directly as data. The data need to be validated by cross-checking, either by using multiple techniques or expert veterinarians. This process is really important to ensure the syndromes are really showed a particular disease. In participatory approach surveillance this process is called triangulation.  It is a basic assumption when the investigators cannot fully anticipate the priorities and problems of the disease in communities where they study. This assumption can also help to avoid many biases associated with other conventional epidemiology approaches. Indeed, the process may empower the stakeholders, since they are the ones who identify and describe the problems (Jost et al., 2007).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>The Disadvantages of Syndromic Surveillance</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong></strong>1.  Syndromic surveillance is not suitable for large outbreaks.</p>
<p style="text-align: justify;">Even though syndromic surveillance systems seek to minimize the amount of data collected from each case, the main drawback is the heavy reporting load and requirement for disciplined reporting of recognized case data (Vourc&#8217;h et al., 2006). This situation is more likely to happen when the input data is done manually and there are limited staffs for entering data at the same time.</p>
<p style="text-align: justify;">2.  The accuracy of the data is likely to be less representative because of lack of supporting data.</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosis of animal disease cases based on clinical signs is less accurate (Bravata et al., 2004). This may impact on the low sensitivity and specificity of the method which may affect the ability to facilitate decision making. Salman (2004) believes that diagnostic of animal diseases based on a clinical reporting system is only the first step to determine the etiology of the diseases. In spite of laboratory confirmation, there are other key roles for determining the etiology of the disease, such as: description of animal diseases from expert clinicians or veterinarians, necropsy findings, immunologic screenings, and focused epidemiologic study (Salman, 2004).  By adding such factors to the diagnostic based on clinical signs, the accuracy of diagnose may increase, as well as the sensitivity and specificity and also undoubted for decision makers on the disease control and prevention.</p>
<p style="text-align: justify;">Eventhough the sensitivity of surveillance will give a positive outcome and shows that disease is present, there are many factors influences the sensitivity of syndromic surveillance as a passive surveillance, such as the probability of infected animals that showing detectable syndromes, the responsible person for reporting of diseases, and the sensitivity of the diagnostic test application (Martin et al., 2007). Therefore, it is difficult to estimate and objectively quantify the probability of detecting cases and to evaluate the contribution of the method in general surveillance (Hadorn et al., 2008).</p>
<p style="text-align: justify;">3.  Syndromic surveillance is potentially ineffective for surveillance.</p>
<p style="text-align: justify;">The efficacy of syndromic surveillance has not been proved widely and the likelihood of false alarms is high. The collected information is not specific enough to enable timely outbreak detection or disease control activities (Berger et al., 2006). Additionally, A typical case detection is limited by practitioners’ experience, knowledge, vigilance and willingness to report findings (Cuenot et al., 2003). In fact, scientific evidences are scarce to deploy the method to guide clinicians or public health officials (Bravata et al., 2004).</p>
<p style="text-align: justify;">Additionally, there is no standard definition for syndromic surveillance. Thus, there are many difference and limitation on definitions of a syndrome between one to other institutions which are using the method for surveillance, even in the same clinical signs (Bravata et al., 2004). This situation may lead to complexity of the standard definition of syndromes and finally, may cause confusion for surveillance systems when the systems try to gather or combine the data.</p>
<p style="text-align: justify;">4.  Difficult to determine the cause of disease outbreaks because of similarity of the clinical signs with other diseases.</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosis of diseases can somewhat be determined on the basis of clinical signs, however this could be misleading as clinical signs of the diseases are similar to each other. For example, highly virulent avian influenza and Newcastle disease in chickens, show almost the same symptoms such as edema and congestion on the comb, loss of appetite, depression, abnormal respiratory, etc (Swayne and King, 2003). Syndromic surveillance methods do not likely involve the specific confirmation of the disease presence as they are not confirmed by laboratory tests.  This situation may affect the accuracy and quality of the data surveillance.</p>
<p style="text-align: justify;">5.  Syndromic surveillance may not detect subclinical diseases.</p>
<p style="text-align: justify;">Another negative factor of syndromic surveillance which can also affect the accuracy and quality of data is the ability of the method to detect subclinical diseases. In Syndromic surveillance the data collection is based on the clinical signs which are showed when infection is occurred. However, in subclinical infection, the syndromes of the infection cannot be recognized. This is really important in order to determine the existence of the disease in certain areas, when the syndromic surveillance systems more likely will conclude free from disease but, in fact, the disease is really existed (Doherr and Audige, 2001).   For example, Jembrana disease in crossbreed cattle between Balicattle and <em>Bos indicus</em>, and in Friesian cattle do not show any clinical signs when they are infected with Jembrana disease virus. The infection of Jembrana disease on those cattle can only be detected from serological tests (Soeharsono et al., 1995).</p>
<p style="text-align: justify;">6.  Syndromic surveillance requires professional clinicians which are limited and difficult to be found.</p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance needs special clinicians who have better capability at recognizing the early symptoms of diseases in order to get the real data collection. This is special requirement for collecting data, particularly for the animal surveillance, where the clinicians have to recognize well as a confirmation to the syndromes of the animal diseases before the data is being input. Eventhough these people have already been trained before involving in the disease surveillance, not all of trained team becomes totally expert. In syndromic surveillance on animal health, expert people are needed to support the surveillance system to make rapid detection of the diseases (Carrico and Goss, 2005); however, they are limited and difficult to be found.</p>
<p style="text-align: justify;">In the areas which specific infectious diseases have never been present or the last outbreaks are in the past years ago, there would be few or even no professional farmers or veterinarians with personal experience of the clinical signs of the diseases. There might be difficult to perform syndromic surveillance when the people in certain areas do not have any experience regarding new emerging or re-emerging diseases. Therefore, maintaining adequate expertise people is needed to diagnose the diseases based on clinical signs have to be available in the event of outbreak (Salman, 2003).</p>
<p style="text-align: justify;">7.  The likelihood of few sick animals are not detected</p>
<p style="text-align: justify;">Farmers may not report their sick animals when the number of sick animals is small. Even, they do not intend to go when the farmers have to report to the authorized animal health in long distance and there is no compensation for their sick animals. Stoto, et al (2004) argue that syndromic surveillance might not work in a case which involves only a few individuals such as the anthrax case episode of 2001. In the same way,  Berger, et al (2006) stated that syndromic surveillance are less successful at identifying small counts or small increase in disease.</p>
<p style="text-align: justify;">8.  Syndromic surveillance can detect early syndromes but not specific diseases.</p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance is useful to detect clinical signs which mostly appear at the beginning of the infection. However, knowing the syndromes of diseases it does not mean that knowing the disease itself. In fact, there are many of similar syndromes in different diseases. Thus, it seems that syndromic surveillance does not have a specific disease identifying clinical features (Berger et al., 2006).</p>
<p style="text-align: justify;">Considering  the benefits and the drawbacks of syndromic surveillance, we can get ideas whether the method is suitable to be applied in a particular situation, including the impact that may occur when the method is being used.</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>CONCLUSIONS</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Syndromic surveillance is an alternative way which may improve animal health information system.<strong> </strong>Syndromic surveillance is a potential surveillance method with the benefits may outweigh the drawbacks</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>REFERENCE</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong>Berger, M., Shiau, R. &amp; Weintraub, J. (2006) Review of syndromic surveillance: implication for waterborne disease detection. <em>Journal of Epidemiol Community Health,</em> 60<strong>,</strong> 543-550.</p>
<p style="text-align: justify;"> Bradley, C., Rolka, H., Walker, D. &amp; Loonsk, J. (2005) BioSense: Implementation of a national early event detection and situational awareness system. . <em>MMWR,</em> 53(suppl)<strong>,</strong> 11-19.</p>
<p style="text-align: justify;"> Bravata, D., Mcdonal, K., Smith, W., Rydzak, C., Szeto, H., Budkeridge, D., Haberland, C. &amp; Owens, D. (2004) Systematic Review: Surveillance systems for early detection of bioterrorism-related diseases. <em>Annals of Internal Medicine,</em> 140<strong>,</strong> 910-922.</p>
<p style="text-align: justify;"> Buehler, J., Berkelman, R., Hartley, D. &amp; Peters, C. (2003) Syndromic surveillance and bioterrorism-related epidemics. <em>Emerging infectious diseases,</em> 9<strong>,</strong> 1197-1204.</p>
<p style="text-align: justify;"> Carrico, R. &amp; Goss, L. (2005) Syndromic surveillance: hospital emergency department participation during the Kentuky Derdy Festival. <em>Disaster Management &amp; Response,</em> 3<strong>,</strong> 73-79</p>
<p style="text-align: justify;">Chretien, J., Burkom, H., Sedyaningsih, E., Larasati, R., Lescano, A., Mundaca, C., Blazes, D., Munayco, C., Coberly, J., Ashar, R. &amp; Lewis, S. (2008) Syndromic Surveillance: Adapting innovations to developing settings. <em>Plos Medicine,</em> 5<strong>,</strong> 367-372.</p>
<p style="text-align: justify;">Cuenot, M., Calavas, D., Abrial, D., Gasqui, P., Cazeau, G. &amp; Ducrot, C. (2003) Temporal and spatial patterns of the clinical surveillance of BSE in France, analysed from January 1991 to May 2002 through a vigilance index. <em>Vet Res,</em> 34<strong>,</strong> 261-272</p>
<p style="text-align: justify;">Das, D., Weiss, D., Mostashari, F., Treatwell, T., Mcquiston, J., Huntwagner, L., Karpati, A., Bornschlegel, K., Seeman, M., Turcios, R., Terebuh, P., Curtis, R., Heffernan, R. &amp; Balter, S. (2003) Enhanced drop-in syndromic surveillance in New York city following September, 11, 2001. <em>Journal of Urban Health,</em> 80 i76-i88.</p>
<p style="text-align: justify;">Davies, P., Wayne, S., Torrison, J., Peele, B., Degroot, B. &amp; Wray, D. W. (2007) Real-time disease surveillance tools for the swinje industry in Minnesota. <em>Veterinaria Italiana,</em> 43<strong>,</strong> 731-738.</p>
<p style="text-align: justify;">Doherr, M. &amp; Audige, L. (2001) Monitoring and surveillance for rare health-related events: a review from the veterinary perspective. <em>Philosophical Transactions The Royal Society B Biological Sciences,</em> 356<strong>,</strong> 1097-1106.</p>
<p style="text-align: justify;">Durrheim, D. &amp; Speare, R. (2004) Commonicable disease surveillance and management in globalised world. <em>The Lancet,</em> 363<strong>,</strong> 1339-1340.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadorn, D., Haracis, S. &amp; Stark, K. (2008) Comparative assessment of pasive surveillance in disease-free and endemic situation: Example of <em>Brucella melitensis</em> surveillance in Switzerland and in Bosnia and Herzegovina. <em>BioMed Central Veterinary Research,</em> 4<strong>,</strong> 1-9.</p>
<p style="text-align: justify;">Heffernan, R., Mostashari, F., Das, D., Karpati, A., Kulldorff, M. &amp; Weiss, D. (2004) Syndromic surveillance in public health practice, New York City. <em>Emerging infectious diseases,</em> 10<strong>,</strong> 858-864.</p>
<p style="text-align: justify;">Hope, K., Durrheim, D., D&#8217;espaignet, E. &amp; Dalton, C. (2006) Syndromic surveillance: is it a useful tool for local outbreak detection?. <em>Jech.bmjjournal.com</em><strong>,</strong> 374-375.</p>
<p style="text-align: justify;">Hussain, M., Malik, M., Fatima, Z. &amp; Yousup, M. (2005) Participatory surveillance of livestock diseases in Islamabad capital territory. <em>International Journal of Agriculture &amp; Biology,</em> 7<strong>,</strong> 567-570.</p>
<p style="text-align: justify;">Jordana, J., Alexandrino, P., Beja-Periera, A., Bessa, I., Canon, J., Carretero, Y., Dunner, S., Laloe, D., Moazami-Boudarzi, K., Sanchez, A. &amp; Ferrand, N. (2003) Genetic structure of eighteen local south European beef cattle breeds by comparative F-statistics analysis. <em>Journal of Animal Breeding and Genetics,</em> 120<strong>,</strong> 73-87.</p>
<p style="text-align: justify;">Jost, C., Mariner, J., Roeder, P., Sawitri, E. &amp; Macgregor-Skinner, G. (2007) Participatory epidemiology in disease surveillance and research. <em>Rev. sci. tech. Off. Int. Epiz,</em> 26<strong>,</strong> 537-549.</p>
<p style="text-align: justify;">Krieger, N. (1994) Epidemiology and the web of causation: has anyone seen the spider? <em>Soe.Sci.Med.,</em> 39<strong>,</strong> 887-903</p>
<p style="text-align: justify;">Martin, P., Cameron, A. &amp; Greiner, M. (2007) Demonstrating freedom from disease using multiple complex data source I: A new methodology based on scenario trees. <em>Preventive Veterinary Medicine,</em> 79<strong>,</strong> 71-97.</p>
<p style="text-align: justify;">Miller, B., Kassenborg, H., Dunsmuir, W., Griffith, J., Hadidi, M., Nordin, J. &amp; Danila, R. (2004) Syndromic surveillance for influenzalike illness in an ambulatory care network. <em>Emerging Infectious Diseases,</em> 10<strong>,</strong> 1806-1812.</p>
<p style="text-align: justify;">Moore, G., Ward, M., Dhariwal, J., Wu, C., Glickman, N., Lewis, H. &amp; Glicman, L. (2004) Development of a national companion animal syndromic surveillance system for bioterrorism. <em>Gisvet</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Morens, D., Folkers, G. &amp; Fauci, A. (2004) Inside the review articles, The challenge of emerging and re-emerging infectious diseases. <em>NATURE,</em> 430<strong>,</strong> 242-249.</p>
<p style="text-align: justify;">Mostashari, F. &amp; Hartman, J. (2003) Syndromic surveillance: a local perspective. <em>Journal of Urban Health: Bulletin of the New York Academy of Medicine,</em> 80<strong>,</strong> 11-17.</p>
<p style="text-align: justify;">Palmer, S., Sully, M. &amp; Fozdar, F. (2009) Farmers, animal disease reporting and the effect of trust: A study of West Australian sheep and cattle farmers. <em>Rural Society Journal,</em> 19.</p>
<p style="text-align: justify;">Rotz, L., Khan, A., Lillibridge, S., Ostroff, S. &amp; Hughes, J. (2002) Public health assessment of potential biological terrorism agents. <em>Emerging Infectious Diseases,</em> 8<strong>,</strong> 225-230.</p>
<p style="text-align: justify;">Salman, M. (Ed.) (2003) <em>Animal disease surveillance and survey systems, Methods and applications, </em>2121 State Avenue, Ames, Iowa, Blackwell Publishing Professional.</p>
<p style="text-align: justify;">Salman, M. (2004) Controlling emergency diseases in the 21st century. <em>Prev Vet Med,</em> 62<strong>,</strong> 177-184.</p>
<p style="text-align: justify;">Siswoyo, H., Permana, M., Larasati, R., Farid, J., Suryadi, A. &amp; Sedyaningsih, E. (2008) EWORS: using a syndromic-based surveillance tool for disease outbreak detection in Indonesia. <em>Bio Med Central Proceedings,</em> 2.</p>
<p style="text-align: justify;">Sloane, P., Macfarquhar, J., Sickbert-Bennett, E., Mitchell, C., Akers, R., Weber, D. &amp; Howard, K. (2006) Syndromic surveillance for Emerging Infections in Office Practice Using Billing Data. <em>Annals of Family medicine,</em> 4<strong>,</strong> 351-358.</p>
<p style="text-align: justify;">Soeharsono, S., Wilcox, G., Dharma, D., Hartaningsih, N., Kertayadnya, G. &amp; Budiantono, A. (1995) Species differences in the reaction of cattle to jembrana disease virus infection. <em>Journal of Comparative Pathology,</em> 112<strong>,</strong> 391-402.</p>
<p style="text-align: justify;">Stoto, M. A., Schonlau, M. &amp; Mariano, L. T. (2004) Syndromic surveillance: Is it worth the effort? <em>Chance,</em> 17<strong>,</strong> 19-24.</p>
<p style="text-align: justify;">Swayne, D. &amp; King, D. (2003) Zoonosis Update, A. <em>JAVMA,</em> 222<strong>,</strong> 1534-1541.</p>
<p style="text-align: justify;">Vourc&#8217;h, G., Bridges, V., Gibbens, J., De Groot, B., Mc Intyre, L., Poland, R. &amp; Barnovin, J. (2006) Detecting emerging diseases in farm animal through clinical observations. <em>Emerging infectious diseases,</em> 12<strong>,</strong> 204-210.</p>
<p style="text-align: justify;">Wagner, M., Tsui, F., Espino, J., Dato, V., Sittig, D., Caruana, R., Mcginnis, L., Deerfield, D., Druzazel, M. &amp; Fridsma, D. (2001) The emerging science of very early detection of disease outbreaks. <em>Journal of Public Health Management and Practice,</em> 7<strong>,</strong> 51-59.</p>
<p style="text-align: justify;">Wong, K., Shieh, W., Zaki, S. &amp; Tan, C. (2002) Nipah virus infection, an emerging paramixoviral zoonosis. <em>Springer semin immunopathol,</em> 24<strong>,</strong> 215-228.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/the-advantages-and-disadvantages-of-syndromic-surveillance-methods/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Sistem Peternakan dan Lama Penyimpanan  terhadap Kualitas Telur Itik</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/pengaruh-sistem-peternakan-dan-lama-penyimpanan-terhadap-kualitas-telur-itik/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/pengaruh-sistem-peternakan-dan-lama-penyimpanan-terhadap-kualitas-telur-itik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 03:02:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 2 AGUSTUS 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[(THE  EFFECT OF FARMING SYSTEM AND LONG STORAGETO DUCK’S EGG QUALITY) I.B.N. Swacita dan I P Sudiantara Cipta Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. E- mail : paswaibn@yahoo.co.id  ABSTRAK  Itik merupakan salah satu ternak unggas penghasil telur yang sangat potensial di Indonesia. Umumnya sistem peternakan itik dilakukan secara intensif dan semi intensif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><em>(</em><em>THE  EFFECT OF FARMING SYSTEM AND LONG STORAGETO DUCK’S EGG QUALITY</em><em>)</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong style="text-align: justify;">I.B.N. Swacita dan </strong><strong style="text-align: justify;">I P </strong><strong style="text-align: justify;">Sudiantara Cipta</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner </em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>Fakultas Kedokteran Hewan, </em><em>Universitas Udayana.</em><em> </em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>E- mail : paswaibn@yahoo.co.id </em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong>Itik merupakan salah satu ternak unggas penghasil telur yang sangat potensial di Indonesia. Umumnya sistem peternakan itik dilakukan secara intensif dan semi intensif. Adanya perbedaan sistem peternakan tersebut kemungkinan dapat menghasilkan kualitas telur itik yang berbeda jika disimpan pada suhu kamar (28°C). Kualitas telur itik yang terkait sistem peternakan dan lama penyimpanan, dapat diukur dari aspek Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT) dan <em>Haugh Unit</em> (HU).  Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 (sistem peternakan ) x 4 (lama penyimpanan).  Dua sistem peternakan yaitu peternakan secara intensif dan semi intensif, sedangkan empat factor : hari ke-0, ke-7, ke-14, dan hari ke-21. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Data hasil penelitian (IPT, IKT, dan HU) dianalisis dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan, jika terdapat perbedaan yang nyata.  Hasil penelitian menunjukkan, sistem peternakan intensif dan semi intensif menghasilkan telur dengan IPT, IKT, dan HU yang tidak berbeda nyata (P&gt;0,05). IPT, IKT, dan HU sangat nyata (P&lt;0,01) dipengaruhi oleh lama penyimpanan. Makin lama telur disimpan maka IPT, IKT, dan HU makin menurun.</p>
<p style="text-align: justify;"> Kata kunci : Telur itik, Indeks Putih Telur,  Indeks Kuning Telur, Haugh Unit</p>
<p style="text-align: center;"><em> </em><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong>Duck is one of the potential egg poultry production in Indonesia. General farming system of duck was carried out an intensive and semi-intensive. The effect of difference   farming system  may be contribute to differences in the duck’s egg quality, especially in relation to aspects of Egg White Index (EWI), Egg Yolk Index (EYI) and Haugh Unit (HU) of duck’s egg, as well as to the long storage at room temperature (±28°C).  The research used  Completely Randomized Design (CRD), the pattern of 2 (farming system) x 4 (0,7,14 and 21 day) two factor treatments farming system as intensive farming and semi-intensive and four  factor that is a long storage at room temperature.  Each treatment combination was replicated 4 times. Data were analyzed with ANOVA, and followed by Duncan multiple range test.  Based on these results it can be concluded, farming system  intensive and semi- intensive to produce duck’s egg quality  with EWI, EYI and HU are not significantly different (P&gt;0.05). EWI, EYI and HU were significantly (P &lt;0.01) influenced by long storage;   if the longer stored,  the duck’s egg quality to be decreased.</p>
<p style="text-align: justify;"> Key words: duck egg’s,  Egg White Index,  Egg Yolk Index, Haugh Unit</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Telur itik memiliki kualitas lebih baik bila dibandingkan dengan telur ayam karena  mengandung protein, kalori dan lemak lebih tinggi (Sultoni, 2004). Di samping keunggulan tersebut, telur itik juga memiliki sifat mudah rusak. Kerusakan tersebut disebabkan adanya kontaminasi pada kulit telur oleh mikroorganisme yang berasal dari kotoran induk maupun yang ada pada kandang (Kautsar, 2004).</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem peternakan itik yang berbeda juga menyebabkan perbedaan kualitas telur yang dihasilkan. Pada sistem peternakan intensif, itik dikandangkan dengan segala kebutuhannya dipenuhi dan dilayani oleh peternak (Rasyaf, 1993). Dengan pemberian pakan yang terprogram ditambah dengan pemberian vitamin dan suplemen akan sangat berpengaruh terhadap kualitas telur yang dihasilkan. Sedangkan  pada peternakan semi intensif, itik saat dilepas di area persawahan  akan mencari makanannya sendiri tanpa diatur oleh peternaknya. Sumber pakan mereka peroleh dari lingkungan sawah berupa serangga, keong, katak kecil dan sebagainya (Susilorini dkk., 2008). Perbedaan sistem peternakan itik, tentunya akan menghasilkan kualitas telur yang berbeda. Namun sampai saat ini, penelitian mengenai kualitas telur pada peternakan intensif dan tradisional belum pernah diungkapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Untuk menentukan kualitas telur itik dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan peneropongan <em>(candling) </em>dan pengukuran terhadap parameter Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT) dan <em>Haugh Unit</em> (HU). IPT adalah parameter yang menyatakan perbandingan antara tinggi albumin<em> </em>dengan rata-rata diameter panjang dan lebar albumin kental. Menurut Buckle dkk. (1987), telur ayam yang baru ditelurkan nilai IPTnya berkisar antara 0,050-0,174. Umumnya dalam keadaan normal berkisar antara 0,090-0,120. IPT akan menurun selama penyimpanan, disebabkan oleh pemecahan ovomusin. Penurunan IPT sangat dipengaruhi oleh suhu penyimpanan, semakin rendah suhu penyimpanan, semakin kecil penurunannya. <strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indeks Kuning Telur (IKT) adalah perbandingan antara tinggi kuning telur dengan diameternya setelah kuning telur dipisahkan dari putih telur. Telur segar mempunyai IKT 0,33-0,50 dengan nilai rata-rata IKT 0,42. Dengan bertambahnya umur telur, maka IKT akan menurun karena penambahan ukuran kuning telur akibat perpindahan air (Buckle dkk., 1987).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Haugh Unit</em> (HU) adalah satuan yang memberi kolerasi antara tinggi putih telur dengan berat telur.  Makin tinggi HU makin baik kualitas telur tersebut (Buckle dkk., 1987). Buckle dkk., (1987) menyatakan bahwa telur yang baru ditelurkan mempunyai nilai HU 100. Lebih lanjut dinyatakan bahwa telur dengan mutu yang baik nilainya 75 sedangkan telur yang rusak mempunyai nilai HU di bawah 50. Telur yang tidak diawetkan mengalami perubahan HU sangat cepat. Telur yang disimpan pada suhu rendah atau pendinginan mengalami perubahan HU dari 80 menjadi 68 setelah 19 hari, sedangkan tanpa pendinginan mengalami penurunan rata-rata 1,51 unit per hari (Kulsum, 1992).</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sistem peternakan, lama penyimpanan pada suhu kamar (±28<sup>o</sup>C) dan interaksi antara keduanya terhadap kualitas telur itik ditinjau dari IPT, IKT dan HU.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>M</strong><strong>ETODE PENELITIAN</strong><strong>  </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Materi Penelitian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah telur itik yang diperoleh dari dua sistem peternakan itik yang berbeda, yaitu telur itik yang berasal dari peternakan intensif dan   semi-intensif. Telur yang diambil adalah telur segar yang berumur 0 hari (baru ditelurkan) dengan berat 60g &#8211; 64g masing-masing sebanyak 32 butir dari suatu peternakan intensif dan semi-intensif di Kabupaten Badung.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong><strong>Rancangan Penelitian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 4, dengan 2 faktor perlakuan sistem peternakan yaitu peternakan secara intensif dan semi- intensif. Sedangkan 4 faktor kedua yaitu lama penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) pada hari ke-0, ke-7, ke-14, dan hari ke-21. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 4 kali. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah kualitas telur itik seperti : Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT) dan <em>Haugh Unit</em> (HU).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Cara Pengukuran Kualitas Telur Itik</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indeks Putih Telur (IPT)</p>
<p style="text-align: justify;">Cara pengukuran IPT adalah dengan memecahkan telur yang telah mendapat perlakuan penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke-0, 7, 14 dan 21 di atas kaca, kemudian  kuning telur dipisahkan dari putih telur secara hati-hati. Panjang dan lebar putih telur diukur dengan menggunakan jangka sorong kemudian IPT dihitung menggunakan rumus Laily dan Suhendra (1978) sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;"> <a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-625" title="SWACITA1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA1.jpg" alt="" width="330" height="147" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan :</p>
<p style="text-align: justify;">T    : Tinggi putih telur (cm)</p>
<p style="text-align: justify;">L1  : Lebar putih telur (cm)</p>
<p style="text-align: justify;">L2  : Panjang putih telur (cm)</p>
<p style="text-align: justify;">  Indeks Kuning Telur (IKT)</p>
<p style="text-align: justify;">Cara pengukuran IKT adalah dengan memecahkan telur yang telah mendapat perlakuan penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke-0, 7, 14 dan 21 di atas kaca, kemudian  kuning telur dipisahkan dari putih telur secara hati-hati. Tinggi dan diameter kuning telur diukur dengan menggunakan jangka sorong, kemudian IKT dihitung menggunakan rumus Laily dan Suhendra (1978) sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: justify;">  <a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-626" title="SWACITA2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA2.jpg" alt="" width="498" height="129" /></a><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Haugh Unit</em> (HU)</p>
<p style="text-align: justify;"> Telur yang telah mendapat perlakuan penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke-0, 7, 14 dan 21  ditimbang dan beri label sesuai dengan beratnya, kemudian telur dipecahkan di atas kaca. Kuning telur dipisahkan dari putih telur secara hati-hati. Selanjutnya tinggi putih telur diukur dengan menggunakan alat jangka sorong kemudian HU dihitung menggunakan rumus Panda (1996) sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: justify;">            HU = 100 log (H + 7,57 – 1,7W <sup>0,37</sup>)</p>
<p style="text-align: justify;">Keterangan :</p>
<p style="text-align: justify;">H   : Tinggi putih telur (mm)</p>
<p style="text-align: justify;">W : Berat telur (gram)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Analisis Penelitian</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Data hasil penelitian berupa Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT) dan <em>Haugh Unit</em> (HU) dianalisis dengan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1993).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Indeks Putih Telur (IPT) pada sistem peternakan intensif dan semi intensif serta lama penyimpanan telur itik pada suhu kamar (±28°C) dapat dilihat pada Gambar 1.</p>
<p style="text-align: justify;"> <a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA3.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-627" title="SWACITA3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA3-300x166.jpg" alt="" width="300" height="166" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Gambar 1. Diagram Sistem Peternakan dan Lama Penyimpanan  terhadap  IPT Telur Itik</p>
<p style="text-align: justify;"> Gambar 1. menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) pada hari ke-0, sampai  hari ke-21, IPT telur itik pada sistem peternakan intensif lebih besar dari semi-intensif.</p>
<p style="text-align: justify;">            Hasil sidik ragam pengaruh sistem peternakan dan lama Penyimpanan pada suhu kamar terhadap IPT telur itik disajikan pada Tabel 1 di bawah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 1. Hasil Sidik Ragam Pengaruh Sistem PEternakan dan Lama Penyimpanan pada Suhu  Kamar terhadap IPT Telur Itik</p>
<table width="531" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="140">Sumber Keragaman</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="71">Jumlah Kuadrat</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="62">Derajat Bebas</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="73">Kuadrat Tengah</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="73">F. Hitung</td>
<td colspan="2" valign="top" width="112">
<p align="center">F tabel</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">0,05</p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">0,01</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="140">Sistem pemeliharaan</td>
<td valign="top" width="71">
<p align="right">0,000</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">1</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">0,000</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">3,617<sup>tn</sup></p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">4,26</p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">7,82</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="140">Lama penyimpanan</td>
<td valign="top" width="71">
<p align="right">0,023</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">3</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">0,008</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">144,761**</p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3,01</p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">4,72</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="140">Sistem  pemeliharaan Vs lama penyimpanan</td>
<td valign="top" width="71">
<p align="right">6,459E-5</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">3</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">2,153E-5</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">0,399<sup>tn</sup></p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">3,01</p>
</td>
<td valign="top" width="56">
<p align="center">4,72</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="140">Galat</td>
<td valign="top" width="71">
<p align="right">0,001</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">24</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">5,393E-5</p>
</td>
<td valign="top" width="73"></td>
<td valign="top" width="56"></td>
<td valign="top" width="56"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="140">Total</td>
<td valign="top" width="71">
<p align="right">0,272</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">32</p>
</td>
<td valign="top" width="73"></td>
<td valign="top" width="73"></td>
<td valign="top" width="56"></td>
<td valign="top" width="56"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Keterangan :     tn = tidak berpengaruh nyata (P &gt; 0,05)</p>
<p style="text-align: justify;">*   = berpengaruh nyata (P &lt; 0,05)</p>
<p style="text-align: justify;"> **  = berpengaruh sangat nyata (P &lt; 0,01)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa sistem peternakan tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap IPT telur itik. Namun lama penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap IPT telur itik. Tidak terdapat interaksi yang nyata (P &gt; 0,05) antara sistem pemeliharaan dan lama penyimpanan terhadap IPT telur itik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sistem peternakan tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap IPT telur itik, kemungkinan karena pada kedua sistem peternakan itik memperoleh pakan yang cukup baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pada sistem peternakan intensif, itik memperoleh pakan yang cukup karena diberikan pakan secara <em>ad libitum, </em>sedangkan itik yang dipelihara secara semi-intensif memperoleh pakan selain dari konsentrat sebagai pakan tambahan, juga diperoleh dari lingkungan sawah tempatnya digembalakan. Menurut Susilorini dkk., (2008) serangga, keong, katak kecil dan sebagainya merupakan pakan bagi itik yang digembalakan di sawah. Kemungkinan lainnya adalah sawah lokasi pengembalaan itik yang diteliti mengalami gagal panen karena terserang hama tikus. Hama tikus menyebabkan banyaknya buah padi yang rontok yang selanjutnya buah padi tersebut menjadi pakan bagi itik-itik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Lama penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap IPT telur itik. Untuk mengetahui lebih lanjut pengaruh tersebut, maka analisis dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torie, 1993).</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 2. Uji Jarak Berganda Duncan Pengaruh Lama Penyimpanan pada Suhu Kamar   terhadap IPT Telur Itik</p>
<div style="text-align: justify;" align="center">
<table width="525" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="176">
<p align="center">Lama Penyimpanan</p>
<p align="center">(hari)</p>
</td>
<td rowspan="2" width="175">
<p align="center">Rataan</p>
</td>
<td colspan="2" width="173">
<p align="center">Notasi Signifikansi</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="84">
<p align="center">5%</p>
</td>
<td width="89">
<p align="center">1%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="176">
<p align="center">0</p>
</td>
<td width="175">
<p align="center">0,12600</p>
</td>
<td width="84">
<p align="center">A</p>
</td>
<td width="89">
<p align="center">a</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="176">
<p align="center">7</p>
</td>
<td width="175">
<p align="center">0,10013</p>
</td>
<td width="84">
<p align="center">B</p>
</td>
<td width="89">
<p align="center">b</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="176">
<p align="center">14</p>
</td>
<td width="175">
<p align="center">0,06675</p>
</td>
<td width="84">
<p align="center">C</p>
</td>
<td width="89">
<p align="center">c</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="176">
<p align="center">21</p>
</td>
<td width="175">
<p align="center">0,05825</p>
</td>
<td width="84">
<p align="center">D</p>
</td>
<td width="89">
<p align="center">c</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align: justify;">Keterangan :  Huruf yang berbeda ke arah kolom yang sama  menunjukkan perbedaan yang nyata (P &lt; 0,05) atau sangat nyata ( P &lt; 0,01) sedangkan huruf yang sama tidak berbeda nyata (P &gt; 0,05) atau tidak berbeda sangat nyata(P &gt;0,01)</p>
<p style="text-align: justify;"> Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan bahwa IPT dengan lama penyimpanan antara hari ke-0, dengan hari ke-7 sampai hari ke-21,   terdapat perbedaan yang sangat nyata (P &lt; 0,01). Demikian pula hari ke-7 dengan hari ke-21. Sedangkan hari ke-14 dengan hari ke-21 hanya berbeda nyata (P&lt;0,05).  Hal ini karena selama penyimpanan, IPT mengalami penurunan. Menurut Kulsum (1992), serabut ovomusin yang berserat dan membentuk jala mengalami kerusakan dan pecah, sehingga bagian kental dari putih telur akan keluar dari ikatannya dan menjadi lebih encer.</p>
<p style="text-align: justify;">Data yang diperoleh dari penelitian ini, telur itik yang berasal dari sistem peternakan intensif mempunyai nilai rata-rata IPT dengan lama penyimpanan hari ke-0 sampai ke-21 berkisar antara 0,059-0,131, sedangkan dari peternakan semi intensif   berkisar antara 0,058-0,122. Pada kedua sistem pemeliharaan ini, umur telur itik sampai pada hari ke-21 mempunyai nilai IPT masih dalam batas normal kalau mengacu nilai IPT telur ayam (0,050-0,174). Menurut Buckle dkk., (1987), telur ayam yang baru ditelurkan nilai IPT berkisar antara 0,050-0,174. Hal ini menunjukkan IPT telur itik sampai pada hari ke-21 hampir sama dengan IPT telur ayam.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbandingan sistem peternakan intensif dan semi-intensif dengan lama penyimpanan telur itik pada suhu kamar (±28°C) terhadap IKT dapat dilihat pada Gambar 2.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center"> <a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA4.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-628" title="SWACITA4" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA4-300x164.jpg" alt="" width="300" height="164" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Gambar 2. Diagram Perbandingan Sistem Peternakan dan Lama Penyimpanan  terhadap  IKT   Telur Itik</p>
<p style="text-align: justify;"> Gambar 2 menunjukkan bahwa penyimpanan pada  suhu  kamar  (±28°C) pada hari ke-0,  IKT telur itik yang berasal dari peternakan semi-intensif lebih besar bila dibandingkan dengan peternakan intensif, namun pada hari ke-7 sampai hari ke-21,  IKT telur itik pada sistem peternakan intensif lebih besar dari semi-intensif.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa sistem peternakan tidak berpengaruh nyata  (P&gt;0,05) terhadap IKT telur itik, sedangkan lama penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) berpengaruh sangat nyata (P &lt; 0,01) terhadap IKT telur itik. Hasil analisis juga menunjukkan tidak terdapat interaksi yang nyata (P&gt;0,05) antara sistem peternakan dengan  lama penyimpanan suhu kamar (±28°C) terhadap IKT telur itik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 3. Hasil Sidik Ragam Pengaruh Sistem Peternakan dan Lama Penyimpanan pada  Suhu Kamar  terhadap IKT Telur Itik</p>
<div style="text-align: justify;" align="center">
<table width="585" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="195">Sumber Keragaman</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="78">
<p align="center">Jumlah Kuadrat</p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="60">
<p align="center">Derajat Bebas</p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="78">
<p align="center">Kuadrat Tengah</p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="78">
<p align="center">F. Hitung</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="96">
<p align="center">F tabel</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">0,05</p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">0,01</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="195">Sistem Peternakan</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,000</p>
</td>
<td valign="top" width="60">
<p align="right">1</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,000</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">3,617<sup> tn</sup></p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">4,26</p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">7,82</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="195">Lama Penyimpanan</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,023</p>
</td>
<td valign="top" width="60">
<p align="right">3</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,008</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">144,761**</p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">3,01</p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">4,72</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="195">Sistem Peternakan  dengan Lama Penyimpanan</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">6,459E-5</p>
</td>
<td valign="top" width="60">
<p align="right">3</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">2,153E-5</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,399<sup> tn</sup></p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">3,01</p>
</td>
<td valign="top" width="48">
<p align="center">4,72</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="195">Galat</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,001</p>
</td>
<td valign="top" width="60">
<p align="right">24</p>
</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">5,393E-5</p>
</td>
<td valign="top" width="78"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="195">Total</td>
<td valign="top" width="78">
<p align="right">0,272</p>
</td>
<td valign="top" width="60">
<p align="right">32</p>
</td>
<td valign="top" width="78"></td>
<td valign="top" width="78"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
<td valign="top" width="48"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align: justify;">Keterangan :     tn = tidak berpengaruh nyata (P &gt; 0,05)</p>
<p style="text-align: justify;"> **  = berpengaruh sangat nyata (P &lt; 0,01)</p>
<p style="text-align: justify;"> Lama Penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap IKT telur itik. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh dari perlakuan tersebut, maka   dilakukan uji jarak  berganda Duncan (Steel dan Torie, 1993).</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 4. Uji Jarak Berganda Duncan Pengaruh Lama Penyimpanan pada Suhu Kamar   terhadap IKT Telur Itik</p>
<div style="text-align: justify;" align="center">
<table width="569" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="217">
<p align="center">Lama Penyimpanan</p>
<p align="center">(hari)</p>
</td>
<td rowspan="2" width="184">
<p align="center">Rataan</p>
</td>
<td colspan="2" width="168">
<p align="center">Notasi Signifikansi</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="81">
<p align="center">5%</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">1%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="217">
<p align="center">0</p>
</td>
<td valign="top" width="184">
<p align="center">0,4438</p>
</td>
<td valign="top" width="81">
<p align="center">a</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">a</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="217">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="184">
<p align="center">0,4050</p>
</td>
<td valign="top" width="81">
<p align="center">b</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">b</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="217">
<p align="center">14</p>
</td>
<td valign="top" width="184">
<p align="center">0,3763</p>
</td>
<td valign="top" width="81">
<p align="center">c</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">c</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="217">
<p align="center">21</p>
</td>
<td valign="top" width="184">
<p align="center">0,3525</p>
</td>
<td valign="top" width="81">
<p align="center">d</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">d</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align: justify;">Keterangan : Huruf yang berbeda ke kearah kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P &lt; 0,05) atau sangat nyata ( P &lt; 0,01) sedangkan huruf yang sama tidak berbeda nyata (P &gt; 0,05) atau tidak berbeda sangat nyata ( P &gt; 0,01)</p>
<p style="text-align: justify;"> Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan bahwa lama penyimpanan antara hari ke- 0, dengan hari ke-7 sampai hari ke-21   terdapat perbedaan IKT yang sangat nyata (P &lt; 0,01). Dalam hal ini IKT hari ke-0 sangat nyata (P &lt; 0,01) lebih tinggi dibandingkan hari ke-7, sampai hari ke-21.   Hasil ini sesuai dengan pernyataan Buckle dkk., (1987), bahwa dengan bertambahnya umur telur,  maka IKT akan semakin menurun karena penambahan ukuran kuning telur akibat perpindahan air dari putih telur ke kuning telur.</p>
<p style="text-align: justify;">Data yang diperoleh dari penelitian ini, telur itik yang berasal dari sistem peternakan intensif mempunyai nilai rata-rata IKT dengan lama penyimpanan pada hari ke-0 sampai ke-21 berkisar antara 0,36-0,44, sedangkan dari peternakan semi-intensif  berkisar antara 0,35-0,45. Dari kedua sistem peternakan ini, IKT telur itik sampai pada hari ke-21 mempunyai nilai IKT masih dalam batas normal jika mengacu pada nilai IKT telur ayam. Menurut Buckle dkk., (1987), telur ayam segar mempunyai IKT 0,33-0,50 dengan nilai rata-rata 0,42. Hal ini juga menunjukkan IKT telur itik sampai pada hari ke-21 mempunyai nilai yang hampir sama dengan IKT ayam.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbandingan sistem peternakan intensif dan semi-intensif dengan lama penyimpanan telur itik pada suhu kamar (±28°C) terhadap telur itik dapat dilihat pada Gambar 3.</p>
<p style="text-align: justify;" align="center"> <a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-629" title="SWACITA5" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SWACITA5-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Gambar 3. Diagram Perbandingan sistem peternakan intensif dan semi-intensif dengan lama  penyimpanan telur itik pada suhu kamar (±28°C) terhadap HU Telur Itik</p>
<p style="text-align: justify;"> Gambar 3 menunjukkan bahwa penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) pada hari ke-0 sampai hari ke-21 HU telur itik pada sistem peternakan  intensif lebih besar dari semi-intensif. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa sistem peternakan tidak berpengaruh nyata (P&gt;0,05) terhadap HU telur itik. Lama penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap HU telur itik. Tidak terdapat interaksi yang nyata (P&gt;0,05) antara kedua perlakuan di atas terhadap HU telur itik.</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 5. Hasil Sidik Ragam Pengaruh Sistem Peternakan dan Lama Penyimpanan pada</p>
<p style="text-align: justify;">              Suhu Kamar  terhadap HU Telur Itik</p>
<table width="534" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" width="141">
<p align="center">Sumber Keragaman</p>
</td>
<td rowspan="2" width="90">
<p align="center">Jumlah Kuadrat</p>
</td>
<td rowspan="2" width="62">
<p align="center">Derajat Bebas</p>
</td>
<td rowspan="2" width="73">
<p align="center">Kuadrat Tengah</p>
</td>
<td rowspan="2" width="79">
<p align="center">F. Hitung</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="90">
<p align="center">F tabel</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">0,05</p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">0,01</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="141">Sistem peternakan</td>
<td valign="top" width="90">
<p align="right">20,352</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">1</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">20,352</p>
</td>
<td valign="top" width="79">
<p align="right">4,173<sup>tn</sup></p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">4,26</p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">7,82</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="141">Lama penyimpanan</td>
<td valign="top" width="90">
<p align="right">3514,206</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">3</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">1171,402</p>
</td>
<td valign="top" width="79">
<p align="right">240,162**</p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">3,01</p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">4,72</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="141">Sistem  peternakan  dg  lama penyimpanan</td>
<td valign="top" width="90">
<p align="right">0,339</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">3</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">0,113</p>
</td>
<td valign="top" width="79">
<p align="right">0,023<sup>tn</sup></p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">3,01</p>
</td>
<td valign="top" width="45">
<p align="center">4,72</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="141">Galat</td>
<td valign="top" width="90">
<p align="right">117,061</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">24</p>
</td>
<td valign="top" width="73">
<p align="right">4,878</p>
</td>
<td valign="top" width="79"></td>
<td valign="top" width="45"></td>
<td valign="top" width="45"></td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="141">Total</td>
<td valign="top" width="90">
<p align="right">209733,959</p>
</td>
<td valign="top" width="62">
<p align="right">32</p>
</td>
<td valign="top" width="73"></td>
<td valign="top" width="79"></td>
<td valign="top" width="45"></td>
<td valign="top" width="45"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Keterangan : tn = tidak berpengaruh nyata (P &gt; 0,05)</p>
<p style="text-align: justify;">*   = berpengaruh nyata (P &lt; 0,05)</p>
<p style="text-align: justify;"> **  = berpengaruh sangat nyata (P &lt; 0,01)</p>
<p style="text-align: justify;"> Lama penyimpanan pada suhu kamar (±28°C) berpengaruh sangat nyata (P&lt;0,01) terhadap HU telur itik. Untuk mengetahui bagaimana perbedaan pengaruh antar perlakuan tersebut, selanjutnya dilakukan uji jarak berganda Duncan (Steel dan Torrie, 1993).</p>
<p style="text-align: justify;">Tabel 6. Uji Jarak Berganda Duncan Pengaruh Lama Penyimpanan pada Suhu   Kamar terhadap HU Telur Itik</p>
<div style="text-align: justify;" align="center">
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td rowspan="2" valign="top" width="175">
<p align="center">Lama Penyimpanan</p>
<p align="center">(hari)</p>
</td>
<td rowspan="2" valign="top" width="181">
<p align="center">Rataan</p>
</td>
<td colspan="2" valign="top" width="180">
<p align="center">Notasi Signifikansi</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">5%</p>
</td>
<td valign="top" width="93">
<p align="center">1%</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="175">
<p align="center">0</p>
</td>
<td valign="top" width="181">
<p align="center">94,5300</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">a</p>
</td>
<td valign="top" width="93">
<p align="center">a</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="175">
<p align="center">7</p>
</td>
<td valign="top" width="181">
<p align="center">85,7225</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">b</p>
</td>
<td valign="top" width="93">
<p align="center">b</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="175">
<p align="center">14</p>
</td>
<td valign="top" width="181">
<p align="center">72,6463</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">c</p>
</td>
<td valign="top" width="93">
<p align="center">c</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="175">
<p align="center">21</p>
</td>
<td valign="top" width="181">
<p align="center">68,1013</p>
</td>
<td valign="top" width="87">
<p align="center">d</p>
</td>
<td valign="top" width="93">
<p align="center">d</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="text-align: justify;"> Keterangan : Huruf yang berbeda ke kearah kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P &lt; 0,05) atau sangat nyata ( P &lt; 0,01) sedangkan huruf yang sama tidak berbeda nyata (P &gt; 0,05) atau tidak berbeda sangat nyata ( P &gt; 0,01)</p>
<p style="text-align: justify;"> Hasil uji jarak berganda Duncan menunjukkan bahwa lama penyimpanan mulai hari ke-0 sampai hari ke- 21 hari terdapat perbedaan HU telur itik yang sangat nyata (P&lt;0,01). Dalam hal ini HU telur itik hari ke-0 sangat nyata (P&lt;0,01) lebih tinggi bila dibandingkan dengan hari ke-7 sampai hari ke-21.  Demikian pula HU telur itik hari ke-7 dengan hari ke-14 dan hari ke-14 dengan hari ke-21.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Stadelman dan Cotterill, (1995), tinggi putih telur semakin lama disimpan akan semakin turun, demikian juga dengan bobot telur, semakin lama disimpan bobotnya akan semakin menurun. Selama penyimpanan terjadi kenaikan pH dan terjadi ikatan kompleks <em>ovomucin-lysozyme </em>yang mengakibatkan keluarnya air dari jala-jala <em>ovomucin</em>, sehingga putih telur menjadi encer. Semakin encer putih telur bagian kentalnya, maka nilai HU dan kualitas telurnya semakin rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Data yang diperoleh dari penelitian ini, telur itik yang berasal dari sistem peternakan intensif mempunyai nilai rata-rata HU dengan lama penyimpanan mulai hari ke-0, ke-7, ke-14 dan ke-21 masing-masing 95,27, 86,69, 73,34 dan 68,90, sedangkan dari peternakan semi intensif masing-masing 93,79, 84,76, 71,95, dan 67,31.   Dari kedua sistem peternakan ini umur telur itik sampai pada hari ke-7 mempunyai nilai HU masih dalam batas mutu telur yang baik. Menurut Buckle dkk., (1987) telur yang baru ditelurkan mempunyai nilai HU 100. Lebih lanjut dinyatakan bahwa untuk telur dengan mutu yang baik nilainya 75 dan telur yang rusak mempunyai nilai HU di bawah 50.</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa kualitas telur itik yang dipelihara secara intensif maupun semi intensif menghasilkan kualitas telur itik yang tidak berbeda. Makin lama telur itik disimpan pada suhu kamar maka kualitasnya akan makin menurun. Tidak terdapat interaksi antara lama penyimpanan pada suhu kamar dengan sistem pemeliharaan terhadap kualitas telur itik.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sampai hari ke berapa telur itik sudah rusak jika disimpan pada suhu kamar</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong>Buckle, K.A., R.A. Edward, G.H. Fleet and Wootton. 1987. <em>Ilmu Pangan. </em>Penerjemah Hari Purnomo dan Adiono. Universitas Indonesia – Press. Jakarta</p>
<p style="text-align: justify;">Kautsar, I. 2004 Pengaruh Lama Perendaman Dalam Larutan Asam Asetat 7% dan Lama Perendaman Terhadap Beberapa Karakteristik Telur Asin. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Jatinangor. <a href="http://journal.ipb.ac.id/%20index.php.jurnaltin/article/view/1104/184">http://journal.ipb.ac.id/ index.php.jurnaltin/article/view/1104/184</a>. Tanggal akses 15 Maret 2011</p>
<p style="text-align: justify;">Kulsum, U.1992. <em>Pengaruh Perminyakan dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kualitas Telur Ayam. </em>Skripsi. Program Studi Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian. Universitas Udayana. Denpasar</p>
<p style="text-align: justify;">Laily, R. A., dan P. Suhendra. 1978. <em>Teknologi Hasil Ternak. Bagian II. Teknologi Telur. </em>Edisi ke-2. Lephas. Ujung Pandang</p>
<p style="text-align: justify;">Panda, P.C. 1996. <em>Textbook of Egg and Poultry Technology. </em>Ram Printograph, Delhi, India</p>
<p style="text-align: justify;">Rasyaf, M. 1993. <em>Beternak Ititk Komersial.</em> Edisi ke-2. Kanisius. Yogyakarta</p>
<p style="text-align: justify;">Stadellman, W.J dan O.J Cotteril. 1995. <em>Egg Science and Technology. </em>4<sup>th</sup> Ed. The Avi Publishing Co. Inc. New York</p>
<p style="text-align: justify;">Steel, R.G.D dan J.H. Torie. 1993 <em>Prinsip dan Prosedur Statistika. </em>Edisi ke-2. Penerjemah Bambang Sumantri. P.T Gramedia Pustaka Utama. Jakarta</p>
<p style="text-align: justify;">Susilorini T.E., Sawitri M. E dan Muharlien. 2008. <em>Budi Daya Ternak 22 Ternak Potensial. </em>Penebar Swadaya. Jakarta</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/pengaruh-sistem-peternakan-dan-lama-penyimpanan-terhadap-kualitas-telur-itik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambaran Sel Darah Merah Sapi Bali  (studi rumah potong)</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-sel-darah-merah-sapi-bali-studi-rumah-potong/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-sel-darah-merah-sapi-bali-studi-rumah-potong/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Aug 2011 03:27:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 2 AGUSTUS 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[(THE ERYTROCYTE PROFILE OF THE FEMALE BALI CATTLE) [SLOUGHTER HOUSE STUDY]) Siswanto Laboratorium Fisiologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Univ. Udayana Denpasar, Bali Email : siswanto @fkh.unud.ac.id  ABSTRAK Pengamatan tentang gambaran sel darah merah sapi bali telah dilakukan dari tahun 2000 sampai 2007 di laboratorium Fisiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Udayana.  Tujuan penelitian adalah untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p style="text-align: center;" align="center">(<em>THE ERYTROCYTE PROFILE OF THE FEMALE BALI CATTLE)</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>[SLOUGHTER HOUSE STUDY]</em>)</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>Siswanto</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center">Laboratorium Fisiologi Veteriner</p>
<p style="text-align: center;" align="center">Fakultas Kedokteran Hewan, Univ. Udayana Denpasar, Bali</p>
<p style="text-align: center;" align="center">Email : siswanto @fkh.unud.ac.id</p>
<p style="text-align: center;" align="center"> <strong>ABSTRAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center">Pengamatan tentang gambaran sel darah merah sapi bali telah dilakukan dari tahun 2000 sampai 2007 di laboratorium Fisiologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan Univ. Udayana.  Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari dan melengkapi melengkapi data fisiologis tentang darah sapi bali. Seratus sembilan puluh dua sampel darah di ambil dari sapi bali yang dipotong di rumah potong hewan (RPH) Sanggaran, Denpasar. Sapi yang digunakan sample adalah sapi bali dewasa, secara simptomatis sehat. Parameter yang diamati adalah jumlah eritrosit, dengan hemositometer, kadar hemoglobin dengan metode Sahli, dan PCV (<em>Packed Cell Volume</em>) MCV, MCH, dan MCHC, dengan cara mikrohematrokrit sebagai  antikoagulan digunakan EDTA (Ethiline Diamine Tetraacetic Acid). Hasil menunjukkan rerata jumlah eritrosit normal sapi bali betina adalah 5,2 juta/mm3, kadar hemoglobin 8,7 g%, dan PCV 27,2 %, MCV 56.2 fl,  MCH 16.7 pg, dan MCHC 29.8 %/dl.</p>
<p style="text-align: justify;"> Kata kunci : sel darah merah, hemoglobin, PCV, MCV,MCH,MCHC, sapi bali.</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>ABSTRACT</strong></p>
<p style="text-align: justify;">A study to observed the profile of erythrocytes of  bali cattle was conducted from 2000  to 2007 years at Veterinary Physiology Laboratory, Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University. The aim of this observation were to study and evaluated erythrocytes and  complete the data. A total of samples is one hundred ninety-two blood samples were taken from bali cattle were slaughtered at the  abattoir of Sanggaran Denpasar.  The parameters observed were the number erythrocytes (Hemocytometer Method), hemoglobine consentration,(Sahli method)  PCV, MCV (fl),  MCH (pg), and MCHC (%/dl) using Microhematocrite method.  Results of this observation showed that there ware total erythrocytes 5,2 million/mm3, hemoglobine consentration 8,7 gr%, PCV 27,2 %, MCV 56.2 fl,  MCH 16.7 pg, and MCHC 29.8 %/dl.</p>
<p style="text-align: justify;"> Key words : erythrocytes, hemoglobine, PCV, MCV,MCH,MCHC , bali cattle.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">
<p align="center"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>            Sapi bali merupakan hewan ruminansia yang  mempunyai ciri khas tersendiri.  Banyak keunggulan dari sapi bali, selain mempunyai prosentase daging yang cukup besar, dan mempunyai daya cerna terhadap pakan yang baik serta daya adaptasi yang baik.  Darmadja (1990) berpendapat bahwa mempunyai kelebihan diantaranya fertlitas tinggi (83-86%) mampu beradaptasi dengan cepat terhadap lingkungan, memiliki resistensi tinggi terhadap kutu dan penyakit, kemampuan kerja yang baik serta cepat pulih setelah perlakuan yang tidak benar. Adapun kekurangan yang dimiliki sapi bali adalah sapi bali mempunyai pertumbuhan yang lambat, tingkat kematian pedet tinggi dan rentan terhadap beberapa penyakit tertentu seperti penyakit jembrana, Bali Ziekte dan Malignant Catarrhal Fever (Kusumaningsih, 2003)</p>
<p>Sapi bali dimasukkan kedalam,  Ordo  : Artiodactyla, Klas : Ruminansia, Famili : Bovidae, Genus : Bos, Spesies : Javanicus (d’Alton) dan tanpa pernah diperdebatkan sapi bai (<em>Bos javanicus</em>) merupakan spesies sapi tersendiri.  Di Pulau Bali belum pernah tercatat adanya banteng dalam bentuk liar, maka Darmadja (1990) yang mengutip pendapat Meijer (1962) mempertegas bahwa domestikasi banteng terjadi di Pulau Jawa yang selanjutnya dihadiahkan oleh raja di Jawa kepada raja di Pulau Bali.</p>
<p>Karakteristik sapi bali,  yakni jantan dewasa berwarna hitam dengan kepala lebar, otot di bagian leher terlihat kompak dan kuat, dada besar dan berdaging tebal, pantat putih berbentuk setengah bulan dengan ujung ekor berwarna hitam, bagian lutut kebawah berwarna putih. Sedang sapi dewasa betina bewarna merah bata, kepala panjang, halus, sempit dengan tanduk kecil dan pendek, punggung terdapat garis berwarna putih seperti belut, leher terlihat lebih ramping bila dibanding dengan jantan serta pantat berwarna putih, ekor berwarna hitam.</p>
<p>Sebagai hewan yang diunggulkan, sapi bali mempunyai  mutu yang tinggi, dan nilai mutu ini ditentukan oleh faktor fisik dan genetik (Ismed Pane, 1990). Faktor genetik ditentukan oleh keadaan fisiologis sapi itu sendiri, dan keadaan fisiologis dapat dilihat atau ditentukan dari profil darahnya, misalnya jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, dan nilai hematokritnya. Sehingga mengetahui gambaran darahnya dengan tujuan mengetahui fisiologis hewan adalah penting untuk dilakukan.</p>
<p>Data tentang gambaran darah sapi bali telah diteliti oleh beberapa peneliti, namun demikian masih diperlukan data dari hasil penelitian atau pengamatan yang melibatkan banyak sample, sehingga gambaran yang didapat lebih mewakili keadaan yang sebenarnya. Untuk itu perlu dilakukan pengamatan terhadap hematologi sapi bali, sehingga dapat diketahui gambaran darah secara akurat, sehingga  penelitian ini bertujuan  untuk mencari data yang lebih lengkap sehingga akan diperoleh hasil yang lebih akurat.</p>
<p>Penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni dan Benni Matram (1983) didapatkan hasil total eritrosit 5,6 juta/mm3, kadar hemoglobin 8,9 gr%, dan hematokrit 29 %. Sementara itu Iwan H Utama dkk. (2001) melaporkan penelitiannya bahwa sapi Bali mempunyai jumlah eritrosit 3,8 – 5,7 juta/mm3, Hb 8,5 – 12 gr% dan PCV 29 – 32,5 %. Sedangkan profil sapi jenis lain misalnya bos Taurus adalah total eritrosit 9,5 juta/mm3, Hb 11,5 gr%, dan PCV 35 % (Coles, 1980).</p>
<p style="text-align: center;">          <strong>        METODE PENELITIAN</strong></p>
<p><strong>Materi</strong></p>
<p><strong>            </strong>Sebanyak 192 sampel darah sapi bali yang disembelih di rumah potong hewan Sanggaran digunakan dalam pengamatan ini Dengan menggunakan EDTA sebagai antikoagulan sampel darah dimasukkan pada amsing-masing tube. Sapi yang digunakan sebagai sample adalah sapi dewasa, secara simptomatis sehat dan tanpa diperhatikan, jenis kelamin, dan latar belakang sapi.</p>
<p>Bahan dan alat laboratorium yang diperlukan adalah larutan hayem, larutan HCl 0.1 N, pipa mikrokapiler, malam, tabung reaksi, termos, seperangkat haematositometer, Sahli, centrifuge, dan microhematokrit reader.</p>
<p><strong>Metode </strong></p>
<p>Untuk menghitung jumlah eritrosit menggunakan metode hemasitometer Neubauer yaitu</p>
<p>Isap darah dengan pipet toma (warna pengaduk di bag. gembung warna merah) sampai angka 0.5, kemudian dilanjutkan dengan menghisap larutan Hayem sampai tanda 101.</p>
<p>Sebelum diteteskan ke bilik hitung, cairan yang ada disepanjang ujung pipet dibuang.</p>
<p>Kamar hitung dan gelas penutup dibersihkan dari kotoran dan minyak dengan tisue, lalu ditutup dengan gelas penutup khusus (cover glass). Meneteskan darah ke kamar hitung biarkan kamar hitung selama 2-3 menit agar eritrosit mengendap dan tetap pada tempatnya. Menghitung dibawah mikroskop dengan pembesaran 400 x.</p>
<p>Penentuan kadar hemoglobin menggunakan hemometer Sahli yaitu masukkan kurang-lebih 5 tetes HCl 0.1 N ke dalam tabung hemometer. Isap darah dengan pipet hemometer sampai tanda garis 20 cmm.Goyang-goyang tabung agar HCl dan darah bercampur dengan baik, warna menjadi coklat tua.Tambahkan aquades setetes demi setetes aduk dengan alat pengaduk, sampai warnanya sama dengan warna standar. Volume yang terbaca menunjukkan kadar hemoglobin dalam grm%.</p>
<p>Penentuan PCV menggunakan sistem mikrohematokrit yaitu ambil darah sapi pada gelas arloji dan dengan menyentuhkan pipa kapiler dengan posisi horisontal, darah akan mengalir ke dalam pipa. Tunggu sampai volume  4/5 penuh. Tahan dengan jari pada salah satu ujung sehingga darah tidak mengalir keluar. Sumbat pipa mikrokapiler dengan malam dengan jalan ditekankan bagian bawah pipa pada permukaan malam. Taruh pipa ke dalam alat pemusing (sentrifuge) dengan posisi bagian yang tersumbat disebelah luar. Dipusingkan pada 2500 rpm selama 10 menit, kemudian dibaca persentase endapat erotrositnya (PCV) dengan alat pembaca<em> microhematicrit-reader. </em></p>
<p>Indek sel darah merah yang meliputi rata-rata volume sel darah merah (<em>Mean Corpuscular Volume</em> = MCV), rata-rata berat hemoglobin  sel darah merah (<em>Mean Corpuscular Haemoglobine </em>= MCH),dan rata-rata kadar hemoglobin  sel darah merah (<em>Mean Corpuscular Haemoglobine Concentration</em> = MCHC) ditentukan dengan rumus Jain, (1986) sebagai berikut :</p>
<p><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-634" title="SISWANTO1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO1-300x234.jpg" alt="" width="300" height="234" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><strong> HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p><strong>Hasil</strong></p>
<p>Dari uji yang dilakukan didapatkan hasil pengamatan tentang gambaran eritrosit darah sapi Bali dari 192 ekor adalah menunjukkan bahwa rata-rata jumlah eritrosit normal 5,2 juta/mm3, kadar hemoglobin 8,7 gr%, PCV 27,2 %, MCV 56.2 fl, MCH 16.7 pg, dan MCHC 29.8 %/dl. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. di bawah ini.</p>
</div>
<p style="text-align: justify;">Tabel  1. Profil eritrosit sapi bali.</p>
<div style="text-align: justify;">
<table width="595" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="57">Tahun</td>
<td valign="top" width="66">Sample(ekor)</td>
<td valign="top" width="104">Rata ? Sel Darah Merah(juta/mm3)</td>
<td valign="top" width="85">Rata Kadar hb(gr%)</td>
<td valign="top" width="76">Rata PCV(%)</td>
<td valign="top" width="66">Rata MCV(fl)</td>
<td valign="top" width="66">Rata MCH(pg)</td>
<td valign="top" width="76">MCHC(%/dl)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2000</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">4,7</td>
<td valign="top" width="85">9,6</td>
<td valign="top" width="76">29,7</td>
<td valign="top" width="66">63.2</td>
<td valign="top" width="66">20.4</td>
<td valign="top" width="76">32.3</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2001</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">5,6</td>
<td valign="top" width="85">7,4</td>
<td valign="top" width="76">28,3</td>
<td valign="top" width="66">50.5</td>
<td valign="top" width="66">13.2</td>
<td valign="top" width="76">25.2</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2002</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">5,2</td>
<td valign="top" width="85">9,7</td>
<td valign="top" width="76">30,1</td>
<td valign="top" width="66">57.9</td>
<td valign="top" width="66">18.7</td>
<td valign="top" width="76">32.2</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2003</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">4,9</td>
<td valign="top" width="85">8,3</td>
<td valign="top" width="76">30</td>
<td valign="top" width="66">61.2</td>
<td valign="top" width="66">16.9</td>
<td valign="top" width="76">27.7</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2004</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">4,5</td>
<td valign="top" width="85">9,2</td>
<td valign="top" width="76">29,3</td>
<td valign="top" width="66">65.1</td>
<td valign="top" width="66">20.4</td>
<td valign="top" width="76">31.4</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2005</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">6,1</td>
<td valign="top" width="85">9,7</td>
<td valign="top" width="76">27,7</td>
<td valign="top" width="66">45.4</td>
<td valign="top" width="66">15.9</td>
<td valign="top" width="76">35</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2006</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">5,5</td>
<td valign="top" width="85">8,2</td>
<td valign="top" width="76">28,2</td>
<td valign="top" width="66">51.3</td>
<td valign="top" width="66">14.9</td>
<td valign="top" width="76">29.1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">2007</td>
<td valign="top" width="66">24</td>
<td valign="top" width="104">5,2</td>
<td valign="top" width="85">7,8</td>
<td valign="top" width="76">29,9</td>
<td valign="top" width="66">57.5</td>
<td valign="top" width="66">15</td>
<td valign="top" width="76">26.1</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57">Total/Rata</td>
<td valign="top" width="66">192</td>
<td valign="top" width="104">5,2</td>
<td valign="top" width="85">8,7</td>
<td valign="top" width="76">29,2</td>
<td valign="top" width="66">56.2</td>
<td valign="top" width="66">16.7</td>
<td valign="top" width="76">29.8</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="57"></td>
<td valign="top" width="66">Coles (1980)</td>
<td valign="top" width="104">7,5</td>
<td valign="top" width="85">11,5</td>
<td valign="top" width="76">35</td>
<td valign="top" width="66">46.7</td>
<td valign="top" width="66">15.3</td>
<td valign="top" width="76">32.9</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>&nbsp;</p>
<div><img class="aligncenter size-medium wp-image-635" title="SISWANTO2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO2-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-638" style="border-style: initial; border-color: initial;" title="SISWANTO3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO31-300x182.jpg" alt="" width="300" height="182" /><img class="aligncenter size-medium wp-image-639" title="SISWANTO4" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO4-300x204.jpg" alt="" width="300" height="204" /><strong><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO31.jpg"><br />
</a></strong> <strong>Gambar 1 : Grafik eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit sapi bali</strong><strong>      </strong></div>
</div>
<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-640" title="SISWANTO5" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/SISWANTO5-300x112.jpg" alt="" width="300" height="112" /></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gambar 2 : Gambaran MCV, MCH dan MCHC sapi bali.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong><strong>Pembahasan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengamatan terhadap 192 sapi bali  yang secara fisik dan simptomatis tidak menunjukkan sakit, didapatkan hasil jumlah eritrosit 5,2 juta/mm3, kadar hemoglobin 8,7 gr%, dan PCV 29,2 %. Profil ini bila dikomparasi dengan profil darah sapi jenis lain (mis. Bos Taurus) ataupun dengan hasil pengamatan Coles (1980) menunjukkan gambaran yang lebih rendah, )seperti pada grafik di atas). Namun demikian dalam hal ini bukan berarti profil eritrosit sapi Bali menunjukkan anemia, melainkan memang secara fisiologis normal profil darah sapi Bali lebih rendah dibanding jenis sapi <em>Bos Taurus.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jumlah Eritrosit</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">            Jumlah eritrosit sapi bali menunjukkan 5.2 juta/ml, bila dibandingkan dengan hasil penelitiannya Sri Wahyuni dan Benni Matram (1983) yang didapat hasil 5,6 juta/mm3, serta hasil dari Utama dkk. (2001) yaitu 4.8 juta/mm3 maka ada diantara keduanya. Namun demikian lebih rendah bila dibandingkan  dengan jumlah eritrosit sapi <em>Bos Taurus</em>. Dengan demikian jumlah eritrosit sapi bali memang secara normal (status fisiologis) ada di bawah <em>Bos Taurus </em>yaitu 5.2 juta/ml.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kadar hemoglobin</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>            </strong>Gambaran<strong> </strong>kadar hemoglobin darah menunjukkan 8,7 gr%, sedangkan Sri Wahyuni dan Benni Matram (1983) mendapatkan hasil 8,9 gr%, dan Utama dkk. (2001) melaporkan 8,5 – 12 gr%. Bila dibandingkan di antara ketiganya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Namun demikian kadar hemoglobin darah sapi bali secara fisiologis lebih rendah dari pada kadar hemoglobin darah sapi <em>Bos Taurus</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Packet Cell Volume (hematokrit)</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Hasil penelitian menunjukkan persentase hematokrit adalah 29,2 %, ini juga tidak berbeda nyata dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni dan Benni Matram 1983 (29 %), dan  Utama dkk. 2001 (29 – 32,5%).  Utama (2001) melaporkan bahwa profil darah sapi bali menciri anemia, pada sapi-sapi yang kondisinya tidak baik yaitu leleran eksudat di vulva, demodekosis, distokia, kurus, hematuria dan diare. Sri Wahyuni dan Benni Matram (1983) melaporkan bahwa hematologi sapi bali berada pada batas minimal dari range sapi Indicus, selanjutnya dikatakan bahwa gambaran ini tidak anemia, melainkan secara normal sapi bali mempunyai hematologi seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">            Apabila dihubungkan  dengan penampilan sapi yang secara klinis sehat dan didapatkan hasil profil eritrosit seperti pada Tabel 1, maka dapat dipastikan bahwa profil tersebut menunjukkan normal yakni tidak dalam keadaan kurang darah (anemia).  Bahan makanan yang dikonsumsi oleh sapi bali mungkin bukan merupakan penyebab. Secara klinis sapi-sapi yang disembelih di RPH Sanggaran dalam kondisi baik. Dilain fihak sapi bali merupakan sapi yang mempunyai konversi pakan yang baik, termasuk sifat sapi bali dapat hidup pada lingkungan atau tempat yang tidak cocok.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Indek Sel Darah Merah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Rata-rata volume satu sel darah merah (MCV) 56.2 fl dan berat hemoglobin dalam tiap selnya (MCH) 16.7 pg adalah lebih besar dari pada sapi <em>Bos Taurus</em>. Akan tetapi mempunyai rata-rata kadar hemoglobin yang lebih besar. Ini artinya sel darah merah sapi bali betina mempunyai volume yang lebih besar, akan tetapi mempunyai kadar hemoglobin di setiap selnya (MCHC) rendah.</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong style="text-align: center;">SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Simpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa gambaran sel darah merah  sapi bali (tergolong genus <em>bos Sondaicus</em>) normal berada di bawah sapi bos Taurus yaitu  : total eritrosit 5,2 juta/mm, kadar Hb darah 8,7 gr%, dan PCV atau hematokrit 29,2 %. Mempunyai berat hemoglobin di setiap sel eritrosit yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian mempunyai. Ukuran sel darah merah lebih besar, berat hemoglobin di setiap sel darah merah juga lebih besar. Gambaran tersebut bukan anemia melainkan memang secara normal atau dalam keadaan fisiologis gambaran darah sapi bali ada dibawah gambaran sapi jenis <em>Bos Taurus</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Disarankan dilakukan pengamatan lanjutan dengan menggunakan alat automatic dan pengambilan sampel langsung dari lapangan dengan jumlah sample yang lebih banyak serta di perhatikan lingkungan dan bahan makanan yang dikonsumsi, sehingga didapat hasil yang lebih akurat.</p>
<p style="text-align: center;"><strong> </strong><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Coles, EH. 1980. Veterinary Clinical Pathology. 3rd Ed. WP Sanders CAPhiladelphia,London,Toronto.</p>
<p style="text-align: justify;"> Darmadja, D. 1990. Prospek Sapi Bali Dalam Kaitannya dengan Konsulidasi Peternakan Indonesia. Latihan Identifikasi Penyakit Jembrana BCDEV-IFAD. Denpasar.</p>
<p style="text-align: justify;"> Duke, HH. 1970. Duke’s Physiology of Domestic Animals. Comstock Pub., Asso. A division of CornellUniv. Press Itacha and London</p>
<p style="text-align: justify;"> Eckert, E. and D. Randall. 1978. Animal Physiology. W.H. Freeman and Co. San Fransisco.</p>
<p style="text-align: justify;"> Hartaningsih, N., IG Sudana, dan M Malole 1983 Gambaran Darah Sapi Bali di Bali. Hemera Zoa 71 : 155 – 160.</p>
<p style="text-align: justify;"> Ismed Pane. 1990. Upaya Peningkatan Mutu Genetik Sapi Bali di P3 Bali. Kumpulan Makalah Utama dan Abstrak. Fapet, Unud. Denpasar.</p>
<p style="text-align: justify;"> Jain, NC. 1986. Scalm’s Veterinary Haematology. 4<sup>th</sup> Ed. Lea and Febiger.Philadelphia.</p>
<p style="text-align: justify;"> Kusumaningsih, A. 2002. The Use of Bali ”Breed”. Makalah Falsafah Science, Pragram Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;"> Sri Wahyuni dan Benni Matram. 1983. Observasi Pada Hematologi Sapi Bali. Proceedings. Petemuan Ilmiah Ruminansia Besar.Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan, BPPP Deptan. H. 177-180.Bogor.</p>
<p style="text-align: justify;"> Utama, IH. 2001. Karakteristik Anemia Sapi Bali. Jurnal Veteriner. Fakultas Kedokteran Hewan, Unud. Vol. 2, No. 1 :  13-16. Denpasar.</p>
<p style="text-align: justify;"> Yupardhi, WS. 1999. Evaluation on Physiological Responses of Working Bali Cattle. Buletin Peternakan. Fapet UGM. Yogyakarta. h. 64-70.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-sel-darah-merah-sapi-bali-studi-rumah-potong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>STRONGYLOIDOSIS PADA ANAK BABI   PRA-SAPIH</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/strongyloidosis-pada-anak-babi-pra-sapih/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/strongyloidosis-pada-anak-babi-pra-sapih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Aug 2011 02:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 2 AGUSTUS 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=607</guid>
		<description><![CDATA[(Strongyloidosis in Piglet) Ida Bagus Made Oka, I Made Dwinata Laboratorium Parasitologi, Fakultas kedokteran hewan, Universitas Udayana E-mail : moka@fkh.unud.ac,id  ABSTRAK  Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui keterlibatan atau kontribusi   strongyloidosis ransomi terhadap diare pada anak babi pra sapih pada peternakan babi di Bali. Dilakukan penelitian 501 tinja anak babi pra-sapih yang berasal dari kabupaten Badung, Tabanan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;" align="center"><strong><em>(Strongyloidosis in Piglet)</em></strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong style="text-align: justify;">Ida Bagus Made Oka, I Made Dwinata</strong></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>Laboratorium Parasitologi, Fakultas kedokteran hewan, </em><em style="text-align: justify;">Universitas Udayana</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em>E-mail : moka@fkh.unud.ac,id</em></p>
<p style="text-align: center;" align="center"><em> </em><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p style="text-align: justify;"> Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui keterlibatan atau kontribusi   <em>strongyloidosis ransomi</em> terhadap diare pada anak babi pra sapih pada peternakan babi di Bali. Dilakukan penelitian 501 tinja anak babi pra-sapih yang berasal dari kabupaten Badung, Tabanan dan Gianyar. Untuk mengetahui adanya infeksi cacing tersebut, dilakukan pemeriksaan telur cacing secara mikroskopis dengan metoda Sodium Acetic Foemaldehid (SAF). Data yang didapat dianalisis secara statistik dengan uji Fischer/Chi Qwadrat Test.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil penelitian didapatkan prevalensi infeksi cacing <em>Strongyloides ransoni </em>pada anak babi pra-sapih sebesar 7,4%. Hasil analisa statistik didapatkan adanya hubungan yang nyata antara infeksi <em>Strongyloides ransoni</em> dengan diare, dimana anak babi yang terinfeksi <em>Strongyloides ransoni</em> kemungkinannya 6 kali lebih sering menderita diare dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi.</p>
<p style="text-align: justify;"> Kata kunci : Cacing <em>Strongyloides ransoni</em>, anak babi pra-sapih</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>ABSTRACT</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center">               The Research was conducted to determine the  contribution <em>Strongyloides ransomi </em>against diarrhea in piglets on pig farms inBali. The number of sample 501  piglets feces from  Badung, Tabanan and Gianyar. The examination of  worm eggs with Sodium Acetic Foemaldehid method (SAF). The data obtained were analyzed statistically with Fischer test / Chi Qwadrat Test.</p>
<p style="text-align: justify;">             The results was obtained <em>the</em> prevalence of <em>Strongyloides ransomi</em>  in piglets of 7.4%.  The results was found a significant relationship between infection <em>Strongyloides ransomi</em> with diarrhea, where the infected piglets <em>Strongyloides ransomi</em> higher risk ( OR=6 )  than of piglets uninfected.</p>
<p style="text-align: justify;">Keywords: <em>Strongyloides ransomi</em> , piglets</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong>Ternak Babi di Bali merupakan salah satu ternak yang mempunyai peran penting dalam pemenuhan protein hewani dan pelengkap tradisisi keagamaan. Populasi ternak babi di Bali pada tahun 2004 tercatat sebagai berikut : babi Bali sebanyak 298.614 ekor, babi Saddleback dan persilangannya sebanyak 175.942 ekor dan babi Landrace dan persilangannya sebanyak 818.300 ekor (Data Dinas Peternakan Propinsi Bali tahun 2004). Kendala utama yang dihadapai oleh peternakan babi di Bali maupun di daerah lain adalah tingginya kematian anak babi sebelum disapih (pra-sapih) yang dikenal dengan istilah <em>preweaning mortality</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus yang sering menyebabkan kematian pada anak babi pra sapih adalah diare, abnormalitas waktu lahir, perubahan temperatur yang cukup tajam, kolostrum yang kurang memadai serta hygiene yang jelek. Diare pada anak babi pra sapih merupakan masalah yang sulit dipecahkan pada peternakan babi (Svensmark <em>et al.</em> 1989). Penyebab utama terjadinya diare pada anak babi pra sapih adalah penyakit infeksius yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun parasit, dan atau kombinasi ketiga agen penyebab tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Penelitian tentang keberadaan parasit <em>Strongyloides ransomi</em> pada anak babi pra-sapih di Bali maupun daerah lain di Indonesia belum pernah dilaporkan, Oleh karena itu tema ini sangat menarik<strong> </strong>untuk diteliti di Bali.</p>
<p style="text-align: center;"> <strong>METODA PENELITIAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;"> <strong>Sampel Penelitian</strong></p>
<p style="text-align: justify;"> Peternak yang akan dipakai sebagai obyek penelitian dipilih secara acak dari bebepara kabupaten di Bali, berdasarkan informasi Dinas Peternakan Daerah Tingkat II (Kabupaten). Pengambilan feses dilakukan secara langsung melalui rektum, untuk merangsang keluarnya feses dilakukan beberapa kali pijatan pada bagian perut yang dilanjutkan dengan melakukan rangsangan di bagian anus. Feses yang keluar dimasukkan kedalam tabung feses yang mengandung larutan SAF. Feses yang diteliti berasal dari berbagai umur 1-7 hari, 8-14 hari, 15-21 hari, 22-28 hari, 29 – 35 hari  dan36 – 42 hari.</p>
<p style="text-align: justify;"> <strong>Cara Pemeriksaan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemeriksaan Feses dengan Methode SAF (Martin dan Escher, 1990). Pada penelitian ini parameter yang diamati adalah ditemukannya telur cacing <em>Strongyloides ransomi</em> pada pemeriksaan mikroskopis secara SAF feses anak babi pra-sapih. Prevalensi infeksi ditentukan dengan rumus :</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/oKA1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-608" title="oKA1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/oKA1-300x41.jpg" alt="" width="300" height="41" /></a></p>
<p style="text-align: justify;">Ditemukannya telur cacing <em>strongyloides ransomi </em>berbentuk oval dengan larva didalamnya pada feses dinyatakan dengan hasil postif. Untuk mengetahui hubungan antara kejadian diare dengan adanya parasit pada saluran pencernaan  dianalisa dengan uji Fischer/Chi Qwadrat Test (Stell and Torrie, 1989).</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong> </strong><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong><strong> </strong><strong>Prevalensi Infeksi <em>Strongyloides ransomi</em> pada Anak Babi di Bali</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>            Hasil pemeriksaan sediaan mikoskopis dengan metoda SAF terhadap 501 feses anak babi pra-sapih yang berasal dari kabupaten Tabanan, Badung dan Gianyar didapatkan terinfeksi cacing <em>Strongyloides ransomi</em> pada 37 ekor (7,4%).</p>
<p style="text-align: justify;">            Prevalensi infeksi cacing <em>Strongyloides ransomi</em> pada babi pra-sapih di Bali sebesar 7,4%,  lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil penelitian Nganga, <em>et al</em> (2008) di Kenya sebesar  4,3%. Jika dihubungkan dengan siklus hidup dari cacing, anak babi yang diteliti pra sapih berumur ( 1 -  42 hari), tentu saja sebagai sumber infeksi utamanya adalah melalui kolostrum, diikuti dengan tertelannya L3 bersama makanan – minuman  dan atau melalui penetrasi kulit. Tingginya prevalensi membuktikan bahwa induk-induk babi di Bali sudah terinfeksi cacing <em>S. ransomi</em> secara laten dan akan menularkan ke anaknya melalui  kolostrum setelah menyusui. Peternak babi di Bali belum intensif memberikan obat cacing terutama menjelang melahirkan, sehingga setelah anak lahir dan menyusu langsung terinfeksi lewat kolostrum.</p>
<p style="text-align: justify;">            Hasil penelitian ini (7,4%) lebih rendah dibandingkan dengan hasil yang didapatkan Yasa dan Guntoro (2004) di Bangli (Bali) di dapatkan 13%. Perbedaan hasil yang didapat dipengaruhi oleh jenis babi, karena setiap jenis babi memiliki kepekaaan yang berbeda terhadap infeksi cacing (Tizard, 1988). Selain itu juga dipengaruhi oleh perbedaan umur babi, secara terori  semakin bertambah umur babi kekebalan terhadap cacing akan semakin meningkat atau dengan kata lain semakin meningkat umur prevalensinya akan semakin rendah (Murrel, 1981; Tizard, 1988). Dari hasil penelitian ini mengindikasikan terbentuknya kekebalan tidak berperan nyata terhadap jumlah kejadian pada populasi (prevalensi infeksi), tetapi mungkin lebih berperan didalam menghambat berat – ringannya jumlah infeksi (intensitas infeksi). Hasil penelitan didapat semakin meningkat umur prevalensinya juga semakin tinggi, tingginya prevalensi belum tentu  intensitasnya juga tinggi atau bahkan sebaliknya. Selain itu jika pada umur kecil (anak) babi tidak pernah terinfeksi, maka setelah dewasa dan terjadi infeksi menyebabkan prevalensinya juga akan tinggi. Salain jenis, dan umur babi, prevalensi secara umum juga dipengaruhi oleh kondisi wilayah, jenis kelamin dan cara pemeliharaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Prevalensi Infeksi <em>Strongyloides ransomi</em> pada Berbagai Umur Anak Babi Pra-sapih di Bali.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">            Anak babi yang diteliti adalah anak babi pra-sapih sampai umur diatas 6 minggu (peternak umumnya melakukan penyapihan antara umur 35 sampai 45 hari). Prevalensi infeksi <em>Strongyloides ransomi</em> pada berbagai umur anak babi pra-sapih disajikan dalam diagram 1 berikut :</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2011/08/oKA23.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-617" title="oKA2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2011/08/oKA23-300x101.jpg" alt="" width="300" height="101" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Diagram 1. Prevalensi infeksi <em>Strongyloides ransomi</em> pada Berbagai Umur Anak Babi</p>
<p style="text-align: justify;">Dari diagram 1 diatas, nampak bahwa prevalensi cacing <em>Strongyloides ransomi</em> pada berbagai umur adalah sebagai berikut : umur 1 &#8211; 7 hari sebesar 7,9%, umur 8 – 14 hari sebesar 10,9%, umur 15 – 21 hari sebesar 11,2%, umur 22 – 28 hari sebesar 1,6%, umur 29 – 35 hari sebesar 2,9% dan umur 36 – 42 hari sebesar 0%</p>
<p style="text-align: justify;">            Prevalensi infeksi mulai umur 1- 7 hari sebesar 7,9%, meningkat setelah umur 8 – 14 hari dan tertinggi pada umur 15 – 21 hari sebesar 11,2 % dan setelah itu akan turun dan mencapai 0% pada hari ke 36 – 42. Secara siklus hidup anak babi yang baru lahir akan terinfeksi oleh induknya melalui kolostrum sejak awal menyusu sampai hari ke-20. Menurut Tizard (1988) sejak mulai terinfeksi, di dalam tubuh babi akan terbentuk kekebalan dan mencapai puncaknya 10 – 14 hari setelah infeksi. Ini membuktikan pada penelitian ini anak babi terinfeksi sejak awal menyusu dan jika dihubungkan dengan masa pepaten cacing selama 2 – 4 hari (Kaufmann, 1996), sehingga cacing akan mengeluarkan telur sekitar hari ke-5. Semakin hari infeksi akan semakin bertambah banyak (melalui kolostrum, per-oral dan penetrasi kulit) dan infeksi terbanyak setelah anak babi berumur 8 – 14 hari. Kekebalan  optimal dicapai setelah berumur 22 – 42 hari, ini terbukti dengan semakin meningkatnya umur didapatkan prevalensi infeksi yang semakin rendah.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil yang didapat juga sesuai dengan yang dilaporkan oleh (Murrel, 1981), anak babi yang terinfeksi cacing <em>Strongyloides ransomi</em>, apabila terjadi kesembuhan akan memiliki daya kebal yang cukup tinggi terhadap reinfeksi, sehingga penyakit ini jarang dijumpai pada babi yang lebih tua.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hubungan Antara Infeksi <em>Strongyloides ransomi </em>dengan Diare</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>            Dari 501 feses anak babi pra-sapih yang diteliti, 78 ekor menderita diare dan 423 ekor tidak menderita diare. Hasil pemeriksaan tinja babi yang menderita diare sebanyak 78 ekor, didapatkan 17 ekor (28,8%) terinfeksi <em>Strongyloides ransomi </em>dan anak babi yang tidak menderita diare sebanyak 423 ekor, ditemukan 20 ekor (4,7%) terinfeksi <em>Strongylus ransomi.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>            Prevalensi infeksi cacing <em>Strongylus ransomi</em> dan hubungannya dengan diare disajikan dalan diagram (2) berikut :</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/oKA3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-610" title="oKA3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/oKA3.jpg" alt="" width="517" height="348" /></a></p>
<p style="text-align: center;">Diagram 2. Prevalensi Infeksi <em>Strongyloides ransomi</em> dan Hubungannya dengan Diare</p>
<p style="text-align: justify;">            Dari diagram 2 diatas, nampak prevalensi<strong> </strong>infeksi cacing Strongyloides ransomi pada anak babi pra sapih yang menderita diare sebesar 28,8%, sedangkan yang tidak diare sebesar 4,7%. Dari hasil yang didapat setelah dianalisis secara statistik dengan Chi Qwadrat Test didapatkan nilai odd ratio sebesar 5,6 yang artinya anak babi pra sapih yang terinfeksi Strongyloides ransoni  kemungkinannya 6 kali lebih sering menderita diare dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil penelitian sesuai dengan pernyataan Murrel, 1981; Soulsby, 1982, gejala klinis  infeksi  <em>S. ransomi</em> salah satunya yang teramati adalah diare berdarah. Diare terjadi, karena predileksi <em>S. ransomi</em> adalah pada usus halus, terutama cacing betina akan menyebabkan iritasi serta peradangan pada mukosa usus halus. Secara histologis akan nampak perubahan pada mukosa usus halus terutama epithelium dan lamina propria (Enigk, 1952). Sel sel epithel banyak yang pecah,  menyebabkan peningkatan permeabilitas mukosa usus halus sehingga menyebabkan keluarnya protein plasma dari sistem sirkulasi ke lumen usus (Murray <em>et al.</em>, 1971).</p>
<p style="text-align: justify;">            Dari hasil penelitian ini membuktikan bahwa diare pada anak babi pra sapih selain disebabkan oleh infeksi <em>S. ransoni</em>, juga disebabkan oleh infeksi lainnya bahkan juga oleh sebab lain yang non infeksius</p>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<p style="text-align: justify;" align="center"><strong> </strong><strong>Simpulan</strong></p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Prevalensi cacing <em>Strongyloides ransomi</em> pada anak babi pra-sapih di Bali, sebesar 7,4% .</li>
<li>Prevalensi cacing <em>Strongyloides ransomi</em> pada umur  0 -7 hari sebesar 7,9%, 8 – 14 hari sebesar 10,9%, 15 – 21 hari sebesar 11,2%, 22 – 28 hari sebesar 1,6%, 29 – 35 hari sebesar 2,9% dan 36 – 42 hari sebesar 0%</li>
<li>Anak babi pra-sapih yang terinfeksi <em>Strongyloides ransomi</em>, kemungkinan menderita diare 6X lebih sering dibandingkan dengan yang tidak terinfeksi</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saran</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong>Dari hasil penelitian yang didapat prevalensi infeksi <em>S. ransomi</em> pada anak babi pra sapih sebesar 7,4%, disarankan kepada peternak babi untuk mengobati babinya yang terinfeksi dan secara rutin melakukan pengobatan menggunakan obat cacing untuk mencegah infeksi.</p>
<ol style="text-align: justify;" start="1">
<li>Karena cara penularan infeksi cacing <em>S. ransomi</em> melalui kolostrum, per oral dan per kutan, maka disarankan agar peternak babi mengobati induk babi menjelang melahirkan, menjaga sanitasi kandang agar makanan, minuman dan kantang tidak terkontaminasi oleh larva infektif.</li>
<li>Selain itu jika salah satu babi peliharaannya ada yang terinfeksi, sebaiknya babi terinfeksi diisolasi dan diobati sampai sembuh dan kandang tempat pemeliharaan didisinfeksi sampai terbebas dari larva cacing.</li>
</ol>
<p style="text-align: center;" align="center"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dinas Peternakan Propinsi, 2004, Informasi Peternakan Propinsi Bali. Dinas Peternakan Propinsi Bali, Denpasar</p>
<p style="text-align: justify;">Kauffman J., 1996, Parasitic Infections of Domestic Animals.  A Diagnostic Manual. Birkhaeuser. Basel-Boston-Berlin.</p>
<p style="text-align: justify;">Marti H<strong>.</strong> und E. Escher, 1990, SAF-Eine Alternative Fixierloesung Fuer Parasitologische Stuhluntersuhungen. Schweiz.  Med. Wschr. 120: 1473-1476.</p>
<p style="text-align: justify;">Murray, M., W.F.H. Jarret, F.W. Jenings, H.R.P. Miller, 1971, Structural Changes Associated with Increased Permeability of Parasitised Mucosa Membranes to Macromolecules. In Gaafar, S.M. Pathology of Parasitic Diseases. Pudue Univ. Studies, Lafayette, Ind. 197-207</p>
<p style="text-align: justify;">Murrell, K.D., 1981, Induction of Protective Immunity to Strongyloide<em>S ransomi</em> in Pigs, American Journal of Veterinary Research 42, 1915-1919</p>
<p style="text-align: justify;">Nganga.C.J; D.N. Karanja and M.N Mutune (2008). The Prevalence of Gastrointestinal Helminth Infection in Pig in Kenya. Tropical Animal Health and Production. Vol. 40, No. 5. Juin 2008.</p>
<p style="text-align: justify;">Soulsby, E.J.l, 1982, Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animals. 7th Ed. Bailliere Tindal.</p>
<p style="text-align: justify;">Stell, R.G.D and J.H. Torrie (1989). Prinsip dan Prosedur Statistika, Suatu Pendekatan Statistika. Alih Bahasa Bambang Sumantri, Edisi ke-2, Penerbit PT. Gramedia, Jakarta.</p>
<p style="text-align: justify;">Svensmark, B., J. askaa, C. Wolstrup and K. Nielsen, 1989, Epidemiological Studies of piglet Diarrhoea in Intensively Managed Danisch Sow Herds. Acta Veterinaria Scandinavica. 30. 71-76.</p>
<p>Tizard, I; 1988. Pengantar Imunologi Veteriner. Penerjemah Masduki Partodiredjo. Airlangga University Press.</p>
<p>Yasa<strong>,</strong> R.I.M dan S. Guntoro, Prevalensi Infeksi Cacing Gastrointestinal pada Babi (Studi Kasus pada Pengkajian Penggemukan Babi di Desa Sulahan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli Bali).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/strongyloidosis-pada-anak-babi-pra-sapih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karakterisasi Fisikokimia Bakteriosin yang Diekstrak  dari Yoghurt</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/karakterisasi-fisikokimia-bakteriosin-yang-diekstrak-dari-yoghurt/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/karakterisasi-fisikokimia-bakteriosin-yang-diekstrak-dari-yoghurt/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 Feb 2011 09:55:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 1 PEBRUARI 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=562</guid>
		<description><![CDATA[(PHYSICOCHEMICAL CHARACTERIZATION OF BACTERIOCIN EXTRACTED FROM YOGURT) I Nyoman Suarsana Laboratorium Biokimia, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Denpasar, Bali. E-mail:suarsana65@yahoo.com ABSTRAK Beberapa tahun terakhir, kelompok  antimikroba peptida, terutama yang dihasilkan dari bakteri asam laktat dalam yoghurt telah banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan sebagai antibakterial dan biopreservasi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisasi fisikokimia dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" align="center">
<p class="MsoNormal" align="center"><span class="shorttext"><em><span lang="IN">(P</span></em></span><span class="shorttext"><em>HYSICOCHEMICAL <span lang="IN"> C</span></em></span><span class="shorttext"><em>HARACTERIZATION OF BACTERIOCIN <span lang="IN"> E</span></em></span><span class="shorttext"><em>XTRACTED FROM YOGURT<strong><span lang="IN">)</span></strong></em></span><strong><em></em></strong></p>
<p class="MsoNormal" align="center">
<p class="MsoNormal" align="center"><strong><span lang="IN">I Nyoman Suarsana</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" align="center">
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span lang="IN">Laboratorium Biokimia, Fakultas Kedokteran Hewan,</span></em></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span lang="IN">Universitas Udayana, Denpasar, Bali.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><em><span lang="IN">E-mail:suarsana65@yahoo.com</span></em></p>
<p class="MsoNormal" align="center">
<p class="MsoNormal" align="center">
<p class="MsoNormal" align="center"><strong><span lang="IN">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Beberapa tahun terakhir, kelompok  antimikroba peptida, terutama yang dihasilkan dari bakteri asam laktat dalam yoghurt telah banyak dimanfaatkan dalam bidang kesehatan sebagai antibakterial dan biopreservasi pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui<strong> </strong>karakterisasi<strong> </strong>fisikokimia dan sifat-sifat antimikrobial bakteriosin yang diekstrak dari yoghurt. Bakteri penguji yang digunakan bakteri <em>Saphylococcus aureus</em> (Gram positif) dan <em>Eschericia coli </em>(Gram negatif). Guna mengetahui karakterisasi fisikokimia dilakukan uji meliputi pengaruh pH, lama pemanasan,  penentuan pH optimum, dan pengaruh enzim proteolitik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteriosin yang diekstrak dari yoghurt mampu menghambat pertumbuhan bakteri <em>S.aureus, </em>dan <em>E. coli</em>. Selain itu, mempunyai sifat-sifat fisikokimia, yaitu aktif optimum pada pH 5, stabil terhadap pemanasan sampai 121<sup>o</sup>C selama 15 menit, dan sensitif terhadap enzim proteolitik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Kata kunci: bakteriosin, sifat fisikokimia, enzim proteolitik, yoghurt.</p>
<p style="text-align: center;"><span lang="IN"><strong> ABSTRACT</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span class="hps"><span lang="EN">In recent years,</span></span><span lang="EN"> <span class="hps">groups of</span> <span class="hps">antimicrobial</span> <span class="hps">peptides</span>, <span class="hps">mainly</span> <span class="hps">produced</span> <span class="hps">from</span> <span class="hps">lactic</span> <span class="hps">acid</span> <span class="hps">bacteria</span> <span class="hps">in</span> <span class="hps">yoghurt</span> <span class="hps">has been used extensively</span> <span class="hps">in the</span> <span class="hps">health field</span> <span class="hps">as an</span> <span class="hps">antibacterial</span> <span class="hps">and</span> food <span class="hps">biopreservative</span>. <span class="hps">This aims of this study</span> <span class="hps">to determine</span> <span class="hps">the physicochemical</span> <span class="hps">characterization</span> <span class="hps">and</span> <span class="hps">antimicrobial</span> <span class="hps">properties of</span> <span class="hps">bacteriocin</span> <span class="hps">which</span> <span class="hps">extracted</span> <span class="hps">from the</span> <span class="hps">yoghurt</span>.  We used <span class="hps">Saphylococcus</span> <span class="hps">aureus</span> <span class="hps">and</span> <span class="hps">Eschericia</span> <span class="hps">coli bacteria for this trial. We examined  physicochemical</span> <span class="hps">characters of the bacteriocin such as pH, thermal stability, and proteolytic effect. Also, we conducted the antimicrobial activties to S. aureus and E. coli. The results</span> <span class="hps">showed</span> <span class="hps">that the</span> <span class="hps">bacteriocin</span> <span class="hps">which</span> <span class="hps">extracted</span> <span class="hps">from the</span> <span class="hps">yoghurt</span> <span class="hps">could</span> <span class="hps">inhibit</span> <span class="hps">the growth of</span> <span class="hps">bacteria</span> <span class="hps">S.aureus</span>, <span class="hps">and</span> <span class="hps">E.</span> <span class="hps">coli</span>. In order to, bacteriocin <span class="hps">have</span> <span class="hps">physicochemical</span> <span class="hps">properties</span>, such as  <span class="hps">optimum</span> active <span class="hps">at</span> <span class="hps">pH</span> <span class="hps">5</span>, <span class="hps">is stable</span> <span class="hps">against</span> <span class="hps">heating</span> <span class="hps">up to</span> <span class="hps">121</span></span>°<span class="hps"><span lang="EN">C</span></span><span lang="EN"> <span class="hps">for</span> <span class="hps">15</span> <span class="hps">minutes</span>, <span class="hps">and</span> <span class="hps">sensitive</span> <span class="hps">to</span> <span class="hps">proteolytic</span> <span class="hps">enzymes</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Key word:  bacteriocin, characterization of physicochemical, proteolytic enzyme, yoghurt.</p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-align: center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bakteriosin secara alami dihasilkan oleh bakteri asam laktat (BAL), termasuk diantaranya bakteri yang digunakan dalam pembuatan yoghurt. Bakteriosin didefisinikan sebagai suatu senyawa protein yang memiliki bobot molekul kecil dan mempunyai aktivitas sebagai antibakterial atau bakeriostatik (Diop <em>et al</em>., 2007). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Produk utama dari BAL pada fermentasi glukosa  atau sukrosa adalah asam laktat, tetapi banyak  laporan ilmiah yang membuktikan bakteri BAL ini mampu menghasilkan metabolit asam organik, hidrogen peroksida, dan bakteriosin yang bersifat sebagai  antimikroba (</span><span lang="IN">Leroy, 2007).</span><span lang="IN"> Senyawa antimikroba ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan atau Gram negatif, termasuk bakteri patogen dan bakteri pembusuk. Subtansi antimikroba yang dihasilkan oleh BAL ini dikenal dengan nama bakteriosin (</span><span lang="IN">Papagianni  <em>et al</em>., 2006; Diop <em>et al</em>., 2007). </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bakteriosin adalah molekul yang mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Karena sifat antimikrobial inilah, bakteriosin sering digunakan sebagai biopreservatif (</span><span lang="IN">Twomey <em>et al</em>., 2002)</span><span lang="IN">. Telah dilaporkan bahwa bakteriosin secara luas dapat menghambat pertumbuhan  bakteri Gram positif dan Gram negatif. </span><span lang="IN">Norman <em>et al</em> (2005) melaporkan bakterisoin yang dihasilkan oleh <em>Paenibacillus polymyxa </em>mampu menghambat bakteri <em>Campylobacter,</em> yang merupakan bakteri penyebab penyakit <em>foodborne. </em> Demikian juga dengan bakteriosin Hc5 (Bovicin Hc5) yang dihasilkan <em>Streptococcus bovis</em> mampu menghambat bakteri <em>Clostridium aminophilum </em>(Mantovani dan Russell, 2002).  Bakteriosin dari BAL mampu menghambat pertumbuhan <em>Staphylococus aureus</em>, <em>Listeria monocytogenes</em>, <em>Bacillus subtilis</em> dan <em>Micrococcus luteu </em>(</span><span lang="IN">Diop <em>et al</em>.,  2007)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Sejumlah sifat fisikokimia secara umum telah diteliti untuk memberikan informasi tentang komposisi dan struktur bakteriosin. </span><span lang="SV">Beberapa sifat bakteriosin dapat ditinjau dari segi kimia (pH), fisika (kestabilan terhadap pemanasan), dan sensitivitas terhadap enzim pencernaan (Jack  <em>et al</em>., 1996). Berbagai hasil penelitian umumnya menyatakan bahwa bakteriosin yang dihasilkan oleh BAL mempunyai sifat tahan panas terhadap pengolahan panas mulai dari kisaran 98°C selama 30 menit sampai 121°C selama 15 menit (Djaafar <em>et al</em>., 1995; Van den Berghe <em>et al</em>., 2006).  Aktif pada pH rendah (dibawah pH 6), serta sensitif terhadap enzim trypsin, protease, dan chymotrypsin (Van den Berghe <em>et al</em>., 2006; </span><span lang="IN">Leroy, 2007</span><span lang="SV">)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui<strong> </strong>karakterisasi<strong> </strong>fisikokimia dan sifat-sifat antimikrobial bakteriosin yang dihasilkan dari yoghurt.  Hasil penelitian diharapkan dapat memberi infomasi dasar mengenai kemampuan substansi bakterisoin yang diekstrak dari yoghurt dalam menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan negatif serta sifat-sifat fisikokimianya.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong><span lang="IN">METODE</span> PENELITIAN</strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><strong><span>Bahan</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><strong></strong><span>Bahan-bahan  dan alat yang digunakan dalam penelitian adalah yoghurt (komersial), enzim papain (Sigma P3125), enzim protease (Sigma P2143) dan ekstrak pankreas. </span><span>Media MRS broth</span><span>dan MRS agar (Difco), Todd Hewith Broth (Difco), Nutrien Agar (Difco), kertas filter (milipore corperation Belpord MA. 01730) diameter 0,22 </span><span>m</span><span>m. NaOH 0,1 M, HCl 0,1 M.  Alat yang digunakan berupa: tabung reaksi, ose platina, bunsen, cawan petri, gelas ukur dengan berbagai  volume,  pipet berbagai volume, pipet  otomatis  5-50 </span><span>m</span><span>l,  sentrifius,  tabung  sentrifius, inkubator, gelas objek,  spektrofotometer,  pH meter </span><span>(Benchtop pH meter Hanna Hi-8519) </span><span>dan water bath </span><span>(Stable Temp</span><span>Ò</span><span> Utility Baths)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><strong><span lang="DA">Penyiapan bakteriosin yang diekstrak dari yoghurt</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><span lang="DA">Yoghurt disentrifugasi dengan kecepatan 20.000 rpm selama 15 menit. Supernatan yang diperoleh disaring dengan kertas filter diameter </span><span lang="DA">0,22 </span><span>m</span><span lang="DA">m. Ekstrak bakteriosin yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk penelitian penentuan aktivitas antimikroba dan sifat-sifat fisikokimia.</span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Pengujian  sifat antimikrobial bakteriosin  asal yoghurt</h3>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><span>Untuk melihat aktifitas antimikroba digunakan metode difusi sumur (<em>well diffusion agar methode</em>) dengar bakteri  penguji yaitu: <em> </em>Gram positif (<em>Staphylococcus aureus) </em>dan Gram negatif (<em>Eschericia coli).</em> </span><span lang="ES-CO">Caranya adalah: biakan bakteri penguji ditanam satu ose pada  5  ml  media  cair THB inkubasi 37<sup>0</sup>C selama  24  jam.  Biakan diukur serapan optiknya dengan nilai <em>optical density</em> (OD) 0,1 pada ? 620 nm setara dengan jumlah bakteri 1 X 10<sup>6</sup> sel/ml (Laemler <em>et al</em>., 1998) Biakan diambil 0,5 ml untuk dicampur dan diratakan diatas permukaan media MSA agar dengan gelas bengkok,  dan dibiarkan lebih kurang 10 menit.  Kemudian dibuat  lubang (sumur) dengan &#8220;gell puncher&#8221; dengan diameter  lebih  kurang 5 mm.  Sumur diisi dengan 30 </span><span>m</span><span lang="ES-CO">l  bakterisoin asal yoghurt  dan  diinkubasi  pada suhu 37<sup>0</sup>C selama 24 jam.  Sebagai kontrol menggunakan aquades steril tanpa penambahan ekstrak yoghurt.  Zona  terang  yang  terbentuk  disekeliling sumur menunjukkan  adanya  aktifitas    bakteriosin asal yoghurt terhadap bakteri penguji. </span><span>Diameter  zona  yang  terbentuk selanjutnya diukur. </span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Penentuan karakterisasi fisikokimia bakterisoin asal yoghurt.</h3>
<h3 style="text-align: justify;">Pengaruh pH, suhu dan lama pemanasan.</h3>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Uji karakterisasi fisikokimia menggunakan metode <em>Janes et al</em>. (1999). Pada tahap ini, dibuat larutan bakteriosin  asal yoghurt dan disesuaikan pH-nya menjadi     3-11 dengan penambahan 0,1 M HCl untuk pH asam dan 0,1 M NaOH untuk pH basa. </span><span>Sebagai pembanding  dibuat larutan dengan pH yang sama seperti diatas tetapi tanpa penambahan ekstrak yoghurt. Larutan bakterisoin asal yoghurt dengan berbagai pH tersebut diatas dibiarkan selama 1 jam pada suhu kamar dan selanjutnya diuji aktivitas antimikroba terhadap bakteri penguji dengan menggunakan metode difusi sumur.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><span>Uji stabilitas terhadap suhu dan lama pemanasan, larutan bakterisoin asal yoghurt dengan aktivitas pada pH optimum diberi perlakuan : (1). dipanaskan 50<sup>0</sup>C selama 20 menit, (2). dipanaskan 100<sup>0</sup>C selama 20 menit dalam <em>water bath,</em> dan (3). diautoklaf  121<sup>0</sup>C selama 15 menit.  Sebagai kontrol digunakan suhu kamar (25<sup>0</sup>C) selama 20 menit. Selanjutnya aktivitas antimikrobanya diuji menggunakan metode difusi sumur dengan bakteri indikator  <em>M. varians</em> dengan tiga kali ulangan.</span></p>
<h3 style="text-align: justify;">Pengaruh enzim proteolitik.</h3>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: justify;"><span>Enzim yang digunakan adalah enzim proteolitik (papain, protease, dan ekstrak pankreas).  Uji pengaruh enzim terhadap aktivitas antimikroba menggunakan metode yang dimodifikasi </span><span>(Janes <em>et al</em>., 1999).</span><span> Sebanyak 1 ml bakteriosin asal yoghurt yang dilarutkan dengan buffer posfat 0,1 M ditambah masing-masing dengan 1 mg/ml enzim (papain, protease) dan pH disesuaikan menjadi 7. Sebagai kontrol digunakan buffer posfat.  Selanjutnya sampel diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37<sup>o</sup>C,.  Khusus untuk  ekstrak pankreas, 1 ml bakteriosin asal yoghurt ditambah dengan  0,2 ml  ekstrak pankreas dan pH disesuaikan menjadi pH 7,5. Semua perlakuan diinkubasi selama 1 jam, kemudian aktivitas enzim diinaktifkan dengan pemanasan 60<sup>o</sup>C selama 25 menit dan diuji aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi sumur dengan bakteri indikator <em>M. varians</em> dengan tiga kali ulangan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align: center;"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;">Hasil</h3>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;">Hasil uji aktivitas bakterisoin yang diekstrak dari yoghurt terhadap bakteri uji dapat dilihat dalam Tabel 1.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;">Tabel 1. Aktivitas antimikroba bakterisoin asal yoghurt terhadap bakteri uji.</p>
<table class="MsoNormalTable" style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="245">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO">Bakteri penguji</span></p>
</td>
<td valign="top" width="219">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">Diameter hambatan (mm)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="245">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><em><span lang="FR">Staphylococcus aureus</span></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><em><span lang="FR">Eschericia coli</span></em></p>
</td>
<td valign="top" width="219">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">16</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="FR">10</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Hasil uji aktivitas daya antimikroba bakterisoin pada berbagai pH disajikan pada Tabel 2. Hasil uji menunjukkan bahwa pada pH 9-11 tidak terdapat aktivitas hambatan dan aktivitas optimum diperlihatkan pada pH 5. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="FR">Tabel 2. Pengaruh pH terhadap aktivitas antimikroba bakteriosin asal yoghurt </span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="195">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="FR"> pH</span></p>
</td>
<td valign="top" width="229">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">Aktivitas hambatan (mm)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="195">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">3</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">4</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">5</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">6</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">7</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">8</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="FR">9,10, 11</span></p>
</td>
<td valign="top" width="229">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">17</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">17,5</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">18</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">14</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">10</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">3</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO">0</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Hasil uji antimikroba bakterisojn asal yoghurt terhadap pengaruh suhu dan lama pemanasan disajikan pada Tabel 3.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Tabel 3. Pengaruh suhu dan lama pemanasan terhadap aktivitas antimikroba </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR"> bakterisoinn asal </span><span lang="SV">yoghurt.</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="225">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO">Perlakuan</span></p>
</td>
<td valign="top" width="223">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO">Diameter hambatan (mm)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="225">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="SV">25<sup>o</sup>C (20 menit, kontrol)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="SV">50<sup>o</sup>C (20 menit) </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO">100<sup>o</sup>C (20 menit)</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO"> 121<sup>o</sup>C (15 menit)</span></p>
</td>
<td valign="top" width="223">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">18</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">18</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">14</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: center;"><span lang="ES-CO">9</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;">
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Hasil uji pengaruh enzim proteolitik terhadap aktivitas  antimikroba bakterisoin asal yoghurt disajikan pada Tabel 4.  Hasil uji menunjukkan aktivitas daya hambat antimikroba bakterisoin asal yoghurt menurun setelah diberi perlakuan dengan digesti enzim protein.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Tabel 4. Pengaruh enzim terhadap aktivitas antimikroba bakteriosin asal  yoghurt.</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="200">
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="ES-CO">Perlakuan</span></p>
</td>
<td valign="top" width="223">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">Diameter hambatan (mm)</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="200">
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="ES-CO">Kontrol</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="ES-CO">Enzim protease</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="ES-CO">Enzim papain</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span lang="ES-CO">Ekstrak pankreas</span></p>
</td>
<td valign="top" width="223">
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">18</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">6</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">7</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" align="center"><span lang="ES-CO">4</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;">
<h3 style="text-align: justify;">Pembahasan</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Pada Tabel 1 terlihat bakteriosin asal yoghurt mampu menghambat bakteri <em>S. auresus</em> (Gram positif) dan <em>E.coli </em>(Gram negatif).  Kemampuan ini disebabkan karena adanya bakterisoin yang dihasilkan oleh BAL dalam pembuatan yoghurt, yang memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri.  Bakteri asam laktat (BAL) yang digunakan sebagai starter yoghurt dapat menghasilkan substansi antimikroba, yang kemudian diketahui sebagai  bakteriosin (Bintang, 1999 ; dan Weinbrenner  <em>et al</em>., 1997).  Selain itu, penghambatan antimikroba juga disebabkan oleh metabolit sekunder yang dihasilkan oleh BAL dalam yogurt seperti asam organik, hidrogen peroksida, dan diasetil (<span>Leroy, 2007)</span>.  <span class="longtext"><span>Dalam makanan difermentasi seperti yoghurt, bakteri asam laktat (BAL) memiliki berbagai aktivitas antimikroba. </span>Hal ini terutama selain disebabkan oleh produksi <span>asam organik, tetapi juga senyawa lain, seperti peptida dan bacteriosin (</span></span>Weinbrenner  <em>et al</em>., 1997 ; <span class="longtext"><span>Lorey dan </span></span></span><span lang="FR">De Vuyst</span><span class="longtext"><span lang="FR">, 2004) </span></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Pada penelitian ini, bakteri Gram positif lebih efektif dihambat dibandingkan dengan bakteri Gram negatif,  hal ini disebabkan karena perbedaan struktur dinding sel antara bakteri Gram positif dan Gram Negatif.  Gram negatif lebih banyak mengandung peptidoglikan, yang menyebabkan baktrisoin lebih sulit untuk menembus dinding sel bakteri Gram negatif. Hal sesuai dengan pernyataan Cintas <em>et al</em>., (1996) dan Leroy  (2007), bahwa susbtansi antimikroba yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat (BAL) lebih efektif menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dibanding dengan bakteri Gram negatif.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Bakteriosin tidak hanya mampu membunuh bakteri-bakteri yang memiliki kedekatan spesies dengan bakteri penghasil bakteriosin, tetapi juga dilaporkan mempunyai aktivitas spektrum yang luas terhadap bakteri Gram positif (Garneau <em>et al</em>., 2002). Berbagai hasil penelitian umumnya menyatakan bahwa bakterison yang dihasilkan oleh BAL mempunyai sifat tahan panas terhadap pengolahan panas, aktif pada pH rendah dan sensitif terhadap ensim proteolitik.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">PH berpengaruh terhadap aktivitas antimikrobial bakteriosin asal yoghurt. Bakterisoin asal yoghurt mempunyai aktivitas optimum pada pH 5 dengan hambatan seluas 18 mm.  Hasil penelitian Mehta <em>et al</em>. (1983) mendapatkan bahwa bakterisoin dihasilkan bakteri <em>Lactobacillus acidophilus</em> mempunyai aktivitas soptimum pada kisaran nilai pH 4-5.  Aktivitas bakteriosin berkurang seiring dengan meningkatnya nilai pH mendekati pH basa, bahkan pada pH 9, 10 dan 11, bakterisoin asal yoghurt tidak mampu menghambat pertumbuhan bakteri penguji.  Menurut Jack <em>et al</em>. (1996), semakin tinggi pH aktivitas bakteriosin akan berkurang, hal ini terlihat pada bakteriosin piscicolin aktivitasnya hilang pada pH tinggi mendekati pH 8.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR"> Suhu berpengaruh terhadap aktivitas antimikroba, terutama pada pemanasan 100<sup>o</sup>C dan 121<sup>o</sup>C daya hambatannya berkurang bila dibandingkan dengan tanpa pemanasan.  Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa aktivitas substansi antimikroba masih ada meskipun diberi perlakuan pemanasan sampai pada suhu  121<sup>o</sup>C. </span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Menurut Djaafar <em>et al</em>., (1995) dan  Leroy (2007), bakterison yang dihasilkan oleh BAL mempunyai sifat tahan panas terhadap pengolahan panas mulai dari kisaran 98<sup>°</sup>C selama 30 menit sampai 121°C selama 15 menit. Bakterisoin yang dihasilkan oleh <em>Lactobacillus casei subsp. rhamnosus</em> TGR-2 tahan pada suhu 98°C pada suhu 30 menit. Bakterisoin mesenterococin yang dihasilkan oleh <em>Leuconostoc mensenteroides</em> tahan pada suhu 100°C, selama 15 menit.  Bakterisoin Lactacin F yang dihasilkan oleh <em>L. acidophilus </em>tahan<em> </em>pada suhu 121°C selama 15 menit.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Bakterisoin asal yoghurt yang telah diberi perlakuan dengan enzim protein papain, dan protease aktivitas antimikrobanya menurun.  Hal ini menunjukkan bahwa substansi antimikroba ekstrak yoghurt merupakan suatu protein, yang mana substansi protein ini oleh aktivitas enzim proteolitik dapat dicerna sehingga aktivitas antimikrobanya berkurang.   Manurut (Diop <em>et al</em>., 2007) bakteriosin merupakan suatu senyawa protein yang memiliki bobot molekul kecil. Oleh karena bakteriosin adalah suatu peptida, maka bakteriosin sensitif terhadap enzim proteolitik.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Hasil penelitian  Janes <em>et al</em>. (1999), menyatakan bahwa substansi bakterisoin sensitif terhadap enzim proteolitik. Bakterisoin Lactacin B, bakterisoin pediocin A sensitif terhadap enaim trypsin dan protease. Demikian juga laporan </span><span lang="IN">Leroy (2007), bakterison asal BAL sensitif </span><span lang="FR">terhadap enzim trypsin, protease, dan chymotrypsin.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Penurunan aktivitas bakteriosin terhadap hambatan antimikroba paling besar terjadi pada perlakuan dengan ekstrak pankreas. </span><span lang="ES-CO">Hal ini dapat dimengerti bahwa pankreas mengandung campuran beberapa enzim proteolitik untuk pencernaan protein. Campuan enzim tersebut bekerja secara bersama-sama menginaktifkan substansi bakteriosin asal yoghurt sehingga aktivitas antimikrobanya berkurang.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="ES-CO"><strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="ES-CO">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><span lang="ES-CO">Bakteriosin  yang diekstrak dari yoghurt mempunyai sifat-sifat fisikokimia sebagai berikut, mempunyai aktivitas optimum pada pH 5, stabil terhadap pemanasan sampai 121<sup>o</sup>C selama 15 menit, dan sensitif terhadap enzim proteolitik. Selain itu, bakteriosin asal yoghurt mampu menghambat pertumbuhan bakteri <em>Staphylococcus  aureus </em>dan <em>Eschericia coli</em>.</span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2" style="text-align: justify;"><strong><span lang="ES-CO">Saran</span></strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong> DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Bintang,  M.   1999. Aspek Biokimiawi Bakteri Asam Laktat selain Sebagai Bibit Keju dan Yoghurt     Orasi Ilmiah Guru Besar tetap Ilmu Biokimia, FMIPA, IPB-Bogor.  47 halaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Cintas, L.M., Ridriguez, J.M., Fernandez, M.F., Sletten, K, Nes, I.F., Hernadez, P.E. 1995.    Isolation and characterization of pediocin L50, a new bacteriocin from <em>Pediococcus acidilactici</em> with a broad inhibitory spectrum.  <em>App. Environ. Microbiol</em>. 61(7):2643-2648.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Diop, M.B., Dubois-Dauphin, R., Tine, E., Ngom,  A., Destain,  J., Thonart, P.  2007. Bacteriocin producers from traditional food products. <em>Biotechnol. Agron. Soc. Environ. </em>11 (4), 275–281</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Djaafar, T.F., Rahayu, E.S., Wibowo, D., Sudarmadji, S. 1995.   Substansi  Antimikrobia Bakteri Asam Laktat yang diisolasi dari Growol.  Seminar Nasional XII Perhimpunan Biokimia dan Biologi Molekuler Indonesia, Denpasar 17-18 Nopember 1995.  15 Halaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Garneau, S., Martin, N.I., Vederas,  J.C. 2002. Two-peptide bacteriocins produced by lactic acid bacteria. <em>Biochimie. </em>84:577–592.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Janes, M.E., Nannapanemi, R., Johson, M.G. 1999.  Idetification and Characterization of Two bacteriocin Producing Bacteria Isolated from Garlic and Ginger Root.  <em>J. of Food Protection</em>. 62(8):899-904.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Jack,  R.W., Wan, J., Gordon, Harmark, K., Davidson, B.E., Hillier, A.J. 1996.  Charaterization of the chemical and antimicrobial properties of pisicolin 126, a bacteriocin produced by Carnobacterium piscicola JG 126.  <em>Appl. Environ.Microbiol</em>. 62(8):2897-2903.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Laemler, C., Wibawan, I.W.T.,  Pasaribu, F.H.  1998. Ralation Between Encapsulation of Streptococci of Serological Gorub B and Adherence Properties of the Bacteria to DEAE-sephacel.  <em>Media Vet</em>. 5(4):1-6.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Leroy, LDVF. 2007. Bacteriocins from Lactic Acid Bacteria: Production, Purification, and Food Applications. J <em>Mol Microbiol Biotechnol</em>. 13:194–199</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="NL">Leroy, F., dan De Vuyst, L. </span><span>2004.  Lactic acid bacteria as functional starter cultures for the food fermentation industry. <em>Trends Food Sci Technol.</em> 15: 67–78.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mantovani, H.C., dan Russell, J.B. 2002. The ability of a bacteriocin of streptococcus bovis Hc5 (bovicin Hc5) to inhibit <em>Clostridium aminophilum</em>, an obligate amino acid fermenting bacterium from the rumen. <em>Anaerobe</em>. 8:247-252.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Mehta, A.M., Patel, K.A.,  Davee, P.J.  1983. Purification and Properties of The Inhibitory Protein Isolated from <em>L. acidophilus</em> ACI.  <em>Microbiology. </em> 38:73.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Norman, S.J.,  Edward, S.A., Boris, E.V., Yuri, K.N., Larisa, V.I., Vladimir,  P.V. 2005.  <em>Paenibacillus polymyxa</em> Purified Bacteriocin To Control <em>Campylobacter jejuni</em> in Chickens. </span><em><span lang="EN"><a title="Journal of Food Protection®" href="http://www.ingentaconnect.com/content/iafp/jfp;jsessionid=1tp63j9tagqjo.alice"><span lang="IN">Journal of Food Protection</span></a></span><span lang="IN">.</span></em><span lang="IN"> 2005; 68 (</span><span lang="EN">7):1450-1453.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Papagianni, M., Avramidis, N., Filioussis, G., Dasiou, D., Ambrosiadis, I.  2006. Determination of bacteriocin activity with bioassays carried out on solid and liquid substrates: assessing the factor &#8220;indicator microorganism&#8221; <em>Microbial Cell Factories. </em> 5:30-35.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Twomey, D., Ross, R.P., Ryan, M., Meaney, B., Hill, C. 2002.  Lantibiotics produced by lactic acid bacteria: structure, function and applications. Antonie van Leeuwenhoek. 82: 165–185.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Van den Berghe, E., Skourtas, G., Tsakalidou, E., De Vuyst, L. 2006.  <em>Streptococcus macedonicus </em>ACA-DC 198 produces the lantibiotic, macedocin, at temperature and pH conditions that prevail during cheese manufacture. <em>Int J Food Microbiol</em>. 107: 138–147.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Weinbrenner, D.R., Barefoot, S.F., Grinstead, D.A. 1997.  Inhibition of yoghurt starter cultures by jenseniin G, a propionibacterium bacteriocin.  <em>J.Dairy Sci</em>. 180:1246-1253.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/karakterisasi-fisikokimia-bakteriosin-yang-diekstrak-dari-yoghurt/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Studi Histologi Limpa Sapi Bali</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/studi-histologi-limpa-sapi-bali/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/studi-histologi-limpa-sapi-bali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 09:49:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 1 PEBRUARI 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[(Histological Study of Spleen of The Bali Cattle) Ni Luh Eka Setiasih 1, Ni Ketut Suwiti 1, Putu Suastika 1, I Wayan Piraksa 1, Ni Nyoman Werdi Susari 2 1. Laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bukit Jimbaran Bali. 2.  Laboratorium Anatomi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bukit Jimbaran Bali. ABSTRAK Telah dilakukan penelitian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong><em>(Histological Study of Spleen of The Bali Cattle</em></strong><em>) </em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="FI">Ni Luh Eka Setiasih 1</span><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OLEObject Type="Embed" ProgID="Equation.3" ShapeID="_x0000_i1025"   DrawAspect="Content" ObjectID="_1388413197"> </o:OLEObject> </xml><![endif]--><span lang="FI">, Ni Ketut Suwiti 1</span><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OLEObject Type="Embed" ProgID="Equation.3" ShapeID="_x0000_i1026"   DrawAspect="Content" ObjectID="_1388413198"> </o:OLEObject> </xml><![endif]--><span lang="FI">, Putu Suastika 1</span><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OLEObject Type="Embed" ProgID="Equation.3" ShapeID="_x0000_i1027"   DrawAspect="Content" ObjectID="_1388413199"> </o:OLEObject> </xml><![endif]--><span lang="SV">,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="FI">I Wayan Piraksa 1</span><!--[if gte mso 9]><xml> <o:OLEObject Type="Embed" ProgID="Equation.3" ShapeID="_x0000_i1028"   DrawAspect="Content" ObjectID="_1388413200"> </o:OLEObject> </xml><![endif]-->, Ni Nyoman Werdi Susari 2<!--[if gte mso 9]><xml> <o:OLEObject Type="Embed" ProgID="Equation.3" ShapeID="_x0000_i1029"   DrawAspect="Content" ObjectID="_1388413201"> </o:OLEObject> </xml><![endif]--><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong></strong><em><span lang="SV">1. Laboratorium Histologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bukit Jimbaran Bali.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">2. <em> Laboratorium Anatomi, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana, Bukit Jimbaran Bali.</em></span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRAK</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent3" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Telah</span><span lang="IN"> d</span><span lang="SV">ilakukan penelitian tentang gambaran histologi limpa</span><span lang="SV">sapi bali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur histologi limpa sapi bali. </span><span lang="IN">Sampel p</span><span lang="SV">enelitian ini </span><span lang="IN">diambil dari </span><span lang="SV">20 ekor sapi bali dewasa </span><span lang="IN">yang dipotong di</span><span lang="SV"> Rumah Potong Hewan Pesanggaran Denpasar. Pewarnaan  histologi dilakukan dengan menggunakan pewarnaan H-E.Berdasarkan pengamatan mikroskopis menunjukkan bahwa struktur histologi limpa sapi bali tersusun atas  kapsula, pulpa putih dan pulpa merah. </span><span>Kapsula terdiri dari jaringan ikat dan otot polos dengan ketebalan 24,3 </span><span>±</span><span> 3,7 µm. Pulpa putih  tersusun atas zona marginal dengan sel retikuler (limfosit, makrofag) dan  serabut retikuler. Pulpa merah  tersusun arteriol, kapiler, dan sinus venosus dengan banyak eritrosit, makrofag, sel dendritik, sel plasma dan sedikit limfosit . </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kata Kunci:, </span><span lang="IN">pulpa merah, pulpa putih,</span><span lang="SV"> limpa, sapi bali</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">The objective of this</span> study to find out the histological of spleen of bali cattle<span lang="IN">. The spleen</span><span lang="IN">were collected from </span>20  bali cattle in Pesanggaran abattoir, Denpasar<span lang="IN"> and then evaluated microscopically. Histological findings were assessed by H-E stain preparations. </span><span lang="IN">Microscopically</span><span lang="IN">, showed that the spleen of  bali cattle consists of capsule, white and red pulp. The capsule </span><span lang="EN">composed of </span>connective tissue <span lang="IN"> and  smooth muscle with thick of these layer is </span>24,3 <span>±</span> 3,7 µm. The white pulp <span lang="IN">subdivided into </span>the marginal zone <span lang="IN">and the follicle. It is composed of </span> reticulocyte (lymphocytes and macrophages) and reticul<span lang="IN">ar</span> fibers. The red pulp co<span lang="IN">mposed of </span>arterioles, capillary, and vascular sinusoids which are large numbers of erythrocytes, macrophages, dendritic cells, plasma cells and sparse lymphocytes.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Key <span lang="IN">w</span>ords:,<span lang="IN"> red pulp, white pulp,</span><span lang="IN">spleen, b</span>ali cattle</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sapi bali merupakan ruminansia yang menjadi salah satu bangsa sapi unggulan di Indonesia. Penampilannya yang menarik dan relatif kompak telah menarik perhatian banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri (Bandini, 2004). Sapi bali (<em>Bos sondaicus</em>) merupakan sapi asli Indonesia yang berdarah murni karena merupakan hasil domestikasi (penjinakan) langsung dari banteng liar. Sampai sekarang sapi bali telah tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia dan berkembang cukup pesat di banyak daerah karena memiliki banyak keunggulan (Guntoro, 2002).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sapi bali mempunyai beberapa keunggulan yang disenangi petani-peternak, antara lain : kemampuan kerja yang baik, daya reproduksi yang tinggi, mampu tumbuh dan berkembang dalam kondisi lingkungan yang jelek, tahan terhadap caplak, serta mempunyai persentase karkas tinggi dengan daging yang berkadar lemak rendah, sehingga merupakan modal masyarakat yang bernilai ekonomis tinggi (Yasin dan Dilaga, 1993).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Sebagai usaha untuk mencegah terjadinya infeksi patogen, tubuh sapi bali dilengkapi oleh suatu sistem pertahanan tubuh salah satunya diperankan oleh limfa. Organ ini merupakan organ tubuh kompleks dengan banyak fungsi diantaranya sebagai penyaring (<em>filter</em>) darah dan menyimpan zat besi untuk dimanfaatkan kembali dalam sintesis hemoglobin. Peranan organ ini  dalam sistem pertahanan berkaitan dengan respon imunologi terhadap antigen yang berasal dari darah, dimana organ ini berfungsi sebagai organ limfoid sekunder. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Struktur histologi limpa secara umum terdiri dari kapsula , pulpa merah dan pulpa putih. Kapsula tersusun jaringan ikat pada bagian luar dan otot polos pada bagian dalam. Pulpa merah, terdiri dari arteriol, kapiler, venula, dan bingkai limpa, sedangkan  pulpa putih mengandung sel dan serabut retikuler membentuk jalinan stroma yang mengandung limfosit, makrofag dan sel aksesoris lain yang mirip dengan sel-sel yang ditemukan pada kelenjar getah bening (Dellmann dan Brown, 1989; DiFiore, 1992).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Setiap spesies <span lang="IN">hewan</span>menunjukkan adanya variasi pada struktur histologi limfanya. Pada  kuda, anjing dan babi banyak memiliki nodulus limfatikus dan selubung periarterial, sedangkan  pada kucing dan ruminansia  banyak memiliki nodulus limfatikusdengan  selubung  periarterial pendek. Ukuran dan jumlah kapiler selubung cukup bervariasi pada hewan. Pada babi dan pada kucing, selubung makrofag perikapiler besar dan banyak sedangkan pada kuda dan anjing lebih kecil, sementara pada ruminansia sempit (Dellmann and Brown, 1989).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Beberapa penelitian  mengenai struktur histologi limfa menunjukkan bahwa terdapat perbedaan struktur histologi limfa antar spesies dan terdapat perbedaan struktur histologi  limfa pada usia fetus yang berbeda terutama sel-sel yang berperanan pada sistem imunitas (Cesta, 2006).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Penelitian lain memperlihatkan bahwa dari 38 ekor unta dengan variasi umur antara 0,5 sampai 15 tahun menunjukkan bahwa struktur histologi limfanya terdiri atas  kapsula, pulpa merah, pulpa putih serta terlihat zona marginal dan lapisan makrofag periarterial serta tergolong  tipe sinusal limfa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa  kapsula dengan tebal 292 ± 106 mm  terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan luar tersusun atas jaringan ikat dengan tebal 113 ± 39 mm sedangkan lapisan dalam memiliki tebal 180 ± 81 mm tersusun atas otot polos. Histologi limfa unta memiliki trabekula primer dan sekunder yang tersusun oleh lapisan vaskuler dan avaskuler berupa arteri dan saraf  tetapi tidak terlihat adanya vena. Arteri centralis terlihat didekat atau dikelilingi oleh sinusoid-sinusoid  pulpa merah. Arteri ini  berasal dari periarterial limfatik dengan sejumlah cabang-cabang  arteriol. Zona marginal merupakan daerah yang dikelilingi oleh pulpa putih dimana pada bagian ini ditemukan sejumlah arteri tetapi tidak mengandung sinusoid. Pulpa merah secara karakteristik tersusun atas percabangan dari trabekula sekunder dan mengandung sinusoid venosa dengan berbagai ukuran.  Meskipun terdapat variasi struktur histologi limfa pada masing-masing spesies namun hasil penelitian yang dilakukan pada unta dengan variasi umur antara 0,5-15 tahun  menunjukkan tidak terdapat perbedaan secara signifikan terhadap  struktur histologi limfanya (Zidani,<em> et.al</em>., 2000).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Untuk sapi bali belum ada laporan ilmiah mengenai gambaran histologi limpanya. Karena itu, s</span><span>tudi  histologi limfa sapi bali </span><span lang="IN">sangat perlu dilakukan. Hasilnya akan dapat digunakan </span><span>untuk melengkapi informasi di bidang anatomi mikroskopik.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="SV"><strong>MATERI DAN METODE</strong></span></p>
<p class="MsoBodyTextIndent" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yaitu untuk mengetahui struktur histologi organ limfa sapi bali. </span><span lang="SV">Sampel dikumpulkan dari 20 ekor sapi </span><span lang="IN">b</span><span lang="SV">ali yang dipotong di rumah potong hewan Pesanggaran Denpasar. </span><span lang="IN">Organ limfa yang diambil adalah yang secara patologi anatomi tidak mengalami perubahan. S</span><span lang="SV">ampel </span><span lang="IN"> d</span><span lang="SV">imasukkan ke dalam formalin</span><span lang="IN"> 10%, selanjutnya diproses di dalam <em>tissue processor</em> untuk dibuat preparat. Preparat diwarnai dengan pewarnaan Haematoxillin-Eosin (HE) (Luna, 1968). Pengamatan struktur histologi dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran 100x , sedangkan untuk mengukur tebal kapsula limfa sapi bali menggunakan pembesaran 125x. Data yang didapat dilaporkan  secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. </span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Pengamatan pada sediaan histologi limpa sapi bali menunjukkan </span>tidak <span lang="IN">ditemukan adanya</span> korteks dan medula , noduli limpa ditemukan diseluruh limpa. <span lang="IN">Gambaran h</span>istologi kapsula limpa sapi bali <span lang="IN">diisi oleh</span> jaringan ikat dan otot polos. Bagian trabekula dari kapsula limfa terlihat  meluas ke dalam daerah pulpa limpa,   masuk pada hilus, tersebar pada seluruh bagian limpa, bersama dengan arteri dan vena trabekula. Trabekula yang terlihat pada potongan melintang merupakan susunan dari nodulus jaringan ikat beserta sel jaringan ikat (Gambar 1).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/studi-histologi-limpa-sapi-bali/eka1/" rel="attachment wp-att-556"><img class="aligncenter size-medium wp-image-556" title="eka1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/eka1-300x199.jpg" alt="eka1" width="300" height="199" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;">Gambar 1. Histologi Kapsula Limpa Sapi Bali, (HE; 100x).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Keterangan:    a. Otot polos kapsula       b. Arteri trabekularis               c. Jaringan ikat</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Limpa sapi bali memiliki kapsula cukup tebal dengan dua lapis otot polos yang saling menjalin dengan serabut kolagen dan elastik. </span>Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketebalan kapsula limpa sapi bali berkisar antara 12 &#8211; 34 µm dengan rata-rata 24,3 <span>±</span> 3,7 µm.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ketebalan kapsula limpa bervariasi pada berbagai spesies. Pada kucing, anjing,  dan kuda sel otot polos sangat banyak (Junqueira dan Carneiro, 1982). Apabila dibandingkan dengan hewan lain, kapsula limpa kuda paling tebal dari seluruh hewan peliharaan dengan susunan otot polos dalam dua lapis tegak lurus satu sama lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Lapisan jaringan ikat bagian luar kapsula lebih tebal dari lapisan yang mengandung otot polos. Babi dan ruminansia memiliki kapsula cukup tebal, kendati kapsula pada babi umumnya banyak mengandung otot polos. Kapsula limpa rumunansia memiliki dua lapis otot polos tipis yang saling menjalin dengan serabut kolagen dan elastik. Anjing dan kucing memiliki kapsula paling tipis, otot polos menempati lebih dari dua pertiga dari seluruh ketebalannya (Dellmann and Brown, 1989).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Limpa memiliki noduli limfatik (pulpa putih). Pada individu muda, noduli tersebut mengandung pusat-pusat germinal (Gambar 2). Pusat germinal  berwarna lebih terang mengandung limfosit.  Sel-sel utama dalam nodulus adalah limfosit B, sedangkan limfosit T menempati pada daerah yang langsung mengitari arteri nodularis Pada setiap nodulus limpa dilalui oleh sebuah arteriola, arteri sentral yang biasanya terletak eksentris di dalam nodulus. Arteri sentral merupakan cabang arteri trabekularis. Arteri tersebut diselubungi oleh jaringan limfatik sewaktu meninggalkan trabekula. Selubung ini meluas untuk membentuk nodulus limpa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/studi-histologi-limpa-sapi-bali/eka2/" rel="attachment wp-att-557"><img class="aligncenter size-medium wp-image-557" title="eka2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/eka2-300x199.jpg" alt="eka2" width="300" height="199" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Gambar 2. Histologi Pulpa Putih Limpa Sapi Bali, (HE; 100x).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Keterangan:     a. Pulpa putih </span>b. Pusat germinal (germinal center)    c. Arteri sentral   d. Trabekula  e. Pulpa merah</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sekeliling noduli limfatik dan berjalin dengan trabekula terdapat suatu kumpulan sel yang difus yang bersama menyusun pulpa merah (Gambar 3), yang nampak memberi aspek kemerahan dalam jaringan yang segar. Kumpulan sel ini mengandung sinus venosus atau sinus limpa dan beberapa jalur limpa. Pada daerah ini banyak mengandung eritrosit, makrofag, sel dendritik, sel plasma dan sedikit sel limfosit. Beberapa jalur limpa tersebut merupakan berkas difus terdiri dari jaringan limfatik diantara sinus venosus dan membentuk suatu jala seperti spons yang direntang pada jala jaringan ikat retikuler, yang tidak nyata akibat padatnya jaringan lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://www.bulletinveteriner.com/studi-histologi-limpa-sapi-bali/eka3/" rel="attachment wp-att-558"><img class="aligncenter size-medium wp-image-558" title="eka3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/eka3-300x197.jpg" alt="eka3" width="300" height="197" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Gambar 3. Histologi Pulpa Merah Limpa Sapi Bali, (HE; 100x)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Keterangan:     a. Pulpa merah     b. Kumpulan limfosit yang tersusun sebagai jalur limpa        c. Sinus venosus yang saling beranastomose     d. Trabekula</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Sebagian besar dari pulpa limpa beraspek merah, dikarenakan banyak mengandung banyak darah yang disimpan dalam jalinan retikuler. Pulpa merah pada limpa sapi bali banyak mengandung otot polos, hal ini didukung oleh Dellmann and Brown (1989) yang menyebutkan bahwa pulpa merah limpa ruminansia dan babi banyak mengandung sel otot polos, sedangkan kuda dan anjing memiliki miofibroblas yaitu sel yang mirip fibroblas tetapi memiliki sifat mirip otot polos. Sangat sulit untuk membayangkan struktur pulpa merah, sebab limpa mengalami kolaps setelah hewan mati dan banyak struktur yang tertutup akibat kompresi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pulpa putih adalah jaringan limfatik yang menyebar diseluruh limpa sebagai nodulus limpa dan seperti selubung limfatik periarterial. Serabut retikuler dan sel retikuler membentuk jalinan stroma dalam tiga dimensi mengandung pecahan limfosit, makrofag dan sel lain mirip dengan yang terlihat pada limfoglandula.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Limpa tidak memiliki pembuluh limfe aferen, sedangkan pembuluh eferen utama ada dalam kapsula dan trabekula. Pembuluh tersebut menembus pulpa putih pada jarak pendek sepanjang arteria pulpa putih berikut cabangnya. Pembuluh limfe  dalam trabekula menyalurkan limfe ke dalam pulpa putih limpa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Limpa kuda, anjing dan babi banyak memiliki nodulus limfatik dan selubung periarterial, tapi pada kucing dan ruminansia jaringan limfatik kurang banyak, yang banyak justru nodulus limfatik, selubung limfatik periarterial pendek (Dellmann and Brown, 1989), hal ini juga terlihat pada struktur histologi limpa sapi bali.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>SIMPULAN DAN SARAN</strong></p>
<h3 style="text-align: justify;">Simpulan</h3>
<h5 style="text-align: justify;"><span lang="IN">Berdasarkan hasil pengamatan, struktur histologi limpa sapi bali terdiri </span><span> kapsula </span><span lang="IN">y</span><span>ang terdiri dari jaringan ikat dan otot polos dengan ketebalan 24,3 </span><span>±</span><span> 3,7 µ</span><span>m,</span><span> pulpa merah  mengandung sinus limfa dan pulpa putih yang tersusun atas limfosit dan makrofag.</span></h5>
<h3 style="text-align: justify;">Saran</h3>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap struktur histologi organ  limfa sapi bali pada variasi umur  untuk melengkapi informasi dibidang anatomi mikroskopis dan kaitan  fisiologinya sehingga dapat dipergunakan sebagai dasar kajian untuk identifikasi karakteristik sapi bali.</p>
<p style="text-align: center;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES-TRAD">Bandini, Y. 2004. Sapi Bali. Penebar Swadaya. Jakarta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Cesta, M. F. 2006. Normal Structure, Function, and Histology of the Spleen. Toxicologic Pathology, <em>Toxicologic Pathology </em>34:455–465,<em> North Carolin, USA </em>Downloaded from tpx.sagepub.com by guest on December 19, 2010</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Dellmann. D. dan E. Brown. 1989. Buku Teks Histologi Veteriner I. Penerjemah Hartono. Ed 3. Penerbit Univ Indonesia. Hal 246-275</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">DiFiore, M.S.H. 1992. Atlas Histologi Manusia. Alih Bahasa, H. M. Martoprawiro. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Hal 94 – 103.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Guntoro, S. 2002. Membudidayakan Sapi Bali. Kanisius, Yogyakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Junqueira, L.C; J, Carneiro, 1982. Histologi Dasar. Ed.3, Alih Bahasa Tambayong J. Penerbit Buku Kedokteran. EGC. Hal 287-308</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Luna, L.G. 1968. Manual Histologic Staining Methods of Pathology. 3<sup>rd</sup> Ed. The Blakiston Division Mc Graw-Hill Book Company, New York. Hal 125</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Yasin, S. dan Dilaga, S.H. 1993. Peternakan Sapi Bali dan Permasalahannya. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><em> </em>Zidani, M.,Kasemi, A., Dougbag, A., El Ghazzaw, E., El Aziz, M. A., and REINHARD Pabst, R. 2000. The Spleen of the One Humped Camel (<em>Camelus dromedarius</em>) has a Unique Histological Structure. <em>J</em>. <em>Anat</em>. (2000) 196, pp. 425-432,</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/studi-histologi-limpa-sapi-bali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gambaran Patologi Paru-paru pada Anjing Lokal Bali yang Terinfeksi Penyakit Distemper</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-patologi-paru-paru-pada-anjing-lokal-bali-yang-terinfeksi-penyakit-distemper/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-patologi-paru-paru-pada-anjing-lokal-bali-yang-terinfeksi-penyakit-distemper/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 09:28:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 1 PEBRUARI 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=546</guid>
		<description><![CDATA[(PATHOLOGICAL CHANGES ON BALINESE LOCAL DOG’S  LUNG INFECTED WITH CANINE DISTEMPER DISEASE) I Made Kardena, IB Oka Winaya, I Ketut Berata Laboratorium Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Udayana Email: madekardena@gmail.com ABSTRAK Penyakit distemper merupakan penyakit yang sangat infeksius. Berbagai jenis anjing sangat rentan terhadap penyakit ini, termasuk anjing lokal di Bali. Penelitian ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><em><span>(PATHOLOGICAL CHANGES ON BALINESE LOCAL DOG’S  LUNG INFECTED WITH CANINE DISTEMPER DISEASE)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong><span lang="SV">I Made Kardena, IB Oka Winaya, I Ketut Berata</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">Laboratorium Patologi Veteriner </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">Fakultas Kedokteran Hewan – Universitas Udayana </span></p>
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">Email: madekardena@gmail.com</span></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="SV"><strong>ABSTRAK</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Penyakit distemper merupakan penyakit yang sangat infeksius. Berbagai jenis anjing sangat rentan terhadap penyakit ini, termasuk anjing lokal di Bali. Penelitian ini menggunakan sepuluh anjing lokal Bali yang terinfeksi penyakit distemper secara alami dan telah terkonfirmasi positif dengan uji RT-PCR. Hasil nekropsi menunjukkan 8 dari 10 sampel anjing mengalami perubahan patologi anatomi pada organ paru-parunya berupa terjadi perubahan warna dan tampak menjadi lebih besar. Perubahan warna yang terjadi pada organ tersebut teramati menjadi lebih pucat atau bahkan lebih gelap; sedangkan secara histopatologi, semua sampel anjing mengalami  penebalan yang disertai infiltrasi berat sel-sel radang di daerah septa alveoli paru-paru. Hal ini menunjukkan infeksi virus distemper pada anjing lokal di Bali dapat mengakibatkan reaksi peradangan di daerah paru-paru yang berupa munculnya pneumonia interstitialis. Perubahan ini dapat menjadikan indikasi terhadap gejala klinis berupa gangguan pernapasan yang disertai adanya eksudat mukopurulen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kata kunci: patologi paru-patu, anjing lokal, distemper pada anjing</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>ABSTRACT</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Canine distemper is a contagious disease, which can infect any dog species including domestic dog in Bali. This research used ten domestic dogs in Bali, which were naturally infected with canine distemper virus and have been positively confirmed by laboratory test using RT-PCR method. Lung tissue changes have been identified on gross pathological observation, i.e.: on average the lungs were changed in color and size. The lungs mainly changed into pale or darker; in addition, the lungs tended to become bigger. Mean while, the septa alveoli of the lungs observed thicker and were infiltrated by inflammatory cells. This tissue changes indicated that canine distemper virus which infected domestic dog in Bali caused inflammatory reaction in lung, which is known as interstitial pneumonia interstitial. These changes implied to be related to the disturbance of the respiration tract, which was accompanied by mucus-purulent exudates.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Keywords: lung pathology, domestic dog, canine distemper</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong><span> </span>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Distemper pada anjing merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus RNA dari genus morbili virus dan tergolong ke dalam famili Paramixoviridae. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit yang bersifat sangat menular dengan angka morbiditas dan mortalitasnya cukup tinggi (Pomeroy <em>et al</em>, 2008). Virus penyebab penyakit distemper ini dapat menyerang semua umur berbagai kelompok hewan dari famili <em>canidae</em>, dengan gejala klinis yang bervariasi. Variasi gejala klinis mulai dari subklinis, gangguan pernafasan, gangguan saluran cerna, sampai dengan adanya gangguan syaraf yang bersifat fatal (Zhao <em>et al</em>, 2009). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Secara patologi, anjing yang terinfeksi virus distemper dapat menyebabkan multi-sistemik infeksi. Gambaran klinis darah perifer dari anjing yang terinfeksi virus ini mula-mula mengakibatkan terjadinya lymphopenia, walaupun pada tingkat sub akut sampai kronis diikuti dengan meningkatnya jumlah monosit / <em>peripheral blood mononuclear cells</em> (Nielsen <em>et al</em>, 2009). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Penyebaran umumnya dimulai dari virus yang terinhalasi oleh anjing. Pada peradangan akut, virus akan menginfeksi dan bereplikasi pada sel makrofag dan limfosit pada daerah saluran pernafasan yang selanjutnya akan menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Pada anjing yang telah terinfeksi akan tampak lesu, depresi, anoreksia, eksesif <em>discharge</em> pada bagian naso-ocular serta tidak jarang diikuti dengan gejala diare (Lan <em>et al</em>, 2006). Pada stadium kronis anjing penderita akan tampak inkoordinasi sampai tidak mampu mengontrol mikturisi. Hal ini disebabkan adanya kerusakan pada sel-sel otak dan bahkan bisa menimbulkan kematian pada sel-sel tersebut (Rudd <em>et al</em>, 2009). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kerusakan sel-sel otak yang terjadi pada infeksi penyakit distemper anjing dikarenakan reaksi demyelinisasi pada syaraf pusat akibat reaksi radang. Secara histopatologi, otak akan tampak terjadi peningkatan infiltrasi sel-sel glia yang diikuti dengan peningkatan kadar sitokin karena pengaruh reaksi radang pada daerah tersebut (Stein <em>et al</em>, 2008).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Umumnya perubahan-perubahan organ pada pengamatan <em>post mortem</em> dapat terjadi pada keadaan infeksi yang berlangsung pada tahapan sub akut sampai kronis. Gejala patognomonis dari penyakit ini akan tampak lebih jelas terlihat pada kira-kira satu atau dua minggu pasca infeksi. Pada periode ini  paru-paru akan tampak adanya zona nekrotik atau infark; sedangkan pada saluran pencernaan akan mengalami enteritis haemoragi, yang juga akan tampak pada saluran urinaria terutama pada vesika urinaria yang tampak mengalami peradangan serta pada daerah mukosanya akan terlihat adanya hemoragi. Organ-organ limfatik juga akan mengalami perubahan berupa proloferasi limfoid. Menurut Liang <em>et al</em> (2007), anjing yang terinfeksi penyakit distemper, virusnya dapat terdeteksi pada organ limfatik seperti: limpa, limfonodus dan juga tonsil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada beberapa kasus anjing yang terinfeksi penyakit distemper, perubahan dapat terjadi di berbagai organ yang diikuti dengan adanya eksudat pada organ tempat virus distemper berpredisposisi, misalnya pada saluran cerna, terutama usus halus, radang kataral hingga mukopurulen sering ditemukan. Tidak jarang peradangan dengan kandungan eksudat yang sama juga dapat ditemukan pada saluran pernafasan (Rodriguez-Tovar <em>et al</em>, 2007). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada paru-paru, agen infeksi yang masuk secara aerogen mula-mula akan menginfeksi saluran pernafasan bagian atas, lalu berlanjut ke bagian bronkus, bronkiulus kemudian meluas ke bagian alveoli paru-paru. Secara mikroskopis, paru-paru dari hewan yang terinfeksi akan tampak mengalami peradangan. Pneumonia interstitialis akan teramati pada paru-paru yang diikuti dengan banyak infiltrasi sel-sel radang. Bila berlangsung kronis, reaksi peradangan akan meluas sampai ke bagian alveoli. Apabila terjadi infeksi sekunder terutama terinfeksi oleh bakteri pyogenes, peradangan dengan eksudat purulen dapat juga terjadi pada organ ini (Chvala <em>et al</em>, 2007).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Studi tentang perubahan histopatologi paru-paru terhadap anjing lokal yang terinfeksi virus distemper di Bali belum pernah dilakukan. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan acuan terhadap perubahan jaringan yang terjadi pada anjing lokal di Bali yang terinfeksi virus distemper. Khususnya, perubahan yang terjadi pada tingkat jaringan / sel dengan melakukan pengamatan secara patologi anatomi dan histopatologi terhadap jaringan dari organ paru-paru pada anjing lokal yang terinfeksi virus distemper di Bali.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="SV"><strong>METODE PENELITIAN</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan menggunakan sepuluh sampel anjing lokal dari berbagai daerah di Bali, dengan kisaran umur 3 – 6 bulan yang diperoleh dari data kasus di laboratorium Patologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana pada tahun 2009. Semua sampel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki sejarah belum pernah divaksinasi distemper. Namun, semua sampel telah menunjukkan gejala klinis penyakit distemper berupa demam, lemah, anorexia, adanya eksudat muko-purulen di daerah mata dan hidung, serta adanya diare sebelum dinekropsi. Pustula pada daerah kulit di bagian abdomen juga teramati, walaupun tidak semua sampel menunjukkan gejala ini. Semua sampel telah terkonfirmasi positif terinfeksi virus distemper sesuai dengan hasil uji RT-PCR di Laboratorium Biomedik, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Nekropsi dilakukan terhadap semua sampel anjing untuk pengamatan perubahan patologi anatomi. Selanjutnya, dilakukan pengambilan spesimen organ yang disimpan ke dalam larutan fiksatif, neutral buffer formalin. Kemudian dilakukan <em>tissue processing</em>, lalu diikuti dengan proses pewarnaan menggunakan metode rutin Hematoxillin dan Eosin. Pengamatan histopatologi spesimen terhadap perubahan jaringan yang terjadi dilakukan dengan menggunakan mikroskop binokuler dalam 5 lapang pandang dengan pembesaran objektif 10X dan 40X.</span></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="SV"><strong>HASIL DAN PEMBAHASAN</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Dari hasil pengamatan terhadap seluruh sampel organ paru-paru yang diambil tampak adanya perubahan warna, dan ukuran organ, walaupun konsistensi dan bentuk dari semua sampel organ ini relatif masih normal. Organ paru-paru secara umum tampak mengalami perubahan warna menjadi lebih merah, bahkan ada beberapa sampel organ  ditemukan beraspek lebih pucat dan kehitaman.    Begitu pula ukurannya cenderung menjadi lebih besar dengan konsistensi yang bervariasi dari kenyal sampai agak keras. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><a rel="attachment wp-att-547" href="http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-patologi-paru-paru-pada-anjing-lokal-bali-yang-terinfeksi-penyakit-distemper/kardena1/"><img class="size-full wp-image-547   alignnone" title="kardena1" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/kardena1.jpg" alt="kardena1" width="261" height="180" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">Gambar 1. Pemeriksaan makroskopis paru-paru anjing lokal yang  terinfeksi virus distemper.  Organ tampak pucat disertai beberapa aspek merah gelap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> <a rel="attachment wp-att-548" href="http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-patologi-paru-paru-pada-anjing-lokal-bali-yang-terinfeksi-penyakit-distemper/kardena2/"><img class="size-full wp-image-548 alignnone" title="kardena2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/kardena2.jpg" alt="kardena2" width="287" height="188" /></a><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">Gambar 2. Pemeriksaan mikroskopis  paru-paru anjing lokal di Bali yang terinfeksi penyakit distemper. Tampak septa alveoli mengalami penebalan dan terinfiltrasi oleh sel-sel radang. </span>(H&amp;E;400x)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape  id="_x0000_i1025" type="#_x0000_t75" style='width:3in;height:2in'> <v:imagedata src="file:///C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image005.jpg" mce_src="file:///C:\Users\TOSHIBA\AppData\Local\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image005.jpg"   o:title="P6150059" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p><img class="size-full wp-image-549 alignnone" style="border-style: initial; border-color: initial; color: #0000ee; text-align: justify; text-decoration: underline;" title="kardena3" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/kardena3.jpg" alt="kardena3" width="288" height="194" /></p>
<div>
<div style="text-align: center;">Gambar 3. Adanya benda inklusi pada sel epithel bronkus dari paru-paru anjing lokal di Bali yang terinfeksi virus distemper. (H&amp;E, 400x)</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Perubahan warna menjadi lebih merah yang terjadi pada organ paru-paru pada kasus distemper anjing dapat disebabkan oleh reaksi peradangan yang terjadi pada organ tersebut. Agen asing yang masuk ke dalam tubuh dapat direspon sebagai antigen oleh tubuh individu itu sendiri yang berdampak terhadap aktivasi respon imunitas tubuh. Dalam hal reaksi imun, mula-mula akan terjadi respon yang non spesifik, berupa reaksi radang. Menurut Gershwin, <em>et al</em> (1995), bila tubuh suatu individu dimasuki agen asing, maka tubuh individu tersebut akan bereaksi mengaktifkan sistem pertahanan tubuhnya, misalnya dengan mengaktivasi proses peradangan dalam rangka  mengeliminasi agen asing tersebut dan memperbaiki jaringan yang rusak akibat infeksi agen asing atau diakibatkan oleh reaksi radang yang ditimbulkan sebelumnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Antigen yang dalam hal ini adalah virus distemper dalam perjalanannya menginfeksi secara aerogen mampu masuk ke saluran pernafasan dan menyerang sampai dengan organ paru-paru anjing. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Damian, <em>et al</em> (2005) dimana dari hasil uji laboratorium dengan metode immunohistokimia, teridentifikasi adanya virus distemper yang menginfeksi saluran pernapasan, termasuk paru-paru. Hal yang sama juga diperoleh dari penelitian Saito, <em>et al</em> (2006), yakni dengan metode Uji RT-PCR memberikan hasil positif terhadap sampel paru-paru anjing yang menunjukkan gejala klinis penyakit tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Reaksi peradangan akut dapat terjadi pada organ paru-paru anjing yang terinfeksi virus distemper terutama pada minggu pertama setelah terinfeksi. Reaksi peradangan akut ini dapat mengakibatkan pembuluh darah yang berada di daerah septa alveoli mengalami peningkatan permeabilitas dan bervaso-dilatasi untuk mengaktivasi sel-sel pertahanan tubuh lalu bermigrasi keluar vaskuler yang selanjutnya melakukan reaksi berupa fagositosis atau ke tingkat imunitas yang lebih spesifik. Vaso-dilatasi vaskuler inilah menyebabkan volume darah yang ada di sekitar jaringan yang mengalami peradangan bertambah, sehingga organ paru-paru tampak kemerahan atau mengalami hyperemia. Cheville (1999) menyebutkan hyperemia pada suatu organ atau jaringan terjadi karena kapiler-kapiler yang ada pada organ / jaringan tersebut berdilatasi. Bila hal ini terjadi, maka organ atau jaringan tersebut akan tampak mengalami kemerahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Perubahan warna yang beraspek pucat atau bahkan kehitaman dapat pula terjadi pada suatu organ, tidak terkecuali paru-paru. Perubahan ini dapat terjadi karena sel-sel atau jaringan pada suatu organ telah mengalami nekrosis. Nekrosis yang terjadi pada tingkat sel dari organ paru tanpa diikuti dengan hemoragi dapat menyebabkan aspek perubahan warna jaringan menjadi lebih pucat. Sebaliknya, apabila kematian sel / jaringan yang disertai dengan adanya perdarahan, maka perubahan warna organ dapat teramati menjadi lebih gelap. Menurut Norman (1999), nekrosis merupakan kematian sel yang dapat meluas menjadi kematian jaringan, dan bila terjadi pada suatu organ dapat menyebabkan perubahan warna pada organ tersebut. Aspek perubahan warna tergantung dari tipe nekrosis yang menyertai. Biasanya organ yang jaringan atau sel-sel penyusunnya mengalami kematian akan beraspek lebih pucat atau lebih gelap dari aspek normal organ tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ukuran paru-paru dari anjing yang terinfeksi virus distemper cenderung mengalami pembesaran. Hal ini juga dapat disebabkan oleh karena reaksi peradangan yang terjadi pada organ tersebut. Secara patologi anatomi organ paru-paru tampak lebih besar akibat kapiler-kapiler yang ada pada organ paru-paru mengalami vaso-dilatasi  untuk mengaktivasi sel-sel radang dalam rangka bermigrasi ke daerah interstitial untuk melakukan fungsinya, baik melakukan fagositosis atau sebagai agen chemo-attractan untuk menarik sel-sel radang yang lain ke daerah yang mengalami peradangan (Wenzlow, <em>et al.</em>, 2007). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Selain itu, adanya perubahan ukuran dimana paru-paru tampak menjadi lebih besar, karena pada proses peradangan, pembuluh-pembuluh darah yang mensuplai organ paru-paru juga cenderung mengalami peningkatan permeabilitas, sehingga bukan hanya sel-sel darah yang mampu berdiapedesis keluar vaskuler, tetapi plasma darah juga mampu merembes keluar dari pembuluh darah. Jika akumulasi cairan plasma terjadi secara terus-menerus akan dapat menyebabkan terjadinya penimbunan cairan pada paru-paru dan terjadilah keadaan yang secara patologis disebut sebagai edema pulmonum (McGavin, <em>et al</em>., 2001).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Delapan dari sepuluh sampel anjing mengalami kongesti pada organ otak. Perjalanan virus distemper pada anjing bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya daya tahan tubuh dari anjing yang terinfeksi virus distemper saat itu, sehingga sangat mempengaruhi waktu inkubasi dari penyakit ini. Rata- rata daya inkubasi dari penyakit distemper pada anjing berkisar antara 3 hari sampai dengan 1 minggu sebelum timbulnya gejala klinis. Masa inkubasi akan berakhir kira-kira 2 – 4 minggu yang dipengaruhi oleh daya tahan dari anjing yang terinfeksi. Umumnya bagi anjing yang kurang daya tahan tubuhnya akan dapat menimbulkan kematian; begitu pula sebaliknya apabila daya tahan tubuh anjing tersebut baik, maka bisa <em>recovery</em> dari infeksi virus distemper (Guiserix, <em>et al</em>., 2007). Daya tahan tubuh disini, lebih dimaksudkan dengan  aktifnya sel-sel pertahanan tubuh untuk melawan infeksi virus yang terjadi, termasuk aktivasi dari organ-organ limfoid untuk mengaktifkan sel-sel pertahanan tubuh dari anjing yang terpapar virus distemper. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Hubungan antara peradangan yang terjadi pada paru-paru dengan gejala klinis berupa adanya gangguan pernapasan yang disertai dengan adanya eksudat muko-purulent. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong><span lang="SV">SIMPULAN DAN SARAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">Simpulan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Infeksi virus distemper pada anjing lokal di Bali dapat mengakibatkan perubahan patologis pada organ paru-paru berupa pneumonia interstitialis.  Perubahan secara makroskopis pada organ paru-paru berupa adanya perubahan warna dan ukuran walaupun secara konsistensi masih relatif normal; sedangkan secara histopatologi organ ini banyak diinfiltrasi sel-sel radang, terutama di daerah interstitial paru-paru. </span></p>
<p><span lang="SV"><strong>Saran </strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Perubahan patologis pada organ paru-paru anjing lokal Bali yang diakibatkan oleh infeksi virus distemper merupakan salah satu perubahan yang terjadi dari berbagai organ dari anjing lokal Bali yang terinfeksi penyakit ini. Ada berbagai perubahan organ dan jaringan lain yang perlu dikaji dalam penelitian berikutnya sehingga diharapkan mampu memberikan informasi yang lebih akurat mengenai patogenesis dari infeksi virus distemper. </span></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="SV"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Cheville, N. F. (1999). </span><span style="text-decoration: underline;"><span>Introduction to Veterinary Pathology</span></span><span>. Iowa, USA, Iowa  State University Press.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Chvala, S., Benetka, V., Mostl, K., Zeugswetter, F., Spergser, J., Weissenbock, H. (2007). </span><span>&#8220;Simultaneous Canine Distemper Virus, Canine Adenomavirus Type 2, and Mycoplasma cynos Infection in a Dog with Pneumonia &#8221; <span style="text-decoration: underline;">Veterinary pathology</span> <strong>44</strong>(4): 508-512.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Damian, M., Morales, E., Salas, G., Trigo, F.J. (2005). &#8220;Immunohistochemical detection of Antigens of Distemper, Adenovirusand Parainfluenza Viruses in Domestic Dogs with Pneumonia.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Journal of Comparative Pathology</span> <strong>133</strong>(4): 289-293.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Gershwin, L. J., Krakowka, S., Olsen, R.G. (1995). </span><span style="text-decoration: underline;"><span>Immunology and Immunopathology of Domestic Animals</span></span><span>. Missouri, Mosby-Year Book Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Guiserix, M., Bahi-Jaber, N., Fouchet, D., Sauvage, F., Pontier, D. (2007). &#8220;The Canine Distemper Epidemic in Serengeti: are Lions Victims of a new Highly Virulent Canine Distemper Virus Strain, or is Pathogen Circulation Stochasticity?&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Journal of The Royal Society</span> <strong>4</strong>(17): 1127-1134.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Lan, N. T., Yamaguchi, R., Inomata, A., Furuya, Y., Uchida, K., Sugano, S., Tateyama, S. (2006). &#8220;Comparative analysis of Canine Distemper Viral Isolated from Clinical Cases of Canine Distemper in Vaccinated Dogs.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Veterinary Microbiology</span> <strong>115</strong>(1-3): 32-42.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Liang, C. T., Chueh, L.L., Pang, V.F., Zhuo, Y.X., Liang, S.C., Yu, C.K., Chiang, H., Lee, C.C., Liu, C.H. (2007). &#8220;A Non-biotin Polymerized Horseradish-peroxidase Method for the Immunohistochemical Diagnosis of Canine Distemper.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Journal of Comparative Pathology</span> <strong>136</strong>(1): 57-64.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>McGavin, M. D., Carlton, W., Zachary, J.F. (2001). <span style="text-decoration: underline;">Thomson&#8217;s Special Veterinary Pathology</span>. Missouri, USA, Mosby, Inc.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Nielsen, L., Sqgaard, M., Jensen, T.H., Andersen, M.K., Aasted, B., Blixencrone-Mqller, M. (2009). </span><span>&#8220;Lymphotropism and host responses during acute wild-type canine distemper virus infections in a highly susceptible natural host.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Journal of General Virology</span> <strong>90</strong>: 2157-2165.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Pomeroy, L., Bjornstad, O., Holmes, E. (2008). &#8220;The Evolutionary and Epidemiological Dynamics of the Paramyxoviridae.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Journal of Molecular Evolution</span> <strong>66</strong>(2): 98-106.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Ridriguez-Tovar, L. E., Ramirez-Romero, R., Valdes-Nava, Y., Navares-Garza, A.M., Zarate-Ramos, J.J, Lopez, A. (2007). &#8220;Combined Distemper-Adenoviral Pneumonia in Dog.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">The Canadian Veterinary Journal</span> <strong>48</strong>(6): 632-634.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Rudd, A. P., Bastien-Hamel, L., Messiling, V. (2009). </span><span>&#8220;Acute Canine Distemper Enchephalitis is Associated with rapid neuronal loss and local immune Activation.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Journal of General Virology</span> <strong>91</strong>: 980-989.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Saito, T. B., Alfeieri, A.A., Wosiacki, F.J., Morais, H.S.A. (2006). &#8220;Detection of Canine Distemper Virus by Reverse Transcriptase &#8211; Polymerase Chain Reaction in the Uterine of Dog with Clinical Signs of Distemper Encephalitis.&#8221; <span style="text-decoration: underline;">Research in Veterinary Science</span> <strong>80</strong>(1): 116-119.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Stein, V. M., Schreiner, N.M.S., Moore, P.F., Vandevelde, M., Zurbriggen, A., Tipoid, A. (2008). &#8220;Immunophenotypical Characterization of Monocytes in Canine Distemper Virus Infection &#8221; <span style="text-decoration: underline;">Veterinary Microbiology</span> <strong>131</strong>(3-4): 237-246.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Wenzlow, N., P., Wittek, R., Zurbriggen, A., Grone, A. (2007). &#8220;Immunohistochemical Demontration of the Putative Canine Distemper Virus Receptor CD 150 in Dogs with and without Distemper &#8221; <span style="text-decoration: underline;">Veterinary Pathology</span> <strong>44</strong>(6): 943-948.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Zhao, J., Yan, Y., Chai, X., Martella, V., Luo, G., Zhang, H., Gao, H., Liu, Y., Bai, X., Zhang, L., Chen, T., Xu, L., Zhao, C., Wang, F., Shao, X., Wu, W., Cheng, S. (2009). &#8220;Phylogenetic Analysis of the Haemaglutinin Gene of Canine Distemper Virus Strains Detected from Breeding Foxes, Racoon, Dogs and Minks in China &#8221; <span style="text-decoration: underline;">Veterinary Microbiology</span> <strong>140</strong>(1-2): 34-42.</span></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/gambaran-patologi-paru-paru-pada-anjing-lokal-bali-yang-terinfeksi-penyakit-distemper/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Homeostasis Cairan tubuh pada Anjing dan Kucing</title>
		<link>http://www.bulletinveteriner.com/homeostasis-cairan-tubuh-pada-anjing-dan-kucing/</link>
		<comments>http://www.bulletinveteriner.com/homeostasis-cairan-tubuh-pada-anjing-dan-kucing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Feb 2011 09:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>besung</dc:creator>
				<category><![CDATA[VOL. 3 NO. 1 PEBRUARI 2011]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bulletinveteriner.com/?p=538</guid>
		<description><![CDATA[(FLUID HOMEOSTASIS IN DOG AND CAT) I Made Suma Anthara1 I  Nyoman Suartha2 1) Laboratorium Farmakologi Veteriner 2) Laboratorium Penyakit Dalam Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan  Universitas Udayana Jl Raya Sesetan Gang Markisa No 6 Denpasar suarthafkhunud@yahoo.co.id ABSTRAK Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraseluler dan kompartemen ekstraseluler. Cairan ekstraseluler ini yang bergerak secara konstan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><em><span lang="SV">(FLUID HOMEOSTASIS IN DOG AND CAT)</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong><span lang="SV"> </span></strong><strong><span lang="SV">I Made Suma Anthara<sup>1 </sup>I  Nyoman Suartha<sup>2</sup></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong><sup><span lang="SV"> </span></sup></strong><em><sup><span lang="SV">1)</span></sup></em><em><span lang="SV"> Laboratorium Farmakologi Veteriner</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><em><sup><span lang="SV">2)</span></sup></em><em><span lang="SV"> Laboratorium Penyakit Dalam Veteriner</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><em><span lang="SV">Fakultas Kedokteran Hewan  Universitas Udayana </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><em><span lang="ES">Jl Raya Sesetan Gang Markisa No 6 Denpasar</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><em><span lang="SV"><a href="mailto:suarthafkhunud@yahoo.co.id"><span lang="ES">suarthafkhunud@yahoo.co.id</span></a></span></em><em></em></p>
<p style="text-align: center;"><span lang="ES"><strong>ABSTRAK</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraseluler dan kompartemen ekstraseluler. Cairan ekstraseluler ini yang bergerak secara konstan dalam tubuh. Cairan ekstraseluler merupakan lingkungan internal dalam tubuh. Cairan ekstraselular  mengandung ion elektrolit natrium , colorida, dan bikarbonat. Perpindahan air dan zat terlarut di dalam tubuh yang melewati membran sel melalui proses difusi, osmosis dan pompa Na-K. </span><span lang="SV">Proses difusi dan osmosis merupakan proses pasif sedangkan pompa Na-K merupakan proses aktif. Homeostasis cairan tubuh dapat dipertahankan  oleh ginjal dengan cara mengatur proses pengeluaran cairan tubuh melalui produksi urine. Asam dan basa dalam cairan tubuh banyak diperankan atom hidrogen, CO<sub>2</sub>, dan HCO<sub>3. </sub>Sistem buffer kimiawi dalam darah akan mengikat ion H<sup>+</sup> sampai terjadi keseimbangan. Sistem respirasi mengeluarkan CO<sub>2</sub> dan H<sub>2</sub>CO<sub>3 </sub>dari tubuh, sedangkan ginjal mengeluarkan asam atau basa dari dalam tubuh </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span>Kata Kunci : Homeostasis, Cairan Tubuh, Elektrolit,  Ginjal</p>
<p style="text-align: center;"><span lang="SV"><strong>ABSTRACT</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">The body’s fluid is compartmentalized into two major divisions: the intracellular fluid (ICF) and the extracellular fluid (ECF). The ECF which is also called the internal environment of the body is in constant motion throughout the body. The ECF contains large amounts of sodium chloride, and bicarbonate. The ICF contains large amounts potassium and phosphate. Transported of water and nutrient through cell membrane occurs by diffusion, osmosis and sodium-potassium pumps. The homeostasis of body fluid is maintains by kidney.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Key words: homeostasis, fluid, electrolyte, kidney</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><strong> </strong><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">Air berfungsi sebagai zat pelarut nutrien dalam tubuh, untuk dapat digunakan oleh sel. Air tidak dapat dipisahkan dari komponen diet,  karena  keseimbangan air sangat diperlukan dalam metabolisme dan semua material metabolisme akan dapat dimanfaatkan sel tubuh jika sudah terlarut dalam air. Oleh sebab itulah sebagian besar tubuh terdiri atas air. Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraseluler dan kompartemen ekstraseluler. Cairan ekstraseluler ini yang bergerak secara konstan dalam tubuh (Yoxall dan Hird, 1980) .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Cairan ekstraseluler dengan kandungan ion dan nutriennya diperlukan oleh sel untuk mempertahankan kehidupan sel. Semua sel hidup memerlukan lingkungan (cairan) di sekitar sel, sehingga cairan ekstra seluler disebut lingkungan internal dalam tubuh. Sel akan mampu untuk hidup, bertumbuh dan berfungsi secara optimal sepanjang tersedia oksigen, glukosa, asam amino, ion, dan substansi lemak dengan konsentrasi yang cukup dalam lingkungan internal, stabilitas lingkungan internal itu dipertahankan oleh fungsi regulasi dari ginjal (Guyton dan Hall, 2006). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Regulasi normal cairan dalam tubuh untuk mempertahankan keseimbangan (homeostasis) lingkungan internal banyak faktor yang terlibat seperti kandungan elektrolit cairan, asam basa cairan tubuh, osmolalitas plasma, peranan hormon (antidiuretik, angiotensin II) dan pengeluaran Na dari ginjal (Wingfield, 2009; Hartanto, 2007; Einstein <em>et al.</em> 1995). Banyak organ dalam tubuh yang berfungsi untuk mempertahankan homeostasis dalam sel seperti  paru-paru menyediakan oksigen untuk kebutuhan sel, ginjal mempertahankan stabilitas konsentrasi ion, dan saluran cerna menyediakan nutrien untuk sel (Guyton dan Hall, 2006). Perubahan keseimbangan air dalam tubuh akan merangsang  reseptor di hipotalamus, inisiasi dari rangsangan pada reseptor ini akan mengawali mekanisme pemasukan air ke dalam tubuh dengan timbulnya rasa haus (Wingfield, 2009).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV"> </span><strong><span lang="SV">TINJAUAN PUSTAKA</span></strong></p>
<p><span lang="ES"><strong>Peran Air dalam tubuh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">Air merupakan pelarut yang sangat baik dan mempertahankan komposisi kimia yang seimbang dalam metabolisme sel.  Air merupakan komponen utama dalam darah, yang berfungsi sebagai media transpor, membawa oksigen dan nutrisi ke jaringan,  mengeluarkan karbondioksida dan metabolit dari jaringan. Darah juga membawa antibodi dan sel darah putih untuk melindungi sel dari penyakit. Air juga berperan penting dalam regulasi suhu tubuh, melalui berbagai jalan. Pertama, darah akan membawa panas dari jaringan atau organ yang bekerja  menuju ke vena superfisial untuk mentransper panas tubuh ke kulit yang selanjutnya dilepas ke lingkungan melalui proses radiasi, konveksi dan konduksi. Kedua, Pengeluaran panas juga dapat ditingkatkan  melalui evaporasi air  dari respirasi (Hall, 1983). </span></p>
<p><span lang="ES"><strong>Bagian-Bagian Cairan Tubuh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">Besarnya fungsi air dalam tubuh, diperkirakan dua per tiga dari berat badan hewan terdiri atas air, walaupun sedikit ada variasi dilihat dari  kandungan lemak dan umur hewan. Total air dalam tubuh sebanyak 60-70% dari berat badan hewan, yang terdiri atas cairan intraselular dan cairan ekstraselular. Lebih lanjut bagian cairan ekstraselular terdiri atas cairan intravaskular (plasma) dan cairan interstitial. Presentase cairan tubuh dapat berubah tergantung atas umur, jenis kelamin, kandungan lemak tubuh. Cairan tubuh  mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan nonelektrolit. </span><span lang="SV">Elektrolit merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan tubuh dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam suatu larutan selalu sama (diukur dalam miliekuivalen). Zat nonelektrolit dalam cairan tubuh  merupakan nutrien yang dibutuhkan oleh sel seperti glukosa, asam amino, asam lemak dan nutrien lainnya (Yoxall dan Hird, 1986; Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES">1. Cairan Intraseluler</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Cairan intraseluler adalah cairan yang terkandung di dalam sel. </span><span lang="FR">Volume cairan intraseluler sebanyak 2/3 dari volume total air tubuh.  Cairan intraseluler banyak mengandung kation potassium (K<sup>+</sup>), dan anion phosphat (PO<sub>4</sub><sup>3-</sup>). (Hartanto, 2007).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a rel="attachment wp-att-539" href="http://www.bulletinveteriner.com/homeostasis-cairan-tubuh-pada-anjing-dan-kucing/suma/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-539" title="suma" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/suma-300x161.jpg" alt="suma" width="300" height="161" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> Gambar 1. Distribusi cairan tubuh </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">2. Cairan Ekstraseluler</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ada perbedaan yang sangat nyata antara komposisi kimia cairan ekstraselular dan cairan intraselular. Pada plasma/intravaskular dan cairan interstitial (cairan ekstraselular) kation utamanya adalah Na<sup>+</sup> sedangkan anion utama adalah HCO<sub>3</sub> dan Cl<sup>-</sup>. </span><span lang="ES">(Hartanto, 2007). Volume cairan ekstraseluler sebanyak 1/3 dari volume total air tubuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="ES"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">Tabel 1. Komposisi elektrolit pada cairan tubuh</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="text-align: justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">Na<sup>+</sup></span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">K<sup>+</sup></span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">HCO<sub>3</sub><sup>-</sup></span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">Cl<sup>-</sup></span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">PO<sub>4</sub><sup>3-</sup></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">(mmol/l)</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Plasma</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">135-145</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">3.5-5</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">24-28</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">98-106</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">1-2.5</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Intraseluler</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">10</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">150</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">10</span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
<td width="98" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">75</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span>Dikutip dari  Edney ATB. 1983. Dog and Cat Nutrition.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2.1 Cairan Interstitial</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Cairan interstitialis adalah cairan ekstraseluler yang menempati celah diantara sel. Pada cairan interstitial  kation utamanya adalah Na<sup>+</sup> sedangkan anion utama adalah HCO<sub>3</sub> dan Cl<sup>-</sup>. (Hartanto, 2007). Cairan interstitial dengan jumlah ¾ dari volume total cairan ekstraselular</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">2.2 Cairan Intravaskular</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Cairan intravascular adalah cairan ekstraseluler yang terdapat dalam buluh darah, dan cairan intravascular yang bersirkulasi secara efektif dalam tubuh. <span lang="FR">Volume cairan intravascular adalah  ¼ dari volume total  cairan ekstraseluler. Pada cairan intravaskular kandungan kation dan anionnya sama dengan cairan interstitialis yaitu kation Na<sup>+</sup> dan  anion HCO<sub>3</sub> dan Cl<sup>-</sup>. (Hartanto, 2007). Karena kandungan elektrolit dalam plasma sama dengan cairan interstitial maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi elektrolit cairan ekstrseluler. Pada cairan intravaskular kandungan protein lebih tinggi dari cairan interstitial. Kandungan ion bermuatan positif lebih tinggi sekitar 2% dari kandungan ion positif pada cairan interstitial.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FR"> </span>2.3 Cairan Transelular</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Cairan transeluler adalah cairan ekstravaskuler yang terletak di celah rongga tubuh tertentu seperti cairan sendi sinovial, serebrospinal, perikardial, pleura, dan intraokular. Jumlah cairan transeluler diperkirakan 1% dari jumlah cairan tubuh.</span></p>
<p><span lang="ES"><strong>Pergerakan Cairan Tubuh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pergerakan cairan ekstraseluler keseluruh bagian tubuh hewan melalui dua tahap yaitu tahap  pertama pergerakan darah dalam tubuh didalam buluh darah, tahap kedua pergerakan cairan dari kapiler ke celah  antar sel (Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Untuk mempertahankan efektivitas cairan tubuh, volume cairan yang bersirkulasi sangat dipengaruhi pengaturan keseimbangan ion Na plasma, yang berhubungan sangat erat dengan perubahan ion Na pada ginjal. Hal-hal yang berpengaruh pada proses ini yaitu nervus simpatik, angiotensin II, aldosteron, sekresi ADH, dan eksresi ion Na melalui ginjal (Einstein et al., 1995; Hartanto, 2007). Volume cairan yang menurun merangsang baroresptor arterial sehingga terjadi hipotensi, hal ini berakibat peningkatan tonus nervus simpatik perifer, peningkatan tonus ini akan mengawali proses kompensasi untuk mengembalikan volume cairan yang bersirkulasi. Proses kompensasi: kontriksi vena untuk meningkatkan aliran vena; peningkatan kontraksi otot jantung untuk peningkatan output jantung; vasokontriksi arteri untuk meningkatkan tekanan darah; peningkatan sekresi renin untuk meningkatkan kadar angiotensin II (vasokontriksi); dan peningkatan resorpsi ion Na di tubular ginjal (Edney, 1983).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Perpindahan air dan zat terlarut di dalam tubuh yang melewati membran sel melalui proses Difusi, osmosis dan Pompa Na-K. Proses difusi dan osmosis merupakan proses pasif sedangkan pompa Na-K merupakan proses aktif. Proses aktif memerlukan energi (ATP) untuk terjadinya proses itu, sedangkan proses pasif tidak memerlukan energi (Hartanto 2007).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>a. Difusi </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Difusi adalah proses bergeraknya  molekul lewat pori-pori. <span lang="SV">Larutan akan bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentarasi rendah. Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut (Hartanto, 2007). Jadi difusi tergantung perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik. Energi untuk  proses difusi adalah energi kinetik yang normal ditimbulkan akibat pergerakan suatu bahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> Difusi yang melewati membran sel dibagi menjadi dua subtipe yaitu difusi sederhana dan difusi fasilitasi. Difusi sederhana artinya pergerakan kinetik molekol atau ion  melewati membran sel tidak bereaksi dengan protein carier yang ada di membran sel. Kecepatan difusi sederhana ditentukan dari jumlah substansia yang ada, kecepatan gerakan kinetik bahan, jumlah dan ukuran dari pori pada membran sel yang akan dilewati oleh bahan itu. Difusi fasilitas memerlukan interaksi bahan dengan carier protein yang ada di membran sel. Carier protein akan membawa bahan untuk melewati membran sel dengan mengikat bahan itu secara kimia. Pada difusi sederhana  proses difusi terjadi melalui dua jalan yaitu melalui lapisan lipid jika zat itu terlarut dalam lemak, dan melalui saluran (chanel) air/protein. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">b. Osmosis</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Osmosis adalah bergeraknya molekul air melalui membran semipermiabel (selektif permiabel)  dari larutan berkadar rendah menuju larutan berkadar tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeabel terhadap air, sehingga tekanan osmotik cairan tubuh diseluruh bagian tubuh sama. Membran semipermiabel adalah membran yang dapat dilalui air, namun tidak dapat dilalui oleh zat terlarut seperti protein (Hartanto, 2007). Tekanan yang diperlukan untuk menghentikan proses osmosis disebut tekanan osmosis (Guyton dan Hall, 2006)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span lang="SV">c. Pompa Natrium Kalium</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pompa natrium-kalium (Na<sup>+</sup>-K<sup>+</sup>) merupakan proses transpor yang memompa ion natrium keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium  dari luar ke dalam sel. Proses ini berlangsung secara aktif, karena memerlukan energi (ATP) untuk terjadinya proses itu. Ion-ion lain yang ditranspor secara aktif seperti kalsium, hidrogen, chloride, iodine, urate, sugar dan asam amino (Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Komponen pompa Na<sup>+</sup>-K<sup>+</sup> terdiri atas dua komponen carier protein, masing-masing disebut subunit alpha dengan BM 100 KDa dan subunit betha dengan BM 50 KDa. Subunit alpha mempunyai tiga tempat spesifik untuk berfungsinya pompa itu, yaitu:</span></p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Tiga reseptor site untuk tempat      berikatan ion sodium yang terletak disisi sebelah dalam membran sel,</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Dua reseptor site untuk tempat      berikatan ion potasium (K) yang terletak disisi luar membran sel,</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="SV">Pada sisi dekat reseptor site ion      sodium terdapat tempat aktivitas enzim ATPase.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Proses pompa akan berlangsung jika tiga ion sodium dan dua ion potasium berikatan direseptor site, maka enzim ATPase akan aktif untuk menghasilkan energi dari ATP, sehingga ion sodium akan dipompa keluar sel dan ion potasium akan masuk kedalam sel. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> Tujuan dari pompa natrium-kalium adalah untuk mempertahankan konsentrasi ion sodium dan potasium didalam dan diluar membran sel, dan untuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel (Hartanto, 2007). Tanpa fungsi dari pompa ini sel dalam tubuh akan bengkak dan meledak. Mekanisme kontrol dari volume sel adalah sebagai berikut: di dalam sel terdapat sejumlah protein dan molekul organik yang lain yang tidak dapat keluar dari sel. Substansia tersebut menyebabkan muatan negatif didalam sel, yang akan  menarik  ion yang bermuatan positif seperti ion sodium, potassium dan ion positif lainnya. Hal itu menyebabkan terjadinya proses osmosis dalam sel, sehingga jika tidak dikontrol dapat mengakibatkan sel bengkak dan meledak.  Pompa Na-K akam memompa tiga ion Na keluar sel dan memompa dua ion K kedalam sel, dan membran sel kurang permiabel terhadap ion Na dibandingkan dengan ion K. Adanya kelebihan satu ion Na diluar sel menyebabkan konsentrasi diluar sel lebih tinggi sehingga terjadi proses osmosis keluar sel. Perpindahan ion ini juga berefek  mengikat molekul air. Pada beberapa tempat di dalam tubuh terutama bagian tubuh yang tersusun atas lembaran sel terjadi proses transpor aktif, seperti : 1) epitel intestinal, 2) epitel tubulus renalis, 3) epitel glandula eksokrin, 4) epitel kantung empedu, 5) pleksus choroid otak. Mekanisme proses transpor pada lembaran seluler itu adalah : transpor aktif melalui sel membran, kemudian proses difusi sederhana atau difusi fasilitasi ke sel yang berdekatan. </span></p>
<p><span lang="ES"><strong>Asupan dan Kehilangan Cairan Tubuh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pemasukan air ke dalam tubuh bersumber dari air minum, air yang terkandung dalam makanan, dan air hasil dari proses oksidasi karbohidrat, protein, dan lemak (Edney 1983). Pemasukan air kedalam tubuh bervariasi diantara individu dan pada setiap individu pada hari yang berbeda, karena sangat bergantung atas iklim, kebiasaan, dan tingkat aktivitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">Tabel 2. Air Metabolik</span></p>
<table class="MsoNormalTable" style="text-align: center;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Klas dari pakan</span></p>
</td>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Air yang dihasilkan dari oksidasi 100 g</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Protein<sup>*</sup></span></p>
</td>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">40 g</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Lemak</span></p>
</td>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">107 g</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Karbohidrat</span></p>
</td>
<td width="295" valign="top">
<p class="MsoNormal" align="center"><span lang="SV">55 g</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span lang="SV">* tidak dioksidasi komplit</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><span>Dikutip dari  Edney ATB. 1983. Dog and Cat Nutrition.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Pengeluaran air dari tubuh melalui empat jalan yaitu : (1) Pengeluaran air melalui respirasi pada hewan terengah-engah seperti anjing. Pada hewan lain sangat bervariasi tergantung atas jenis hewan, (2) Air keluar melalui kulit, karena difusi dari permukaan  dan keringat. Jumlah yang keluar melalui keringat masing-masing hewan bervariasi tergantung atas jumlah kelenjar keringat pada kulit, (3) Keluar melalui feses, jumlahnya sangat sedikit dan pada masing-masing hewan volume bervariasi tergantung atas diet yang diberikan, (4) Keluar melalui urin. Pada anjing dan kucing dan hewan domestik yang lain jumlahnya 20 ml/kgBB/hari (Hall, 1983; Lorenz et al 1987; Wingfield, 2009).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Air yang keluar melalui sistem respirasi, kulit, dan feses di ketahui sebagai kehilangan cairan yang tidak terelakan, dengan jumlah 20 ml/kgBB/hari. Hewan yang sehat mampu mempertahankan cairan dan keseimbangan elektrolit dengan sedikit fluktuasi dari normal (Wingfield 2009; Lorenz et al 1987). Penyebab paling umum  kehilangan cairan melalui gastrintestinal akibat muntah, diare, drainase fistula, infeksi, obstruksi usus, dan luka bakar (Pandey dan Singh, 2003). Pada pasien demam, dilaporkan terjadi kehilangan cairan sebanyak 100 sampai 150 ml per hari setiap peningkatan 1<sup>o</sup>C suhu tubuh dari normal (Heitz dan Horne, 2005).</p>
<p><span lang="ES"><strong>Homeostasis Cairan Tubuh</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Ginjal berperan besar dalam  mengontrol volume dan  komposisi cairan tubuh, air dan elektrolit dalam tubuh, dan keseimbangan asam-basa. Ginjal menyaring plasma dan mengeluarkan substansi yang tidak diperlukan tubuh seperti urea, asam urat, kreatinin, produk pemecahan hemoglobin dan toksin (Guyton dan Hall, 2006).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Homeostasis cairan tubuh dapat dipertahankan  jika eksresi air dan elektrolit harus seimbang dengan asupan ke dalam tubuh. Jika intake lebih besar dari eksresi maka jumlah substansi dalam tubuh meningkat, begitujuga sebaliknya jika intake lebih kecil dari eksresi maka substansia dalam tubuh akan menurun. Intake air dan elektrolit juga sangat berhubungan dengan pola makan dan minum hewan, untuk keseimbangan ini maka ginjal akan mengatur proses pengeluaran cairan tubuh melalui produksi urine. Tahapan produksi urine dimulai dari kerja glomerulus dalam menyaring plasma darah. Filtrate glomerulus akan menuju tubulus renalis yang meliputi  tubulus proksimal, loop of henle, tubulus distal, tubulus kolektipus, dan terakhir duktus kolektivus kemudian menjadi urin. Dalam proses itu beberapa substansia akan di reabsorpsi kembali di tubulus menuju darah dan beberapa substansi juga ada disekresikan oleh darah ke tubulus (Guyton dan Hall, 2006).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Glomerulus menyaring (filtrasi) semua substansia dalam plasma dan tidak selektif kecuali protein plasma dan substansia yang terikat didalamnya, sedangkan tubulus akan mereabsorbsi secara sangat selektif substansia yang ada di dalam  filtrate, seperti glukosa dan asam amino akan direabsorsi secara sempurna. Begitu juga dengan beberapa ion seperti sodium, chloride, dan bicarbonate juga direabsorbi sesuai kebutuhan tubuh, sedangkan urea dan kreatinin tidak direabsorbsi (reabsorbsi buruk). Proses reabsorbsi ion dari lumen tubulus ke epitel  berlangsung secara transport pasif dan aktif, sedangkan dari kapiler peritubular menuju darah  secara ultrafiltrasi (bulk flow) yang dimediasi oleh tekanan hidrostatik dan tekanan osmotic koloid.  Air selalu direabsorbsi secara pasif (osmosis). Di samping itu  substansia yang terlarut dalam air (potassium, magnesium, dan chloride) dapat direabsorbsi atau disekresikan melalui pertautan antar sel (<em>Tight junction</em>) (Guyton dan Hall, 2006).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Proses transport aktif sodium (Na) pada tubulus proksimal adalah sebagai berikut:  pada bagian basolateral dari sel epitel tubular, pada membrane selnya ada sistem sodium-potasium ATPase yang akan menghidrolisis ATP dan energi yang dihasilkan untuk proses transport ion sodium keluar sel menuju interstitium. <span lang="SV">Pada saat bersamaan  potassium ditranspor dari interstitium ke dalam sel. Kerja pompa ini mempertahankan konsentrasi rendah sodium dalam sel dan konsentrasi tinggi potasium dalam sel, dan menyebabkan muatan negatif dalam sel. Adanya pemompaan sodium keluar sel menuju cairan interstitial melewati basolateral membran, memudahkan terjadinya difusi pasif ion sodium dari tubulus ke dalam sel melalui membran luminal sel. Proses difusi terjadi karena konsentrasi ion sodium di dalam lumen tinggi sedangkan dalam sel rendah, terjadinya muatan negatif dalam sel juga menarik ion sodium (bermuatan positif) yang ada di lumen tubulus ke dalam sel. Proses transpor aktif ini terjadi disebagian besar bagian tubulus sehingga pasokan  ion sodium tubuh dapat dipenuhi.  Ditubulus proksimal juga banyak terdapat brush border pada sisi luminal (sisi yang berhadapan dengan lumen tubulus)  yang juga terdapat carier protein yang membantu dalam proses difusi fasilitasi. Sodium carier protein juga sangat penting dalam proses trasnspor aktif skunder untuk substansia lain seperti glukosa, dan asam amino(Guyton dan Hall, 2006). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Ion hidrogen (H<sup>+</sup>) disekresikan ke dalam tubulus melalui  proses aktif transpor skunder, yang sering disebut counter transpor substansia H+ dengan ion sodium.  Carier protein yang ada dibrush border mengikat ion sodium yang adal dilumen tubulus untuk dimasukkan ke dalam sel, pada saat bersamaan carier protein itu juga mengikat ion H<sup>+</sup> yang ada di dalam sel untuk dikeluarkan dari sel menuju lumen tubulus. Sekresi ion H<sup>+ </sup>sangat penting untuk  mengeluaran ion karbonat dari tubulus (HCO<sub>3</sub><sup>-</sup>). Selain itu ditubulus proksimal juga disekresikan asam organik dan basa seperti garam empedu, oksalat, urate, dan katekolamine (Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Peningkatan reabsorbsi ion dari lumen tubulus, menyebabkan konsentrasi di dalam lumen menurun sedangkan konsentrasi ion di dalam interstitialis renal meningkat, peningkatan konsentrasi ini menyebabkan terjadi proses osmosis air dari lumen tubulus ke interstitialis. Proses osmosis ini terjadi di <em>tight junction</em> sel.  <em>Tight jungtion</em> di daerah tubulus proksimal sangat permiabel terhadap air dibandingkan <em>tight junction</em> dibagian <em>loop Henle</em> sampai ductus kolektivus. Karena reabsorbsi  air dan bahan organik sangat berhubungan dengan reabsorbsi sodium, sehingga perubahan dalam reabsorbsi ion sodium akan mempengaruhi juga reabsorbsi air dan bahan organik itu.  Pada saat reabsorbsi ion sodium  juga terjadi reabsorbsi ion Cl<sup>-</sup> (Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pada bagian loop Henle (thin descending) sangat permiabel terhadap air (hampir 20% reabsorbsi air terjadi dibagian ini) dan permiabelnya moderat terhadap sodium, sedangkan pada bagian ascending kurang permiabel terhadap air. Pada bagian lain (thick ascending) terjadi reabsorbsi (25%) terhadap sodium, chloride,  potasium, calsium, bicarbonat dan magnesium. Pada thick ascending ini tempat kerja utama dari diuretik furosemida, asam ethacrynic, dan bumetamide dengan menghambat reabsorsi sodium-2 chloride-potasium. Pada tubulus distal juga terjadi reabsorbsi (5%) terhadap sodium, potasium dan chloride dan tidak permeabel terhadap air dan urea  (Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p><span lang="ES"><strong>Regulasi Keseimbangan Asam Basa</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Pengertian Asam dan basa dalam cairan tubuh didefinisikan sebagai berikut, asam adalah molekul yang dapat melepaskan atom hidrogen dalam larutan. Sebagai contoh molekul HCl dalam air akan mengalami ionisasi menjadi ion H<sup>+</sup> dan Cl<sup>-</sup>, molekul H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub> mengalami ionisasi dalam air menjadi ion H<sup>+</sup> dan bicarbonat HCO<sub>3</sub><sup>-</sup>. Sedangkan basa adalah ion atau molekul yang dapat mengikat asam (ion H<sup>+</sup>), sebagai contoh HCO3<sup>-</sup> adalah basa yang mampu mengikat ion H<sup>+</sup> menjadi  H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub>, HPO<sub>4</sub><sup>=</sup> adalah basa karena mampu mengikat H<sup>+</sup> menjadi H<sub>2</sub>PO<sub>4</sub><sup>-</sup>. Protein dalam tubuh juga berfungsi sebagai basa. Asam kuat adalah molekul yang dengan mudah dapat melepaskan ion H<sup>+</sup> ke dalam larutan, misalnya HCl, sedangkan basa kuat adalah molekul yang dengan cepat dapat bereaksi dengan asam, misal OH<sup>-</sup>. Adanya ion H<sup>+ </sup>dalam cairan tubuh akan berpengaruh terhadap pH dari cairan itu. pH cairan tubuh adalah 7,4. apabila pH berada diatas 7,4 disebut alkalosis sedangan di bawah 7,4 disebut acidosis (Yoxall dan Hird, 1980; Guyton dan Hall 2006). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> Ada lima sistem utama yang mengatur keseimbangan ion H+ dalam cairan tubuh, yaitu 1) sistem buffer kimiawi asam-basa di dalam cairan ekstraseluler, adalah molekul yang segera berikatan dengan asam atau basa; 2) pusat nafas yang meregulasi pelepasan CO<sub>2</sub> dalam darah dan mengatur tekanan CO<sub>2</sub> (PCO<sub>2</sub>) darah; 3) Buffer kimia dalam sel; 4)  Regulasi pada ginjal yang dapat mengekresikan asam (H<sup>+</sup>) atau reabsorbsi basa (Bikarbonat);  5) mobilisasi buffer dari tulang (Yoxall dan Hird, 1980). Sistem buffer kimiawi dalam darah tidak mengeluarkan atau menambah ion H<sup>+</sup> ke dalam darah hanya mengikatnya sampai terjadi keseimbangan. Sistem respirasi mengeluarkan CO2 dan H2CO3 dari tubuh, sedangkan ginjal memberikan respon yang lambat terhadap peningkatan konsentrasi ion H<sup>+</sup> dalam darah, tetapi hanya ginjal yang  mampu mengeluarkan asam atau basa dari dalam tubuh dan berperan sangat besar dalam regulasi asam-basa (Guyton dan Hall, 2006).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-543" href="http://www.bulletinveteriner.com/homeostasis-cairan-tubuh-pada-anjing-dan-kucing/suma2/"><img class="aligncenter size-medium wp-image-543" title="suma2" src="http://www.bulletinveteriner.com/wp-content/uploads/2012/01/suma2-300x163.jpg" alt="suma2" width="300" height="163" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="PT-BR"> </span><span lang="PT-BR">Ion hidrogen disekresikan dan bikarbonat direabsorpsi di semua bagian tubulus kecuali di loop henle. Bikarbonat direabsorbsi ki</span><span lang="SV">ra-kira 80-90% di tubulus proksimal , kemudian sisanya direabsorbsi di dibagian lain dari tubulus. Ion hidrogen disekresikan ke lumen tubulus di tubulus proksimal, segmen tebal loop henle, dan tubulus dista melalui mekanisne counter-transpor sodium-hidrogen. Sekresi aktif primer ion H<sup>+</sup> terjadi pada tipe yang khusus di bagian akhir tubulus distal dan tubulus kolektivus, yang disebut sel intercalated.  Dengan mekanisme ini cairan tubular akan bersifat asam hanya ditubulus kolektivus dan ductus colektivus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Mekanisme counter-transpor sodium-hidrogen prosesnya dimulai dari : ketika CO<sub>2</sub> bebas atau CO<sub>2</sub> dari hasil metabolisme dalam sel epitel tubular, dengan aktivasi enzim carbonik anhidrase, CO<sub>2</sub> akan bereaksi dengan H<sub>2</sub>O membentuk H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub>, yang dapat berdisosiasi (pisah) menjadi HCO<sub>3</sub><sup>-</sup> dan H<sup>+</sup>. Ion H<sup>+</sup> disekresikan ke lumen tubular melalui counter-transpor sodium-hidrogen (ion Na masuk sel dan ion H<sup>+</sup> dilepaskan ke lumen melalui ikatan dengan carier protein di membran sel). HCO<sub>3</sub><sup>-</sup> yang terbentuk dalam sel (ketika H<sup>+</sup> terpisah dari H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub>) bergerak menembus lapisan  basolateral sel menuju cairan interstitial renal dan kapiler darah peritubular. Transpor HCO<sub>3</sub><sup>-</sup> melewati membran sel di basolateral difasilitasi oleh dua mekanisme yaitu : 1) Na<sup>+</sup>-HCO3<sup>-</sup> co-transpor; 2) pertukaran Cl<sup>-</sup>-HCO3<sup>-</sup>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kelebihan sekresi ion H<sup>+</sup> dapat berikatan dengan molekul HPO<sub>4</sub><sup>+</sup> untuk membentuk H<sub>2</sub>PO<sub>4</sub><sup>-</sup> dan mengikat ion Na<sup>+</sup> membentuk garam NaH<sub>2</sub>PO<sub>4</sub> yang dieksresikan ke urin. Ekses eksresi ion H<sup>+</sup> ke lumen  tubulus kolektivus juga bereaksi dengan  molekul NH<sub>3</sub> membentuk NH<sub>4</sub><sup>+</sup> yang selanjutnya bereaksi dengan ion Cl<sup>- </sup>dan dikeluarkan bersama urin.</span></p>
<p><span lang="ES"><strong>Penyebab Klinis Gangguan Asam Basa</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Penurunan kecepatan ventilasi paru-paru akan meningkatkan tekanan CO<sub>2</sub> (PCO<sub>2</sub>) cairan ekstraselular. </span><span lang="SV">Hal itu menyebabkan peningkatan konsentrasi H<sub>2</sub>CO<sub>3</sub><sup>-</sup> dan H<sup>+</sup> sehingga terjadi asidosis. </span><span lang="FI">Karena asidosis terjadi akibat gangguan pada respirasi maka disebut respirasi asidosis. Respirasi asidosis dapat terjadi kondisi patologis akibat kerusakan pusat nafas atau penurunan fungsi paru-paru dalam mengeluarkan CO<sub>2</sub>, misal kerusakan medula oblongata, sumbatan saluran nafas, pneumonia, emphisema. Respon kompensasi dari respirasi asidosis adalah  buffer cairan tubuh dan pengeluaran ion H+ melalui ginjal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Respirasi alkalosis. Disebabkan overventilasi paru-paru. Jarang terjadi karena patologis. Hal ini biasanya terjadi apabila berada pada daerah yang tinggi dengan kadar O<sub>2</sub> yang rendah, sehingga banyak CO<sub>2</sub> yang keluar. Respon kompensasi adalah melalui buffer kimia dan pengeluaran HCO<sub>3 </sub>melalui ginjal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Metabolic asidosis. Istilah metabolik asidosis yaitu untuk semua tipe asidosis akibat ekses CO<sub>2</sub> dalam cairan tubuh. Metabolik asidosis dapat terjadi karena : kegagalan ginjal mengeluarkan asam yang berasal dari proses metabolisme; terbentuknya molekul asam metobolik akibat ekses kelebihan asam metabolik; pemasukan asam metabolik kedalam tubuh  melalui ingesti atau infus; kehilangan basa dari tubuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Renal tubular asidosis. Akibat gangguan sekresi H<sup>+</sup> atau reabsorbsi HCO<sub>3</sub><sup>-</sup>. Gangguan ini ada dua tipe yaitu : kegagalan tubulus renalis mereabsorpsi HCO<sub>3</sub><sup>-</sup> sehingga banyak keluar melalui urin; ketidakmampuan tubulus renalis mensekresikan H<sup>+</sup> untuk menjaga  keasaman urin. Beberapa penyebab renal tubular asidosis adalah gagal ginjal kronis, sekresi aldosteron tidak cukup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FI">Diarrhea. </span><span lang="SV">Diare berat akan menyebabkan metabolik asidosis. Asidosis terjadi karena tubuh banyak kehilangan sodium bikarbonat melalui feses. Sekresi gastrointestinal secara normal banyak mengandung bikarbonat dan diarrhea menyebabkan kehilangan banyak HCO<sub>3</sub><sup>-</sup> dari tubuh dan efeknya sama juga dengan kehilangan banyak HCO<sub>3</sub> dari urin. Hal yang sama juga terjadi pada kasus muntah sampai isi kandungan usus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Diabetes militus yang disebabkan penurunan sekresi insulin oleh pankreas (tipe I DM) hal ini menyebabkan penggunaan glukosa untuk metabolisme akan digantikan dengan pemecahan lemak, hal itu akan berefek terkumpulnya asam asetoacetic dalam tubuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Metabolik Alkalosis.  Metabolik alkalosis disebabkan oleh berlebihnya kandungan HCO<sub>3</sub> dalam cairan tubuh. Beberapa hal yang menyebabkan kondisi itu , yaitu: pemberian diuretik (kecuali carbonik anhidrase inhibitor). Semua diuretik menyebabkan peningkatan aliran urin dalam tubulus, hal ini menyebabkan peningkatan reabsorpsi ion Na<sup>+</sup>, reabsorpsi ion Na<sup>+</sup> diikuti dengan sekresi ion H<sup>+</sup>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kelebihan sekresi aldosteron dari glandula renalis menyebabkan peningkatan reabsorpsi  ion Na<sup>+</sup> dan meningkatkan sekrsi ion H<sup>+ </sup>dari sel intercalated. Muntah dengan kandungan muntahan isi lambung juga menyebabkan kelebihan basa dalam tubuh.</span></p>
<p style="text-align: center;"><strong>SIMPULAN </strong></p>
<p><span lang="ES"><strong>Simpulan</strong></span></p>
<ol style="text-align: justify;" type="1">
<li class="MsoNormal">Cairan tubuh      merupakan milleu atau lingkungan internal dalam tubuh untuk aktivitas sel</li>
<li class="MsoNormal">Komposisi      cairan tubuh adalah air, elektrolit, asam basa dan nutrient</li>
<li class="MsoNormal">Ginjal      adalah organ yang berperan sangat vital untuk menjaga homeostasis cairan      tubuh.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p style="text-align: center;"><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Edney ATB. 1983. Dog and Cat nutrition. Pergamon Press. New York.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Einstein R, Jones RS, Knifton A, Starmer  GA. <span lang="FI">1</span>995. Principles of veterinary therapeutics.  Longman Scientific &amp; Technical. New York.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Guyton AC, Hall JE. 2006. Textbook of Medical Physiology. Ed 8<sup>TH</sup> . Elseiver Saunders. Philadelphia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Hall LW. 1983. Fluid therapy and intravenous nutrition. In Dog and Cat nutrition. Editor ATB Edney. Pergamon Press. New York.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Hartanto, WW. 2007. <span lang="SV">Terapi Cairan dan Elektrolit Perioperatif. Bagian Farmakologi Klinik dan Terapeutik Fakultas Kedokteran  Universitas Padjajaran. </span>Bandung.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Heitz U, Horne MM. 2005. Fluid, Electrolyte and Acid Base Balance. 5th Ed. Missouri,Elseiver-Mosby.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Lorenz MD, Cornelius LM, Ferguson  DC. 1994. Small animal medical therapeutics. JB lippincott Co.Philadelphia New York.N Pandey CK, Singh RB. 2003. Fluid and Electrolyte Disorders. Indian J Anaesh. 47(5) : 380-387.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Wingfield WE. 2009. Fluid and Elektrolite therapy. <a href="http://www.cvmbs.colostate.edu/clinsci/wing/fluids/fluids.htm.%2022%20mei%202009"><span lang="SV">http://www.cvmbs.colostate.edu/clinsci/wing/fluids/fluids.htm. 22 mei 2009</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Yoxall AT, Hird JFR. 1980. Physiological Basis of Small Animal Medicine. BlackwellSci Pub. Melbourne.</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bulletinveteriner.com/homeostasis-cairan-tubuh-pada-anjing-dan-kucing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

